Sunday , December 15 2019
Home / Inspiratif / Pondasi-Pondasi Yang Imam Ahmad Berfatwa Dengannya

Pondasi-Pondasi Yang Imam Ahmad Berfatwa Dengannya

(Mata-Media.Com) – Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, sungguh dalam Islam terdapat empat (4) madzhab yang terkenal, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Ditengah-tengah 4 madzhab itu ada satu madzhab yang muncul yaitu adalah madzhab Zhahiri, hanya saja keberadaan madzhab Zhahiri ini tidak sebegitu mahsyur seperti 4 madzhab lainnya. Namun pembahasan kita kali ini hanya seputar satu madzhab saja, yaitu adalah madzhab Hanbali dengan imamnya yaitu al-Imam al-Mubajjal Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani rahimahullah.

Ketauhilah bahwasanya al-Imam Ahmad dalam berfatwa maka beliau mempunyai empat pondasi, sebagaimana penjelasan al-Imam Ibnul Qayyim al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya I’lamul Muwaqqi’in. InsyaAllah pembahasan kita kali ini berdasarkan nukilan kami dari kitab I’lamul Muwaqqi’in tersebut.

Diantara pondasi-pondasi yang Imam Ahmad berfatwa dengannya adalah sebagaimana penjelasan Ibnul Qayyim dibawah ini:

ألأصل الأول: النصوص

فإذا وجد النص أفتى بموجبه ولم يلتفت إلى ما خالفه ولا من خالفه كائنا من كان

 ~ Pondasi Pertama: Nash-Nash (Dari al-Quran dan as-Sunnah)

“Apabila beliau mendapati nash (dari al-Quran dan as-sunnah) maka beliau berfatwa dengannya, dan tidak menoleh kepada apa yang menyelisihinya (nash) dan orang yang menyelisihinya siapapun dia”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 31 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Kemudian tentang pondasi pertama ini Ibnul Qayyim kembali berkata lagi:

ونصوص رسول الله صلى الله عليه وسلم أجل عند الإمام أحمد وسائر أئمة الحديث من أن يقضموا عليها توهم إجماع مضمونه عدم العلم بالمخالف

“Dan nash-nash dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disisi Imam Ahmad dan seluruh para imam hadits adalah lebih mulia ketimbang mereka mendahulukan ketidakjelasan kesepakatan (ra’yu) yang intinya adalah tidak adanya ilmu dalam penyelisihannya”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 31 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Aku berkata: Inilah pondasi pertama Imam Ahmad ketika beliau berfatwa.

الأصل الثاني: فتاوى الصحابة

ما أفتى به الصحابة فإنه إذا وجد لبعضهم فتوى لا يعرف له مخالف منهم فيها لم يعدها إلى غيرها, ولم يقل: إن ذلك إجماع.

~ Pondasi Kedua: Fatwa-Fatwa shahabat

“(Pondasi kedua) adalah fatwanya para shahabat, maka jika ia mendapati dari sebagian mereka fatwa dan shahabat lain tidak ada yang menyelisihinya, maka beliau tidak berpaling kepada pendapat lainnya (selain fatwa shahabat) dan tidak pula mengatakan: Sesungguhnya (fatwa shahabat) tersebut adalah ijma”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 32 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Aku berkata: Jika tidak ada nash dari al-Quran dan as-Sunnah maka beliau merujuk kepada fatwa shahabat.

الأصل الثالث: الاختيار من أقوال الصحابة إذا اختلفوا

إذا اختلف الصحابة تخير من أقوالهم ما كان أقربها إلى الكتاب والسنة

~ Pondasi Ketiga: Memilih Pendapat-Pendapat Para Shahabat Jika Mereka Berselisih

“Apabila para shahabat berselisih maka dipilih dari pendapat-pendapat mereka suatu pendapat yang paling dekat kepada al-Quran dan as-Sunnah”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 32 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Kemudian beliau berkata lagi:

فإن لم يتبين له موافقة أحد الأقوال حكى الخلاف فيها ولم يجزم بقول

“Jika belum jelas baginya mana pendapat yang paling sesuai (dengan al-Quran dan as-sunnah), maka hendaknya ia meriwayatkan bahwasanya telah terjadi khilaf dan tidak boleh baginya memastikan bahwa hanya satu pendapat saja yang benar”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 32 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Aku berkata: Jika fatwa shahabat saling berselisih maka beliau memilih mana pendapat yang paling mendekati nash.

الأصل الرابع: الحديث المرسل

الأخذ بالمرسل والحديث الضعيف

~ Pondasi Keempat: Hadits Mursal

“(Yaitu) mengambil hadits mursal dan hadits dhaif”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 33 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Namun hadits dhaif yang bagaimanakah yang beliau ambil? Ibnul Qayyim berkata lagi:

وليس المراد بالضعيف عنده الباطل ولا المنكر ولا ما في  روايته متهم

“Bukanlah maksud dhaif disini adalah hadits yang batil lagi munkar serta riwayatnya tertuduh”.

Sampai ucapan beliau:

بل الحديث الضعيف عنده قسم الصحيح وقسم من أقسام الحسن

“Bahkan hadits dhaif menurut Imam Ahmad termasuk dari jenis hadits shahih dan jenis hadits hasan”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 33 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Aku berkata: Inilah pondasi beliau yang keempat jika pondasi-pondasi sebelumnya tidak beliau dapatkan.

الأصل الخامس: القياس للضرورة

فإذا لم يكن عند الإمام أحمد في المسألة نص ولا قول الصحابة أو واحد منهم ولا أثر مرسل أو ضعيف عدل إلى الأصل الخامس وهو القياس فاستعمله للضرورة

~ Pondasi Kelima: Qiyas Jika Darurat

“Apabila dalam suatu masalah Imam Ahmad tidak mendapati suatu nash, pendapat shahabat atau satupun pendapat dari mereka, tidak pula atsar yang mursal ataupun yang dhaif, maka beliau akan condong kependapat yang kelima yaitu adalah qiyas jika darurat”. (I’lamul Muwaqqi’in hal 34 cet. Darul Kitab al-Arabi, Beirut)

Aku berkata: Inilah qiyas, beliau lakukan hanya dalam kondisi darurat yaitu jika empat pondasi sebelumnya tidak beliau dapatkan.

Demikianlah sedikit penjelasan dari kami, semoga bermanfaat. Aamiin. . . [Alberto]

Check Also

‘Aisyah Binti Abu Bakar; Gurunya Kaum Lelaki & Putri dari Lelaki yang Dicintai Nabi

Oleh: Ummu Muhajir (Mata-Media.Com) – ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu adalah gurunya kaum ...