Wednesday , August 21 2019
Home / Firqah / Defenisi Sebuah Negeri

Defenisi Sebuah Negeri

(Mata-Media.Com) – Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, insyaAllah pada pembahasan kali ini kita akan membahas tentang defenisi sebuah dar (negeri), bagaimanakah batasannya, dan kapankah sebuah negeri disebut darul Islam atau darul kufr?! InsyaAllah kami akan tampilkan dan nukilkan aqwal (pendapat-pendapat) para ulama dalam masalah ini agar orang yang tadinya ragu menjadi yakin dan agar orang yang yakin bertambahlah keyakinannya, biidznillah.

Ketauhilah bahwasanya sebuah negeri disebut darul Islam atau darul kufr maka itu kaitannya sangat erat sekali dengan hukum apa yang diterapkan di negeri tersebut, jika ia hukum Islam maka itu darul Islam dan jika ia hukum kufr maka itu darul kufr. Dan ini adalah qaul atau pendapat mayoritas para ulama. Sungguh Ibnul Qayyim al-Hanbali rahimahullah berkata:

قال الجمهور: دار الإسلام هي التي نزلها المسلمون وجرت عليها أحكام الإسلام, وما لم تجر عليه أحكام الإسلام لم يكن دار إسلام وإن لاصقها.

“Jumhur atau mayoritas ulama berkata: Negeri Islam adalah negeri yang mana kaum Muslimin berada didalamnya dan berlaku atasnya hukum-hukum Islam. Jika tidak berlaku atasnya hukum-hukum Islam maka itu bukan negeri Islam meski ada yang menisbatkannya”. (Ahkam Ahlidz Dzimmah 2/728)

Lihatlah bagaimana Ibnul Qayyim menyebutkan bahwasanya ini adalah pendapat jumhur atau mayoritas para ulama. Jika masih ragu maka akan kami nukilkan ucapan-ucapan ulama lainnya insyaAllah. Berkata al-Kasani al-Hanafi rahimahullah:

لا خلاف بين أصحابنا في أن دار الكفر تصير دار إسلام بظهور أحكام الإسلام فيها

“Tidak ada perbedaan diantara shahabat kami bahwasanya darul kufr itu berubah menjadi darul Islam dengan sebab hukum-hukum Islam didalamnya”. (Badai’ush Shanai’ 7/130)

Sedang kitab Badai’ush Shanai’ merupakan salah satu kitab penting dalam madzhab Hanafi.

Kemudian berkata pula al-Qadhi Abu Ya’la al-Hanbali rahimahullah:

كل دار كانت الغلبة فيها لأحكام الكفر دون أحكام الإسلام فهي دار الكفر

“Setiap negeri yang mana berkuasa didalamnya hukum-hukum kufur bukan hukum-hukum Islam maka ia adalah darul kufr”. (al-Mu’tamad fi Ushuluddin 276)

Sedang tidak diragukan lagi bahwasanya dalam madzhab Hanbali kedudukan al-Qadhi Abu Ya’la adalah sangat mulia.

Dan ini juga adalah pendapat madzhab Hanbali secara keseluruhan sebagaimana ucapan Sulaiman bin Sahman rahimahullah:

وأما تعريف بلاد الكفر فقد ذكر الحنابلة وغيرهم أن البلدة التي تجري عليها أحكام الكفر ولا تظهر فيها أحكام الإسلام بلدة كفر

“Adapun defenisi darul kufr maka sungguh madzhab Hanbali dan selain mereka telah menyebutkan bahwasanya sebuah negeri jika berlaku atasnya hukum-hukum kufur dan tidak nampak padanya hukum-hukum Islam maka ia adalah darul kufr”. (Kasyful Auham wal Iltibas 94)

Dan terakhir sebagai penutupan akan penukilan kami ini dan bukan sebagai pembatasan maka akan kami nukilkan pendapat Ibnu Qudamah al-Maqdisi rahimahullah yang notabene adalah pendekarnya madzhab Hanbali, dimana beliau berkata:

ولنا أنها دار كفار فيها أحكامهم

“Menurut kami bahwasanya darul kufr itu adalah sebuah negeri yang didalamnya terdapat hukum-hukum mereka”. (al-Mughni 9/25, 26)

Dan kitab al-Mughni milik beliau merupakan salah satu kitab perbandingan madzhab terbesar dan terbaik.

Maka jelaslah akan defenisi sebuah negeri yang mana kesimpulannya adalah bahwasanya batasan sebuah negeri disebut negeri Islam atau kufur maka itu tergantung dengan hukum apa yang diterapkan di negeri tersebut, jika hukum Islam maka darul Islam dan jika hukum kufur maka darul kufr.

Memang ada sebagian ulama yang menyebutkan bahwa batasan sebuah negeri disebut darul Islam adalah jika nampak pada negeri tersebut adzan, shalat Jum’at, shalat ‘id dan sejenisnya, namun ini hanyalah pendapat minoritas ulama yang menurut kami adalah pendapat yang dhaif atau lemah. Dan bukti bahwasanya itu adalah pendapat minoritas adalah ucapan Ibnul Qayyim diatas bahwasanya mayoritas ulama menyebut sebuah negeri sebagai darul Islam atau kufr maka itu tergantung hukum apa yang diterapkan pada negeri tersebut, ditambah dengan pendapat-pendapat ulama selain Ibnul Qayyim yang telah kami nukilkan yang justru menjadi semakin menguatkan hal tersebut.

Demikianlah sedikit pembahasan dari kami, semoga bermanfaat untuk seluruh kaum Muslimin. [Alberto]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...