Monday , February 24 2020
Home / Headline / Energi Positif Rapatnya Shaf Shalat Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Energi Positif Rapatnya Shaf Shalat Dalam Kehidupan Sehari-Hari

Oleh: Imam Mansur

(Mata-Media.Net) – Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kaum Muslimin untuk meluruskan shaf dalam shalat berjama’ah. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصَّفِّ مِنْ تَمَامِ الصَّلاةِ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah kesempurnaan shalat”. (HR. Bukhari no. 690 dan Muslim no. 433). Dan dalam riwayat lainnya,

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ , فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلاةِ

“Luruskanlah shaf-shaf kalian, karena lurusnya shaf adalah bentuk menegakkan shalat (berjama’ah)”. (HR. Bukhari no. 723)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, ternyata merapatkan shaf dalam shalat berjama’ah dengan cara mata kaki menempel dengan mata kaki, pundak dengan pundak memberikan dampat dan energi yang positif diluar shalat dan didalam kehidupan sehari-hari.

Dari segi ilmu fisika, ternyata merapatkan shaf dalam shalat berjamaah dapat menyatukan energi secara fisika, yakni energi yang menyatu. Begitulah semestinya energi kaum Muslimin dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau dalam beberapa menit saja tidak bisa menyatukan shaf shalat berjamaah, bagaimana menyatukan shaf perjuangan kaum Muslimin dalam kehidupan sehari-hari yang lebih lama.

Dalam kajian iptek seperti diungkapkan Agus Mustafa, alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, ia merupakan pakar ilmu fisika, ia menulis penelitiannya dalam bukunya bagaimana hubungan shaf dalam shalat dengan energi manusia.

Ia menyimpulkan bahwa berdasarkan ilmu fisika, shaf yang rapat dalam shalat akan menyatukan energi-energi positif manusia. Sebaliknya, shaf yang tidak rapat dalam shalat akan memecah energi jama’ah itu.

Adapun cara rapatnya shaf dalam shalat adalah mata kaki menempel dengan mata kaki orang di sebelahnya, pundaknya menempel dengan pundak saudara Muslim di sebelahnya. Sudah barang tentu hal ini bagi yang tingginya sejajar. Yang jelas adalah rapatnya shaf, dan tidak ada celah antara jama’ah seseorang dengan yang ada disampingnya.

Begitulah, secara lebih luas shaf shalat merupakan miniatur kehidupan sehari-hari. Syariat memerintahkan untuk lurus dan rapat dalam shalat berjamaah. Artinya dalam kehidupan bermasyarakat, umat Islam pun harus berada dalam satu barisan yang rapi, tidak terpecah belah, tidak bergolong-golong, dan bercerai-berai.

Jika dalam shalat saja shafnya diperintahkan untuk lurus, rapat dan rapi, maka dalam kehidupan sehari-hari juga hendaknya seperti itu, yakni bersatu padu, berjamaah, saling menguatkan dalam satu kepemimpinan, seperti halnya dalam shaf shalat. Oleh karenanya, jika ingin melihat miniatur kehidupan suatu daerah, maka bisa dilihat dari shafnya.

Bahkan sebegitu pentingnya shaf ini, dalam Al-Qur’an terdapat sebuah surah yang bernama Ash-Shaf. Ini menunjukkan betapa pentingnya shaf dalam shalat, sudah barang tentu jika shaf diperhatikan, waktu shalat juga lebih diperhatikan. Usahakan datang awal agar bisa mendapatkan shaf yang pertama, khususnya bagi yang sudah dewasa dan berilmu.

Begitu utamanya shaf pertama dalam shalat berjamaaah ini, hingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menyebutkan bahwa seandainya seseorang mengetahui keutamaan dan pahala shaf yang pertama dalam shalat berjamaah, niscaya mereka akan rela dan meminta untuk diundi demi mendapatkannya.

Ada sebuah kejadian menarik di sebuah masjid Malaysia. Dalam sebuah sesi shalat berjamaah di masjid, ada seorang imam yang mempersilakan anak yang masih kecil untuk berpindah shaf (barisan) ke belakang dan posisinya digantikan oleh yang lebih tua.

Ternyata, si anak tadi merasa tidak terima diminta ke barisan belakang oleh imam masjid. Lantas ia menulis surat terbuka di media sosial dan menjadi viral dengan berbagai tanggapan pro dan kontra. Si anak beralasan bahwa dirinya datang lebih dulu daripada yang dewasa. Ia juga sudah khitan sehingga layak untuk diperlakukan seperti Muslim yang sudah dewasa dalam hal barisan shalat.

Namun ada pula yang memberi komentar bijak, memang aturan dalam shaf, yang muda shafnya di belakang yang dewasa dan berilmu. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai yang dewasa dan berilmu datangnya belakangan sehingga harus menggeser posisi yang datang terlebih dulu.

Seharusnya tidak perlu terjadi insiden seperti itu apabila yang berilmu dan dewasa datang lebih awal karena tanggung jawab menjaga shalat berjamaah di masjid agar tetap tertib dan sesuai sunnah.

Dalam kehidupan sehari-hari juga seperti itu. Tak selayaknya yang lebih dewasa atau tua dan berilmu menanggap remeh yang lebih muda, dan sebaliknya tak selayaknya yang lebih muda dan kurang berilmu bersikap tidak beradab dan berakhlaq kepada yang lebih dewasa atau tua dan berilmu. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara juga seperti itu dalam meniru tata cara shaf shalat yang sesuai dengan syariat.

Lurusnya shaf adalah sebab terikatnya hati orang-orang yang shalat baik didalam dan luar shalat. Dan bengkoknya shaf dapat menyebabkan berselisihnya hati mereka. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ’anhu, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْسَحُ مَنَاكِبَنَا فِي الصَّلاةِ وَيَقُولُ : ( اسْتَوُوا , وَلا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memegang pundak-pundak kami sebelum shalat, dan beliau bersabda: luruskanlah (shaf) dan jangan bengkok, sehingga hati-hati kalian nantinya akan bengkok (berselisih) pula”. (HR. Muslim no. 432). [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perbatasan Turki & Iran, 7 Orang Tewas

ANKARA (Mata-Media.Net) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran pada ...