Monday , March 30 2020
Home / Firqah / Awas!! Valentine Day Budaya Merusak, Syirik, Berbahaya & Legalkan Zina

Awas!! Valentine Day Budaya Merusak, Syirik, Berbahaya & Legalkan Zina

Oleh: Furqon

(Mata-Media.Net) – Setiap tanggal 14 Februari, hampir mayoritas masyarakat termasuk didalamnya adalah umat Islam ramai-ramai dan dengan latah merayakan Valentine Day atau Hari Kasih Sayang. Biasanya, hari tersebut dirayakan sebagai suatu perwujudan cinta kasih seseorang. Perwujudan yang bukan hanya untuk sepasang muda-mudi yang sedang jatuh cinta, namun hari tersebut dimaknai lebih luas lagi yakni kasih sayang setiap orang tanpa mengenal suku, bangsa dan agama. Lalu, bagaimana sejarah dan apa yang sebenarnya tentang Valentine Day tersebut?

Para pembaca situs online Mata-Media.Net yang dirahmati Allah semuanya, Islam sangat melarang umatnya untuk mengikuti perayaan-perayaan khas orang-orang Kafir dan Musyrik, salah satunya adalah Valentine Day ini, karena perayaan mengandung banyak kerusakan dan penyimpangan. Merayakannya berarti membuat perayaan (hari raya) baru yang tidak ada dalam syariat Islam, karena sesungguhnya tidak ada hari raya didalam Islam kecuali dua (2) hari raya, yaitu Iedul Fithri dan Iedul Adha.

Jika ada seorang Muslim yang ikut merayakannya, berarti mereka telah menyerupai ritual dan adat istiadat kaum Kafir. Sebab menurut sejarah, perayaan Valentine Day itu diadopsi dari sejarah bangsa Romawi dan tewasnya tokoh Katolik bernama Santo Valentinus atau St. Valentine. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang memperingatkan kaum Muslimin untuk tidak menyerupai kaum Kafir,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Ada beberapa kerusakan, bahaya dan kesyirikan yang terkait dengan Valentine Daya, diantaranya adalah :

1. Merayakan Valentine Day Berarti Meniru Orang Kafir

Agama Islam telah melarang kaumnya agar tidak meniru-niru orang Kafir (tasyabbuh) dan harus menyelisihi mereka. Larangan ini terdapat dalam berbagai ayat, juga dapat ditemukan dalam beberapa sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan hal ini juga merupakan kesepakatan para ulama (ijma’ ulama). Inilah yang disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab Iqtidho’ Ash Shiroth Al Mustaqim (Ta’liq: Dr. Nashir bin ‘Abdil Karim Al-‘Aql, terbitan Wizarotusy Syu’un Al-Islamiyah).

2. Menghadiri Perayaan Orang Kafir Bukan Ciri Orang Beriman

Allah Ta’ala sendiri telah mencirikan sifat orang-orang beriman. Mereka adalah orang-orang yang tidak menghadiri ritual atau perayaan orang-orang Kafir dan Musyrik dan ini berarti tidak boleh umat Islam merayakan perayaan agama lain semacam Valentine. Hal ini karena Valentine Day adalah perayaan paganisme, lalu diadopsi menjadi ritual agama Nashrani. Merayakan dan menghadirinya berarti telah meniru-niru mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan perbuatan Az-Zuur, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya”. (QS. Al Furqon 25 : 72)

Ibnul Jauzi rahimahullah dalam ZaadulMasir mengatakan bahwa ada 8 pendapat mengenai makna kalimat “tidak menyaksikan perbuatan Az-Zuur”, pendapat yang ada ini tidaklah saling bertentangan karena pendapat-pendapat tersebut hanya menyampaikan macam-macam perbuatan Az-Zuur. Diantara pendapat yang ada mengatakan bahwa “tidak menyaksikan perbuatan Az-Zuur” adalah tidak menghadiri perayaan orang Kafir dan Musyrik.

Jadi, ayat di atas adalah pujian untuk orang yang tidak menghadiri perayaan orang Kafir dan Musyrik. Jika tidak menghadiri perayaan tersebut adalah suatu hal yang terpuji, maka ini berarti melakukan perayaan tersebut adalah perbuatan yang sangat tercela dan termasuk ‘aib (Lihat Iqtidho’, 1/483). Jadi, merayakan Valentine’s Day bukanlah ciri orang beriman karena jelas-jelas hari tersebut bukanlah hari raya umat Islam.

3. Ucapan Selamat Berakibat Terjerumus dalam Kesyirikan dan Maksiat

“Valentine” sebenarnya berasal dari bahasa Latin yang berarti: “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”. Kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, Tuhan orang Romawi.  Oleh karena itu disadari atau tidak, jika kita meminta orang menjadi “To be my valentine (Jadilah valentineku)”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, yakni Allah Ta’ala dan menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala.

4. Hari Kasih Sayang Menjadi Hari Semangat Untuk Bermaksiat dan Berzina

Perayaan Valentine Day di masa sekarang ini faktanya juga telah mengalami pergeseran. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama. Maka di masa sekarang ini, perayan Valentine Day sangat identik dengan pergaulan bebas muda-mudi yang di mabuk kasmaran, ajang kemaksiatan dan perzinahan dengan kedok untuk memperingati dan merayakan Valentine Day.

Fakta ini bisa dilihat dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah, meningkatnya penjualan kondom hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua perbuatan maksiat ini tidak lain da tidak bukan karena mengatasnamakan semangat cinta kasih dan sayang.

Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan-larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja maupun orang yang sudah tua itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang. Na’udzubillah min dzalik…

Padahal mendekati zina saja haram, apalagi melakukannya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. (QS. Al-Israa’ 17 : 32)

Dalam Tafsir Jalalain dikatakan bahwa larangan dalam ayat ini lebih keras daripada perkataan ‘Janganlah melakukannya’. Artinya bahwa jika kita mendekati zina saja tidak boleh, apalagi sampai melakukan zina, jelas-jelas lebih terlarang lagi.

5. Meniru Perbuatan Setan

Menjelang hari Valentine-lah berbagai ragam coklat, bunga, kondom, hadiah, acara pesta pora, foya-foya, kado dan souvenir laku keras. Berapa banyak duit yang dihambur-hamburkan ketika itu. Padahal sebenarnya harta tersebut masih bisa dibelanjakan untuk keperluan lain yang lebih bermanfaat atau malah bisa disedekahkan pada orang yang membutuhkan agar berbuah pahala.

Namun, hawa nafsu berkehendak lain. Perbuatan setan lebih senang untuk diikuti daripada bentuk ketaatan kepad Allah Ta’ala. Itulah pemborosan yang dilakukan ketika itu, dan mungkin bisa bermilyar-milyar rupiah dihabiskan ketika itu oleh seluruh penduduk Indonesia dan negara lainnya, hanya demi merayakan hari Valentine. Tidakkah mereka memperhatikan firman Allah,

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan”. (QS. Al-Israa’ 17 : 26-27). Maksudnya adalah mereka menyerupai setan dalam hal ini. Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Tabdzir (pemborosan) adalah menginfakkan sesuatu pada jalan yang keliru”. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim)

Terakhir, maka sudah selayaknya bagi semua kaum Muslimin untuk melarang dan mencegah perayaan Valentine melalui semua media, baik pendidikan, media masa, iklan, secara lisan dan sarana dakwah yang lainnya. Selain itu yang tak kalah penting adalah, wajib bagi setiap orang tua untuk membimbing dan mengawasi anak-anak mereka agar jangan sampai mereka salah dalam mengambil langkah dan meniru kebiasaan orang-orang bodoh. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwaytakan oleh Imam Bukhari bahwa setiap orang itu adalah pemimpin, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya dan orang-orang yang dia pimpin atau berada dibawah kuasa dan kepemimpinannya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing kita semua dengan memberikan kekuatan, hidayah dan taufiknya serta menjauhkan kita dari segala fitnah, kemungkaran, kemasiatan dan kesyirikan pada saat sekarang ini maupun sampai akhir zaman nanti. Aamiin [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Menteri Keuangan Jerman Tewas Bunuh Diri Karena Khawatir Dampak Corona

FRANKFURT (Mata-Media.Net) – Menteri Keuangan Negara bagian Hesse, Jerman, Thomas Schaefer tewas bunuh diri karena ...