Thursday , November 21 2019
Home / Headline / Anjuran Puasa Sunnah Asyura & Tasu’a Tanggal 9 & 10 Muharram

Anjuran Puasa Sunnah Asyura & Tasu’a Tanggal 9 & 10 Muharram

 

(Mata-Media.Net) – Alhamdulilah, umat Islam telah memasuki Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1441 Hijriyah (H) yang dimulai bertepatan dengan hari Jumat malam, 30 Agustus 2019 Masehi (M) sampai hari Sabtu sore, 31 Agustus 2019. Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, untuk diketahui bersama bahwa bulan Muharram merupakan salah satu bulan suci bagi umat Islam, selain bulan Ramadhan.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bulan Muharram menjadi bulan yang istimewa untuk memperbanyak amal ibadah. Salah satunya adalah puasa sunnah. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong kita untuk melakukan berpuasa pada bulan Muharram sebagaimana sabdanya,

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ

Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah (Muharram). Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam”. (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini merupakan penegasan bahwa sebaik-baik bulan untuk berpuasa adalah pada bulan Muharram”. (Syarh Shahih Muslim, 8 : 55)

Dari hadits diatas menunjukkan bahwa kaum Muslimin sangat dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram. Jika tidak mampu, berpuasalah sesuai kemampuannya. Namun yang lebih tepat adalah tidak berpuasa Muharram sebulan penuh. ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلاَّ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ

Aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa sebulan penuh selain di bulan Ramadhan. Aku tidak pernah melihat beliau banyak puasa dalam sebulan selain pada bulan Sya’ban”. (HR. Muslim no. 1156)

Dari sekian hari yang ada di bulan Muharram, yang lebih afdhol dilakukan untuk berpuasa oleh kaum Muslimin adalah berpuasa pada hari Asyura atau bisa dibaca puasa ‘Asyuro’, yaitu pada tanggal 10 Muharram. Abu Qotadah Al-Anshori radhiyallahu ‘anhu berkata,

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ ». قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ « يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu”. (HR. Muslim no. 1162)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, hukum berpuasa Asyura adalah sunnah muakkadah, yakni sunnah yang sangat dianjurkan dan ditekankan. Rasulullah senantiasa mengutamakan puasa ini, bahkan perhatian beliau lebih besar dibandingkan puasa-puasa sunnah lainnya.

حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

“Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) dan memerintahkan orang agar berpuasa padanya, mereka berkata, “Ya Rasulullah, ia adalah suatu hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nashrani”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kita berpuasa juga pada hari ke-9 (sembilan)”. Ibnu Abbas berkata, “Maka belum lagi datang tahun berikutnya itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun wafat”. (HR. Muslim dan Abu Dawud)

Akan tetapi dalam rangka menyelisihi kaum Yahudi, umat Islam diperintahkan untuk berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu berpuasa pada hari ke-9 atau puasa Tasu’a. Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata dalam sebuah redaksi hadits yang lainnya, bahwa ketika Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan puasa hari Asyura dan memerintahkan kaum Muslimin untuk melakukannya, pada saat itu ada yang berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى

Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashrani”. Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam mengatakan,

فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ – إِنْ شَاءَ اللَّهُ – صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ

Apabila tiba tahun depan –insya Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari ke-9 (sembilan)”. Ibnu Abbas mengatakan,

فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم

Belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam sudah keburu meninggal dunia”. (HR. Muslim no. 1134)

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata: ”Puasa Asyura mempunyai 3 tingkatan, yang terendah berpuasa sehari saja (yakni tanggal 10 Muharram), tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal 9, dan tingkatan diatasnya ditambah puasa pada tanggal 9 dan 11. Wallahu a’lam”. (Fathul Baari 4/246)

Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) untuk berpuasa pada hari kesembilan (9 Muharram) dan kesepuluh (10 Muharram) sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan. (Lihat Syarh Muslim, 8: 12-13)

Selain itu, sebagian ulama juga mengatakan bahwa sebab Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bepuasa pada hari kesepuluh sekaligus kesembilan agar tidak tasyabbuh (menyerupai) orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari kesepuluh saja.

Dalam hadits Ibnu Abbas diatas juga terdapat isyarat mengenai hal ini. Ada juga yang mengatakan bahwa hal ini untuk kehati-hatian, siapa tahu salah dalam penentuan hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Sedangkan pendapat yang menyatakan bahwa Nabi menambah hari kesembilan agar tidak menyerupai puasanya orang-orang Yahudi adalah pendapat yang lebih kuat. Wallahu a’lam...

Lalu, kapan umat Islam akan melaksanakan puasa Asyura dan puasa Tasua, tanggal 9 dan 10 Muharram jika berdasarkan kalender Masehi? Maka, bagi umat Islam yang hendak melaksanakan puasa Asyura akan jatuh pada hari Senin 9 September 2019 dan puasa Tasu’a jatuh pada hari Ahad 8 September 2019.  Jadi pada hari Ahad waktu Subuh sudah harus sahur untuk berpuasa sunnah Tasu’a. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memudahkan kita untuk terus beramal sholih dan istiqomah didalamnya. Aamiin.. [Abdurrahman/dbs]

Check Also

Demo Tolak Kenaikan BBM di Iran Tewaskan 106 Lebih Orang Syiah

TEHERAN (Mata-Media.Net) – Aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara Syiah Iran mengakibatkan sebanyak 106 orang ...