Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / ‘Aisyah Binti Abu Bakar; Gurunya Kaum Lelaki & Putri dari Lelaki yang Dicintai Nabi

‘Aisyah Binti Abu Bakar; Gurunya Kaum Lelaki & Putri dari Lelaki yang Dicintai Nabi

Oleh: Ummu Muhajir

(Mata-Media.Com) – ‘Aisyah binti Abu Bakar Ash-Shidiq radhiyallahu ‘anhu adalah gurunya kaum lelaki, seorang wanita yang suka kebenaran, putri dari seorang lelaki yang suka kebenaran, yaitu Khalifah Abu Bakar dari suku Quraisy At-Taimiyyah di Makkah, ibunda kaum Mukmin, istri pemimpin seluruh manusia, yakni istri Nabi Muhammad yang paling dicintai, sekaligus putri dari lelaki yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim, bahwa ‘Amr bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Siapakah orang yang paling engkau cintai wahai Rasulullah?”. Rasul menjawab: ”’Aisyah’.’ ‘Amr bertanya lagi: “Kalau laki-­laki?” Rasul menjawab: “Ayahnya (Abu Bakar)”.

Selain itu, ‘Aisyah adalah wanita yang dibersihkan namanya langsung dari atas langit ke-tujuh. Dia juga adalah wanita yang telah membuktikan kepada dunia sejak 14 abad yang lalu bahwa seorang wanita memungkinkan untuk lebih pandai daripada kaum laki-laki dalam bidang politik atau strategi perang.

Wanita ini bukan lulusan perguruan tinggi dan juga tidak pernah belajar dari para orientalis dan dunia Barat. Ia adalah murid dan alumni madrasah kenabian dan madrasah iman. Sejak kecil ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha sudah diasuh oleh seorang yang paling utama, yaitu ayahnya, Abu Bakar. Ketika menginjak dewasa, ia diasuh oleh seorang nabi dan guru umat manusia, yaitu suaminya sendiri, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan demikian, terkumpullah dalam dirinya ilmu, keutamaan, dan keterangan-keterangan yang menjadi referensi bagi manusia sampai saat ini. Teks hadits-hadits yang diriwayatkannya selalu menjadi bahan kajian di fakultas­-fakultas sastra, dan sebagai kalimat yang begitu tinggi nilai sastra­nya. Ucapan dan fatwanya selalu menjadi bahan kajian di fakultas-fakultas agama, sedang tindakan-tindakannya menjadi materi penting bagi setiap pengajar mata pelajaran atau mata kuliah sejarah bangsa Arab dan Islam.

Pernikahan Rasulullah dengan ‘Aisyah merupakan perintah langsung dari Allah ‘Azza wa Jalla setelah wafatnya Khadijah  radhiyallahu ‘anha. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dalam Shahihnya, dari ‘Aisyah, dia berkata: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: ‘Aku pernah melihat engkau dalam mimpiku 3 hari berturut-turut (sebelum aku menikahimu). Ada malaikat yang datang kepadaku dengan membawa gambarmu yang ditutup dengan secarik kain sutera. Malaikat itu berkata: ‘Ini adalah istrimu’. Aku pun lalu membuka kain yang menutupi wajahmu. Ketika ternyata wanita tersebut adalah engkau (‘Aisyah), aku lalu berkata: ‘Jika mimpi ini benar dari Allah, kelak pasti akan menjadi kenyataan”.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menikahi ‘Aisyah dan Saudah pada waktu yang bersamaan. Hanya saja pada saat itu Rasulullah tidak langsung hidup serumah dengan ‘Aisyah. Setelah kurang lebih 3 tahun hidup serumah dengan Saudah, tepatnya pada bulan Syawwal setelah perang Badar, barulah beliau hidup serumah dengan ‘Aisyah. ‘Aisyah menempati salah satu kamar yang terletak di komplek Masjid Nabawi yang terbuat dari batu bata dan beratapkan pelepah kurma. Alas tidurnya hanyalah kulit hewan yang diisi rumput kering; alas duduknya berupa tikar; sedang tirai kamarnya terbuat dari bulu hewan. Di rumah yang sederhana itulah ‘Aisyah memulai kehidupan sebagai istri yang kelak akan menjadi perbincangan dalam sejarah.

Pernikahan bagi seorang wanita adalah sesuatu yang utama dan penting. Setelah menikah, seorang wanita akan menjadi istri dan selanjutnya akan menjadi seorang ibu. Kekayaan dunia sebanyak apa pun, kemuliaan setinggi awan, kepandaian yang tak tertandingi, dan jabatan yang begitu tinggi, sekali-kali tidak akan ada artinya bagi seorang wanita jika tidak menikah dan tidak mempunyai suami, sebab tidaklah mungkin bahagia sese­orang yang berpaling dari fitrahnya.

Dalam kehidupan berumah tangga, ‘Aisyah merupakan guru bagi setiap wanita di dunia sepanjang masa. Ia adalah sebaik-baik istri dalam bersikap ramah kepada suami, menghibur hatinya, dan menghilangkan derita suami yang berasal dari luar rumah, baik yang disebabkan karena pahitnya kehidupan maupun karena rintangan dan hambatan yarig ditemui ketika menjalankan tugas agama.

‘Aisyah adalah seorang istri yang paling berjiwa mulia, dermawan, dan sabar dalam mengarungi kehidupan bersama Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang serba kekurangan, hingga pernah dalam jangka waktu yang lama di dapurnya tidak terlihat adanya api untuk pemanggangan roti atau keperluan masak lainnya. Selama itu mereka hanya makan kurma dan minum air putih.

Ketika kaum Muslimin telah menguasai berbagai pelosok negeri dan kekayaan datang melimpah, ‘Aisyah pernah diberi uang seratus ribu dirham. Uang itu langsung ia bagikan kepada orang-orang hingga tak tersisa sekeping pun di tangannya, padahal pada waktu itu di rumahnya tidak ada apa-apa dan saat itu ia sedang berpuasa. Salah seorang pelayannya berkata: “Alangkah baiknya kalau engkau membeli sekerat daging meskipun satu dirham saja untuk berbuka puasa!”. Ia menjawab: “Seandainya engkau katakan hal itu dari tadi, niscaya aku melakukannya.

Dia adalah wanita yang tidak disengsarakan oleh kemis­kinan dan tidak dilalaikan oleh kekayaan. Ia selalu menjaga kemuliaan dirinya, sehingga dunia dalam pandangannya adalah rendah nilainya. Datang dan perginya dunia tidaklah dihiraukannya.

Dia adalah sebaik-baik istri yang amat memperhatikan dan memanfaatkan pertemuan langsung dengan Rasulullah, sehingga dia menguasai berbagai ilmu dan memiliki kefasihan berbicara yang menjadikan dirinya sebagai guru para shahabat dan sebagai rujukan untuk memahami hadits, sunnah, dan fiqih. Az-Zuhri berkata: “Seandainya ilmu semua wanita disatu­kan, lalu dibandingkan dengan ilmu ‘Aisyah, tentulah ilmu ‘Aisyah lebih utama daripada ilmu mereka”. (Baca Al-Mustadrak IV/11, pembahasan tentang pengetahuan para shahabat, oleh Al-Hakim; dan Majma’uz-Zawaa’id IX/245 oleh Al-Haitsami. Al-Haitsami berkata: “Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dengan rawi yang tepercaya)

Hisyam bin ‘Urwah meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata: “Sungguh aku telah banyak belajar dari ‘Aisyah. Belum pernah aku melihat seorang pun yang lebih pandai daripada ‘Aisyah tentang ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah diturunkan, hukum fardhu dan sunnah, syair, permasalahan yang ditanyakan kepadanya, hari-hari yang digunakan di tanah Arab, nasab, hukum, serta pengobatan. Aku bertanya kepadanya: ‘Wahai bibi, dari manakah engkau mengetahui ilmu pengobatan?’. ‘Aisyah menjawab: ‘Aku sakit, lalu aku diobati dengan sesuatu; ada orang lain sakit juga diobati dengan sesuatu; dan aku juga mendengar orang banyak, sebagian mereka mengobati sebagian yang lain, sehingga aku mengetahui dan meng­hafalnya”. (Baca Hilyatul Auliya’ II/49. Riwayat ini memiliki rawi yang tsiqqah)

Dalam riwayat lain dari A’masy, dari Abu Dhuha dari Masruq, Abudh-Dhuha berkata: “Kami pernah bertanya kepada Masruq: ‘Apakah ‘Aisyah juga menguasai ilmu faraidh (ilmu tentang warisan)?’ Dia menjawab: ‘Demi Allah, aku pernah melihat para shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang senior biasa bertanya kepada ‘Aisyah tentang faraidh”. (Hadits ini diriwayatkan oleh Darimi dalam As-Sunan II/342, Ibnu Sa’d dalam At­-Thabaqat VIII/66, dan Hakim dalam Al-Mustadrak IV/11)

Selain memiliki berbagai keutamaan dan kemuliaan, ‘Aisyah juga memiliki kekurangan, yakni memiliki sifat gampang cemburu. Bahkan dia termasuk istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang paling besar rasa cemburunya. Rasa cemburu memang termasuk sifat pembawaan seorang wanita. Namun demikian, perasaan cemburu yang ada pada ‘Aisyah masih berada dalam batas yang wajar dan selalu mendapat bimbingan dari Nabi, sehingga tidak sampai melampaui batas dan tidak sampai menyakiti istri Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Diantara kejadian paling menggelisahkan yang pernah menimpa ‘Aisyah adalah tuduhan keji yang terkenal dengan sebutan Haditsul ifki (berita bohong yang dituduhkan kepadanya, padahal diri ‘Aisyah sangat jauh dengan apa yang dituduhkan itu). Akhirnya, turunlah ayat Al-Qur’an yang menerangkan kesucian dirinya. Cobaan yang menimpa wanita yang amat utama ini merupakan pelajaran berharga bagi setiap wanita, karena tidak ada wanita di dunia ini yang bebas dari tuduhan buruk.

Ketika Rasulullah sakit sekembalinya dari haji Wada’ dan merasa bahwa ajalnya sudah dekat, setelah dirasa selesai dalam menunaikan amanat dan menyampaikan risalah, beliau lalu berkeliling kepada istri-istrinya sebagaimana biasa. Pada saat membagi jatah giliran kepada istri-istrinya itu beliau selalu bertanya: “Dimana saya besok? Di mana saya lusa?” Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau ingin segera sampai pada hari giliran ‘Aisyah. Para istri Nabi yang lain pun bisa mengerti hal itu dan merelakan Nabi untuk tinggal di tempat istri yang mana yang beliau sukai selama sakit, sehingga mereka semuanya berkata: “Ya Rasulullah, kami rela memberikan jatah giliran kami kepada ‘Aisyah”. (Baca Shahih Muslim, kitab Keutamaan Para Shahabat, bab Keutamaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha)

Kekasih Allah itu pun pindah ke rumah istri tercintanya. Disana ‘Aisyah dengan setia menjaga dan merawat beliau. Bahkan saking cintanya, sakit yang diderita Nabi itu rela ‘Aisyah tebus dengan dirinya kalau memang hal itu memungkinkan. ‘Aisyah berkata: “Aku rela menjadikan diriku, ayahku, dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Rasulullah”. Tak lama kemudian Rasul pun wafat di atas pangkuan ‘Aisyah.

‘Aisyah melukiskan detik-detik terakhir dari kehidupan Rasulullah sebagai berikut: “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, dan beliau bersandar di dadaku. Sesaat sebelum beliau wafat, ‘Abdurrahman bin Abu Bakar (saudaraku) datang menemuiku sambil membawa siwak, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melihat siwak tersebut, sehingga aku mengira bahwa beliau menginginkannya. Siwak itu pun aku minta, lalu kukunyah (supaya halus), kukebutkan, dan kubereskan sebaik-baiknya sehingga siap dipakai. Selanjutnya, siwak itu kuberikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun bersiwak dengan sebaik-baiknya, sehingga belum pernah aku melihat cara ber­siwak beliau sebaik itu. Setelah itu beliau bermaksud memberi­kannya kembali kepadaku, namun tangan beliau lemas. Aku pun mendo’akan beliau dengan do’a yang biasa diucapkan Jibril untuk beliau dan yang selalu beliau baca bila beliau sedang sakit. (Allahumma robban naasi.. dan seterusnya). Akan tetapi, saat itu beliau tidak membaca do’a tersebut, melainkan beliau mengarahkan pandangannya ke atas, lalu membaca do’a: ‘Arrofiiqol a’laa (Ya Allah, kumpulkanlah aku di surga bersama mereka yang derajatnya paling tinggi: para nabi, shiddiqin, syuhada’, dan shalihin). Segala puji bagi Allah yang telah menyatukan air liurku dengan air liur beliau pada penghabisan hari beliau di dunia”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (Al-Musnad V1/48) dan Hakim (Al-Mustadrak 1V/7). Hakim berkata: “Hadits ini shahih berdasarkan syarat yang ditetapkan Bukhari dan Muslim”. Adz-Dzahabi juga sepakat atas keshahihan hadits ini)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dimakamkan di kamar ‘Aisyah, tepat di tempat beliau meninggal. Sepeninggal Rasulullah, ‘Aisyah banyak menghabiskan waktunya untuk memberikan ta’lim baik kepada kaum laki-laki maupun wanita di rumahnya dan banyak berperan serta dalam mengukir sejarah Islam sampai wafatnya. ‘Aisyah wafat pada malam Selasa bulan Ramadhan tahun 57 Hijriyah pada usia 66 tahun”. (Baca Al-Istii’aab IV/1885 dan Taariikhut Thabari. Peristiwa-peristiwa pada tahun 58 Hijriyah)

Para generasi sepeninggal ‘Aisyah selalu mengkaji dan meneliti detail kehidupannya sejak usia 6 tahun, dengan harapan bisa mengambil hikmah dan ibrah dari model tarbiyyah (pendidikan) yang telah membentuk pribadi beliau menjadi figur tunggal yang belum ada duanya sejak empat belas (14) abad silam. [Edt; Abd]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...