Tuesday , October 15 2019
Home / Headline / Gimana Menyikapi Istri yang Tak Mau Diajak Tinggal Serumah dengan Ortu?

Gimana Menyikapi Istri yang Tak Mau Diajak Tinggal Serumah dengan Ortu?

(Mata-Media.Com) – Assalamualaikum.. Ana satu-satunya anak laki” dikeluarga ana. Ana merasa Abah dan ibu ana ini sudah mulai berumur lanjut. Beliau berdua masih kuat untuk berdagang dan mengajar sehari hari. Abah umur 60th dan sudah seharusnya pensiun. Ana punya keyakinan:

  1. Ana anak laki” yg wajib bakti ana untuk orang tua sedang saudara ana semuanya perempuan yg wajib berbakti kepada suaminya
  2. Ana ingin Abah dan ibu ana fokus melanjutkan aktifitas di masa tuanya untuk ibadah apalagi Abah sebagai mubaligh di desa supaya fokus bersama umat
  3. Ana ingin sekali memulai hidup bersama beliau berdua sebagai bentuk berbakti ana kepada beliau yg sudah menginjak usia lanjut

Tapi ada satu kendala yg cukup rumit. Ana baru menikah 1th yg lalu. Istri ana yatim piatu. Istri Alhamdulillah sangat sholehah. Tapi untuk masalah niat ana ingin tinggal bersama ortu, Istri sangat ngotot bersikeras untuk “kita hidup sendiri dengan alasan bisa belajar lebih mandiri dan istri jika tinggal bersama orang tua ana, katanya serba sungkan. Istri juga beralasan kita hidup seperti Ali dan Fatimah yg beda dengan rumah Rasulullah”.

Sampai sampai pada puncaknya istri sampai bilang “mas nikah lagi saja dg wanita yg bisa membersamai mas untuk tinggal bersama ortu mas”. Keifa Syaikh? Jazakumullah Khairan katsiran… [Munir Lamongan]

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.. Bismillah walhamdulillah wash-sholatu was-sallam ‘ala Rasulillah wa ba’du.. Perlu diketahui bersama bahwa diantara perbedaan yang cukup mendasar dalam syariat Islam antara laki-laki dan wanita setelah menikah adalah pada perkara berbakti kepada orang tua (ortu).

Bagi seorang wanita setelah berlangsungnya sebuah akad nikah, maka menjadi tanda bagi si wanita bahwa wali dan perwaliannya, atau dengan kata lain bahwa orang tua si wanita telah menyerahkan dirinya kepada suaminya. Sehingga, kewajiban taat kepada suami setelah momen akad nikah itu menjadi hak tertinggi yang harus dipenuhi oleh seorang istri kepada suaminya, setelah kewajiban taatnya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi:

لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ ِلأَحَدٍ َلأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا

“Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita (istri) sujud kepada suaminya”. (Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Tirmidzi, no. 1159)

Sedangkan bagi seorang laki-laki, ketaatan dan baktinya yang tertinggi setelah untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tetap kepada kedua orang tuanya, dan hal ini tidak boleh berubah, sekalipun dia telah menikah.

Dalam sebuah riwayat dari Ummul Mukminin dari ‘Aisyah radhiyallahu ’anha, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah manusia yang paling berhak atas seorang wanita?” Jawabnya, “Suaminya”. “Kalau atas laki-laki?” Jawabnya, “Ibunya”. (HR. Imam Ahmad, An-Nasa’i, Al-Hakim yang menshahihkannya)

Oleh karena itu, maka tugas seorang suami terhadap istrinya adalah mengarahkan, menjaga, membimbing dan memimpin istrinya dalam rangka menjalankan ketaatan kepada Allah sekaligus menjadi penanggung jawab pertama dan utama terkait urusan dan kebutuhan rumah tangganya, sebagaimana Allah Ta’ala telah menetapkannya,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ  بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”. (QS. An-Nisâa 4:34)

Keunggulan lelaki atas wanita dikatakan oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi adalah disebabkan oleh akalnya yang lebih matang, pengetahuan yang lebih banyak, dan pandangannya yang jauh ke depan dalam mencermati permasalahan dari pangkal sampai ujungnya, daripada yang dimiliki oleh seorang wanita. Ditambah lagi dengan mahar yang diserahkan suami kepada istrinya, dan nafkah yang ia tanggung. (Lihat Aisaru At-Tafâsir 1/473)

Adapun peran seorang istri terhadap suaminya, maka dia harus senantiasa menghormati, mendengar, taat dan mendukung setiap perintah, saran dan langkah dari suaminya selama perintah itu merupakan ketaatan kepada Allah dan bukan perkara maksiat kepada Allah.

Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempertegas tentang besarnya hak suami atas diri istrinya dengan bersabda:

لَا تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا وَلَوْ سَأَلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ

“Seorang wanita (istri) belumlah menjalankan hak Rabbnya sampai ia mengerjakan hak suaminya, walaupun suami meminta (berjima’ dengan) dirinya saat berada diatas pelana, ia tidak menolaknya”. (HR. Ahmad, Ibnu Mâjah dan Ibnu Hibbân)

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang istri yang terbaik, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

“(Yaitu wanita) yang bila menyenangkan suami bila ia melihatnya, menaatinya bila diperintah, dan tidak menyelisihi perintahnya terkait dirinya dan hartanya dengan sikap yang dibenci suami”. (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Nasa’i)

Syaikh Taqiyyuddîn rahimahullah telah menguraikan hak-hak suami atas istrinya dengan mengatakan, “Hak-hak suami atas istrinya, menghormati dan menghargainya, mempergaulinya dengan cara-cara terbaik, taat kepada suami dalam perkara-perkara yang bukan maksiat kepada Allâh ‘Azza wa Jalla, menyambut permintaan-permintaannya yang baik-baik dan keinginan-keinginannnya yang mungkin dipenuhi, menyertainya dalam kegembiraan dan kesedihannya, menjaga dirinya dan harta suami, menjaga rumah suami, tidak memasukkan kedalamnya seorang lelaki ajnabi (bukan mahram) dan tidak keluar kecuali dengan izin suami, tidak berdandan untuk selain suami, menjauhi apa saja yang memantik amarahnya, dan tidak mendesaknya untuk memenuhi permintaan yang memberatkan…”. (Taudhîhul Ahkâm min Bulûghil Marâm halaman 344-345)

Termasuk pula dalam urusan memilih tempat tinggal, di mana pada dasarnya menentukan dan mencarikan tempat tinggal adalah tanggung jawab dan hak suami, sedangkan menjadi kewajiban bagi istri untuk ridho dan mengikuti di mana saja tempat tinggal yang telah ditentukan oleh sang suaminya. Allah Ta’ala berfirman:

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ…

“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka…”. (QS. Ath-Thalaq 65 : 6)

Dan tentunya, apabila sang suami memutuskan agar keduanya tinggal dirumah orang tua suami (mertua), terlebih jika si suami belum mampu untuk memberikan tempat tinggal untuk istri, maka wajib bagi sang istri untuk mentaati dan mengikutinya. Apalagi jika niat suami adalah agar mereka berdua bisa berbakti dan mengurus kedua orang tuanya, maka dalam pandangan Islam hal ini sangat bagus dan baik sekali, serta boleh-boleh saja dan tidak ada larangan didalamnya.

Oleh karena itu, maka si istri sepatutnya taat dan patuh kepada si suami, begitu juga hendaknya si istri selalu mendukung dan mendorong suami sepenuhnya dalam setiap amal sholih dan ketaatan kepada Allah Ta’ala.

Maka dalam urusan ini hendaknya Antum musyawarahkan lagi kepada semua pihak yang terkait, baik orang tua Antum dan juga istri Antum. Kumpulkan mereka semua dalam satu majelis dan cari solusi terbaiknya, dikarenakan secara syar’i Antum tetap diwajibkan untuk berbakti kepada orang tua, akan tetapi disisi lain Antum juga harus bisa mengarahkan perasaan istri dengan sikap yang baik.

Jika ternyata kedua orang tua belum perlu untuk Antum urus sepenuhnya, toh disisi lain istri Antum juga belum mantab sepenuhnya untuk tinggal bersama mertua, maka Antum bisa mengambil jalan tengah dengan mencari tempat tinggal yang tidak jauh dari tempat tinggal orang tua misalnya. Dengan begitu, disisi lain Antum bisa selalu memantau dan melayani kedua orang tua Antum, namun disisi lain Antum juga bisa menjaga perasaan istri sembari selalu mengarahkan perasaannya agar taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan cara taat kepada Antum dan berbakti kepada ortu Antum.

Akan tetapi jika keadaan orang tua Antum sudah tidak bisa beraktivitas kecuali harus ada yang melayaninya, maka Antum harus bisa mengarahkan istri dengan baik dan lugas agar dia mau membantu Antum dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dengan berbakti kepada orang tua.

Tapi jika dia tetap tidak mau, maka tegurlah ia dengan tegas agar jangan sampai menjadi fitnah bagi suami dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, dan jangan sampai istri Antum menjadi istri yang Nusyuz (durhaka kepada suami dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah). Allah Ta’ala berfirman:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا.

“Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka (pukulan yang tidak sampai membekas dan melukai karena dimaksudkan sebagai peringatan). Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisaa’ 4 : 34)

Terakhir, yang perlu difahami bersama adalah bahwa setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, apakah itu baik atau buruk menurut dan dalam pandangan manusia. Jika istri antum justru menawari dan memberikan solusi agar Antum menikah lagi dalam artian berpoligami agar Antum bisa mengurus orang tua Antum dan istri Antum di satu rumah, lalu keesokan harinya Antum datang ke istri pertama Antum, maka keputusan ada ditangan Antum. Sebab yang yang tahu kemampuan Antum adalah diri Antum sendiri.

Namun jika dengan Antum menikah lagi (poligami) justru akan menambah masalah dan madhorot lagi serta menjauhkan istri Antum yang sekarang ini dengan orang tua Antum, maka itu bukanlah solusi, tapi justru upaya untuk tidak menyelesaikan persoalan dan bukan jalan keluar. Oleh karena ini, pikirkanlah baik-baik lagi sebelum mengambil keputusan.

Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah, lalu kemudian jika Antum sudah ber’azzam dan menetapkan suatu keputusan, maka bertawakallah kepada Allah Ta’ala dengan apa yang telah Antum putuskan. Wallahu A’lam.. [RMC]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...