Sunday , December 8 2019
Home / Firqah / Akibat Mengikuti Akal & Syari’at

Akibat Mengikuti Akal & Syari’at

Oleh: Ustadz Qutaibah Muslim

(Mata-Media.Net) – Hawa nafsu secara bahasa adalah kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai akal pikiran dan hatinya. Kecintaan tersebut sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, akal dan hawa nafsu seseorang harus ditundukkan agar bisa tunduk terhadap syari’at Allah yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun secara istilah syari’at, hawa nafsu adalah kecondongan akal dan jiwanya terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at Allah Ta’ala.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hawa nafsu asalnya adalah kecintaan jiwa dan kebenciannya. Semata-mata hawa nafsu, yaitu kecintaan dan kebencian yang ada di dalam jiwa tidaklah tercela. Karena terkadang hal itu tidak bisa dikuasai. Namun yang tercela adalah mengikuti hawa nafsu, sebagaimana firman Allah,

يَا دَاوُودُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Hai Daud! Sesungguhnya Kami menjadikan kamu Khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah (QS. Shad 38: 26)”. (Majmu’ Fatawa, 28/132)

Syaikhul Islam rahimahullah menambahkan, “Seseorang yang mengikuti hawa nafsu adalah seseorang yang mengikuti perkataan atau perbuatan yang dia sukai dan menolak perkataan atau perbuatan yang dia benci dengan tanpa dasar petunjuk dari Allah”. (Majmu’ Fatawa, 4/189)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang perbedaan akibat dari orang yang mengikuti akal dan yang mengikuti syari’at. Allah berfirman,

قَالَ سَـَٔاوِىٓ إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِى مِنَ ٱلْمَآءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ ٱلْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ ٱللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا ٱلْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ ٱلْمُغْرَقِينَ ﴿٤٣﴾

“Anaknya (Nabi Nuh) menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”. Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”. (QS. Huud 11 : 43)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah رحمه الله berkata,

﴿ ﴿ ﻗَﺎﻝَ ﺳَﺂﻭِﻱ ﺇِﻟَﻰٰ ﺟَﺒَﻞٍ ﻳَﻌْﺼِﻤُﻨِﻲ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤَﺎﺀِ ﴾

[( ‏ﻫــﺬﺍ ﻋﻘــﻞ )]

﴿ ﻗَﺎﻝَ ﻟَﺎﻋَﺎﺻِﻢَ ﺍﻟْﻴــَﻮْﻡَ ﻣِﻦْ ﺃَﻣــْﺮِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﻦ ﺭَّﺣِــﻢَ ﴾

[( ﻫـــﺬﺍ وحي )‏]

﴿ ﻭَﺣَــﺎﻝَ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻤَﺎ ﺍﻟْﻤَﻮْﺝُ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻐْﺮَﻗِﻴﻦَ ﴾

[( ﻫـــﺬﻩ ﺍلنتيجـة )]

 فكل ﻣﻦ ﻗﺪّﻡ ﻋﻘﻠﻪ ﻋﻠﻰ نصوص ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻟﺴﻨﺔ الصحيحة ﻏﺮِﻕ ﻓﻲ ﻇﻠﻤﺎﺕ ﺑﺤﺎﺭ ﺍﻷﻫـﻮﺍﺀ ﻭﺍﻟﺒﺪﻉ

ﻣـﻦ ﺗﻌﻮﺩ ﻣﻌﺎﺭﺿﺔ ﺍﻟﺸـﺮﻉ ﺑﺎﻟﻌﻘـﻞ ﻻ ﻳﺴﺘﻘﺮ ﻓـﻲ ﻗﻠﺒﻪ ﺇﻳﻤﺎﻥ

[ ﺩﺭﺀ ﺍﻟﺘﻌــﺎﺭﺽ (1/187) ]

Allah جل جلاله berfirman, “Anaknya (ya’ni anak Nabi Nuh عليه السلام) menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah”. (QS. Hud 11 : 43) Ini merupakan akal dan akibat mengikuti hawa nafsu.

Kemudian Allah جل جلاله berfirman, “Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. (QS. Hud 11 : 43) Sedangkan ini adalah wahyu dari Allah Ta’ala.

Lalu Allah جل جلاله berfirman lagi, “Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”. (QS. Hud 11 : 43) Dan ini adalah akibatnya bagi orang yang mengikuti akal dan hawa nafsunya.

Oleh karena itu, setiap orang yang lebih mendahulukan akalnya daripada nash-nash kitab (Al-Qur’an) dan sunnah (hadits Nabi) yang shahih, maka ia akan tenggelam ke dalam kegelapan lautan hawa nafsu dan kebid’ahan. Barangsiapa terbiasa menentang syari’at dengan akal, maka tidaklah tertanam di hatinya keimanan. (Dar’ut Ta’arudh, 1/187)

Lalu dalam ayat yang lainnya lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan akibat orang-orang yang mengikuti hawa nafsu. Di mana, orang tersebut akan tersesat dan menjadi sesat, serta tidak akan mendapatkan petunjuk jalan yang benar. Allah berfirman,

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَٰوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ﴿٢٣﴾

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”. (QS. Al-Jatsiyah 45 : 23)

Selain itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudah mengingatkan umatnya bahwa akibat dari mengikuti akal dan hawa nafsu akan membawa kepada kehancuran. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ وَ ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ فَأَمَّا ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ وَ هَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

و ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللَّهِ فِي السِّرِّ والعلانيةِ وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَالْعَدْلُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا

Tiga (3) perkara yang membinasakan dan tiga (3) perkara yang menyelamatkan.

Adapun 3 perkara yang membinasakan adalah: kebakhilan dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan  seseorang yang membanggakan diri sendiri.

Sedangkan 3 perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridho. (Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Abdullah bin Abi Aufa, dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum)

Oleh karena itu, bagi orang-orang beriman, ketika Allah dan Rasul-Nya menetapkan sebuah ketetapan, baik itu eprintah dan larangan, maka jawaban orang-orang beriman hendaknya adalah “kami mendengar dan kami ta’at”. Sedangkan bagi orang-orang Munafik, durhaka dan sombong, maka mereka akan mencari-cari alasan, merendahkan manusia dan berlaku culas dengan mengakali syari’at Allah ketika disampaikan kepada mereka tentang ketetapan Allah yang ada didalam Al-Qur’an maupun sunah Nabi. Allah berfirman,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan ta’ati). Merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. An-Nuur 24 : 51)

Dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu’anhu, diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

لا يؤمنُ أحدُكم حتَّى يكونَ هواه تبعًا لما جئتُ به

“Tidak beriman seseorang diantara kalian sampai hawa nafsunya ia tundukkan demi mengikuti apa yang aku bawa (Al-Qur’an dan As-Sunnah. (HR. Ibnu Abi Ashim 15, Ath-Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, dishahihkan oleh Imam An-Nawawi, Adz-Dzahabi, Ahmad Syakir). [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Tentara Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS di Florida, Tewaskan & Lukai 11 Tentara

FLORIDA (Mata-Media.Net) – Sebanyak 11 tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan terluka ketika seorang tentara ...