Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Panduan Fiqih Islam Seputar Ibadah Qurban

Panduan Fiqih Islam Seputar Ibadah Qurban

Oleh: Ustadz Qutaibah Muslim

(Mata-Media.Net) – Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, tidak terasa sekarang ini umat Islam sudah memasuki pertengahan bulan Dzulqo’dah 1440 Hijriyah (H), yang mana artinya sebentar lagi semua kaum Muslimin akan memasuki Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban tahun 1440 H/2019 M. Oleh karena itu, tentu saja kita harus memiliki bekal pengetahuan syar’i pada momen agung tersebut, terlebih khusus kepada setiap Muslim yang berniat melaksanakan ibadah ‘udhiyyah (Qurban).

DEFINISI QURBAN

Qurban berasal dari bahasa Arab “Al-Udhhiyah” (الأُضْحِية) atau “Adh-Dhohayah” (الضحية) yang artinya Qurban. Adapun menurut istilah syari’at, Qurban adalah menyembelih unta, sapi, lembu, kambing atau domba dan kerbau pada hari nahr (Hari Raya Idul Adha) dan hari Tasyrik (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) dengan tujuan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

SEJARAH IBADAH QURBAN

Disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Maa’idah ayat 27 bahwa Qurban telah dilakukan oleh kedua anak Nabi Adam ‘alaihissalam,

وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱبْنَىْ ءَادَمَ بِٱلْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ ٱلْءَاخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ ٱللَّهُ مِنَ ٱلْمُتَّقِينَ ﴿٢٧﴾

“Ceritakan kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut agama yang sebenarnya ketika keduanya mempersembahkan Qurban, maka diterima dari seorang dari mereka berdua (Habil ) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: “Aku pasti membunuhmu”. Ia (Habil) berkata: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (Qurban) dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-Maa’idah 5 : 27)

Menurut para Mufassirin, kedua anak Adam itu adalah Qabil, yang melakukan Qurban dengan memberikan hasil tanamannya yang jelek-jelek, sedangkan Habil berqurban dengan menyembelih seekor kambing yang baik. Dari informasi itu dapat kita ketahui bahwa Qurban telah dikerjakan sejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalam.

Sedangkan jika melihat kandungan didalam surat Ash-Shaffat ayat 107 sampai 108, di mana Ibrahim ‘alaihissalam melaksanakan perintah dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mengurbankan anaknya yang kemudian menjadi tuntunan untuk melaksanakan Qurban yang diabadikan adalah dasar disyariatkannya ibadah Qurban. Ayat tersebut adalah,

وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِى ٱلْءَاخِرِينَ ﴿١٠٨﴾ َفَدَيْنَٰهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ ﴿١٠٧﴾

“Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan anak Ibrahim (pujian yang baik) dikalangan orang-orang yang datang kemudian“. (QS. Ash-Shaffat 37 : 107-108)

Syariat berqurban dengan menyembelih binatang ternak tersebut kemudian juga menjadi syariat untuk umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibadah Qurban itu disyariatkan kepada umat Muhammad pada tahun kedua dari Hijrah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana disyariatkan shalat Idul Adha, shalat Idul Fitri dan Zakat.

HUKUM IBADAH QURBAN

Hukum Qurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah. Sedangkan menurut mazhab Abu Hanifah adalah wajib. Allah Ta’ala berfirman:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ2

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah”. (QS. Al-Kautsaar 108 : 2)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا

“Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Dalam hadits lain: “Jika kalian melihat awal bulan Dzulhijjah, dan seseorang diantara kalian hendak berqurban, maka tahanlah rambut dan kukunya (jangan digunting)”. (HR. Muslim)

Maka bagi seorang Muslim atau keluarga Muslim yang mampu dan memiliki kemudahan, dia sangat dianjurkan untuk berqurban. Jika tidak melakukannya, maka menurut pendapat Abu Hanifah ia telah berdosa. Dan menurut pendapat jumhur ulama, dia telah menyia-nyiakan pahala sunnah yang sangat besar. Wallahu a’lam..

KEUTAMAAN DAN HIKMAH IBADAH QURBAN

Ibadah Qurban merupakan bentuk mengagungkan Allah dan amal yang paling dicintai Allah untuk kita lakukan di Hari Raya Idul Adha. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، إِنَّهُ لَيَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلاَفِهَا، وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنَ الأَرْضِ، فَطِيْبُوْا بِهَا نَفْسًا

“Tidaklah manusia melakukan amal di hari nahr (Hari Raya Idul Adha) yang lebih dicintai Allah dibanding memotong hewan Qurban. Sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, bulu dan telapak kakinya. Sesungguhnya sebelum darahnya jatuh ke tanah, ia telah sampai kepada Allah. Maka dari itu, tunaikanlah dengan jiwa yang senang”. (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud)

Adapun hikmah penyembelihan hewan Qurban ini adalah meneladani sikap dan ketaqwaan Nabi Ibrahim, kemudian sebagai bentuk kepedulian sosial. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيَّامُ التَّشْرِيْقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum”. (HR. Muslim). Dan didalam riwayat Abu Daud ada tambahan:

وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dan (hari-hari) dzikrullah ‘Azza wa Jalla”. (HR. Abu Daud, shahih)

WAKTU DAN TEMPAT PELAKSANAAN QURBAN

Waktu pelaksanaan ibadah Qurban terbentang mulai tanggal 10 sampai 13 Dzulhijjah. Yakni tanggal 10 setelah pelaksanaan shalat Idul Adha, hingga tenggelamnya matahari pada tanggal 13 Dzulhijjah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ذَبْحٌ

“Seluruh hari-hari tasyriq adalah waktu menyembelih hewan Qurban”. (HR. Ahmad, shahih)

 

Adapun tempat menyembelih binatang Qurban boleh dimana saja, akan tetapi sebaiknya dilakukan di musholla (lapangan tempat sholat Idul Adha).

عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رضي الله عنهما أَخْبَرَهُ قَالَ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْبَحُ وَيَنْحَرُ بِالْمُصَلَّى (رواه البخاري)

“Diriwayatkan dari Naafi’ bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma memberitahu kepadanya lalu beliau berkata: ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dan berqurban di musholla”. (HR. Bukhari)

KETENTUAN DAN SYARAT HEWAN QURBAN

Hewan yang dipotong untuk ibadah Qurban adalah dari jenis binatang ternak. Seperti unta, sapi, kerbau, kambing atau domba. Tidak sah berqurban dengan jenis ayam, ikan dan burung. Adapun syarat umurnya, unta sudah berumur 5 tahun, sapi atau kerbau sudah berumur 2 tahun, kambing sudah berumur 1 tahun, dan domba sudah berumur 6 bulan. Syarat umur minimal ini berlaku baik untuk jantan maupun betina. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ الضَّأْنِ

“Janganlah kalian memotong hewan Qurban kecuali yang telah cukup umur. Kecuali jika kalian kesulitan mendapatkannya, maka potonglah domba muda”. (HR. Muslim)

Menurut Madzhab Hanafi, jadza’ atau domba muda itu berumur 6 bulan. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i, berumur 1 tahun. Lebih lanjut, Syaikh Wahbah Zuhaily dalam al-fiqhul Islamy wa adillatuhu menyimpulkan perbedaan pendapat tentang umur hewan Qurban sebagai berikut:

فقهاء المذاهب اتفقوا على تحديد سن الإبل بخمس، واختلفوا في البقر على رأيين، فعند الحنفية والحنابلة والشافعية: ما له سنتان. وعند المالكية: ما له ثلاث سنين. كما اختلفوا في المعز: فعند غير الشافعية: ما له سنة كاملة. وعند الشافعية: ما له سنتان كاملتان.

“Para ahli hukum berbagai madzhab bersepakat tentang batasan umur unta, yaitu 5 tahun. Tentang umur sapi, mereka terbagi menjadi dua (2) pendapat. Yaitu 2 tahun menurut madzhab Hanafi, Hambali dan Syafi’i, dan 3 tahun menurut madzhab Maliki. Demikian pula tentang umur kambing. 2 tahun menurut madzhab Syafi’i, dan 1 tahun menurut lainnya”.

Disamping syarat umur, hewan Qurban juga harus terbebas dari cacat yang jelas atau mencolok dan bisa mengurangi dagingnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ لَا يُضَحَّى بِهِنَّ: الْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا، وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا، وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلَعُهَا، وَالْعَجْفَاءُ الَّتِي لَا تُنْقِيْ

“Ada empat (4) macam (hewan) yang tidak boleh dijadikan Qurban. Yaitu, hewan yang rabun dan jelas kerabunannya, hewan yang sakit dan jelas sakitnya, hewan yang pincang dan jelas pincangnya, dan hewan yang kurus tidak berdaging”. (HR. Ibnu Hibban, shahih)

Kemudian untuk Qurban unta dan sapi dibolehkan patungan (berserikat) maksimal sebanyak tujuh (7) orang untuk sapi dan 10 orang untuk unta.

عن ابن عباس قال : كنا مع النبي صلى الله عليه و سلم في سفر قحضر النحر فاشتركنا في البقرة سبعة وفي البعير سبعة أو عشرة

“Dari Ibnu Abbas beliau berkata; kami  bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Kemudian tiba waktu penyembelihan. Maka kami berserikat tujuh (7) orang untuk sapi dan 7 atau sepuluh (10) untuk unta”. (HR. Ibnu Hibban, shahih)

ADAB MENYEMBELIH HEWAN QURBAN

Sejumlah adab menyembelih hewan Qurban adalah:

  1. Mengucapkan bismillah dan berdo’a ketika menyembelih

Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah kalian memakan hewan-hewan yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya, sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaithan itu mewahyukan kepada wali-walinya (kawan-kawannya) untuk membantah kalian”. (QS. Al-An’aam 6 : 121)

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dua (2) ekor kambing gemuk berwarna putih kehitaman dan bertanduk, lalu ia membaca basmalah dan bertakbir”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dalam riwayat Muslim, beliau mengatakan bismillah wallahu Akbar. Dan dalam keterangan lain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berdo’a.

ثُمَّ أَخَذَهَا وَأَخَذَ الْكَبْشَ فَأَضْجَعَهُ ثُمَّ ذَبَحَهُ ثُمَّ قَالَ: بِسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ. ثُمَّ ضَحَّى بِهِ (رواه مسلم)

“…kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil pisau itu dan mengambil kibas itu lalu dibaringkan kemudian menyembelihnya sambil bersabda: ”Dengan Nama Allah, Ya Allah terimalah ini dari Muhammad dan dari keluarga Muhammad dan dari umat Muhammad. Kemudian berqurban dengannya”. (HR.  Muslim)

  1. Menghadapkan hewan sembelihan ke arah kiblat

Nafi’ menyatakan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma tidak suka memakan sembelihan yang ketika disembelih tidak diarahkan ke arah kiblat.

  1. Berbuat baik (ihsan) ketika menyembelih

Dengan melakukan beberapa hal berikut,

1. Menajamkan Pisau

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu ia berkata, dua (2) hal yang aku hafal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berkata: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik (ihsan) atas segala sesuatu. Jika kalian membunuh (dalam qishash,-pent) maka berbuat ihsanlah dalam cara membunuh dan jika kalian menyembelih maka berbuat ihsanlah dalam cara menyembelih, dan hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan parangnya dan menyenangkan sembelihannya”. (HR. Muslim)

2. Menggiring Kambing Ke Tempat Penyembelihan Dengan Baik

Ibnu Sirin mengatakan bahwa Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu melihat seseorang menyeret kambing untuk disembelih lalu ia memukulnya dengan pecut, maka Umar berkata dengan mencelanya: Giring hewan ini kepada kematian dengan baik. (HR. Aburrazaq)

3. Membaringkan Hewan Yang Akan Disembelih

“Aisyah radhiyallahu ‘anha menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk dibawakan kibas, lalu beliau mengambil kibas itu dan membaringkannya kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelihnya”. (HR. Baihaqi)

4. Tempat (Bagian Tubuh) Yang Disembelih

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata : Penyembelihan dilakukan disekitar kerongkongan dan labah. (HR. Muslim). Labah adalah lekuk yang ada diatas dada dan unta juga disembelih di daerah ini.

  1. Disunahkan yang berqurban menyembelih sendiri hewan qurbannya. Sebagaimana yang dilakukan Rasululullah dalam hadits, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih 2 ekor kambing gemuk berwarna putih kehitaman dan bertanduk, lalu ia membaca basmalah dan bertakbir”. (HR. Bukhari dan Muslim)

PEMBAGIAN DAGING QURBAN

Hewan Qurban semuanya, baik dagingnya, kulitnya, kakinya, kepalanya ataupun tulangnya harus dimaksimalkan pada 3 hal:

  1. Dimakan oleh shahibul qurban (pengqurban) dengan ketentuan tidak boleh lebih dari sepertiga,
  2. Disedekahkan, dianjurkan mulai dari yang terdekat, keluarga, tetangga dekat, tetangga jauh dan seterusnya.
  3. Dan jika kondisinya longgar, boleh disimpan baik untuk disedekahkan ataupun dimakan dilain waktu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا

“Makanlah, bagikanlah untuk makanan, dan simpanlah”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan seluruh daging Qurban, baik kaki, kepala sampai kulitnya dilarang atau tidak dibolehkan untuk dijual ataupun untuk upah tukang jagal, akan tetapi dibolehkan sedekah untuknya. Rasulullah bersabda,

مَنْ بَاعَ جِلْدَ أُضْحِيَّتِهِ فَلاَ أُضْحِيَّةَ لَهُ

“Barangsiapa menjual kulit hasil sembelihan Qurban, maka tidak ada Qurban baginya”. (HR. Hakim, shahih)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:

أَمَرَنِى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لاَ أُعْطِىَ الْجَزَّارَ مِنْهَا قَالَ « نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا ».

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengurusi unta-unta Qurban beliau. Aku mensedekahkan daging, kulit, dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin). Aku tidak memberi sesuatu pun dari hasil sembelihan Qurban kepada tukang jagal. Beliau bersabda, “Kami akan memberi upah kepada tukang jagal dari uang kami sendiri”. (HR Muslim, no. 1317)

SUNNAH BAGI YANG AKAN BERQURBAN

Orang yang berniat menyembelih Qurban hendaklah menahan untuk tidak memotong atau mencukur rambut di badannya dan memotong kukunya sejak awal bulan Dzulhijjah sampai pelaksanaan Qurban tiba.

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا رَأَيْتُمْ هِلاَلَ ذِي الْجِجَّةِ وَأَرَادَ أَحَدُكُمْ أَنْ يُضَحِّيَ فَلْيُمْسِكْ عَنْ شَعْرِهِ وَأَظْفَارِهِ (رواه مسلم)

“Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ”Apabila kalian melihat hilal Dzulhijjah dan kalian berniat untuk berqurban hendaknya ia menahan untuk tidak mencukur atau memotong rambut dan memotong kuku (sampai pelaksanaan Qurban)”. (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: ”Apabila kamu sudah memasuki 10 hari (yakni dari tarikh 1 sampai 10 Dzulhijjah) dan salah satu dari kamu berniat untuk berqurban, janganlah ia sekali-kali menyentuh rambutnya sedikitpun (yakni untuk dicukur atau dipotong)”. (HR. An-Nasai)

Demikian sedikit ulasan syar’i seputar pelaksanaan ibadah Qurban yang bisa kami sajikan dan terangkan. Semoga Allah menerima ibadah Qurban diantara kita dan seluruh kaum Muslimin. Aamiin.. Wallahu a’lam…

Referensi:

  1. Fiqhu as-Sunnah, Sayid Sabiq, Dar al-Fath, Cairo, 1990.
  2. Al-Udhiyah wa Ahkamuha, Syaikh Abdul Ilaah bin Sulaiman Ath-Thayyar, Maktab a-Da’wah Robwah.
  3. Alfiqhul Islamy wa adillatuh, Syaikh Wahbah Zuhaili; dan Kutubul Hadits. [Edt; Abd/MMC]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...