Tuesday , February 25 2020
Home / Headline / Berikut Ini Tata Cara Sholat Gerhana

Berikut Ini Tata Cara Sholat Gerhana

(Mata-Media.Net) – Pada hari Kamis 26 Desember 2019 dan bertepatan 29 Rabi’ul Akhir 1441 H nanti, akan terjadi gerhana matahari cincin dan fenomena alam itu nampak pula di wilayah Indonesia. Shalat gerhana dapat dimulai sejak 10.34 WIB. Puncak gerhana cincin dan gerhana matahari sebagian ini terjadi pada pukul 12.17 WIB, dan akhir gerhana terjadi pukul 14.00 WIB.

Sholat gerhana matahari dalam bahasa Arab biasa disebut dengan kusufus-syams. Sholat ini baru disyariatkan pada tahun 5 Hijriyah (H). Hukum melaksanakan sholat ini adalah sunnah muakadah atau sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Mas’ud Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ رضي الله عنه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ مِنْ النَّاسِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْهَا شَيْئًا فَصَلُّوا وَادْعُوا اللَّهَ حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُم ).

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu merupakan dua (2) tanda diantara tanda-tanda kekuasaan Allah. Allah menjadikan keduanya untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Dan sungguh tidaklah keduanya terjadi gerhana karena kematian atau kelahiran seorang manusia pun. Apabila kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka sholatlah dan berdo’alah kepada Allah hingga gerhana tersebut hilang dari kalian”. (HR. Bukhari no. 1041 dan Muslim no. 911)

Ada juga hadits dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu,

عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ : خَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَزِعًا يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ ، فَأَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ ، وَقَالَ : (هَذِهِ الْآيَاتُ الَّتِي يُرْسِلُ اللَّهُ لَا تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ ؛ فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ)

“Ketika terjadi gerhana matahari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berdiri takut karena khawatir akan terjadinya hari kiamat, sehingga Beliau mendatangi masjid kemudian shalat dengan berdiri, ruku’, dan sujud yang begitu lama. Aku belum pernah melihat Beliau melakukan shalat sedemikian itu. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya ini adalah tanda-tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan-Nya, gerhana tersebut tidaklah terjadi karena kematian atau hidupnya seseorang. Tetapi Allah menjadikan yang demikian untuk menakut-nakuti hamba-hamba-Nya. Apabila kalian melihat sebagian dari gerhana tersebut, maka bersegeralah untuk berdzikir, berdo’a dan memohon ampunan (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala)”. (HR. Bukhori no. 1059 dan Muslim no. 912)

Adapun tata cara shalat gerhana adalah sebagai berikut :

1. Takbiratul ihram

2. Membaca do’a istiftah kemudian berta’awudz, dan membaca surat Al-Fatihah dilanjutkan membaca surat didalam Al-Qur’an, dan disunnahkan membaca surat yang panjang.

3. Kemudian ruku’, dengan memanjangkan ruku’nya.

4. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’.

5. Setelah i’tidal ini tidak langsung sujud, namun dilanjutkan dengan membaca surat Al-Fatihah dan surat lagi seperti poin nomor 2 diatas. Berdiri yang kedua ini lebih singkat dari yang pertama.

6. Kemudian ruku’ kembali (ruku’ kedua) yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama (seperti poin nomor 4 diatas).

7. Kemudian bangkit dari ruku’ (i’tidal) sambil mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian berhenti dengan lama.

8. Kemudian melakukan dua (2) kali sujud dengan memanjangkannya, diantara keduanya melakukan duduk antara 2 sujud sambil memanjangkannya.

9. Kemudian bangkit dari sujud lalu mengerjakan raka’at kedua sebagaimana raka’at pertama hanya saja bacaan dan gerakan-gerakannya lebih singkat dari sebelumnya.

10. Tasyahud.

11. Salam. (Lihat kitab Al-Mughni karya Ibnu Qudamah 3/313, dan Al-Majmu’ karya Imam An-Nawawi 5/48)

Dalil yang menerangkan tentang tata cara dan sifat shalat gerhana diatas adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha,

عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ : ” خَسَفَتْ الشَّمْسُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ ، فَكَبَّرَ ، فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ، ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، ثُمَّ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ. فَقَامَ وَلَمْ يَسْجُدْ ، وَقَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً ، هِيَ أَدْنَى مِنْ الْقِرَاءَةِ الْأُولَى . ثُمَّ كَبَّرَ وَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلًا ، وَهُوَ أَدْنَى مِنْ الرُّكُوعِ الْأَوَّلِ . ثُمَّ قَالَ : سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ قَالَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِثْلَ ذَلِكَ . فَاسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ، فِي أَرْبَعِ سَجَدَاتٍ

“Terjadi gerhana matahari pada saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, kemudian Beliau keluar menuju masjid untuk melaksanakan shalat, dan para sahabat berdiri dibelakang Beliau membuat barisan shof shalat, lalu Beliau bertakbir dan membaca surat yang panjang, kemudian bertakbir dan ruku’ dengan ruku’ yang lama, lalu bangun dan mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’. Kemudian bangkit dari ruku’ dan tidak dilanjutkan dengan sujud, lalu membaca lagi dengan surat yang panjang yang bacaannya lebih singkat dari bacaan yang pertama tadi. Kemudian bertakbir, lantas ruku’ sambil memanjangkannya, yang panjangnya lebih pendek dari ruku’ yang pertama. Lalu mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah, rabbanaa wa lakal hamd’, kemudian sujud. Beliau melakukan pada raka’at yang terakhir seperti itu pula maka sempurnalah empat (4) kali ruku’ pada empat (4) kali sujud”. (HR. Bukhari no. 1046 dan Muslim no. 2129). [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perbatasan Turki & Iran, 7 Orang Tewas

ANKARA (Mata-Media.Net) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran pada ...