Wednesday , August 21 2019
Home / Galeri / Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Semua Ada Resikonya – 5)

Pentingnya Berjihad di Bidang Media (Semua Ada Resikonya – 5)

Oleh: Joko Tarub  

(Mata-Media.Com) – Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang ketika ada orang-orang mengatakan kepadanya, “Orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka, ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 173)

Banyak orang sering takut untuk melangkah dan mengambil peluang ketika ada kesempatan karena mungkin takut akan resikonya, dan banyak pula orang yang berani mengambil resiko tapi gagal karena tidak bisa mengatasi resiko yang nanti akan diterimanya. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan sejatinya adalah sebuah usaha dari seseorang dalam menangkap peluang dan mengatasi resikonya.

Orang yang ingin berhasil dalam hal apapun, terlebih dalam hal meperjuangkan dienul-Islam hingga syariat Allah tegak di muka bumi ini harus mempunyai keberanian untuk menangkap peluang dan mengambil resikonya sekaligus. Menangkap peluang berarti menjadi orang-orang pertama (pioner) yang take action atas sesuatu hal yang ada untuk menuju kesuksesan. Sementara itu, mengambil resiko bisa diartikan sebagai tidak takut pada resiko serta punya bekal ilmu dan rencana untuk mengatasi resiko tersebut.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) semuanya, untuk meraih kesuksesan, pasti akan ada banyak halangan dan rintangan yang menghadang. Namun tak sedikit pula orang yang belum berhasil dan kemudian menyerah ditengah jalan, padahal setiap usaha itu harus dilakukan sampai nyawa meregang. Oleh karena itu, kita harus bisa menyikapi sebuah “kegagalan” (kesuksesan yang tertunda) dengan hati yang lapang. Selain itu, jadikanlah kegagalan yang kita alami itu sebagai penyemangat untuk mencapai kesuksesan.

Melalui kegagalan, tentu saja kita semuan akan bisa belajar tentang banyak hal untuk melakukan perbaikan. Setelah itu, tentu saja kita bisa mencoba cara lain dari apa yang sebelumnya sudah kita lakukan. Melalui usaha dan jerih payah yang luar biasa, maka kita akan bisa meraih kesuksesan seperti perjuanagn dalam dakwah dan jihad, termasuk didalamnya adalah berjihad di bidang media untuk tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini yang selama ini kita cita-citakan.

Untuk apa kita sebagai Muslim hidup dan mempunyai nyawa kalau tidak kita gunakan untuk berdakwah dan berjihad di jalan Allah Ta’ala?? Dakwah didalam media massa khususnya media online (medon) dan media sosial (medsos) maupun di lapangan sebetulnya sama-sama beresiko karena memang dalam berdakwah, kita akan berbenturan dengan Thaghut dan bala tentaranya.

Namun bedanya, jika kita berdakwah di lapangan maka manfaatnya hanya kepada orang-orang yang hadir saja. Sedangkan jika kita berdakwah di medsos (seperti Facebook, Twitter, Instagram, Channel Telegram dan lain sebagainya), terlebih di media online atau website yang jangkauan dan cakupannya lebih luas dari medsos, maka sekali kita menulis suatu berita atau artikel, maka ribuan orang akan dapat terjangkau.

Jika kita takut akan resiko yang kita hadapi dalam berjuang dan berjihad di bidang media, sesungguhnya semua bentuk perjuangan pasti akan ada resikonya, baik berjuang di “bawah tanah (sirriyah) maupun diatas tanah (jahriyyah atau jahr)”, dan bahkan penjahat-pun dalam melakukan aksinya pasti memiliki resiko.

Lalu, kita sebagai pendakwah Tauhid seharusnya lebih bisa dan lebih memahami bahwa resiko dalam sebuah perjuangan itu adalah keharusan dan merupakan sunnatullah yang tak pernah berubah. Ingat, ingat..!!! Apa yang tidak Allah tentukan akan menimpa kita, maka hal itu tidak akan pernah menimpa kita. Dan apa yang Allah tentukan bakal menimpa kita, maka hal itu tidak akan meleset dan pasti akan mengenai kita. Allah berfirman,

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ {51}

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal”. (QS. At-Taubah 9 : 51)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh (50) ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”. (HR. Muslim)

Sehingga, resiko apapun dalam perjuangan kita khususnya dalam berjihad di bidang media ini tentu saja telah Allah tentukan. Oleh karena itu, sebagai seorang Muslim yang mengaku Mukmin dan Muwahidin, seharusnya kita menerima ketentuan itu jikalau dalam berjuang ada resiko yang harus kita terima.

Sekecil apapun teror para Thaghut dan bala tentaranya kepada para pejuang media jangan sampai pernah sedikitpun melemahkan azzam kita dalam menapaki jalan perjuangan ini. Sebab, urgensi berjihad di bidang media juga sama saja dengan berjihad menanggul senjata. Bahkan berjihad di bidang media oleh para Mujahidin juga disebut sebagai setengah Jihad Qital.

Wallahi, kita semua akan ditanya di akhirat kelak, apa yang telah kita lakukan untuk dien ini. Saat syariat Allah dinistakan, kita diam saja. Saat umat Islam dibantai, kita juga diam saja. Jika memang belum mampu beraksi secara syari dan bukan hanya demo sana sini, maka inilah salah satu medan dakwah dan tempur kita, yakni medan jihad di media.

Yaa, medan Qital di media. Oleh karena itu, optimalkanlah segala sarana prasarana media yang sudah ada. Jika adanya baru medsos belaka, maka optimalkanlah hal itu. Namun jika sudah ada media online, maka seharusnya para aktivis dan Muwahidin bersama-sama untuk menggarap dan mengoptimalkan serta sekuat tenaga memberikan sumbangsihnya baik dari segi ilmu, tenaga dan dana (donasinya).

Pertanyaan itu juga akan bertambah selain apa yang telah kita berikan untuk Islam, maka juga akan muncul pertanyaan, “Apakah sudah kita tunaikan amanah yang dipikulkan Allah kepada kita setelah Allah izinkan kita memiliki sebuah media??”

Antum adalah ujung tombak dakwah Tauhid yaa ikhwah!! Jika sudah ada media yang bisa dioptimalkan, jangan engkau sia-siakan apalagi mencibirnya. Anggaplah ini sebagai bagian dari jihad sesungguhnya, karena sejatinya Antum semua sudah memahami pentingnya media dalam perang melawan Kuffar.

Tunaikan amanah dalam membela umat ini melalui jihad di bidang media. Wajib bagi kita untuk menunaikan amanah kepada ahlinya, dan jangan sampai kita mensia-siakannya.

Tulislah apa yang bisa Antum tulis. Nukillah apa yang bisa Antum nukil. Unggahlah apa yang mampu antum unggah. Media kita ini adalah sarana pahala kita kelak. Di media kita bermula, dan di medan laga kita kan berjumpa. Mukmin maupun Kafir sama-sama punya resiko dalam menapaki jalan ini.

Seorang Mukmin resikonya tertangkap, disiksa di dunia, namun mati insya Allah akan berada di surga. Sedangkan Kafir resikonya siksa dunia dan akhirat, serta kekal didalamnya. Jika demi kekafiran mereka rela menerima resiko siksa abadi, maka sudah seharusnya sebagai Mukmin kita lebih berani menerima konsekwensi sesaat demi aqidah dan tegaknya kalimat Allah di muka bumi ini.

Orang Kafir berdakwah, Mukmin-pun berdakwah. Orang Kafir melancarkan perang, orang Mukmin-pun suhda sepatutnya melancarkan perang yang sama. Bedanya, tempat kembali kita di Jannah dan mereka di Jahannam. Dan di akhirat nanti, Allah akan meminta pertanggungjawaban kita semua atas apa yang telah kita perbuat di dunia. [RMC/dbs]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...