Tuesday , August 20 2019
Home / Firqah / Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 3)

Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 3)

Oleh: Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir

(Mata-Media.Com) – Pada bagian ini dan untuk poin kelima, Syaikh Abu Hamzah Al-Muhajir taqabbalahullah menjelaskan tentang perkara faridhah i’dad fie sabilillah. Dalam perkara ini, Syaikh Abu Hamzah mengkhususkan pada beberapa hal, yakni: (Baca: Inilah Kunci Jalan & Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 2)

Dalam Bidang Militer Berupa:

– Produksi persenjataan

– Penggunaan baju besi

– Bahan peledak

Dalam Bidang Media Untuk:

– Membela kehormatan dan akidah kaum Muslimin

– Mengobarkan semangat pemuda umat Islam dan khususnya para Mujahidin

– Membongkar tipuan ideologi dan moral orang-orang Kafir serta Murtaddin, memberikan pencerahan pada umat mengenai hakikat kebusukan peradaban dan kepalsuan ide-ide mereka, menahan nafsu congkak mereka terhadap kaum Muslimin dan menanamkan rasa gentar dalam jiwa mereka

– Menyampaikan gambaran sebenarnya mengenai pertempuran yang berlangsung antara para prajurit Islam dan musuh-musuh mereka, serta mendokumentasikan hakikat kepahlawanan para pemuda Islam agar tidak hilang sia-sia atau dicuri oleh para mafia darah. (Baca: Inilah Kunci & Jalan Kemenangan Bagi Islam & Kaum Muslimin (Bagian 1)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi”. (QS. Al-Anfal 8 : 60)

Penulis Adhwaul Bayan mengatakan: “Ini adalah perintah tegas untuk mempersiapkan semua kekuatan yang dimampui, meskipun kekuatan (musuh) mengalami perkembangan yang pesat. Karena ini adalah perintah tegas untuk mengikuti perkembangan teknologi dalam urusan dunia”.

Telah diketahui bahwa jihad adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim dan khususnya di Bilad Ar-Rafidain (Iraq). Sedangkan jika sesuatu yang wajib itu tidak sempurna lantaran membutuhkan suatu hal, maka sesuatu hal itu menjadi wajib.

Dari Salamah bin Al-Akwa’ radhiyallahu ‘anhu dia berkata:

مَرَّ النبيُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى نَفَرٍ مِنْ أَسْلَمَ يَنْتَضِلُوْنَ فَقالَ: اِرْمُوا بَنِي إِسْماعِيْلَ فَإنَّ أَباكُمْ كَانَ رَامِياً

“Nabi shallallahu alaihi wa sallam pernah melewati sekelompok Bani Aslam yang berlomba memanah. Lalu beliau bersabda, “Memanahlah kalian wahai anak keturunan Ismail, karena sungguh ayah kalian adalah seorang pemanah”. (HR. Al-Bukhari no. 2899)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda diatas mimbar:

وَأَعِدُّوا لَهُمْ ما اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ، أَلآ إِنَّ الْقُوَّةَ الرَّمْيُ، ألا إن القوة الرمي، ألا إن القوة الرمي

“Persiapkanlah semua kekuatan yang kalian miliki. Ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah, ketahuilah sesungguhnya kekuatan itu adalah memanah”. (HR. Muslim no. 1917)
Berkata Ash-Shan’ani: “Hadits ini menunjukkan bahwa tafsir Al-Quwwah dalam ayat tersebut adalah memanah, karena hal itu sudah menjadi kebiasaan pada masa Nabi, sekalipun sebenarnya mencakup menembak orangorang musyrik dan para pemberontak dengan senapan”.

Ringkasnya, mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi peperangan yang berlangsung melawan musuh penjajah dan orang-orang Murtad adalah wajib bagi setiap Muslim yang mendapat beban kewajiban jihad. Sedangkan yang akan saya khususkan disini adalah;

Pertama: Apa yang disebutkan oleh Abu Ja’far Ath-Thabari rahimahullah dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala: {Kekuatan apa saja yang kalian mampu}. Dia berkata: “Kekuatan apa saja yang kalian mampu untuk menghadapi mereka berupa peralatan dan persenjataan untuk menambah kekuatan kalian”. Maka produksi senjata adalah faktor pendukung terbesar dalam jihad fie sabilillah, yang pada saat ini disebut dengan industri militer. Sungguh Allah telah menyebutkan produksi ini bukan dalam satu tempat saja dalam kitab-Nya. Bahkan Dia menyebutkan sebagiannya dengan sangat rinci.

Allah Ta’ala berfirman; “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat Labus (baju besi) untuk kamu, guna memelihara kamu dalam peperanganmu; Maka hendaklah kamu bersyukur (kepada Allah)”. (QS. Al-Anbiyaa’ 21 : 80)

Berkata Ath-Thabari rahimahullah: “Dan telah Kami ajarkan kepada Daud membuat labus (baju zirah) untuk kamu”, Al-Labus menurut orang Arab adalah semua jenis persenjataan, baik perisai, baju zirah, pedang, maupun tombak”. Sedangkan Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya adalah pembuatan perisai atau baju zirah”.

Allah Rabbul ‘izzah menyebutkan sifat perisai itu dalam firman-Nya: “Buatlah perisai yang besar-besar dan ukurlah anyaman (baju besi)-nya”. (QS. Saba’ 34 : 11). Maksudnya adalah perisai yang lebar dan panjang. “Dan ukurlah anyaman (baju besi)-nya”, dalam Adhwaul Bayan disebutkan: “Maksudnya jadikanlah cincin dan paku (rivet –pent) dalam pembuatan baju zirah itu sesuai ukurannya”. Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan dari Qotadah berkata: “Sesungguhnya baju besi dahulu terbuat dari lempengan besi, Daud-lah yang pertama kali membuatnya dari rangkaian cincin (zirah rantai –pent)”.

Dari penjelasan tersebut, engkau dapat mengetahui bagaimana perhatian ilahiyah terhadap pembuatan baju besi hingga Allah menyebutkannya dengan sangat terperinci, dan Dia mengkaruniakan baju besi itu kepada hamba-hamba-Nya. Maka hendaklah kalian bersyukur.

Namun sangat disayangkan, kebanyakan Mujahid atau mayoritasnya tidak mempedulikan penggunaan baju besi dalam peperangan kita melawan musuh, padahal mengandung banyak manfaat.

Manfaat pertama yang paling penting adalah menjaga jiwa Mujahid sebagai sesuatu yang paling berharga, dari tembakan dan serpihan bom musuh.

Manfaat kedua yaitu menjaga Mujahid agar tidak terkena tembakan pada bagian tubuh yang mematikan sehingga menghalanginya dari jihad atau membuatnya kehilangan kesadaran dan terkapar di medan tempur yang menjadikannya berpeluang tertawan musuh.

Manfaat ketiga yaitu membantu Mujahid untuk sampai lebih dekat pada tempat musuh, khususnya bagi para pahlawan penyergapan dan singa-singa istisyhadi.

Terakhir, kita bukanlah orang yang lebih pemberani dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan dahulu beliau memiliki baju besi dan helm tempur, sebagaimana beliau juga memiliki pedang.

Dalam Shahih Bukhari dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat sedangkan baju zirahnya tergadaikan pada seorang Yahudi dengan tiga puluh sha’ gandum”.

Diriwayatkan juga bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana disebutkan oleh Ahmad dalam Musnadnya dan Abu Dawud bahwa beliau mengenakan dua (2) lapis baju zirah dalam Perang Uhud. Dari Anas bin Malik sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki Makkah pada tahun penaklukan mengenakan mighfar, yaitu zirah yang dikenakan di kepala, atau helm menurut bahasa sekarang.

Allah Ta’ala telah menunjukkan pada kita ilmu peleburan logam yang merupakan dasar pembuatan senjata apa saja di masa sekarang ini. Firman Allah Ta’ala dalam kisah Dzulqornain; “Berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqornain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. (QS. Al-Kahfi 18 : 96)

Maksudnya bawakanlah potongan-potongan besi besar untukku dan panasilah hingga merah menyala-nyala karena amat panas dan membara. Selanjutnya Dzulqornain berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu”. Maksudnya adalah tembaga yang meleleh. Telah ditemukan bahwa menambahkan sekian persen tembaga ke dalam besi adalah metode terbaik untuk mengeraskan dan menambah ketahanannya.

Allah juga mengajarkan kepada Nuh pembuatan kapal, firman-Nya: “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami”. (QS. Hud 11 : 37). Ath-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata: “Nuh ‘alaihissalam belum mengetahui teknik pembuatan kapal, maka Allah mewahyukan padanya untuk membuatnya melengkung seperti dada burung”.

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memuji umatnya yang berperang menaiki kapal sebagaimana dalam hadits Ummu Haram radhiyallahu ‘anha, maka adakah yang bersegera membuatnya? Allah Ta’ala berfirman:

قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ

“Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari”. (QS. An-Nahl 16 : 26)

Siapapun yang memahami bahan-bahan peledak dan penggunaannya pasti mengetahui bahwa ayat ini adalah benar-benar dasar penghancuran bangunan menggunakan peledak, dan cukuplah bagimu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memotivasi untuk meproduksi sesuatu sebagaimana motivasinya untuk memproduksi peralatan perang, sabdanya: “Tiga orang dapat masuk surga dengan satu panah; yaitu pembuatnya yang dalam pembuatannya mengharap kebaikan, yang menembakkannya dan orang yang memberikannya”.

Maka bagaimana halnya dengan orang yang membuat konstruksi roket dan pesawat, atau menciptakan bahan peledak?

PERSIAPAN MEDIA

Sesungguhnya pertempuran antara Mujahidin melawan musuh-musuh mereka berkisar pada dua (2) poros penting. Pertama adalah poros militer dan telah dijelaskan sebelumnya. Sedangkan kedua adalah poros melawan media setan yang mengubah identitas umat, memalingkan akidah dan nilai-nilai mereka, serta menancapkan faktor-faktor pengekoran dan kekalahan mental.

Karena sungguh panasnya peluru media itu lebih berbahaya dan mematikan daripada panasnya rudal-rudal pesawat. Oleh karena itu, selayaknya Mujahidin yang telah Allah berikan taufik untuk mematahkan kekuatan militer musuh-musuh mereka, dan hendaknya mereka juga menggeluti front lain, yaitu front media.

Didalam Al-Musnad dari Anas radhiyallahu anhu berkata; “Berjihadlah melawan orang-orang Musyrik dengan lisan-lisan kalian”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

جاهدوا المشركين بأموالكم وأنفسكم وألسنتكم

“Berjihadlah melawan orang-orang Musyrik dengan harta, jiwa, dan lisan kalian“. (HR. Ahmad 3/124 no. 12268, An-Nasa’i dalam Al-Mujtabaa no. 3096, Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 2427; shahih)

Masih dalam Al-Musnad dari Ka’ab bin Malik dari bapaknya berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh seorang Mukmin berjihad dengan pedang dan lisannya. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kata-kata yang kalian lontarkan pada mereka itu laksana tusukan anak panah”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memanfaatkan sarana media pada zamannya yang paling berpengaruh dalam jiwa musuh-musuhnya, yaitu syair.

At-Tirmidzi meriwayatkan dari Anas bin Malik bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam memasuki Makkah dalam ‘Umratul Qadha sedangkan Abdullah bin Rawahah berjalan di depan beliau seraya bersyair; Menyingkirlah wahai orang-orang Kafir dari jalan beliau hari ini akan kami perangi kalian dengan hukum yang diturunkan padanya pukulan yang dapat memisahkan kepala dari tempatnya serta menyingkirkan sang kekasih dari pasangannya. Maka Umar pun berkata: “Wahai Ibnu Rawahah! Apakah di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di tanah Haram ini engkau bersyair? Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Biarkan saja wahai Umar, karena sungguh syair itu lebih cepat menusuk daripada tusukan anak panah”.

Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergembira dengan Islamnya Khalid bin Walid sang komandan militer, beliau juga bergembira dengan Islamnya salah seorang ahli sya’ir.

Disebutkan dalam Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani bahwa ketika datang utusan Anshar dalam baiat Aqobah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Abbas: “Apakah kamu mengetahui dua orang ini? Tatkala telah selesai Abbas menjawab: “Ya, ini adalah Al-Barra bin Ma’rur seorang tokoh kaumnya dan ini adalah Ka’ab bin Malik”. Ka’ab berkata: “Demi Allah, aku tidak lupa pertanyaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sang penyair itu? Abbas menjawab: “Ya”.

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amat memperhatikan para penyairnya dan mempersiapkan mereka sebaik-baiknya.

Beliau bersabda pada Hassan: “Datangilah Abu Bakar agar dia memberitahukan padamu keburukan kaum (Kafir), karena dia mengetahui nasab”.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Hassan meminta ijin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyerang orang-orang Musyrik dengan sya’ir. Beliaupun bertanya: “Bagaimana dengan nasabku? Hassan menjawab: “Sungguh aku akan menarik engkau dari mereka sebagaimana sehelai rambut ditarik dari adonan roti”.

Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyukai syair yang baik, beliau pernah bersabda: “Sebaik-baik kalimat yang dilantunkan seorang penyair adalah kata-kata Labib (bijak), ‘Ketahuilah bahwa segala (sesembahan) selain Allah adalah bathil’, hampir saja Umayah bin Abi As-Salth masuk Islam (karena sya’ir tersebut)”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mempunyai seorang orator untuk membela Islam dan kaum Muslimin, yaitu Tsabit bin Qois bin Syammas, seorang sahabat yang dijamin masuk surga. Tatkala Bani Tamim datang dengan orator dan penyair mereka, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Tsabit bin Qois: “Berdirilah dan balaslah mereka”. Maka Tsabit pun membalas mereka, lalu Al-Aqra’ bin Habis pun berdiri dan berkata, “Demi Allah! Sungguh Muhammad adalah orang yang diberi karunia. Aku tidak mengetahui perkara apa ini, orator kami berorasi namun orator mereka lebih bagus orasinya, penyair kami berdeklamasi namun penyair mereka lebih lihai dan lebih fasih”. Kemudian Al-Aqra’ mendekati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berujar: “Saya bersaksi tidak ada ilah (yang haq) selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan Allah”.

Maka dapat kita simpulkan beberapa target penting media Islam dalam beberapa poin berikut:

A. Membela Kehormatan dan Akidah Kaum Muslimin

Allah Ta’ala berfirman memuji sebagian penyair: “Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal shalih dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezaliman”. (QS. Asy-Syu’ara 26 : 227). Dari Ibnu Abbas, maksudnya adalah membalas syair-syair yang dilontarkan orang-orang Kafir untuk menyerang kaum Mukminin.

Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Hassan jawablah permintaan Rasulullah, Ya Allah bantulah ia dengan Ruhul Qudus (Jibril)”. Ibnu ‘Asakir menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Siapa yang bersedia melindungi kehormatan kaum Muslimin? Maka Ibnu Ka’ab menyahut, “Saya”. Ibnu Rawahah menyusul berkata, “Saya”, dan Hassan pun juga berkata, ‘Saya”. Rasul bersabda: “Ya, seranglah mereka dengan sya’irmu, Ruhul Qudus akan membantumu mengalahkan mereka”.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menguatkan Hassan dengan Jibril selama dia menyokong atau membela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

B. Mengobarkan Semangat Pemuda Ummat dan Khususnya Para Mujahidin

Dalam hadits shahih dari Salamah bin Al-Akwa’ berkata: “Kami bergerak menuju Khaibar bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tatkala kami berjalan di malam hari ada seseorang yang berkata kepada Amir bin Al-Akwa’, ‘Tidakkah engkau memperdangarkan sedikit senandungmu kepada kami? Amir adalah seorang penyair. Maka dia segera menyenandungkan syairnya”.

C. Membongkar Tipuan Ideologi dan Moral Orang-Orang Kafir Serta Murtaddin, memberikan pencerahan pada umat mengenai hakekat kebusukan peradaban dan kepalsuan ide-ide mereka, menahan nafsu congkak mereka terhadap kaum Muslimin dan menanamkan rasa gentar dalam jiwa mereka.

Ibnu Abdil Barr dalam Al-Isti’ab dari Ibnu Sirin berkata: “Dahulu para penyair kaum Muslimin adalah Hassan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah dan Ka’ab bin Malik. Ka’ab meneror mereka dengan ancaman perang, Abdullah mencela kekafiran mereka, dan Hassan menyindir nasab-nasab mereka”. Ibnu Sirin berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa Kabilah Daus masuk Islam lantaran takut dengan syair Ka’ab bin Malik,
Kami telah punahkan hasrat Tihamah dan Khaibar
Kemudian kami sarungkan pedang
Kami katakan padanya, seandainya ia bisa bicara
Tentu akan menebas Daus atau Tsaqif

Maka Kabilah Daus berkata pergilah dan jagalah diri kalian, jangan sampai apa yang menimpa Tsaqif juga menimpa kalian”.

 D. Menyampaikan gambaran sebenarnya mengenai pertempuran yang berlangsung antara para prajurit Islam dan musuh-musuh mereka, serta mendokumentasikan hakikat kepahlawanan para pemuda Islam agar tidak hilang sia-sia atau dicuri oleh para mafia darah. [Edt; Abd/Dabiq/Bersambung]

Check Also

Viral..!! Sekda Papua Sebut Papua Sebagai Tanah Kedua Zionis Israel

JAYAPURA (Mata-Media.Net) – Sebuah video yang menunjukkan Sekda Papua, TEA Hery Dosinaen sedang viral di dunia ...