Tuesday , February 25 2020
Home / Berita / Ketegangan Amerika & Iran Bisa Segera Bangkitkan IS

Ketegangan Amerika & Iran Bisa Segera Bangkitkan IS

DAMASKUS (Mata-Media.Net) – Sejak tahun 2019 lalu Islamic State (IS) tampaknya sudah kalah. Mereka kehilangan sebagian besar wilayah di Iraq dan Suriah, serta pemimpin tertingginya juga sudah terbunuh dan mesin propaganda mereka di media sosial, khususnya Telegram pun sudah ditutup.

Namun ketegangan antara pemerintah Salibis Amerika Serikat (AS) dan pemerintah Syiah Iran serta aksi demo besar-besaran di Iraq menciptakan kesempatan bagi IS untuk segera bangkit kembali. Para pakar mengatakan, IS mulai membangun kampanye serangan gerilya selama satu tahun terakhir.

“Ketegangan ini tentu akan membantu Daesh (IS) karena seluruh pasukan menjadi sibuk dengan urusan yang lain,” kata peneliti Suriah, Abdullah Suleiman Ali pada Selasa (28/1/2020).

Militer Amerika di Iraq menghentikan operasi mereka melawan IS selama dua (2) pekan setelah drone AS membunuh komandan Garda Revolusi Syiah Iran, Jenderal Qaasem Soleimani di Baghdad. Di sisi lain milisi Syiah Iraq yang didukung Iran mengalihkan fokus mereka dari melawan IS menjadi mengusir pasukan AS dari Timur Tengah.

Sel-sel IS yang tertidur mengintensifkan serangan mereka di Iraq dan Suriah dalam beberapa pekan terakhir. Mereka membunuh dan melukai puluhan pejabat dan aparat di dua (2) negara itu.

Aktivis dan warga setempat mengatakan, sejak AS membunuh Qaasem Soleimani pada 3 Januari 2020 lalu dengan drone di Bandara Baghdad, IS semakin intensif melancarkan serangan-serangan mereka. Belum diketahui apakah kenaikan serangan ini berkaitan dengan serangan itu.

Ada kemungkinan serangan demi serangan IS itu sudah direncanakan sebelum AS membunuh Soleimani.

Juru bicara pasukan Komunis Kurdi Suriah, Mervan Qamishlo mengatakan, serangan IS semakin intensif sejak Oktober 2019, ketika militer Turki mulai menggelar operasi militer terhadap pasukan Kurdi di utara Suriah. IS jelas mendapatkan ruang setelah pembunuhan Soleimani.

Hal itu mendorong Iran dan AS perang terbuka dan membuat pemerintah dan rakyat Iraq yang mayoritas Syiah marah sebab pembunuhan tersebut telah melanggar kedaulatan mereka. Pada 5 Januari 2020 lalu, parlemen Iraq meminta 5.200 pasukan AS di negara itu segera ditarik mundur. Pasukan AS sudah berada di Iraq sejak 2014. Mereka melatih pasukan Iraq dan membantu mereka memerangi IS.

Menurut Suleiman Ali, ketegangan antara AS dan Iran membantu pemimpin tertinggi IS yang baru, yakni Syaikh Abu Ibrahim Al-Hasyimi Al-Quraisyi memperkuat pengaruhnya. Setelah Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi gugur di Suriah pada Oktober 2019 lalu, Syaikh Abu Ibrahim menjadi pemimpin baru IS.

“Di hari pertama bentrokan Amerika-Iran dimulai, IS mengintensifkan serangan,” kata kepala organisasi kemanusiaan Syrian Observatory for Human Rights, Rami Aburrahman.

Pada 14 Januari 2020, IS melancarkan serangan dari Suriah sampai Iraq. Mereka membunuh para pejabat Syiah Iraq. Satu hari kemudian pejuang IS menyerang pasukan Iraq di pusat wilayah Sholahuddin.

Serangan paling mematikan di Suriah terjadi pada 14 Januari 2020. Pejuang IS mendapatkan ghanimah dua ribu (2.000) hewan ternak dari desa dekat timur kota Mayadin yang dikuasai rezim Syiah Bashar Assad.

Pasukan militer pemerintah Suriah pun dikirim ke wilayah itu. Disana mereka ditembaki pejuang IS. Saat kembali ke pangkalan, pejuang lS melakukan penyergapan dan membunuh 11 tentara Syiah Nushairiyyah dan milisi pro pemerintah Assad.

IS mempublikasikan foto-foto yang memperlihat mayat para prajurit yang mereka bunuh dalam serangan tersebut. Dalam foto-foto tersebut juga terlihat kendaraan bersenjata yang hancur dan truk yang terbalik. [AR/dbs]

Check Also

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perbatasan Turki & Iran, 7 Orang Tewas

ANKARA (Mata-Media.Net) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran pada ...