Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Ustadz Aman; Sosok Dai Berintelektual Tinggi & Terbiasa dengan Jeruji Besi Hingga Divonis Mati

Ustadz Aman; Sosok Dai Berintelektual Tinggi & Terbiasa dengan Jeruji Besi Hingga Divonis Mati

JAKARTA (Mata-Media.Com) – Masyarakat dan khususnya umat Islam di Indonesia dan seluruh dunia dihebohkan dengan vonis mati yang dijatuhkan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan (Jaksel) pada hari Jumat (22/6/2018) terhadap ustadz Aman Abdurrahman alias Abu Sulaiman. (Baca: Ustadz Aman Abdurrahman Dijatuhi Vonis Hukuman Mati oleh Hakim)

Setelah melalui proses penangkapan secara paksa di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pasir Putih, Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) hingga proses persidangan yang penuh kontroversi, ustadz Aman akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh Majelis Hakim PN Jaksel pada hari Jumat bertepatan dengan tanggal 8 Syawwal 1439 H.

Setelah membacakan tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan pledoi (pembelaan) dari ustadz Aman dan kuasa hukumnya, akhirnya ustadz Aman dijatuhi vonis hukuman mati. Ustadz Aman dinilai hakim terbukti melakukan tindak pidana terorisme seperti aksi bom Thamrin, Kampung Melayu dan yang lainnya.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Aman Abdurrahman telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindakan terorisme, menjatuhkan hukuman kepada Aman Abdurrahman dengan pidana mati,” kata ketua Majelis Hakim, Akhmad Jaini di ruang sidang utama Prof. H. Oemar Seno Adji PN Jaksel, pada Jumat.

Akan tetapi, pengacara dan kuasa hukum ustadz Aman Abdurrahman, yakni Asludin Hatjani menyatakan bahwa pertimbangan majelis hakim dalam menjatuhkan vonis mati terhadap kliennya itu tidak kuat. (Baca: [Video] Detik-Detik Ustadz Aman Divonis Mati & Sujud Syukur di Ruang Sidang)

Asludin menyebut jika ustadz Aman hanya menyampaikan pesan dari juru bicara Islamic State (IS/ISIS), Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani serta menyetujui dengan adanya Khilafah Islamiyyah. (Baca: Divonis Mati, Ustadz Aman Langsung Sujud Syukur di Ruang Sidang & Tolak Banding)

Selain itu, Asludin menyebut hakim hanya mendasarkan putusannya pada pesan ustadz Aman kepada Saiful Muhtohir alias Abu Gar alias Abu Fida untuk melakukan serangan seperti yang terjadi di Paris, Perancis pada tahun 2016. Abu Gar adalah terpidana kasus bom Thamrin.

Asludin juga menegaskan, tidak ada fakta persidangan yang membuktikan keterlibatan langsung ustadz Aman dengan berbagai macam aksi teror dan pengeboman di Indonesia, termasuk salah satunya adalah serangan bom Thamrin pada tanggal 14 Januari 2016 silam.

“Satu-satunya yang bisa menghubungkan Aman dengan Bom Thamrin adalah pesan itu, itu pun sebenarnya bukan pesan dari dia, tapi juru bicara ISIS,” kata Asludin seusai pembacaan vonis terhadap ustadz Aman di PN Jaksel, pada Jumat.

“Dipaksakan sekali, apa yang dijadikan alat bukti tadi adalah pesan beliau kepada Abu Gar (Abu Gar, terpidana kasus bom Thamrin), yang menyampaikan pesan dari Syaikh Adnani (jubir ISIS) bahwa harus melakukan amaliyah seperti di Perancis,” tegas Asludin.

Untuk diketahui bersama, ustadz Aman Abdurrahman sebetulnya adalah sosok dai dan ulama yang sudah akrab dengan jeruji besi sejak tahun 2003 silam, sebagaimana para ulama Salaf seperti Syaikhul Islam Ibnu Tamiyyah, Imam Ahmad bin Hambal dan ulama-ulama Salaf lainnya yang juga pernah merasakan dingingnya penjara, hingga para dai kontemporer seperti Sayyid Qutub hingga ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Ustadz Aman Abdurrahman yang juga dikenal oleh umat Islam dan terkhusus para muridnya serta simpatisannya dengan julukan Singa Tauhid itu menjadi target kriminalisasi penguasa negeri ini dan negara-negara di Asia Tenggara karena dianggap sebagai pimpinan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) serta pionir Islamic State (IS) di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Ustadz Aman Abdurrahman alias Oman Rochman alias Abu Sulaiman bin Ade Sudarma akhirnya dijatuhi vonis hukuman mati oleh pemerintah karena dianggap dan dituduh sebagai otak penyerangan bom di Jalan Thamrin, Jakarta, pada awal Januari 2016, meskipun fakta persidangan tidak menunjukkan tuduhan itu.

Bom Thamrin merupakan kasus terorisme ketiganya. Kasus pertama, ustadz Aman divonis 7 tahun penjara setelah dikaitkan dengan meledaknya bom rakitan di rumah kontrakannya kawasan Cimanggis, Depok, Jawa Barat (Jabar) pada tahun 2004 silam. Kasus kedua, ustadz Aman divonis 9 tahun penjara karena dituding terkait dalam pelatihan semi militer atau i’dad di Jalin Jantho, Aceh Besar pada 2010 silam.

Tak hanya ustadz Aman, dalam kasus pelatihan semi militer atau i’dad di Jalin Jantho itu, ustadz Abu Bakar Ba’asyir juga dijerat oleh pemerintah dengan hukuman 15 tahun penjara. Sama seperti ustadz Aman, didalam fakta persidangan juga tidak menunjukkan keterlibatan langsung ustadz Ba’asyir dalam kegiatan tersebut. Dalam persidangan yang pernah berlangsung, ustadz Ba’asyir menegaskan bahwa i’dad adalah perintah Allah, dan jika pemerintah mengkriminalisasi hal itu, maka sama saja pemrintah telah mengkriminalisasi syariat dan ibadah yang disyariatkan oleh Allah.

Kembali lagi kepada ustadz Aman, ia sering disbeut-sebut oleh Kapolri dan polisi disebut sebagai pimpinan IS/ISIS Indonesia. Meski sempat membantah tuduhan polisi tersebut, namun ustadz Aman secara terang-terangan mengakui kecintaannya pada IS/ISIS karena secara faktual dan dengan bukti yang nyata, jelas serta banyak baik dari foto dan video, Islamic State (IS) telah menerapkan sistem Khilafah Islamiyyah dan menegakkan syariat Islam secara kaffah. Dan setiap Muslim hendaknya juga mencintai dan harus menginginkan hidup dibawah naungan syariat.

Ustadz Aman juga merupakan seorang pendakwah yang handal dan cakap seputar materi tauhid dan jihad yang awal mulanya mengagumi tokoh ideologi jihad pendukung Al-Qaeda, yakni Abu Muhammad Al-Maqdisi. Tulisan-tulisan Abu Muhammad Al-Maqdisi banyak sudah diterjemahkan oleh ustadz Aman dan disebarluaskan melalui teman-temannya dari balik penjara.

Selain itu, ustadz Aman juga dikenal memiliki tingkat intelektual yang sangat tinggi. Dia merupakan sosok yang lulus dengan predikat Cumlaude dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta. Dengan tingkat intelektual yang tinggi dan modal keilmuan yang mumpuni, maka tidak mengherankan jika ustadz Aman telah menulis dan menerjemahkan begitu banyak sekali buku dan kitab seputar tauhid, serta berceramah di berbagai pelosok di negeri ini, hingga bisa didengarkan dan didapati ceramah-ceramahnya di media sosial (medsos) serta website.

Ustadz Aman adalah sosok dai yang lahir di Sumedang, Jabar 5 Januari 1972 silam (umur 46 tahun). Setelah deklarasi Khilafah Islamiyyah di Suriah (Syam), polisi menyebut jika ustadz Aman kemudian mendirikan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) pada bulan Oktober 2014, sebagai wadah para pendukung dan simpatisan IS/ISIS di Indonesia agar bersatu padu dalam menegakkan syariat Islam dan berhijrah ke Suriah.

Awal pergerakannya adalah, ustadz Aman bergabung dengan Tauhid wal Jihad pada tahun 2004, dan lalu dipenjara hingga tahun 2008 karena dianggap terkait dengan meledaknya sebuah bom rakitan di rumah kontrakannya. Di dalam penjara, ustadz Aman rajin menerjemahkan buku dan tulisan karya Abu Muhammad Al-Maqdisi, dan beredar secara luas di kalangan aktivis Islam. Namun semenjak IS/ISIS berdiri, ustadz Aman sudah tidak menjadikan Al-Maqdisi sebagai rujukan karena telah banyak penyimpangan yang dilakukan dan permusuhan Al-Maqdisi terhadap IS/ISIS.

Nama ustadz Aman kemudian semakin dikenal setelah bebas, dan ia lebih sering diundang oleh umat Islam untuk mengisi ceramah dan berdakwah di berbagai tempat. Ustadz Aman mulai menjadikan materi soal Tauhid wal Jihad sebagai materi pokok penyampaiannya kepada masyarakat, karena hal itu sudah langka untuk dipelajari hingga ia pun dan para muridnya menyebarkan karyanya melalui media internet.

Pada tahun 2010, ustadz Aman dianggap polisi berpartisipasi dalam latihan militer yang digelar di Jantho, Aceh. Tindakan ini kembali membuatnya tersandung dalam kasus hukum, dan ia divonis 9 tahun penjara. Secara terpisah, ustadz Abu Bakar Ba’asyir dijatuhi vonis 15 tahun penjara dalam kasus yang sama.

Sejak tahun 2008, ustadz Aman telah berkeliling ke sejumlah kota di Indonesia untuk berdakwah. Dalam kesempatan tersebut, ustadz Aman secara terus menerus dan berulang kali seusai dengan keilmuannya menyatakan bahwa sistem Demokrasi yang dianut Indonesia “sama saja dengan menyembah berhala”. Dan menurut syariat Islam, tegas ustadz Aman, dapat membatalkan keislaman seorang Muslim.

Oleh rekan dan koleganya serta musuh-musuhnya baik dari kalangan Kafirin maupun Munafikin, ustadz Aman dengan latar belakang pendidikan Islam yang luar biasa dinilai sebagai ideolog yang handal dengan latar belakang pemahaman agama yang kuat. Ustadz Aman bisa membaca 3 juz Al-Qur’an setiap harinya dan mengetahui sedikitnya 110 hadits. Bahkan ketika ustadz Aman di penjara di LP Nusakambangan, ia mampu mengkhatamkan dan menghafalkan kitab Shahih Bukhari.

Ustadz Aman dianggap pemerintah dan aparat Indonesia memiliki pengaruh yang begitu kuat untuk mengarahkan seseorang dan murid-muridnya sesuatu hal dari balik jeruji besi yang kerap menemaninya, yang kemudian akan dijalankan oleh “murid-muridnya” yang berada di luar tahanan. Namun selama ini, ustadz Aman tidak pernah sama sekali menyuruh atau menganjurkan murid-muridnya dan umat Islam untuk melakukan aksi teror atau mengebom.

Sebab dalam materi dakwahnya, ustadz Aman selalu menegaskan pentingnya mempelajari tauhid dan jihad sebagai modal awal untuk menegakkan Khilafah Islamiyyah dan syariat Islam. Selain itu, sejak Khilafah telah tegak di bumi Syam yang diberkahi, ustadz Aman selalu menghasung umat Islam dan mmurid-muridnya untuk segera berhijrah ke Suriah sebagai bagian perintah Allah sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 97 dan 100.

Ketika masih didalam bui, ustadz Aman pun kembali melanjutkan karya-karyanya berupa tulisan tangan dan penerjemahan tulisan, dan membuatnya dijadikan sebagai tokoh rujukan ideologis bukan hanya oleh jamaah Tauhid wal Jihad, namun juga oleh aktivis Islam dan para tokoh dari kelompok atau harokah lainnya.

Dan kini, sosok dai yang berintelektual tinggi, terbiasa dengan jeruji besi, terkenal kalem dan santai namun tegas penyampaiannya saat berdakwah ini tinggal menunggu waktu atas vonis mati yang dijatuhkan oleh hakim PN Jaksel kepada dirinya.

Akan tetapi, tidak ada raut wajah takut, sedih dan khawatir yang ia tunjukkan pada saat hari Jumat kemarin divonis mati oleh hakim. Justru, ustadz Aman mengucapkan Alhamdulillah dan melakukan sujud syukur di ruang persidangan hingga membuat hakim dan jaksa panik, serta membuat belasan aparat Brimob bersenjata lengkap mengerubutinya karena dikira akan melakukan sesuatu hal yang diluar dugaan semua orang. [Abd/dbs]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...