Tuesday , August 20 2019
Home / Headline / Abdullah Bin Yasin, Punggawa Murabithin & Pembaharu Syariat di Gurun Sahara

Abdullah Bin Yasin, Punggawa Murabithin & Pembaharu Syariat di Gurun Sahara

(Mata-Media.Com) Merupakan sunatullah (ketetapan Allah) jika setiap kali makhluk-Nya tersesat dalam kedurhakaan dan kesesatan, niscaya Allah akan mengutus orang yang memperbarui agama mereka. Ada yang menaatinya, akan tetapi kebanyakan orang realitanya mendurhakainya.

Lalu para muwahhid berlepas diri terhadap orang-orang yang menyelisihi manhaj Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengangkat pedang untuk memerangi mereka hingga Allah memenangkan dien-Nya dan agar agama semua itu menjadi milik-Nya. Salah satu pembaharu itu adalah seorang da’i, alim lagi mujahid yakni Abdullah bin Yasin rahimahullah.

Kisah Abdullah bin Yasin bermula ketika seorang pemuka suku Gudala yang tinggal di padang pasir Maghrib bernama Yahya bin Ibrahim memutuskan untuk mulai menjelaskan dan mengenalkan kepada kaumnya mengenai syariat-syariat Allah dan batasan-batasan-Nya. Ia adalah lelaki yang baik dan cinta terhadap agama.  Beliau terus mencari seseorang yang mau membantunya mendakwahi kaumnya.  Namun banyak da’i yang menolak ajakannya berdakwah di padang Sahara karena kesulitan yang bakal menghadang, kecuali seorang dai mujahid bernama Abdullah bin Yasin. Dengan memohon pertolongan kepada Allah dia menerima tugas tersebut.

As-Salawi berkata, “Ada seorang da’i yang bangkit untuk mengemban tugas tersebut. Ia bernama Abdullah bin Yasin al-Jazuli. Beliau adalah murid yang cerdas, mempunyai keutamaan, agama yang bagus, wara’, dan ahli politik lagi berwawasan luas. Dia lalu pergi bersama Yahya bin Ibrahim menuju padang Sahara”. Demikianlah Ibnu Yasin tabah berjalan di tengah padang Sahara dalam keterasingan demi menyebarkan dien Allah pada kaum yang tersesat.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, ketika Abdullah bin Yasin tiba di pemukiman kabilah Lamtunah, mereka bertanya kepadanya tentang misi yang dibawanya. Beliau lalu memberitahukan bahwa dirinya datang untuk mengajarkan syariat-syariat Islam dan menegakkah had-hadnya. Ibnul Atsir berkata, “Mereka berkata, ‘Ingatkan kami mengenai syariat Islam’. Maka ia memberitahu mereka mengenai aqidah dan kewajiban-kewajiban Islam. Kata mereka, ‘Yang engkau sebutkan mengenai shalat dan zakat maka kami bersedia. Adapun katamu bahwa jika yang membunuh maka dibunuh, yang mencuri maka dipotong tangannya dan yang berzina maka dicambuk atau dirajam, kami tidak mau melaksanakannya. Pergilah ke tempat lain’. Keduanya pun pergi meninggalkan mereka”.

Demikianlah kabilah ini awal mulanya menolak menegakkan syariat. Karena itulah Ibnu Yasin tidak mau tinggal bersama mereka jika mereka tidak mau melaksanakan semua syariat Islam.

Abdullah bin Yasin lalu pergi ke kabilah Gudala bersama pemukanya itu. Ibnul Atsir berkata, “Abdullah bin Yasin menyeru mereka dan kabilah-kabilah sekitarnya untuk menegakkan syariat. Ada yang mematuhi dan ada yang menolak”.

Pada akhirnya mereka mengusirnya ketika hukum-hukum syariat membuat mereka merasa sempit sehingga tidak mau tunduk. Ketika itu Ibnu Yasin tidak mempunyai kekuatan untuk memerangi mereka. Ia ingin pergi ke Sudan untuk mendakwahi mereka. Namun salah seorang pemuka Gudala menyarankannya untuk tinggal di suatu madrasah terkenal (konon terletak di dekat Sungai Senegal).

Ibnu Khaldun menuturkan, “Mereka lalu mengasingkan diri di sebuah dataran yang dikelilingi Sungai Nil. Ketika musim panas airnya dangkal dan ketika musim dingin airnya meluap sehingga dataran tersebut menjadi jajaran pulau yang terputus-putus. Mereka menyeberangi Sungai Nil untuk beribadah di situ”.

Dari Dakwah Ke Jihad

Allah Ta’ala menghendaki sang juru dakwah ini menjadi peletak batu pertama berdirinya suatu pemerintahan Islam. Ibnu Khaldun berkata, “Kabar mereka terdengar oleh orang-orang yang ada kebaikan dalam hatinya. Maka semakin banyak orang yang bergabung dalam dakwah ini. Ketika jumlahnya mencapai seribu orang, guru mereka Abdullah bin Yasin berkata, ‘Sesungguhnya seribu itu tidak akan kalah karena sedikitnya jumlah. Wajib bagi kita untuk menegakkan kebenaran, menyerukannya, dan menggiring manusia untuk mengikutinya. Marilah kita keluar’. Mereka lalu keluar dan memerangi orang-orang yang membangkang dari kabilah Gudala dan Lamtunah”. Ibnu Yasin akhirnya keluar berjihad fie sabilillah memerangi kabilah-kabilah Murtad yang tidak mau menjalankan syariat.

Ibnul Atsir juga menuturkan, “Ibnu Yasin lalu berkata kepada para pengikutnya, ‘Telah wajib atas kalian untuk memerangi orang-orang yang menyelisihi kebenaran, mengingkari syariat, dan telah bersiap-siap untuk menyerbu kalian. Maka tegakkanlah panji dan angkatlah seorang amir’”. Dengan sekelompok kecil orang-orang Mukmin itu para Murabithin menundukkan Sahara untuk menegakkan hukum Allah. As-Salawi berkata, “Ia mulai menyerang kabilah demi kabilah sampai menguasai seluruh penjuru Sahara dan menundukkan kabilah-kabilahnya. Ia menjadi masyhur di seluruh penjuru negeri Sahara dan negeri-negeri sekitarnya seperti Sudan, Qiblah, negeri orang-orang Masmudah dan seluruh penjuru Maghrib; bahwa ada seorang lelaki dari Gudala yang menyeru kepada Allah dan jalan yang lurus, berhukum dengan yang diturunkan Allah, dan tawadhu’ lagi zuhud. Di mana-mana namanya disebut-sebut dan orang-orang banyak yang mencintainya”.

Ketika ia berusaha mencari ridha Allah sekalipun manusia murka pada mulanya maka setelahnya Allah kemudian membuat manusia ridha, mencintainya, dan mengikutinya.

Berhukum Dengan Syariat

Ketika ketua suku Gudala meninggal, Ibnu Yasin menunjuk ketua kabilah Lamtunah sebagai komandan militer. As-Salawi menuturkan, “Lalu Abdullah bin Yasin mengumpulkan para pemimpin kabilah Sanhaja dan mengangkat Yahya bin Umar al-Lamtuni untuk memimpin mereka di bawah arahannya. Yahya bin Umar bertanggung jawab dalam masalah perang sedangkan Abdullah bin Yasin fokus kepada urusan agama dan hukum-hukum syariah, serta mengumpulkan zakat dan jizyah”.

Orang-orang Murabithin melanjutkan perjuangan yang oleh dipimpin komandan militer mereka yang baru dengan bimbingan Sang Faqih Pembaharu, Abdullah bin Yasin.

Pada tahun 446 H -sebagaimana yang disebutkan oleh al-Bakri- Ibnu Yasin menyerbu Aoudaghost (hari ini terletak di selatan Mauritania) yang pernah di diami Raja Ghana sebelum masuk Islam. Al-Bakri menuturkan, “Dalam perang tersebut Abdullah bin Yasin membunuh seorang lelaki keturunan Arab Qairawan yang terkenal wara’, shalih, suka membaca Al-Qur’an dan berhaji ke Baitullah bernama Zabaqirah. Mereka menghukumnya karena dia tunduk pada hukum Raja Ghana yang Atheis”. (Al-Masalik wal Mamalik)

Pada tahun 447 H, orang-orang Murabithun memasuki Sijilmasa (sekarang terletak di selatan Maroko) dan menyingkirkan kezhaliman yang ada. As-Salawi berkata, “Orang-orang Murabithun mengubah berbagai kemungkaran yang ada,  menghancurkan seruling dan alat musik, membakar toko-toko penjual khamr, menghilangkan cukai, meniadakan utang-utang yang mencekik, menghapus semua hal yang harus dihapus menurut Kitab dan Sunnah,  dan mengangkat seorang amil dari Lamtunah lalu kembali ke Sahara”.

Di penghujung tahun ini (447 H), Amir Yahya bin Umar al-Lamtuni terbunuh. Untuk menggantikannya, Syaikh Ibnu Yasin lalu mengangkat saudaranya Abu Bakar bin Umar pada bulan Muharram 448 H. Beliau bergerak dibawah bimibingan Sang Faqih sebagaimana saudaranya yang terdahulu, untuk melanjutkan jihad fisabilillah. As-Salawi berkata, “Orang-orang Murabithun memasuki kota Aghmat (di timur Marakesh) pada tahun 449 H. Lalu Abdullah bin Yasin menetap di sana selama 2 bulan untuk mengistirahatkan pasukan. Lalu ia bergerak menuju Tadla, menaklukkannya dan membunuh siapapun Raja Bani Yafran yang ditemuinya. Ia juga berhasil menangkap Laquth al-Mighrawi dan membunuhnya. Kemudian Abdullah bin Yasin bergerak menuju Tamasna lalu menaklukkan dan menguasainya”.

Ibnu Yasin menimpakan petaka terhadap musuh-musuh Allah dengan banyak membunuh dan menawan mereka, hingga berita itu sampai di telinga sang Faqih yang mengutusnya, yang tidak mengerti situasi Mujahidin. Imam adz-Dzahabi berkata, “Berita-berita mengenai tindakan Abdullah bin Yasin itu sampai di telinga al-Faqih (gurunya, edt), yang membuatnya sedih dan menyesal. Al-Faqih menulis surat kepadanya mengingkari banyaknya tawanan dan korban yang terbunuh. Namun jawabnya, ‘Adapun pengingkaranmu dan penyesalanmu karena telah mengutusku, maka sungguh anda telah mengutusku kepada kaum jahiliyah. Salah satu dari mereka menyuruh putra dan putrinya untuk menggembala ternak, lalu putrinya itu kembali dalam keadaan hamil karena bersetubuh dengan saudaranya, tetapi mereka tidak mengingkari hal itu. Kebiasaan mereka itu saling rampok satu dan saling bunuh satu sama lain. Jadi aku lakukan apa yang seharusnya dilakukan dan aku tidak melanggar hukum Allah. Wassalam’”. (Tarikhul Islam)

Demikianlah Ibnu Yasin membantah orang yang mengkritisi jihadnya padahal jauh dari realitas dan malah membenarkan isu yang dibicarakan manusia.

Setelah mendapatkan semua kemenangan ini, para Murabithun dengan arahan guru mereka bertekad untuk memerangi kabilah Berghouata yang Murtad. As-Salawi berkata, “Berghouata adalah suku yang bercabang-cabang kabilahnya. Mulanya mereka mendukung Shalih bin Tharif si pembohong pengaku Nabi. Namun hingga sekarang kondisi mereka tetap berada diatas kesesatan dan kekufuran. Ketika Abdullah bin Yasin mendengar kekufuran yang merajalela di suku Berghouata, beliau melihat bahwa yang wajib adalah lebih dulu memerangi mereka dari pada yang lainnya. Beliau bersama pasukan Murabithun pun segera bergerak”. Allah Ta’ala menetapkan bahwa Ibnu Yasin terluka di saat puncak peperangannya melawan orang-orang Kafir (tahun 451 H) sehingga beliau memperoleh kesyahidan. Penulis buku al-Ightibath berkata, “Ia berhasil menaklukkan Maghrib hingga akhirnya tunduk terhadap aturan-aturan Islam setelah sebelumnya hampir ditinggalkan sama sekali”.

Wasiat Ibnu Yasin

As-Salawi berkata, “Menjelang wafat, beliau (Ibnu Yasin) berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Murabithun, hari ini aku tidak bisa menghindari kematian sedang kalian masih berada di negeri musuh kalian. Maka janganlah kalian pengecut atau saling bertikai sehingga akibatnya kalian menjadi lemah dan kekuatan kalian hilang. Jadilah kalian para pembela kebenaran dan bersaudara karena Allah. Janganlah kalian saling iri hati terhadap kepemimpinan karena Allah memberikan kerajaan-Nya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki dan mengangkat siapa yang Dia kehendaki diantara para hamba-Nya untuk berkuasa di bumi-Nya”.

Ibnu Yasin meninggal setelah berhasil meletakkan pondasi pemerintahan Islam yang membentang dari Sungai Senegal di selatan hingga di mencapai Marakesh di utara. Kemudian setelah itu berekspansi hingga Andalusia yang berbatasan dengan Perancis di sebelah utara melalui tangan muridnya Yusuf bin Tasyfin, dan hingga menjangkau jantung belantara Ifriqiyyah di sebelah selatan melalui tangan muridnya Abu Bakar bin Umar.

Ibnu Yasin wafat setelah berhasil meninggalkan generasi Mujahidin yang akan menyempurnakan perjuangannya, dan setelah berhasil menegakkan syariat Islam bersama mereka dan dengan mereka. Semoga Allah merahmati Ibnu Yasin dan memberkati para tentara Khilafah hari ini yang terus memerangi setiap orang Murtad yang menolak hukum syariat. Mereka tidak akan meninggalkan hal itu meskipun telah berkorban banyak hingga agama ini semuanya menjadi milik Allah. [Edt; Abd/Rumiyah]

Check Also

Viral..!! Sekda Papua Sebut Papua Sebagai Tanah Kedua Zionis Israel

JAYAPURA (Mata-Media.Net) – Sebuah video yang menunjukkan Sekda Papua, TEA Hery Dosinaen sedang viral di dunia ...