Friday , April 10 2020
Home / Headline / Meniti Jalan Taubat (Karena Taubat Suatu Keharusan)

Meniti Jalan Taubat (Karena Taubat Suatu Keharusan)

Oleh: Furqan

(Mata-Media.Net) – Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ

“Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah orang yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi 2499, shahih At-Targhib 3139)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ الْعِبَادَ لَمْ يُذْنِبُوْا لَخَلَقَ اللهُ الْخَلقَ يُذْنِبُوْنَ ثُمَّ يَغْفِرُ لَهُمْ رَواه الْحَاكِمُ

“Seandainya hamba-hamba Allah tidak ada yang berbuat dosa, tentulah Allah akan menciptakan makhluk lain yang berbuat dosa kemudian mengampuni mereka”. (HR. Al-Hakim, halaman 4/246)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, siapa sih diantara kita yang tidak pernah berbuat dosa? Tentu hampir semua dari kita pernah berbuat dosa. Baik dosa besar ataupun dosa kecil. Sebab kekhilafan dan kesalahan itu layaknya kerikil dan lubang di jalan kehidupan yang kita lalui. Terkadang maksud hati ingin menghindari, akan tetapi tak dinyana kaki kita malah tergelincir dan terperosok dalam lubang dosa tersebut. Ketika kita mencoba dan berusaha secara cermat dalam meniti jalan kehidupan ini, namun tetap saja tanpa disadari kaki kita kemudian tengah atau telah menginjak lubang kesalahan.

Oleh karena itu, dengan bertaubat, maka kita dapat membersihkan hati dari noda dosa yang mengotorinya. Sebab dosa itu akan menodai hati, dan membersihkannya merupakan kewajiban bagi setiap manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang Mukmin bila berbuat dosa, maka akan (timbul) satu titik noda hitam di hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan (perbuatan tersebut) dan memohon ampunan (kepada Allah), maka hatinya kembali bersih. Tetapi bila menambah (perbuatan dosa), maka bertambahlah noda hitam tersebut sampai memenuhi hatinya. Maka itulah Ar-Raan (penutup hati) yang telah disebutkan Allah dalam firman-Nya “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka (QS. Al-Muthaffifin 83 : 14)”. (HR. Ibnu Majah, no. 4244)

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi rahimahullah (wafat tahun 689 H) berkata, ”Para ulama telah ijma’ tentang wajibnya taubat, karena sesungguhnya dosa-dosa membinasakan manusia dan menjauhkan manusia dari Allah. Maka, wajib segera bertaubat”. (Mukhtashar Minhajul Qashidin, halaman 322)

Oleh karenanya, taubat itu merupakan suatu keharusan, sebab manusia itu takkan luput dari dosa. Seandainya terbebas dari maksiat dan dosa anggota tubuh, maka belum tentu dapat lepas dari dosa hati dan lisan. Dan ketika terbebas dari dosa hati, maka belum tentu pula manusia itu bisa luput dari gangguan setan yang menjauhkan dari dzikir kepada Allah, karena fitrahnya manusia itu memang lebih sering lalai. Mak dari itu, ketika ada orang lain yang mengingatkan kesalahan kita, jangan sampai kita sombong dan justru merendahkannya meskipun yang diingatkan itu dilihat sebagai orang berilmu dan cakap berbahasa Arab.

عَنِ اْلأَغَرِّ بْنِ يَسَارٍ الْمُزَنِي قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَآايُّهَا النَّاسُ تُوْبُوْا إِلَى اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَإِنِّي أَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

Dari Aghar bin Yasar Al-Muzani, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ”Hai sekalian manusia! Bertaubatlah kalian kepada Allah dan mintalah ampun kepadaNya, karena sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari sebanyak seratus (100) kali”. (HR. Muslim, no. 2702)

TAUBAT ADALAH PILIHAN

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, karenaya, jika menyadari hal itu tentu saja taubat adalah sebuah pilihan bagi yang telah berbuat dosa. Adalah suatu kemustahilan manusia terbebas dari dosa. Manusia yang baik bukanlah yang tak pernah berbuat dosa. Sebab dia dapat terjatuh kepada dosa yang lebih besar yakni ujub karena “merasa” bebas dari dosa. Oleh karena itu, janganlah engkau mengingatkan dosa yang dahulu orang lain perbuat padahal ia sudah bertaubat, ketika engkau diingatkan akan dosamu sekarang ini oleh orang tersebut.

Hal itu sekali-kali adalah sebuah kesombongan atau ujub yang ada pada dirimu. Padahal ujub sendiri merupakan dosa yang tak kalah besar. Bahkan dosa inilah yang menjadikan iblis dikeluarkan dari jannah (surga) dan membuatnya enggan bertaubat. Berbeda dengan Adam. Adam memang melakukan dosa besar karena telah menerjang larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun Adam kemudian menyadari dosa yang telah dilakukan dan bertaubat.

Sebenarnya, di kehidupan ini ada dua (2) tipe makhluk Allah. Mereka yang mau bertaubat dan mereka yang dzalim. Siapapun yang tidak mau bertaubat maka dia orang yang dzalim. Meskipun dia banyak berbuat baik dan dilihat oleh orang lain sebagai oerang yang berilmu. Dia dikatakan dzalim karena pandangannya yang picik, tidak mau mengakui kesalahan-kesalahannya dan justru mengungkit kesalahan orang lain. Oleh karenanya Rasulullah mengingatkan, “Setiap anak Adam pasti bersalah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi 2499, shahih At-Targhib 3139)

TAK CUKUP ISTIGHFAR

Pada dasarnya, istighfar (astaghfirullah) merupakan ungkapan pengakuan dosa. Ketika seseorang mengucapkan istighfar, maka dia mengakui bahwa dirinya telah melakukan dosa dan dia meminta ampun kepada Allah. Namun, tak semua dosa yang dilakukan cukup hanya mengucapkan istighfar.

Ketika seseorang betul-betul berniat bertaubat dengan sebetul-betulnya taubat atau taubat nasuha, maka ada beberapa syarat yang harus dia penuhi, diantaranya:

  1. Berhenti Dari Dosa Itu

Taubat nasuha tidak hanya dengan ucapan “aku bertaubat”, tapi tetap saja enjoy dengan dosa. Sebab, taubat yang hanya di lisan tanpa diikuti dengan meninggalkan dosa adalah taubatnya pendusta. Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Istighfar tanpa memutus diri dari maksiat adalah taubatnya para pendusta”.

Tentunya ketika seseorang bertaubat maka dia harus “berani” memutus hubungan dengan dosa tersebut. Bahkan para ulama mengatakan tidak sah taubatnya seseorang yang masih melaksanakan dosa.

  1. Menyesal Atas Dosa Yang Dilakukan

Bukan justru sebaliknya, yakni berbangga diri atas dosa yang pernah dilakukan. Malahan ada sebagian orang yang mengaku bertaubat tapi dengan bangganya menceritakan dosa masa lalunya, dan bukan untuk diambil faedah dari kisah tersebut. Bahkan terkesan dia “menyesal” karena telah bertaubat. Padahal yang seperti ini menjatuhkan dirinya kepada dosa lain yang lebih besar, yakni mujaharoh.

Rasulullah bersabda, “Semua umatku diampuni kecuali Mujahirin (yang melakukan dosa terang-terangan). Termasuk mujaharoh (perbuatan dosa terang-terangan) adalah seorang laki-laki yang melakukan dosa di malam hari. Kemudian memasuki pagi hari dia berkata ya fulan, tadi malam aku melakukan perbuatan begini… dan begini….. Padahal Allah telah menutup dosanya, namun di pagi hari dia menyingkap tabir Allah tersebut”. (HR. Bukhari)

  1. Bertekad Untuk Tidak Mengulangi

Inilah syarat ketiga yang harus dilalui bagi mereka yang bertaubat dengan taubatan nasuha. Tekad baja untuk menjauhi dosa haruslah terpatri kuat di dalam dada. Tentu saja juga dengan menjauhi semua wasilah yang dapat menghantarkan kepada dosa tersebut.

  1. Apabila Berkaitan Dengan Hak Adami (Antar Manusia), Maka Meminta Kehalalannya

Syarat keemapt inilah yang tak kalah penting dan harus diingat dan dicatat. Maksudnya apabila berkaitan dengan harta atau kehormatan seseorang, maka dia harus meminta maaf dan kehalalannya (orang yang disakiti tersebut), atau jika dosa tersebut juga menyeret orang lain.

Misalnya ada seorang dai atau ustadz atau kyai yang pernah menyampaikan suatu ajaran sesat dan menyimpang, lalu diikuti oleh orang lain, maka dia harus menyampaikan ajaran yang benar ketika dia mendapatkan hidayah, agar orang-raong yang ia sesatkan juga mendapatkan hidayah melalui lisan atau tulisan dia.

Suatu ketika Imam Ahmad rahimahullah ditanya oleh putranya tentang seorang yang mengkhianati harta orang lain. Kemudian dia menginfakkannya dan menghabiskannya. Selang beberapa lama, diapun menyesali perbuatannya tersebut. Akan tetapi dia sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Dalam keadaan seperti ini apakah apabila dia mati akan terbebas dari tanggungan? Maka imam Ahmad pun menjawab: “Laki-laki tersebut harus memenuhi hak orang tersebut dan apabila dia mati maka dia memiliki tanggungan atasnya”.

Begitu pula seseorang yang ingin bertaubat dari dosa ghibah, memfitnah dan yang semisalnya. Dia tidak cukup dengan bertaubat kepada Allah saja, namun juga meminta kehalalan ataupun meminta maaf kepada orang yang di ghibah.

Terakhir, Allah Subhanahu wa Ta’ala sesungguhnya cinta kepada orang-orang yang bertaubat, dan lebih cinta lagi kepada orang yang berbuat salah, kemudian ia bertaubat sebagaimana hadits diatas. Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

“… Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS. Al-Baqarah 2 : 222)

Setiap kali melakukan kesalahan atau kemaksiatan, kita tidak pernah tahu pasti apakah dosa yang telah kita lakukan itu diampuni atau tidak. Oleh karena itu, semua usaha diatas merupakan pelaksanaan atas perintah Allah agar kita senantiasa bertaubat setiap kali berbuat dosa. Sebab, kita ini bukanlah makhluk yang sempurna. Wallahu a’lam.. [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Update Corona di Indonesia 10 April: 306 Orang Meninggal & 3.512 Positif

JAKARTA (Mata-Media.Net) – Jumlah korban orang yang positif virus corona atau Covid-19 maupun yang meninggal setelah terinfeksi ...