Tuesday , August 20 2019
Home / Firqah / Aliran Sesat (TBC) / Pentingnya Kepemimpinan Islam & Sebuah Negara (Ulil Amri “Mingkem” Bagian 2)

Pentingnya Kepemimpinan Islam & Sebuah Negara (Ulil Amri “Mingkem” Bagian 2)

Oleh: Joko Tarub

(Mata-Media.Com) – Imam Asy-Syaukani dalam Fathul Qadir dengan lugas dan tegas menjelaskan bahwa ulil amri yang dimaksud dalam syariat Islam adalah:

هُمُ الْأَئِمَّةُ، وَالسَّلَاطِينُ، وَالْقُضَاةُ، وَكُلُّ مَنْ كَانَتْ لَهُ وِلَايَةٌ شَرْعِيَّةٌ لَا وِلَايَةٌ طَاغُوتِيَّةٌ

“Mereka adalah para imam, penguasa, hakim dan semua orang yang memiliki kekuasaan syar’i bukan kekuasaan Thaghut”. (Fathul Qadir, Imam Asy-Syaukani, 1: 556. Cet. Dar Ibnu Katsir, Damaskus)

Berangkat dari pengertian ulil amri menurut Imam Asy-Syaukani diatas, maka kita akan memperluas cakupan bahasan tentang tema ini. Mungkin akan muncul sebuah pertanyaan, “Mengapa sampai terjadi pemutar balikkan fakta oleh para kalangan yang menggunakan legitimasi ayat untuk membela Thaghut dan mendaulat mereka sebagai ulil amri? Apakah ayat yang berisi tentang wajibnya taat kepada ulil amri adalah benar untuk ulil amri yang ada pada saat ini, di negara yang seperti ini, dan cara pengangkatannya apakah seperti saat ini ataukah bagaimana??”.

Lalu apakah pula kaidah, “Sesuatu yang dibangun diatas kebatilan maka hukumnya batil” masih berlaku untuk saat ini? Ataukah dalil ulil amri memang turun untuk mendukung sistem Demokrasi dan sistem kufur lainnya? (Baca: Pentingnya Kepemimpinan Islam & Sebuah Negara (Ulil Amri “Mingkem” Bagian 1)

Disela-sela pertanyaan diatas, seorang Muslim akan segera mengetahui bahwa memang dari semua sistem yang ada dalam pemerintahan saat ini sangat tidak pas jika harus menggunakan dalil-dalil syariat untuk mengokohkan pemerintahan itu. Sebab jika hal itu dipaksakan untuk dilakukan, maka akan terjadi salah penempatan, seperti kelompok Khawarij yang menggugat Amirul Mukminin menggunakan ayat: “Inil hukmu illa lillah”, namun justru untuk menggugat pemimpin yang menerapkan hukum Allah. Maka dalam kasus inipun juga begitu, menggunakan wahyu Allah untuk pemimpin yang justru menolak hukum Allah.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, karena negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim seperti Malaysia, Indonesia, Brunei, dan bahkan Arab Saudi telah mendeklarasikan diri menjadi Negara Sekuler atau Negara Kerajaan, maka dengan terpaksa kami sedikit mengulas ciri-ciri Sekulerisasi dan keniscayaannya sebagai alat tukar Moderenisme.

Dalam diskursus sosiologi ada sebuah teori terkenal yang mengatakan bahwa, “makin maju suatu masyarakat, makin menurun komitmen mereka pada agama”. ‘Maju’ disini maksudnya ‘modern’. Modernisasi dipercaya bakal menghalau agama dari ruang dan institusi publik, menurunkan arti dan vitalitasnya bagi masyarakat serta menggantikannya dengan Tuhan-Tuhan baru.

Dalam proses menuju kemodernan ini, Sekulerisasi konon menjadi sebuah kemestian. Modernisasi tanpa Sekulerisasi bagaikan merokok tanpa menghirup asap. Ciri-ciri masyarakat modern adalah:

  1. Ada differensiasi fungsi dan struktur sosial, dan hal ini ditandai dengan munculnya sistem birokrasi dan profesionalisme, menggantikan hirarki, dominasi dan pretensi kelompok tertentu. Ini disertai oleh fragmentasi ideologi dan maraknya tren Pluralisme dan Relativisme, bahwa tidak ada kebenaran tunggal.
  2. Privatisasi agama, sebagai konsekwensi dari kehidupan yang lebih terorganisir dan terjamin, sehingga agama dirasakan tidak lagi relevan bahkan tidak berpengaruh sama sekali dalam konteks sosial.
  3. Terjadinya rasionalisasi di mana sains dan teknologi tampil dominan menggantikan mitologi, mistisme, sihir dan perdukunan. (Islam dan Diabolisme intelektual, Syamsudin Arif)

Menurut teori August Comte bahwa Sekulerisasi merupakan akibat tak terelakkan dari proses Modernisasi. Usaha menghilangkan nilai-nilai  agama dalam masyarakat terjadi disetiap sudut dan ruang waktu, sehingga dalam kenyataannya bisa saja seseorang merasa beragama tanpa beribadah, mengaku beriman tanpa beramal.

Di Indonesia, jika Anda menegur dua (2) ABG yang sedang di mabuk cinta dan bercumbu didepan publik, yang terjadi justru andalah yang dianggap aneh, karena Anda terlalu agamis dan membawa agama Anda ke ruang publik, yang mana hal itu bertentangan dengan konsep Modernisasi. Sebab, agama tidak lagi mempunyai ruang sosial, dan agama hanya berlaku didalam rumah, masjid dan musholla. Jika sudah keluar dari garis itu, maka pamali membawa-bawa agama di ruang publik.

Karena hal itu pula, sampai-sampai seorang penceramah harus memilih bahan ceramah yang tidak menyinggung urusan publik, semisal kepemimpinan. Seorang khatib hanya bisa berkhutbah dalam ruang private, misal tentang siwak, jenggot, berpakaian yang sunnah dan segala hal yang sifatnya hanya masuk dalam ranah ahwal syahsyiah. Adapun untuk urusan negara, pemerintahan dan masyarakat, maka haram bagi Allah untuk ikut campur didalamnya, alias tidak boleh sebuah wahyu, hukum dan syariat Allah diterapkan.

Harvey Cox dalam bukunya The Scular City menyimpulkan bahwa Sekulerisasi tidak bisa lagi dibendung, sehingga orang mau tidak mau harus belajar mencintainya, kalau tidak ingin tersingkir dari pentas kehidupan. (Harvey Cox, The Scular City. New York: Collier Books, 1965)

Didalam dunia “Islam”, Sekulerisasi bukan hanya sebuah proses, tapi juga telah menjadi paradigma, ideologi dan dogma yang diyakini kebenarannya dan digarap secara sistematis dan terencana. Sekulerisasi dianggap sebagai prasyarat transformasi masyarakat dari tradisional menjadi modern. Akan tetapi untuk mengurangi resistensi, digunakanlah istilah lain yang lebih halus dan mengelabui seperti Modernisasi, pembangunan, Demokratisasi, Liberalisasi dan selainnya.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, kasus yang paling mencolok tentunya adalah Turki. Kekalahan melawan Rusia (tahun 1774) dan kegagalan mempertahankan Mesir dari invasi Napoleon (tahun 1798) memaksa imperium Turki Utsmani untuk melakukan Modernisasi militer, ekonomi dan sosial lewat serangkaian program yang disebut Tanzimat: dari penghapusan pasukan khusus, pembubaran tarekat Bekhtasi, regulasi pajak, hingga undang-undang anti “diskriminasi” sipil (penghapusan konsep dzimmi bagi Kafir)”. (The Ottoman ‘Ulema and Westernization in the Time of Selim III and Mahmud II)

Modernisasi kemudian dilanjutkan oleh Thaghut Mustafa Kemal Attaturk, setelah berhasil merebut kekuasaan (tahun 1923), dan dia melakukan de-Islamisasi besar-besaran lewat enam (6) poin:

  1. Prinsip Repubikanisme; bahwa Negara Turki modern menerapkan Demokrasi parlementer yang dipimpin oleh seorang Presiden, bukan kesultanan maupun Khilafah.
  2. Nasionalisme, bahwa bukan agama ataupun madzhab yang menentukan kewarganegaraan.
  3. Kenegaraan; bahwa pemerintah berkuasa penuh dalam mengelola ekonomi dan berhak intervensi demi kepentingan rakyat.
  4. Prinsip Populismel; dimaknai dengan perlindungan hak asasi manusia dan kesetaraan dihadapan hukum.
  5. Sekulerisme.
  6. Prinsip Revolusionisme.

Pada perkembangannya, konsep sekuler Attaturk ini menjadi monster ganas yang anti Islam. Semua yang berbau Arab dan Islam dicela habis-habisan dan dianggap sebagai “kemunduran dan keterbelakangan”. Agaknya inilah yang saat ini menimpa umat Islam di Indonesia dan negara-negara mayoritas berpenduduk Muslim lainnya, di mana hegemoni Islam berlarut-larut mulai memudar, dan tampuk politik serta kebijakan di kuasai oleh kaum Liberalis.

Alih-alih akan menegakkan syariat Islam, untuk mensosialisasikan ayat-ayat yang berkenaan dengan penegakkan saja sudah dianggap sebuah makar, SARA, ekstremis dan radikal. Agaknya hegemoni sekuler juga ikut mencekik leher dan mencabut lidah para pendakwah. Alih-alih berusaha menyadarkan umat akan bahaya sistem pemerintahan busuk ala sekuler, mereka justru ikut nyemplung dan menari dalam kubangan sistem Demokrasi dan Sekulerisasi.

Akhirnya, apa yang menjadi rencana jangka panjang Cristian Snouck Hurgronje yang sangat mengkhawatirkan perkembangan Islam di Indonesia dan menganggap Islam bisa berbahaya bagi Belanda menjadi kenyataan, sehingga Islam tidak bisa dianggap remeh baik sebagai agama maupun kekuatan politik.

Karel Steenbrink mencatat bahwa Snouck Hurgronje berpendapat bahwa sistem Islam sangatlah kaku dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan abad baru. Menurutnya, kaum Muslimin harus dibebaskan dari jeratan agama mereka, yaitu hanya dengan melalui organisasi pendidikan yang berskala luas atas dasar universal dan netral agama, pemerintah kolonial dapat membebaskan atau melepaskan Muslimin dari agama mereka.

“Pengasuhan dan pendidikan adalah cara untuk mencapai tujuan tersebut. Bahkan, di negeri-negeri berbudaya Islam yang jauh lebih tua dibandingkan Nusantara, kita menyaksikan mereka bekerja sangat efektif untuk membebaskan umat Muhammad dari kebiasaan lama yang telah membelenggunya”. (Lihat: Pancasila Bukan Untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam, hal. 58, DR. Adian Husaini, Gema Insani, Jakarta 2009. Karel Steenbrink, “Kawan dalam Pertikaian”, hal: 122)

Jangankan Indonesia yang  ikut terlibas, sedangkan Arab Saudi yang mengklaim dirinya pelayan “Dua Tanah Suci” saja tersungkur ketika dihadapkan pada konsep modernitas. Sehingga saat ini, cadar tidak lagi menjadi ciri khas wanita disana, kebaya-kebaya modern, stadion sepak bola yang tiap pekannya dijejali kaum hawa, festival kartu remi, dan hal-hal yang dahulu dianggap haram dan difatwakan terlarang, pada saat sekarang ini justru menjadi keniscayaan pahit yang harus dialami masyarakat yang tinggal di Jazirah Muhammad. Bahkan, perusahan-perusahan Amerika Serikat (AS) bertaburan disana, hotel-hotel dan klub malam sudah menjadi pemandangan wajib setiap harinya, semoga Allah segera menghancurkan dinasti Saud (Alu Salul) dan menggantinya dengan Negara Islam.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, ini semua bisa terjadi akibat pembangkangan dan kesombongan para pemimpin yang menolak Islam sebagai ideologi negara, lalu mengganti hukum Allah dengan hukum Thaghut. Padahal para ulama telah bersepakat bahwa seseorang yang mengklaim dirinya memiliki hak untuk membuat hukum selain Allah, maka dia telah Kafir. Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاء شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak di izinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih”. (QS. Asy-Syura 42 : 21)

Didalam ayat ini dijelaskan bahwa siapa saja yang membuat syariat dan hukum yang tidak Allah izinkan, maka dia musyrik. Karena itulah Allah menyebut para pembuat syariat dan hukum itu sebagai syuraka’ (sekutu-sekutu dan sesembahan selain Allah). Allah juga berfirman:

اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَاباً مِّن دُونِ اللّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At-Taubah 9 : 31)

Sebagaimana telah masyhur, tafsir ayat diatas dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa para ulama dan rahib mereka itu menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa-apa yang dihalalkan oleh Allah. Maka dengan perilaku itu, mereka telah menjadikan diri mereka sebagai arbab (Tuhan-Tuhan) selain Allah.

Bani Israel meninggalkan tahlil dan tahrim dari Allah dan menggantinya dengan tahlil dan tahrim dari para ulama dan rahib mereka, yang mana dengan hal itu mereka sama saja menjadi penyembah para ulama dan rahib itu. Karena tasyri’ (penentuan hukum) adalah hak murni Allah, sehingga barangsiapa yang mengklaim dirinya memiliki hak menentukan hukum dan undang-undang, maka sungguh dia telah mengklaim ketuhanan, dan orang yang mengikutinya sama saja menyembahnya. Karena itulah diakhir ayat Allah menyebutkan:

وَمَا أُمِرُواْ إِلاَّ لِيَعْبُدُواْ إِلَـهاً وَاحِداً لاَّ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Ketika manusia menghalalkan keharaman yang telah disepakati, atau mengharamkan kehalalan yang telah disepakati, atau mengganti syariat yang telah disepakati, maka dia Kafir lagi Murtad menurut kesepakatan ahli fiqih. Menurut salah satu dari dua (2) pendapat dalam konteks seperti itulah, maka firman Allah turun:

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ اللّهُ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Barangsiapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang Kafir”. (QS. Al-Maa’idah 5 : 44) yaitu dia membolehkan berhukum dengan selain syariat Alla”. (Majmu’ Fawata Ibnu Taimiyah, hal. 267-268)

Dari uraian diatas dan risalah sebelumnya, maka dapat disimpulkan ke-fardhuan tunduk dan patuh serta meneriman ketentuan syariat Muhammad dengan sepenuh jiwa, dan barangsiapa membolehkan dan melegalkan serta keluar meninggalkan syariat Islam, maka dia Kafir Murtad dari Islam menurut kesepakatan para ulama.

وَمُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَبْعُوثٌ إلَى جَمِيعِ الثَّقَلَيْنِ: إنْسِهِمْ وَجِنِّهِمْ، فَمَنْ اعْتَقَدَ أَنَّهُ يَسُوغُ لِأَحَدِ الْخُرُوجُ عَنْ شَرِيعَتِهِ وَطَاعَتِهِ فَهُوَ كَافِرٌ يَجِبُ قَتْلُهُ.

“Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam itu diutus kepada dua (2) bangsa: manusia dan jin. Maka siapa yang meyakini bahwasannya seseorang boleh keluar dari (ketundukan pada) syariatnya, maka ia Kafir dan wajib dibunuh”. (Majmu’ Fatawa, Syaikh Islam Ibnu Taimiyah, 3/422)

Ibnu Katsir rahimahullah ketika panjang lebar menjelaskan sepak terjang Jengis Khan dan Ilyasi’ yang menjadi sebuah kitab undang-undang yang menjadi rujukan wajib di wilayah kekuasaannya. Selain itu, Ilyasi’ juga sebuah kitab dustur yang dirangkum dan disarikan dari berbagai macam syariat agama yang telah di nasakh dengan turunnya syariat Islam, serta diambil dari pendapat pribadinya, yang ternyata banyak bertentangan dengan syariat Muhammad. Akhirnya, Ilyasi’ menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) didalam wilayah kekuasaan Tartar, lalu umat Islam dipaksak untuk mengimani, melaksanakannya dan mengkultuskannya melebihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maka Ibnu Katsir menegaskan:

وَفِي ذَلِكَ كُلِّهِ مُخَالَفَةٌ لِشَرَائِعِ اللَّهِ الْمُنَزَّلَةِ عَلَى عِبَادِهِ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَمَنْ تَرَكَ الشَّرْعَ الْمُحْكَمَ الْمُنَزَّلَ عَلَى مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَتَحَاكَمَ إِلَى غَيْرِهِ مِنَ الشَّرَائِعِ الْمَنْسُوخَةِ كَفَرَ، فَكَيْفَ بِمَنْ تحاكم إلى الياسا وَقَدَّمَهَا عَلَيْهِ؟ مَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَفَرَ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ.

Dan didalamnya (Ilyasi’ itu) seluruhnya bertentangan dengan syariat Allah yang diturunkan kepada para hamba-Nya; yaitu para Nabi –alaihim shalat wa salam-. Maka siapa-pun yang meninggalkan syariat muhkam yang diturunkan kepada Muhammad bin Abdillah sang penutup para Nabi, dan berhukum kepada selain (syariat)-nya dari syariat-syariat yang telah dihapus maka ia Kafir. Maka bagaimana gerangan dengan orang yang berhukum kepada Ilyasi’ dan lebih memilihnya daripada syariat beliau? Maka barangsiapa yang melakukan hal itu, dia Kafir menurut ijma’ kaum Muslimin”. (Al-Bidayah, 13/139)

Bagi orang beriman, selain hukum Allah adalah hukum Jahiliyah dan hukum Thaghut yang wajib diingkari. Dalam hal ini Allah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ 

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?”. (QS. Al-Maa’idah 5 : 50)

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, hukum Jahiliyah adalah, hukum yang dibuat oleh para penyembah berhala dan kaum Musyrikin. (Silahkan merujuk pada: Jami’ al-Bayan, Imam at-Thabari 10/394)

Maka, ada umat Islam yang bertanya: “Apakah hukum di Indonesia ini dibuat oleh manusia ataukah ketentuan Allah dan Rasul-Nya? Lalu kenapa jika yang membuat hukum itu Tartar wajib dikafirkan, sedangkan jika yang membuat hukum itu adalah manusia Indonesia wajib ditaati, bahkan didaulat menjadi ulil amri?”

Jawabannya hanya satu: Saat itu yang menafsirkan ayat adalah ahli tafsir selevel Ibnu Taimiyyah, dan Ibnu Katsir. Namun di Indonesia yang menafsirkan ayat dan hadits adalah para penjilat Thaghut sekelas Khalid dan Syafiq Basalamah, Badrussalam, Firanda dan para tokoh kelompok Salafi Murji’ah lainnya yang tak dapat membedakan antara iman dan kufur, hukum Allah dan hukum Jahiliyah, ulil amri dan Thaghut. Semoga Allah membutakan bashirah mereka, demi keuntungan dunia rela menjual agamanya. Dan ciri kemunafikan seseorang adalah:

يُرِيدُونَ أَن يَتَحَاكَمُواْ إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُواْ أَن يَكْفُرُواْ بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَن يُضِلَّهُمْ ضَلاَلاً بَعِيداً

“Mereka hendak berhakim kepada Thaghut , padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya”. (QS. An-Nisa’ 4 : 60)

Lalu ada pula yang ebrtanya, “Apa Itu Hukum Thaghut?” Renungkanlah jawaban Ibnul Qayyim rahimahullah berikut ini,

“Sesungguhnya, siapa yang menuntut hukum atau menegakkan hukum selain yang dibawa oleh Rasulullah maka sungguh ia telah mengangkat Thaghut sebagai hakim dan berhakim kepadanya. Sedangkan Thaghut adalah setiap hamba yang melampaui batasnya, baik disembah, diikuti atau ditaati. Maka Thaghut suatu kaum adalah sesuatu yang mereka jadikan pemutus hukum selain Allah dan Rasul-Nya, mereka sembah selain Allah, atau mereka ikuti tanpa ada ilmu dari Allah, atau mereka taati dalam hal yang tidak mereka ketahui bahwa itu adalah ketaatan khusus untuk Allah”. (I’lamul Muwaqi’in, 1/40)

Seorang hamba batasannya adalah taat dan patuh kepada aturan Rabbnya, dan jika ia membuat aturan selain aturan Allah dan meninggalkan syariat-Nya, maka ia telah melampaui batas, dan sah disebut Thaghut. Apapun jabatan dan kasta seorang hamba tidaklah patut ia melampaui batasnya dengan membuat hukum selain hukum Allah. Sebab, siapapun yang melakukannya berarti ia telah mendakwakan dirinya sebagai sekutu, tandingan dan tuhan selain Allah.

Selain itu, siapapun yang mengikutinya maka sama saja dengan menjadikannya mereka sebagai Tuhan, tidak ada bedanya antara seorang yang terjatuh pada syirik karena menyembah berhala, dengan mereka yang terjatuh pada syirik hukum. Wallahu a’lam.. [Edt; Abd/Bersambung]

Check Also

Viral..!! Sekda Papua Sebut Papua Sebagai Tanah Kedua Zionis Israel

JAYAPURA (Mata-Media.Net) – Sebuah video yang menunjukkan Sekda Papua, TEA Hery Dosinaen sedang viral di dunia ...