Tuesday , October 15 2019
Home / Firqah / Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 4 – Selesai)

Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 4 – Selesai)

Oleh: Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir

(Mata-Media.Com) – Pada bagian pertama sampai ketiga, sudah dijelaskan kunci-kunci yang menjadi sebab datangnya pertolongan Allah, yaitu: (Baca: Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 1)

Kunci pertama: Tauhid.

Kunci kedua: Persatuan.

Kunci ketiga: Mendengar, taat dan melaksanakan perintah Allah. Lalu beliau menjelaskan hal-hal yang membantu untuk mendengar dan taat pada pemimpin.

Kunci keempat: Sabar dan teguh. Lalu beliau menjelaskan peran penting keteguhan pemimpin, khususnya pada saat berkecamuknya pertempuran.

Kunci kelima: I’dad fie sabilillah. Lalu beliau menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan pada bidang militer dan media.

Pada bagian terakhir ini, masih melanjutkan penjelasan Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir rahimahullah tentang kunci berikutnya: (Baca: Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 3)

Kunci keenam: Merasa butuh dan tawadhu’ pada Allah.

Kunci ketujuh: Dzikrullah (mengingat Allah).

Kunci kedelapan: Doa.

Lalu, Syaikh Abu Hamzah mengumumkan operasi Ghazwah Al-Birr, sebagai hadiah dan pembalasan untuk awam Muslimin yang terbunuh oleh koalisi Salibis internasional pimpinan Amerika Serikat (AS). (Baca:Inilah Kunci Jalan & Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 2)

Keenam; Merasa Butuh dan Tawadhu’ Pada Allah

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para Mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai”. (QS. At-Taubah 9 : 25)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ibnu Juraij berkata dari Mujahid, ‘Ini adalah ayat pertama yang turun dari surah Al-Baraah (At-Taubah) yang Allah Ta’ala menyebutkan karunia-Nya atas kaum Muslimin dan kebaikan-Nya kepada mereka, dengan menolong mereka dalam banyak kesempatan pada ghazwah (peperangan) mereka bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa semua itu adalah dari sisi Allah Ta’ala dengan sokongan dan takdir-Nya, bukan dengan jumlah dan perbekalan mereka. Allah mengingatkan mereka bahwa kemenangan adalah dari sisi-Nya baik berjumlah sedikit maupun banyak. Karena pada Perang Hunain, mereka disilaukan dengan banyaknya jumlah. Meskipun demikian, ternyata jumlah yang banyak itu tidak ada manfaatnya sedikitpun. Mereka kabur kocar kacir sampai tinggal sedikit saja yang tetap bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mewahyukan padaku bahwa hendaknya kalian bersikap tawadhu”.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sungguh hamba senantiasa membutuhkan Allah sekalipun berlumuran dosa adalah lebih baik daripada tak pernah salah namun ujub”.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tidaklah seorang bersikap tawadhu karena Allah melainkan Allah akan memuliakannya”.

Kemuliaan di dunia ini adalah dengan kemenangan, keberuntungan dan reputasi yang baik, sedangkan di akhirat adalah dengan tingginya derajat dan kedudukan yang terpuji. Ibnu Bathal rahimahullah berkata: “Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, ‘Sungguh kalian melalaikan ibadah yang paling utama, yaitu tawadhu”.

Ath-Thabari rahimahullah berkata: “Tawadhu adalah bagian dari ujian yang Allah timpakan kepada hambanya yang beriman, agar Ia melihat bagaimana ketaatan mereka kepada-Nya dalam menyikapi ujian ini. Karena Allah Ta’ala mengetahui mashlahat penciptaan hal itu, baik mashalat di dunia maupun nanti ketika di akhirat”. Beliau rahimahullah melanjutkan: “Diantara contoh tawadhu adalah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah, orang-orang berseru, ‘Inilah beliau, inilah beliau’. Maka beliau pun membungkukkan punggungnya di atas tunggangannya dan bersabda: “Allah Maha Tinggi dan Maha Mulia”.

Ath-Thabari melanjutkan lagi: “Dari Thariq bin Syihab berkata: ‘Ketika Umar sampai di negeri Syam, ternyata ia harus menyeberangi sebuah sungai, maka Umar turun dari untanya, melepaskan sepatunya dan memegang keduanya dengan tangannya sendiri lalu menyeberang sambil menuntun untanya. Maka Abu Ubaidah berkata, ‘Sungguh hari ini engkau telah melakukan satu hal besar menurut penduduk setempat’. Umar pun menepuk dada Abu Ubaidah dan berkata, ‘Kalau saja bukan engkau yang mengatakannya wahai Abu Ubaidah. Sungguh dahulu kalian adalah orang-orang rendah lagi terhina, lalu Allah memuliakan kalian dengan Islam. Maka ketika kalian mencari kemuliaan selain Islam, Allah akan menghinakan kalian’”.

Ketujuh: Mengingat Allah

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”. (QS. Al-Anfal 8 : 45)
Ath-Thabari berkata: “Dan perbanyaklah mengingat Allah Ta’ala. Maknanya adalah berdoalah kepada Allah dan mintalah kemenangan atas mereka, serta sibukkanlah lisan dan hati kalian dengan mengingat-Nya agar kalian beruntung”.

Dari Ath-Thabari, dari Qotadah berkata: “Allah tetap mewajibkan mengingat-Nya dalam kondisi kalian yang paling sibuk sekalipun, yakni ketika menyabetkan pedang”.

Al-Qurthubi menyebutkan perkataan bagus dalam tafsir ayat ini, dia berkata: “Ada tiga (3) pendapat ulama dalam hal ini (dzikrullah):

Pertama; ingatlah Allah ketika hati kalian gundah, karena mengingat Allah dapat membantu untuk tetap teguh ketika menghadapi ujian yang bertubi-tubi.

Kedua; teguhkan hati kalian dan ingatlah Allah dengan lisan-lisan kalian. Karena hati itu tidak tenang dan lisan guncang ketika bertemu musuh, sehingga diperintahkanlah untuk terus berdzikir sampai hati itu teguh lagi yakin, lisan tetap mengingat Allah dan mengucapkan apa yang diucapkan oleh pasukan Thalut: (Wahai Rabb kami, limpahkanlah kesabaran pada kami, teguhkan pijakan kami dan tolonglah kami melawan orang-orang yang dzalim). Keadaan ini tidak akan terjadi kecuali dengan kuatnya ma’rifatullah (mengenal Allah) dan tajamnya bashirah, dan inilah keberanian yang terpuji.

Ketiga; ingatlah akan janji Allah pada kalian, yaitu bahwa Dia telah membeli jiwa kalian dan dan membayarnya dengan pahala berlipat. Saya katakan bahwa ketiga hal itu bisa saja merupakan maksud dari dzikrullah, maka ia mengingat Allah dengan lisannya, hatinya merasakan keberanian, sembari ingat janji Allah akan kemenangan di dunia dan surga di akhirat.

Firman Allah Ta’ala pada Musa dan Harun: “Dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku” (QS. Thaha 20 : 42). Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Maksudnya bahwa mereka berdua tidak terputus mengingat Allah ketika menghadapi Firaun, agar dzikrullah menjadi penolong dan menjadi kekuatan bagi mereka berdua serta menjadi kekuatan yang tak terpatahkan oleh Firaun”. Sebagaimana disebutkan dalam hadits: “Hamba-Ku adalah setiap hamba yang mengingat-Ku meskipun sedang bertempur melawan musuhnya”.

Ketahuilah bahwa dzikrullah ketika bertempur dilakukan secara sirr karena disebutkan oleh Al-Hakim dan dishahihkannya dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membenci bertempur sambil bersuara.

Kedelapan; Doa

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ

“Katakanlah (kepada orang-orang Musyrik): “Rabbku tidak mengindahkan kamu, jikalau bukan karena doamu (ibadahmu)”. (QS. Al-Furqan 25 : 77). Juga firman-Nya: “Maka serulah Dia dengan memurnikan ibadah kepada-Nya”. (QS. Ghafir 40 : 65)

Allah juga berfirman: “Dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”. (QS. Al-A’raaf 7 : 56)

Demikian juga firman-Nya: “Rabbmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Ghafir 40 : 60)

Serta firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al-Baqarah 2 : 186)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Doa adalah ibadah”. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Hakim dan yang lainnya: “Tidak ada suatu apapun yang lebih mulia bagi Allah selain dari doa”. Beliau juga bersabda: “Siapa yang tidak meminta pada Allah, niscaya Dia akan murka padanya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Kemenangan dan rizki dapat diperoleh dari berbagai sebab, sebab yang terkuat adalah doa orang-orang yang beriman”. Beliau juga berkata: “Tatkala Allah menetapkan kemenangan pada Perang Badar dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkannya kepada para sahabat sebelum terjadi juga memberitahu tempat-tempat terbunuhnya orang-orang Musyrik; salah satu sebab hal itu adalah permohonan dan doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau melihat banyaknya musuh dan kuatnya mereka, serta sedikitnya para sahabatnya dan lemahnya mereka, beliau segera menghadap kepada satu-satunya Dzat Pemilik Kemenangan: “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Ali-‘Imran 3 : 126)

Didalam Shahih Muslim disebutkan dari Al-Faruq Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: “Tatkala Perang Badar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kepada kaum Musyrikin yang berjumlah seribu orang sedangkan sahabatnya hanya berjumlah 319 orang, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kiblat, kemudian beliau menengadahkan tangannya dan menyeru Rabbnya: “Ya Allah, penuhilah apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikanlah apa yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika Engkau binasakan sekelompok kecil dari pemeluk Islam ini, Engkau tidak lagi disembah di bumi ini”. Beliau terus menerus berbuat demikian sampai selendangnya jatuh dari pundaknya”. Beliau juga berdoa untuk kebinasaan orang-orang Musyrik secara umum, beliau berdoa sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih:

اَللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، سَرِيْعَ الْحِسَابِ، اهْزِمِ اْلأَحْزَابَ، اَللَّهُمَّ اهْزِمْهُمْ وَزَلْزِلْهُمْ.

“Ya Allah yang menurunkan Al-Qur’an, Yang Maha Cepat hisab-Nya, hancurkan persekutuan musuh ini. Ya Allah, kalahkanlah mereka dan goncangkanlah mereka”. (HR. Musliim, 3/1362)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengkhususkan beberapa personel dan pemimpin mereka. Dalam hadits shahih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Ka’bah lalu berdoa untuk kebinasaan sekelompok Quraisy, yakni; Syaibah bin Rabiah, Utbah bin Rabiah, al-Walid bin Utbah dan Abu Jahal bin Hisyam. Aku bersaksi kepada Allah, sungguh aku melihat mereka bergelimpangan, jasadnya berubah terkena terik matahari”.

Ketahuilah wahai wali Allah, sungguh engkau berada di satu kondisi dari sekian kondisi dikabulkannya doa. Dari Sahal bin Saad As-Sa’di berkata sebagaimana disebutkan dalam Al-Muwattha: “Ada dua (2) waktu dibukanya pintu-pintu langit, dan amat sedikit ketika itu orang yang berdoa namun doanya ditolak; saat panggilan sholat adzan dan ketika berbaris (berhadapan dengan musuh) di jalan Allah”.

Maka wahai Mujahid, manfaatkalah sebaik-baiknya waktu-waktu dikabulkannya doa, seperti pada hari Jumat, ketika adzan, pada waktu turun hujan, dan di sepertiga malam terakhir. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam di sepertiga malam terakhir. Dia berkata, ‘Siapa yang berdoa pada-Ku niscaya Aku kabulkan, siapa yang meminta pada-Ku niscaya Aku beri, siapa yang meminta ampunan-Ku niscaya Aku ampuni dia”. Dalam riwayat lain disebutkan: “Siapa yang meminta rizki pada-Ku niscaya Aku berikan rizki padanya, siapa yang meminta dijauhkan dari derita niscaya Aku jauhkan darinya”.

Sungguh saya sangat berharap pada Allah agar Dia tidak menghalangi terkabulkannya doa kita, apalagi kita telah didzalimi oleh orang dekat maupun jauh dan seluruh dunia telah berkumpul untuk memerangi kita. Ada berita gembira untuk kalian dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bersabda kepada Muadz:

اِتَّقِ دَعْوةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ

“Takutlah kamu terhadap doa orang yang terdzalimi, karena sungguh tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah”. (Shahih Muslim, kitab Iman 1/37-38)
Inilah Nabi yang teraniaya, dia didustakan lalu berdoa, lalu bagaimanakah jawaban doanya? Allah Ta’ala berfirman: “Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kamu Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman). Maka dia mengadu kepada Rabbnya: “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu menangkanlah (aku)”. Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk suatu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku”. (QS. Al-Qomar 54 : 9-13)

Kemudian ketahuilah wahai Mujahid, bahwa diantara jalan kemenangan adalah adanya orang-orang lemah di barisan kita yang mendoakan untuk kemenangan kita. Dalam hadits shahih disebutkan dari Ibnu Abbas berkata: “Abu Sufyan telah mengabarkan kepadaku, dia berkata, ‘Kaisar Romawi berkata padaku, ‘Aku bertanya padamu apakah para bangsawan yang mengikuti Muhammad ataukah orang-orang lemah, lalu kamu menjawab orang-orang lemah, dan merekalah pengikut para Rasul’”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Saad radhiyallahu ‘anhu: “Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya orang-orang yang lemah di antara kalian”.

Hadits ini menjelaskan anjuran untuk memperhatikan orang-orang lemah dari kalangan Mujahidin dan yang selain mereka dari kalangan perempuan, anak-anak dan orang-orang tua, karena pada umumnya mereka itu lebih ikhlas dalam berdoa, lebih khusyu’, dan lebih menampakkan kebutuhan kepada Allah.

Sebagai penutup, saya ingatkan akan firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS. Ali-‘Imran 3 : 200). Dan firman-Nya: “Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman” (QS. Al-Maa’idah 5 : 23). Serta firman-Nya: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS. an-Nahl 16 : 128).

Dan juga firman-Nya: “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS. Al-Hajj 22 : 40). Serta firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (QS. Al-Anfal 8 : 45). Inilah jalan kemenangan sesuai yang tersebut dalam kitab Allah, maka pegang teguhlah dengan erat.

Terakhir, sebab dirilisnya tema ini adalah karena musuh telah mengumumkan –meskipun mereka cuma berdusta– bahwa jumlah korban mereka di Iraq mencapai empat ribu (4.000) jiwa. Sepantasnya kita merayakan peristiwa ini dengan cara kita sendiri dan kita undang si bodoh Bush untuk menghadiri perayaan kita.

Kami minta kepada para pahlawan Daulah yang kita cintai, agar setiap detasemen membawakan kepala orang Amerika, sebagai hadiah bagi si Dajjal Bush dengan cara apapun yang sesuai menurut mereka. Tidak lupa juga kepala pelayan-pelayan dan budak hina serta agen rendahan dari kalangan Shahawat Murtad. Semua itu dilaksanakan dalam waktu paling lama sebulan setelah tiap detasemen diberi tahu. Pahala operasi ini kita hadiahkan kepada kalangan awam Muslimin yang terbunuh secara teraniaya dan lalim di Zanjili, Ba’qubah, Duwalibah dan tempat-tempat lainnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Amru bin Al-Ash: “Jika ayahmu mengikrarkan tauhid, lalu kamu berpuasa atau bersedekah atas namanya, niscaya hal itu akan bermanfaat untuk ayahmu”.

Adapun operasi ini dilaksanakan dengan sandi Ghazwatul Birr.

Kami sangat berharap pada Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang agar mengampuni keluarga kita, khususnya mereka yang tidak berada dalam barisan Mujahidin dan orang-orang – yang tidak diragukan – lagi mati membawa dosa besar karena meninggal kewajiban yang telah menjadi fardhu ‘ain atas mereka.

Kita meminta pada Allah agar memberi petunjuk kepada umumnya kaum Muslimin dan agar mengembalikan mereka kepada panji kebenaran dan Dien ini. Allah Maha Menang atas perkara-Nya akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Edt; Abd/Dabiq/Selesai]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...