Thursday , December 12 2019
Home / Inspiratif / Biografi 4 Imam Madzhab; Imamul A’zham Abu Hanifah (Bagian 1)

Biografi 4 Imam Madzhab; Imamul A’zham Abu Hanifah (Bagian 1)

(Mata-Media.Com) – Biografi imam Abu Hanifah ini merupakan satu dari serial biografi emapt (4) imam Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang madzhabnya tersebar di seluruh dunia Islam. Mereka merupakan mujtahid dan ulama besar yang diikuti oleh umat Islam hingga saat ini.

Insya Allah setelah biografi imam Abu Hanifah akan kami tayangkan pula imam madzhab lainnya dari empat imam madzhab. Marilah kita pelajari dan kita kenali siapa imam Abu Hanifah.

1. Nama dan Nasab

Imam Adz-Dzahabi berkata, “Dia seorang Imam, faqihul millah (ahli fiqihnya millahini), ulamanya Iraq, Abu Hanifah Nu’man bin tsabit bin Zautha, At-Taimi, Al-Kufi, Maula Bani Tayyimullah bin Tsa’labah. Disebutkan juga bahwa beliau keturunan Persia.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/390)

Syaikh At-Taqi Al-Ghazi berkata, “Dialah imamnya para imam, penerang bagi umat, lautan ilmu dan keutamaan, ulamanya Iraq, ahli fiqih dunia seluruhnya, orang setelahnya menjadi lemah di hadapannya, dan yang semasanya, belum pernah mata melihat yang semisalnya, belum ada seorang mujtahid mencapai derajat seperti kesempurnaan dan keutamaannya.” (Ath-Thabaqat As-Sunniyah fi Tarajim Al-Hanafiyah, Hal. 24)

Beliau adalah Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit bin Zutha –dengan huruf zay yang didhammahkan dan tha difathahkan- inilah yang masyhur. Ibnu Asy-Syahnah menukil dari gurunya Majduddin Al-Fairuzzabadi dalam Thabaqat Al-Hanafiyah: bahwa huruf zay difathahkan dan tha juga difathahkan (jadi bacanya Zautha), sebagaimana Sakra. Dahulu Zautha adalah seorang raja dari Bani Tayyimullah bin Tsa’labah. (Ibid)

Syaikh At-Taqi Al-Ghazi juga berkata, “Terjadi perselisihan pendapat tentang asal daerahnya, ada yang mengatakan dari Kaabil, ada pula yang menyebut Baabil, ada yang menyebut Nasaa, ada yang mengatakan Tirmidz, ada juga yang menyebut Al-Anbar, dan lainnya.

Sirajuddin Al-Hindi menyebutkan bahwa cara kompromis dari semua riwayat ini adalah bahwa kakek beliau berasal dari Kaabil, lalu pindah ke Nasaa, lalu ke Tirmidz, atau ayahnya dilahirkan di Baabil, lalu dia dibesarkan di Al-Anbar, dan seterusnya.

Ibnu Asy-Syahnah mengatakan bahwa kompromis seperti ini sebenarnya berasal dari Khathib Khawarizmi. Lalu dia mengatakan: sebagaimana Abu Al-Ma’ali Al-Fadhl bin Sahl Al-Isfirayini, karena ayahnya berasal dari Isfirayin, dan dia dilahirkan di Mesir, besar di Halab, lalu mukim di Baghdad, dan wafat di sana, sehingga disebutkan untuk dia: Al-Mishri, Al-Halabi, dan Al-Baghdadi.” (Ibid.Lihat juga Al-Qadhi Abu Abdillah Husein bin Ali Ash-Shimari, Akhbar Abi Hanifah, Hal. 15-16)

Dia dinamakan Hanifah karena sering membawa tinta, yang di Iraq dikenal dengan sebutan Hanifah. Beliau juga dijuluki Imamul A’zham, dan telah banyak kitab para ulama yang menyebutnya demikian, seperti kitab Manaqib Imam Al-A’zham Abi Hanifah, Al-Khairat Al-Hissan fi Manaqib Al-Imam Al-A’zham Abi Hanifah An-Nu’man, dan lainnya.

Ada seseorang yang menulis di Indonesia yakni Andi Bangkit (buku: Syubhat dan Kerancuan Ikhwanul Muslimin), bahwa dia menolak fakta bahwa imam Abu Hanifah dijuluki Imamul A’zham oleh para ulama, dengan alasan karena Imamul A’zham adalah sebutan untuk khalifah, dan karena Imam Abu Hanifah bukan khalifah, maka dia bukan Imamul A’zham.

Jelas bahwa itu adalah penolakan yang mengada-ada dan sangat ceroboh, sebab sebutan Imamul A’zham pada kenyataan sejarah bukan hanya untuk khalifah, bahkan selain imam Abu Hanifah pun para ulama juga juga menyebut imam Asy-Syafi’i dengan Imamul A’zham.

Imam Abul Fadhl Fakhrurrazi menyusun sebuah kitab berjudul Manaqib Al-Imam Al-A’zham Asy-Syafi’i. (Lihat Akhbar Ulama bi Akhbaril Hukama, Hal. 124. Mawqi’ Al-Warraq)

2. Kelahirannya

Beliau dilahirkan tahun 80 Hijriyah, ada juga yang menyebut 61 Hijriyah seperti dikatakan Muzahim bin Daud bin ‘Uliyah, tetapi yang shahih dan masyhur adalah 80 Hijriyah. Telah dikatakan oleh anaknya sendiri yakni Hammad, lalu Abu Nu’aim, bahwa beliau dilahirkan tahun 80 Hijriyah. (Thabaqat As Sunniyah fi Tarajim Al-Hanafiyah, Hal. 25.Akhbar Abi Hanifah, Hal. 16-17)

Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Lahir tahun 80 hijriyah, pada masa shigharush shahabah (sahabat nabi yang junior), dan sempat melihat Anas bin Malik ketika Anas datang ke kota Kufah.” (Siyar A’lamin Nubala, 6/391)

Imam Abu Hanifah sempat berjumpa dengan beberapa sahabat nabi, yakni Abdullah bin Al-Haarits dan beliau mengambil hadits darinya, Abdullah bin Abi ‘Aufa, dan Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah. Beliau berjumpa dengan Anas bin Malik tahun 95 Hijriyah, dan meriwayatkan hadits darinya, serta bertanya kepadanya tentang sujud sahwi. (Akhbar Abi Hanifah, Hal. 18-19)

Bahkan Ismail, cucu dari Imam Abu Hanifah, menceritakan:

ولد جدي في سنة ثمانين، وذهب ثابت إلى علي وهو صغير، فدعا له بالبركة فيه و في ذريته، ونحن نرجو من الله أن يكون استجاب ذلك لعلي رضي الله عنه فينا.

Kakekku dilahirkan tahun 80 Hijriyah, dan Tsabit (ayah Abu Hanifah) pergi mendatangi Ali bin Abi Thalib, saat itu dia masih kecil, lalu Ali mendoakannya dengan keberkahan untuknya dan keturunannya, dan kami mengharapkan kepada Allah agar mengabulkan hal itu, karena doa AliRadhiallahu ‘Anhu pada kami.(Siyar A’lamin Nubala, 6/395)

3. Sifat-Sifat dan Penampilan

Imam Abu Nu’aim menceritakan bahwa imam Abu Hanifah berparas tampan, jenggotnya rapi, pakaiannya bagus, sendalnya bagus, dan dermawan bagi orang di sekelilingnya. (Akhbar Abi Hanifah, Hal. 16)

Imam Abdullah bin Al-Mubarak berkata:

ما كان أوقر مجلس أبي حنيفة كان يتشبه الفقهاء به وكان حسن السمت حسن الوجه حسن الثوب

Tidak ada yang seberwibawa majelisnya Abu Hanifah, dahulu para ahli fiqih menirunya, dia berperilaku baik, wajahnya bagus, dan pakaiannya bagus. (Ibid, Hal. 17)

Beliau adalah penenun sutera, dan menjualnya, dia memiliki toko yang terkenal di rumahnya Amru bin Huraits. (Siyar A’lamin Nubala, 6/394)

Salah seorang kawan dan muridnya, Imam Abu Yusuf bercerita:

كان أبو حنيفة رحمه الله ربعة من الرجال ليس بالقصير ولا بالطويل وكان أحسن الناس منطقا وأحلاهم نغمة وأبينهم عما يريد

Abu Hanifah Rahimahullah laki-laki yang berperawakan ideal, tidak pendek, dan tidak tinggi. Dia adalah manusia yang paling bagus tutur katanya, dan paling bagus suaranya ketika bersenandung, dan paling bisa menerangkan kepada orang lain apa yang diinginkannya. (Akhbar Abi Hanifah, Hal. 17,Siyar A’lamin Nubala, 6/399)

Dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah, imam Ibnu Muflih berkata:

قَالَ صَاحِبُ الْمُحِيطِ مِنْ الْحَنَفِيَّةِ وَرُوِيَ أَنَّ أَبَا حَنِيفَةَ رَحِمَهُ اللَّهُ ارْتَدَى بِرِدَاءٍ ثَمِينٍ قِيمَتُهُ أَرْبَعُمِائَةِ دِينَارٍ وَكَانَ يَجُرُّهُ عَلَى الْأَرْضِ فَقِيلَ لَهُ أَوَلَسْنَا نُهِينَا عَنْ هَذَا ؟ فَقَالَ إنَّمَا ذَلِكَ لِذَوِي الْخُيَلَاءِ وَلَسْنَا مِنْهُمْ

“Berkata pengarang Al-Muhith dari kalangan Hanafiyah, dan diriwayatkan bahwa Abu Hanifah Rahimahullah memakai mantel mahal seharga empat ratus dinar, yang menjulur hingga sampai tanah. Maka ada yang berkata kepadanya, “Bukankah kita dilarang melakukan itu?” Abu Hanifah menjawab, “Sesungguhnya larangan itu hanyalah untuk yang berlaku sombong, sedangkan kita bukan golongan mereka.” (Imam Ibnu Muflih, Al-Adab Asy-Syar’iyyah, Juz. 4, Hal. 226. Mawqi’ Al-Islam)

Kisah ini menjadi petunjuk bahwa imam Abu Hanifah merupakan salah satu imam yang membolehkan Isbal (menjulurkan pakaian hingga melebihi mata kaki), kecuali jika dibarengi dengan sombong (khuyala’).

Walaupun imam Abu Hanifah berpendapat demikian dan beliau sendiri tidak melakukan Isbal. Wallahu ‘alam. [Buya]

Check Also

‘Aisyah Binti Abu Bakar; Gurunya Kaum Lelaki & Putri dari Lelaki yang Dicintai Nabi

Oleh: Ummu Muhajir (Mata-Media.Com) – ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu adalah gurunya kaum ...