Monday , October 14 2019
Home / Headline / Inilah Ucapan Selamat Pada Saat Hari Raya Idul Fitri Sesuai Tuntunan Sahabat Nabi

Inilah Ucapan Selamat Pada Saat Hari Raya Idul Fitri Sesuai Tuntunan Sahabat Nabi

Oleh: Abdurrahman

(Mata-Media.Net)  – Pada saat menjelang dan ketika Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha, kita sering mendengar sebagian kaum Muslimin mengucapkan selamat kepada sebagian Muslim lainnya dengan ucapan yang beraneka ragam. Ada yang diucapkan secara langsung (face to face), ada yang dengan pantun serius, pantun plesetan, ungkapan yang sangat puitis dan sejumlah ucapan lainnya melalui pesan singkat (SMS) atau lewat aplikasi chatting.

Akan tetapi para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, apa yang harus kita ucapkan ketika bertemu dengan saudara Muslim kita yang lainnya pada saat Hari Raya Idul Fitri? Adakah ucapan khusus yang diajarkan didalam Islam? Lalu, apa pula hukumnya mengucapkan selamat pada saat Hari Raya?

Ayyuhal ikhwah, perlu diketahui bersama bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat pada saat Hari Raya, baik Hari Raya Idul Fitri maupun Hari Raya Idul Adha diantara mereka dengan ucapan تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَ مِنْكُمْ, “Taqabbalallahu minna wa minkum” (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

فعن جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ : كَانَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اِلْتَقَوْا يَوْمَ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكم. الحافظ : إسناده حسن

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa dahulu apabila para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu pada Hari Raya (Idul Fitri atau Idul Adha), mereka saling mengucapkan, “Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian). (Sanadnya Hasan, Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-Asqolani, 2/446)

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

وَلَا بَأْسَ أَنْ يَقُولَ الرَّجُل لِلرَّجُلِ يَوْمَ الْعِيدِ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di Hari Raya Ied mengucapkan: Taqabbalallahu minna wa minka”.

وَقَالَ حَرْبٌ : سُئِلَ أَحْمَدُ عَنْ قَوْلِ النَّاسِ فِي الْعِيدَيْنِ تَقَبَّلَ اللَّهُ وَمِنْكُمْ .قَالَ : لَا بَأْسَ بِهِ ، يَرْوِيه أَهْلُ الشَّامِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قِيلَ : وَوَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ ؟ قَالَ : نَعَمْ .قِيلَ : فَلَا تُكْرَهُ أَنْ يُقَالَ هَذَا يَوْمَ الْعِيدِ .قَالَ : لَا

Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa yang mesti diucapkan di Hari Raya Ied (Idul Fitri dan Idul Adha), apakah dengan ucapan, ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak mengapa mengucapkan seperti itu”. Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian”. Ada pula yang mengatakan, “Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada Hari Raya Ied”. Imam Ahmad mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan”.

وَذَكَرَ ابْنُ عَقِيلٍ فِي تَهْنِئَةِ الْعِيدِ أَحَادِيثَ ، مِنْهَا ، أَنَّ مُحَمَّدَ بْنَ زِيَادٍ ، قَالَ : كُنْت مَعَ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ وَغَيْرِهِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانُوا إذَا رَجَعُوا مِنْ الْعِيدِ يَقُولُ بَعْضُهُمْ لَبَعْضٍ : تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْك .وَقَالَ أَحْمَدُ : إسْنَادُ حَدِيثِ أَبِي أُمَامَةَ إسْنَادٌ جَيِّدٌ

Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat pada Hari Raya Ied. Diantara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, “Aku pernah bersama Abu Umamah Al-Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari Ied (yakni selesai sholat Ied), satu sama lain diantara mereka mengucapkan, ‘Taqabbalallahu minna wa minka”. Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.

Diriwayatkan dari Imam Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam mengucapkan selamat (Hari Raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang mengucapkan selamat kepadaku, aku pun akan membalasnya”. Demikian berbagai nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari AlMughni. (Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, 2/250)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat (tahniah) ketika Hari Raya Ied seperti sebagian orang mengatakan kepada yang lainnya ketika berjumpa setelah sholat Ied, “Taqabbalallahu minna wa minkum wa ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang mengucapkan selamat kepadaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh)”. (Majmu’ AlFatawa, Ibnu Taimiyyah, 24/253)

Imam Malik rahimahullah pernah ditanya: “Apakah makruh hukumnya seseorang mengucapkan kepada saudaranya apabila pulang dari sholat Ied, Taqabbalallahu minna wa minka, waghafarallahu lana walaka (Dan semoga Allah mengampuni kami dan kalian), dan saudaranya menjawabnya seperti itu? Beliau berkata: Tidak makruh”. (Al-Muntaqa 1/322)

Dalam kitab Al-Hawi (1/82), Imam Suyuthi berkata: Ibnu Hibban telah mengeluarkan dalam kitab Al-Tsiqot dari Ali bin Tsabit berkata: Aku bertanya kepada Malik tentang ucapan orang-orang pada hari raya; Taqabbalallahu minna wa minka, maka beliau berkata: hal itu masih terus berlaku seperti itu ditempat kami.

Mohon Maaf Lahir Batin

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, namun ada satu catatan yang patut untuk diperhatikan, bahwa tidak ada pengkhususan pada saat Hari Raya Idul Fitri untuk saling maaf memaafkan.

Perbuatan semacam ini sering kita dengar tersebar dengan mengucapkan, “Mohon Maaf Lahir dan Batin” pada saat Idul Fitri. Seolah-olah saat Idul Fitri hanya khusus dengan ucapan semacam itu. Maka hal ini adalah perkara dan perbuatan yang salah kaprah.

Sebab, Hari Raya Idul Fitri bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Waktu untuk saling memohon maaf itu sangat luas. Ketika berbuat kita salah, maka hendaknya langsung meminta maaf, dan itulah yang tepat. Jadi tidak mesti pada saat Idul Fitri. Karena jika dikhususkan seperti itu, maka harus butuh dalil dari Al-Qur’an dan Hadits. Akan tetapi buktinya, tidak ada satu dalil yang menunjukkan ucapan seperti itu.

Minal ‘Aidin Wal Faizin

Lalu, ada satu ucapan lagi yang keliru pada saat Idul Fitri, yakni ucapan “Minal ‘Aidin Wal Faizin”. Ucapan ini dari segi makna kurang bagus. Arti dari ucapan tersebut adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Ini suatu kalimat yang rancu. Kita mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat? Jika mengandung dua (2) makna seperti ini, maka hendaknya ditinggalkan. Karena bisa jadi orang memahami yang dimaksud adalah kita kembali kepada kemaksiatan. Artinya, ibadah hanya di bulan Ramadhan saja, setelah itu sah-sah saja untuk bermaksiat, sah-sah saja untuk meninggalkan sholat dan ibadah wajib lainnya. Akibat ucapan keliru itu, maka berujung pula kepada amalan yang keliru.

Satu hal lagi yang mesti dipahami, bahwa makna “Minal ‘Aidin Wal Faizin” adalah seperti yang kita jelaskan diatas, dan maknanya bukanlah “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Sebab setiap kali ada yang mengucapkan “Minal ‘Aidin Wal Faizin” biasanya dan lantas diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Dikira artinya adalah kalimat selanjutnya.

Maka hal ini adalah perbuatan dan ucapan yang keliru. Ini pemahaman orang yang tidak paham bahasa Arab. Semestinya hal ini diluruskan bagi orang yang mengetahuinya. Makna kalimat “Minal ‘Aidin Wal Faizin” adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Namun sebagaimana dijelaskan diatas, dari sisi makna kalimat ini keliru. Sehingga sudah sepantasnya kita hindari. Ucapan yang lebih baik adalah sebagaimana telah dikemukakan diawal tulisan yang kami paparkan dan dicontohkan langsung oleh para sahabat, yakni “Taqabbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amal kita dan amal kalian)”.

Terakhir dalam kesempatan ini, segenap Kru, Redaksi dan Pimpinan Situs Online MATA-MEDIA.NET (MMC) mengucapkan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1440 H/2019 M”,

تَقَبَّلَ اللَّهُ مِنَّا وَمِنْكم

“Semoga Allah menerima segala amal sholih kita dan amal kalian semua”. Aamiin.. [dbs]

Check Also

2 Polisi Perancis Diduga Terpapar Paham Radikal

PARIS (Mata-Media.Net) – Otoritas Perancis menyebutkan telah menyita senjata dinas dari dua (2) polisi atas ...