Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Muallaf Australia: Islam Jaga Keseimbangan Nalar & Kepekaan Spiritual

Muallaf Australia: Islam Jaga Keseimbangan Nalar & Kepekaan Spiritual

MELBOURNE (Mata-Media.Com) – Stigma buruk terhadap Islam bisa berlangsung terus-menerus dan dari generasi ke generasi berikutnya. Hal inilah yang dirasakan oleh Susan Carland saat berusia 17 tahun. Wanita Australia kelahiran 1979 silam ini mulai tertarik mempelajari agama-agama. Namun, ibunya memberikan catatan keras terhadap Islam.

“Susan, aku tidak ingin kamu mendekati Islam. Saya tidak peduli bila nanti kamu bahkan menikah dengan seorang pengedar narkoba, asalkan jangan sampai jodohmu seorang Muslim,” kata Carland menirukan kata-kata ibunya seperti dilansir dari aboutislam net.

Susan mengaku terkejut begitu mendengar langsung stigma Islam dari ibunya sendiri. Betapa tidak? Seorang pengedar narkoba dianggap lebih baik menjadi menantu ketimbang seorang Muslim? Bagaimanapun, rasa ingin tahu Susan justru semakin besar terhadap agama ini.

Sejauh ini, ia hanya mendengar selentingan negatif dan buruk tentang Islam. Misalnya, bahwa ajaran kitab suci Al-Qur’an mendukung kekerasan terhadap orang yang beda iman atau menindas kaum perempuan.

Bagi Susan, agaknya tidak masuk akal bila Islam pada hakikatnya mengajarkan kekerasan. Apa jadinya dunia bila 1,5 miliar Muslim menjalankan aksi kekerasan? Bila demikian, bukankah sudah dari dahulu planet bumi mengalami kerusuhan dengan skala masif?

Keluarga Susan merupakan penganut Nashrani yang cukup taat. Sejak kanak-kanak, Susan tumbuh sebagai pribadi yang cerdas dan berani mengaktualisasi diri. Ia senang menemukan hal-hal baru. Uniknya, ketika menginjak masa remaja, intuisi spiritualnya justru tumbuh, alih-alih ikut dalam arus populer anak-anak sebayanya. Ia merasa, agama menyediakan tujuan bagi eksistensi dirinya dan manusia pada umumnya.

Dalam periode antara tahun 1996 sampai 1998, Susan mulai giat mengumpulkan pelbagai informasi tentang agama-agama besar dunia, termasuk Islam. Untuk itu, dia cenderung mengandalkan jejaring internet untuk memperluas pergaulannya.

Pada era 1990-an, di Australia cukup populer ruang-ruang obrolan (chatrooms) daring. Di sanalah Susan berkenalan dengan beberapa perempuan Muslim yang sedang belajar di universitas yang sama dengan Susan di Australia. Di sela-sela kesibukan para kawan barunya itu dan Susan sendiri, pertemuan berlangsung dalam suasana hangat meski diselingi diskusi-diskusi tajam soal Islam.

Mulai dari sana, Susan membanding-bandingkan antara pelbagai stigma yang melekat pada Islam di satu sisi dan ajaran serta tradisi Islam sendiri di sisi lain. Hasilnya, menurut Susan cukup mengejutkan.

“Saya menemukan, ternyata Islam mengajarkan perdamaian, persamaan, keadilan di tengah masyarakat. Islam juga menghendaki keseimbangan antara nalar dan kepekaan spiritual,” ujarnya.

Selain itu, pergaulannya dengan lingkaran diskusi Muslim semakin memperluas cakrawala berpikirnya. Islam tidak menghendaki umatnya hidup dalam selubung-selubung eksklusif. Seseorang atau suatu kelompok dapat menjadi Muslim tanpa harus meninggalkan komunitas atau budaya asalnya.

Di dalam Alquran, Allah juga menegaskan bahwa keberagaman adalah fakta agar antar manusia dapat saling mengenal satu sama lain. Susan merasa, menjadi pemeluk Islam tidak menghalangi orang untuk menjadi seorang Australia, seorang terpelajar, atau identitas-identitas lainnya yang ikut berkontribusi dalam membangun kemanusiaan. Akhirnya, saat berusia 19 tahun, Susan mengucapkan 2 kalimat syahadat.

Namun, pilihan Susan menjadi muallaf dan keislamannya ini masih disembunyikan di hadapan keluarga dekat, terutama ibunya. Susan tidak ingin mengejutkan orang tuanya atau ia merasa belum siap menyampaikan hal ini.

Sampai suatu saat, Susan dan ibunya akan menyantap makan malam. Kegiatan rutin ini tampak biasa saja hingga ibunya menghidangkan sajian yang mengandung daging babi. Susan merasa enggan. Ibunya tidak mengira macam-macam sampai Susan mengucapkan bahwa kini dirinya adalah seorang Muslim. “Ibu cepat-cepat memelukku. Tapi beliau juga menangis,” kata Susan mengenang.

Sang ibu rupanya begitu tersentak dan bercampur aduk emosinya ketika itu. Satu hal yang ingin disampaikannya, Susan yang kini bukanlah kanak-kanak lagi, melainkan gadis dewasa yang mulai menata arah hidupnya sendiri.

Beberapa hari setelah pengakuan itu, Susan mulai mengenakan jilbab. Delapan (8) tahun lamanya ada semacam jarak komunikasi antara Susan dan ibunya. Namun, sebagai putri yang baik, Susan terus berupaya menunjukkan rasa sayang dan cintanya yang tulus. Islam sendiri tidak mengajarkan seorang anak menyakiti orang tua hanya lantaran perbedaan agama dan keimanan.

Pada tahun 2007, Susan lulus dengan 2 gelar sarjana sekaligus, yakni dalam bidang humaniora dan ilmu eksakta. Namun, titik penting dalam hidup Susan terjadi ketika usianya 23 tahun. Pada tahun 2002, Susan menikah dengan Waleed Aly, pria Muslim keturunan Mesir sekaligus warga Australia.

Aly merupakan lulusan sekolah tinggi hukum dan termasuk salah seorang pemuda berprestasi nasional di Australia. Ia juga menulis buku yang mengkritik cara Barat memandang Islam. Meskipun sempat bersikap dingin terhadap pernikahan ini, pada akhirnya hati ibunda Susan luluh.

Sekarang, menurut Susan, ibunya termasuk yang selalu mendukung diri dan keluarganya. Baru-baru ini, lanjut dia, sang ibu memberikan hadiah kepadanya berupa jilbab. [Abd/rol]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...