Sunday , December 8 2019
Home / Headline / Tempat Istirahat Kita adalah di Surga

Tempat Istirahat Kita adalah di Surga

Oleh: Ustadz Umar Faruq

(Mata-Media.Net) Dalam sejarah disebutkan bahwa pada tahun ke-8 Hijriyah (H), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim sekelompok pasukan menuju Mu’tah. Ekspedisi ini bermula dari terbunuhnya utusan Rasulullah yang bernama Al-Harits bin Umair radhiyallahu ‘anhu yang dilakukan oleh Syurahbil bin Amr al-Gassany, seorang Gubernur Kaisar Romawi untuk daerah Syam.

Pada masa itu, membunuh seorang utusan adalah perbuatan yang sangat tercela, dan sama artinya dengan mengumumkan perang, bahkan lebih keras dari itu. Oleh karena itu, Rasulullah sangat murka dengan peristiwa tersebut.

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) semuanya, untuk diketahui bahwa pasukan Islam ketika itu berjumlah 3.000 orang yang dipimpin oleh Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu. Sebelum berangkat, Rasulullah memberikan wasiat, apabila Zaid bin Haritsah gugur, maka digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Sedangkan Kalau Ja’far juga gugur, maka Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu yang tampil untuk memegang panji perang. Andai kata Abdullah bin Rawahah juga gugur, maka kaum Muslimin berijtihad untuk memilih salah seorang diantara mereka untuk menjadi pemimpin bagi mereka.

Singkat cerita, di waktu terjadi pertempuran sengit antara pasukan Islam melawan tentara Romawi yang berjumlah jauh lebih besar, apa yang dikabarkan  Rasulullah sebelumnya betul-betul menjadi kenyataan. Pertama, Zaid bin Haritsah menemui syahidnya dengan gagah berani. Tanpa pikir panjang, Ja’far bin Abi Thalib langsung menyambar panji perang dan memimpin perperangan dengan semangat berkobar-kobar, sampai akhirnya menemukan juga syahidnya.

Disaat Ja’far gugur, Abdullah bin Rawahah kelihatan bimbang sejenak sebelum menangkap panji perang dari tubuh Ja’far yang sudah tercabik-cabik akibat tebasan pedang dari lawan. Akhirnya, Abdullah bin Rawahah mampu maju dengan memberikan perlawanan yang tidak kalah sengitnya dari dua (2) orang pendahulunya setelah mencoba memotivasi diri dengan melantunkan bait-bait syair yang mengandung jiwa kepahlawanan.

Setelah berjuang dengan mencurahkan seluruh kemampuan, Abdullah bin Rawahah juga memperoleh kemuliaan yakni mati syahid, menyusul dua (2) orang sahabatnya ke surga Allah. Untuk selanjutnya, perperangan dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiyallahu ‘anhu, pahlawan Islam yang kemudian mendapatkan julukan “Saifullah atau Pedang Allah Yang Terhunus”.

Di kota Madinah, dalam tidurnya Rasulullah bermimpi melihat tiga (3) orang sahabat beliau; Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhum sedang beristirahat diatas ranjang yang sangat indah di surga. Akan tetapi, Rasulullah melihat ranjang tempat tidur Abdullah bin Rawahah agak miring sedikit sehingga istirahatnya pun tidak senyaman yang kelihatan pada dua (2) orang sahabatnya yang lain. Setelah bangun dari tidurnya, Rasulullah mentakwilkan mimpinya itu dengan sifat ragu-ragu dari Abdullah bin Rawahah ketika akan maju untuk memegang panji perang.

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) semuanya, dari sepenggal cerita para sahabat yang mulia ini, maka kita bisa memahami bahwa Allah mempunyai hitung-hitungan yang sangat detail dan terpetakan dalam menilai amal seorang hamba. Sedikit saja rasa ragu dari hamba itu dalam beramal dan mengorbankan harta, tenaga dan nyawanya dalam rangka berjuang dan berjihad untuk menegakkan kalimat Allah, maka akan mengurangi juga penilaian dan pandangan Allah, sekalipun hasil yang dicapai didunia tetaplah sama.

Disisi lain, Allah juga tidak menilai hasil, akan tetapi yang diperhatikan dan dinilai Allah adalah proses untuk menuju hasil. Jika seorang hamba mempunyai kelebihan harta, pikiran, ilmu dan tenaga namun tidak disegerakan untuk menyambut ladang amal demi tegaknya kalimat dan syariat Allah, maka sama saja dia telah menyia-nyiakan kesempatan untuk memperoleh pahala dari Allah di akhirat nanti. Allah sejatinya tidak menilai ucapan lisan kita, namun yang dinilai Allah adalah amal perbuatan kita. Lebih baik sedikit bicara dan banyak bekerja (beramal) didunia.

Lihatlah Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhuma. Ketika ada seruan berinfaq, mereka berdua selalu berlomba-lomba untuk mengeluarkan harta terbaik mereka. Lihat pula para sahabat Nabi ketiak ada seruan untuk berhijrah dan berjihad. Dengan segera, mereka langsung menyiapkan perbekalan untuk menyambut surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Meskipun ada sebagian sahabat yang tidak punya perbekalan, maka mereka rela untuk menjual barang yang mereka miliki dan ada pula sebagian yang lainnya dibantu oleh sahabat yang lain.

Maka dari itu, intropeksilah diri-diri kita masing-masing, berapa banyak amalan yang telah kita lakukan dengan spontanitas, tanpa didahului rasa ragu atau kebimbangan dan mengulur-ulur waktu. Padahal manusia didunia ini tidak lain hanya diperintahkan oleh Allah kecuali beribadah kepada-Nya saja. Allah berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. Al-Bayyinah 98 : 5)

Kalau kita merenung sejenak, berapa kali kita segera berjalan menuju masjid di saat adzan berkumandang tanpa ada rasa mau mengulur waktu?

Berapa malam kita sudah bangun dari tidur pulas untuk shalat tahajud tanpa ada perperangan dulu dalam hati dengan perasaan ingin melanjutkan tidur?

Berapa kebaikan yang kita lakukan dengan segera di saat kondisi membutuhkan tanpa diiringi oleh rasa was-was dan ragu dalam hal duniawian?

Berapa banyak harta yang kita miliki yang telah kita keluarkan untuk membantu kaum Muslimin yang hendak berhijrah, berjihad dan juga membantu perbekalan dan kebutuhan para Mujahid serta keluarga para Mujahid yang ditinggal oleh suaminya?

Berapa banyak pula harta yang telah kita keluarkan untuk membantu kebutuhan saudara-saudara kita yang ditawan oleh musuh-musuh Islam dan para Thaghut, serta dalam membantu kebutuhan keluarga mereka?

Berapa banyak pula waktu yang kita luangkan untuk urusan perjuangan demi meraih surga Allah Ta’ala dibandingkan dengan urusan duniawi semata? Untuk itu, mari kita evaluasi satu persatu dari amalan keseharian kita didunia ini.

Namun ingatlah, bahwa setiap nafas, waktu, harta, dan tenaga kita didunia nantinya juga akan dimintai pertangungjawab oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala..!! Oleh karena itu, teruslah selalu beramal dan berjuang, serta jangan bosan atau bermalas-malasan dengan segudang alasan, karena tempat istirahat kita adalah di surga dan bukan didunia. Sebab, sebagaimana perkataan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa didunia ini adalah ladang untuk beramal.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

ارتحلت الدنيا مدبرة، وارتحلت الآخرة مقبلة، ولكل واحدة منهما بنون، فكونوا من أبناء الآخرة، ولا تكونوا من أبناء الدنيا، فإن اليوم عمل ولا حساب، وغدا حساب ولا عمل . صحيح الإمام البخاري   ٥/٢٣٥٩

“Dunia beranjak pergi membelakangi, dan akhirat beranjak pergi menghadap, dan bagi setiap salah satu dari keduanya memiliki anak (generasi). Maka jadilah kalian sebagai anak-anak akhirat, dan jangan kalian menjadi anak-anak dunia. Karena hari ini adalah hari beramal tanpa hisab, dan esok adalah hari hisab (perhitungan) tanpa amal”. (Shahih Bukhari, 5/2459)

Hasil dari amal kita, tentu kita sendiri yang tahu. Kalau kita nanti masuk surga kira-kira ranjang kita bentuknya bagaimana? Atau jangan-jangan amal kita hanya sia-sia belaka karena riya’ dan sombong belaka. Apakah datar dan nyaman untuk ditiduri, atau miring, atau bahkan ranjangnya goyang terus dan terbalik? Wallahu a’lam.. Semoga Allah selalu memberikan kita kekuatan dan kesungguhan dalam beramal dan berjuang demi menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini, serta mengampuni dosa-dosa kita dan memberikan kita kekuatan untuk dapat mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata dengan sebaik-baiknya. Aamiin.. [Edt; Abd]

Check Also

Tentara Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS di Florida, Tewaskan & Lukai 11 Tentara

FLORIDA (Mata-Media.Net) – Sebanyak 11 tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan terluka ketika seorang tentara ...