Thursday , December 12 2019
Home / Firqah / Aliran Sesat (TBC) / Berdakwah dengan Lisan, Berdakwah dengan Teladan

Berdakwah dengan Lisan, Berdakwah dengan Teladan

Oleh: Ustadz Abu Nayla Al-Bassam

(Mata-Media.Com) Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, setiap Muslim itu wajib berdakwah, mengajak beriman dan berislam dengan baik dan istiqomah, baik kepada diri sendiri, keluarga dan orang lain secara umum. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah ilmu dariku walaupun hanya satu ayat”. (HR. Bukhari dari sahabat Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhu)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan kalimat, ولو آية maksudnya adalah walau hanya satu ayat, “hendaknya setiap orang yang mendengarnya bersegera untuk  menyampaikan ilmu yang dia terima walaupun sedikit, agar supaya semua ilmu yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam terus bersambung”.

Kemudian, sebagian ulama ada yang menjelaskan bahwa dalam hadits diatas, Rasulullah menggunakan kata ‘ayat’ untuk mengungkapkan ilmu yang paling sedikit yang mungkin dimiliki oleh seseorang, sehingga jika ia mengetahui lebih dari satu ayat, maka secara otomatis lebih diperintahkan lagi untuk menyampaikannya kepada orang lain.

Dengan demikian, maka dalam hadits ini Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan semua kaum Muslimin baik lelaki atau perempuan, terlebih yang bergelar dai atau ustadz untuk menyampaikan ilmu bermanfaat dari Allah dan Rasul-Nya yang diketahuinya, karena tidak mungkin seorang Muslim tidak memiliki ilmu apapun tentang agama Islam.

Sesungguhnya berdakwah dan menyampaikan kebenaran walaupun itu pahit rasanya, dan mungkin saja kita bisa kehilangan kesenangan duniawi yang kita terima dari orang sekitar kita adalah pekerjaan mulia yang dapat menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk berbuat sesuai dengan yang didakwahkan karena hal itu sesuai perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Karena itu, dakwah Islam akan berhasil dan efektif jika sang dai, usatdz dan para ulama sudah mengamalkan dan menampilkan keteladanan terlebih dahulu apa yang disampaikan kepada orang lain, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.

Dakwah bil Lisan atau bil Hal tidak akan berhasil dengan baik jika tidak dibarengi dengan uswah hasanah (keteladanan yang baik) dari diri sang dai. Dengan kata lain, setiap Muslim sejatinya harus mampu memberikan teladan yang terbaik bagi diri sendiri, keluarga dan orang lain.

Allah Ta’ala sangat murka kepada dai atau ustadz dan orang-orang yang hanya menceramahi orang lain atau sekarang ini yang lagi ngetrend adalah berdakwah lewat media sosial (medsos) entah itu Facebook (FB), Twitter, Instagram, channel Telegram dan lainnya, akan tetapi tidak mengamalkan isi dakwahnya. Inilah dakwah lilin, yakni menerangi orang lain, tetapi dirinya sendiri terbakar dan habis.

Dakwah orang-orang dan ustadz atau dai semacam itu sangat dimurkai oleh Allah Ta’ala sebagaimana yang termaktub dalam kitab suci-Nya. Allah berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُوا۟ مَا لَا تَفْعَلُونَ ﴿٣

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”. (QS. Ash-Shaff 61 : 2 – 3)

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, dakwah Rasulullah merupakan dakwah sinergi antara kata-kata dan perbuatan nyata. Rasulullah selalu menyatukan kata dengan perbuatan sehingga menjadi teladan bagi para sahabat dan terlebih secara luas kepada para umatnya.

Selain itu dalam berdakwah, Rasulullah juga mengedepankan etika seperti kelemah lembutan, kesantunan, empati, kasih sayang dan kesabaran. Namun dalam waktu yang lain, dakwah Rasulullah juga tegas, dan tidak melullu sabar, santun dan lemah lembut. Tegas bukan berarti kasar. Rasulullah tidak pernah mencaci maki, melaknat, memarah-marahi, apalagi membodohi umatnya.

Rasulullah juga tidak memendam rasa dendam dan meluapkan emosi amarahnya ketika dicaci maki dan dilukai oleh Abu Jahal dengan dilempari batu dan dipukul dengan kampak saat mengajak kaumnya berislam di bukit Shafa.

Bahkan ketika Hamzah bin Abdul Mutholib radhiyallahu ‘anhu, paman beliau menemuinya selepas membalaskan dendamnya kepada Abu Jahal, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak merasa senang terhadap tindakan yang dilakukan oleh pamannya itu. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku tidak suka engkau berbuat seperti itu. Aku lebih suka engkau bersikap baik kepadanya sampai dia bersyahadat, memeluk Islam”.

Respon Rasulullah tersebut membuat Hamzah tertegun, dan menyadari pelampiasan dendam dan rasa dengki serta amarah tidak akan menyelesaikan suatu masalah. Akhirnya, Hamzah pun bertobat dan menyatakan masuk Islam, kemudian bersyahadat.

Kisah singkat ini memberi pelajaran kepada kita bahwa dakwah bil uswah (dakwah dengan keteladanan) jauh lebih efektif daripada dakwah dengan kata-kata yang tidak disertai dengan amal nyata. Ketika seorang dai menyampaikan kepada mad’u (obyek dakwah) untuk berakhlaq baik, namun akhlaq si dai itu justru buruk dan serig melontarkan syubhat kepada umat, lalu bagaimana respon mad’u???

Ketika seorang dai mengajak umat untuk bersikap tegas menghadapi kebatilan dan kemungkaran, namun sikap dai sendiri malah lemah ketika berhadapan dengan kebatilan dan kemungkaran, bagaimana dampaknya ditengah umat? Banyak contoh kasus yang terjadi model dai lilin ini yang dampaknya lebih rusak bagi dakwah itu sendiri.

Jika dakwah menjadi tugas bersama, maka masing-masing pihak berkewajiban bersinergi dalam berdakwah. Sebab, selama ini dakwah bil lisan (dengan kata-kata) sudah mengalami titik jenuh dan titik nadir. Oleh karena itu di akhir zaman seperti sekarang ini yang mana kelompok dan aliran sesat serta paham yang menyimpang bertebaran dimana-mana, maka diperlukan dakwah bil hal, dakwah secara lisan dibarengi dengan contoh yang baik dan keteladanan.

Berapa banyak persoalan dakwah itu datang dari diri dai sendiri, ketika tidak ada uswah yang baik, maka berapa banyak mad’u yang lari dari dakwah karena sikap dai-nya.

Maka yang diperlukan pada saat sekarang ini adalah keteladanan dalam berdakwah dan beramar ma’ruf nahi mungkar. Jadi, sinergi dakwah bil uswah itu harus dengan ibda’ bi nafsik (mulailah dari diri sendiri). Syaikh Salman Al-Audah dalam kitabnya akhlaq daa’iyah menyebutkan tentang keutamaan dari dakwah bil hal ini.

Karena contoh yang baik dari dai adalah bentuk dakwah yang sangat berhasil dan tepat, sehingga mad’u mempunyai figur dalam pelaksanaan syariat Islam yang mulia ini. Semoga taufiq dan rahmat Allah selalu tercurah kepada kita semua. Aamiin.. [RMC]

Check Also

Menag Fachrul Razi Sebut Radikalisme Menyusup di PAUD

JAKARTA (Mata-Media.Net) – Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi kembali melontarkan pernyataan kontroversial dan meresahkan umat ...