Tuesday , October 15 2019
Home / Islamiyyah / Aqidah / 10 Dosa Demokrasi Menurut Al-Qur’an

10 Dosa Demokrasi Menurut Al-Qur’an

Oleh: Abu Muhajir

(Mata-Media.Com) – Pada kesempatan kali ini, akan kami paparkan kajian singkat yang menjelaskan tentang beberapa indikasi destruktif dan bahaya serta dosa yang ditimbulkan akibat terjun dan berkiprah dalam kancah Demokrasi yang mana, banyak orang tertipu dengannya dan menggantungkan harapan mereka kepada sistem Demokrasi tersebut, meskipun hal ini jelas-jelas menyimpang dan bertentangan dengan manhaj Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Penyimpangan dan dosa tersebut sebagaimana yang akan dijelaskan dalam kajian yang singkat ini, apalagi sudah banyak pengalaman pahit yang didapat oleh orang yang tertipu dengan permainan Demokrasi ini, baik di dalam dan luar negeri, serta ditampakkan sisi penyimpangan dan kesesatannya.

1. Sistem Demokrasi membuat umat Islam lengah akan tabiat pergolakan antara jahiliyah dan Islam, antara haq (kebenaran) dan batil, karena keberadaan salah satu diantara keduanya mengharuskan lenyapnya yang lain, dan selamanya tidak mungkin keduanya akan bersatu.

Barangsiapa yang mengira bahwa dengan melalui Pemilihan Umum (Pemilu) fraksi-fraksi jahiliyah akan menyerahkan semua institusi-institusi mereka kepada Islam. Hal ini jelas bertentangan dengan rasio, nash dan sunnah (keputusan Allah) yang telah berlaku atas umat-umat terdahulu. Allah Ta’ala berfirman,

فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا سُنَّةَ الأوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلا

“Tiadalah yang mereka nanti melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) atas orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapati perubahan bagi sunnatullah dan sekali-kali tidak (pula) akan mendapati perpindahan bagi sunnatullah itu”. (QS. Faathir 35 : 43)

2. Sistem Demokrasi ini akan menyebabkan terkikisnya nilai-nilai aqidah shahihah (benar) yang diyakini dan diamalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, akan menyebabkan tersebarnya bid’ah, tidak dipelajari dan disebarkannya aqidah yang benar ini kepada manusia, karena ajaran-ajarannya menyebabkan terjadi perpecahan di kalangan anggota partai, bahkan dapat menyebabkan seseorang keluar dari partai tersebut sehingga dapat mengurangi jumlah perolehan suara dan pemilihnya.

3. Sistem Demokrasi tidak membedakan antara orang yang alim dengan orang yang jahil, antara orang yang Mukmin dengan orang Kafir, dan antara laki-laki dengan perempuan, karena mereka semuanya memiliki hak suara yang sama, tanpa dilihat kelebihannya dari sisi syar’i. Padahal Allah Ta’ala berfirman,

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ

“Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar 39 : 9)

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَمَن كَانَ مُؤْمِنًا كَمَن كَانَ فَاسِقًا ۚ لَّا يَسْتَوُۥنَ ﴿١٨﴾

“Apakah orang-orang beriman itu sama dengan orang-orang yang fasik? Mereka tidak sama”. (QS. As-Sajdah 32 : 18)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka apakah Kami patut menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang Kafir)? Mengapa kamu berbuat demikian, bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”. (QS. Al-Qalam 68 : 35-36)

Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan anak laki-laki (yang ia nadzarkan itu) tidaklah seperti anak perempuan (yang ia lahirkan)”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 38)

4. Sistem Demokrasi menyebabkan terjadinya perpecahan di kalangan para aktivis dakwah dan jamaah-jamaah Islamiyah, karena terjun dan berkiprahnya sebagian dari mereka ke dalam sistem ini (mau tidak mau) akan membuat mereka mendukung dan membelanya serta berusaha untuk mengharumkan nama baiknya yang pada gilirannya akan memusuhi siapa yang dimusuhi oleh sistem ini dan mendukung serta membela siapa yang didukung dan dibela oleh sistem ini. Maka ujung-ujungnya fatwa pun akan simpang-siur dan tidak memiliki kepastian antara yang membolehkan dan yang melarang, antara yang memuji dan yang mencela.

5. Di bawah naungan sistem Demokrasi, permasalahan wala’ dan baro‘ menjadi tidak jelas dan samar. Oleh karenanya, ada sebagian orang yang berkecimpung dan menggeluti sistem ini menegaskan bahwa perselisihan mereka dengan partai sosialis, partai baath, atau partai yang mengklaim sebagai partai Islamis dan partai-partai sekuler lainnya hanya sebatas perselisihan di bidang program saja bukan perselisihan di bidang manhaj dan tak lain seperti perselisihan yang terjadi antara empat (4) madzhab.

Mereka mengadakan ikatan perjanjian dan konfederasi untuk tidak mengkafirkan satu sama lain dan tidak mengkhianati satu sama lain, oleh karenanya mereka mengatakan adanya perselisihan jangan sampai merusakkan kasih sayang antar sesama dan antar anak bangsa!!

6. Sistem ini akan mengarah pada tegaknya konfederasi semu dengan partai-partai sekuler, sebagaimana telah terjadi pada hari ini.

7. Sangat dominan bagi orang yang berkiprah dalam kancah Demokrasi akan rusak niatnya, karena setiap partai berusaha dan berambisi untuk membela partainya serta memanfaatkan semua fasilitas dan sarana yang ada untuk menghimpun dan menggalang massa yang ada di sekitarnya, khususnya sarana yang bernuansa religius seperti ceramah, pemberian nasehat, ta’lim, shadaqah dan lain-lainnya.

8. (Terjun ke dalam kancah Demokrasi) juga akan mengakibatkan rusaknya nilai-nilai akhlaq yang mulia seperti kejujuran, transparansi (keterusterangan) dan memenuhi janji, dan menjamurnya kedustaan, berpura-pura (basa-basi) dan ingkar janji.

9. Demikian pula, dalam sistem Demokrasi ini akan melahirkan sifat sombong dan meremehkan orang lain serta bangga dengan pendapatnya masing-masing dan hal ini bisa kita lihat dalam sejumlah debat dan dialog, karena yang menjadi permasalahan adalah mempertahankan pendapat. Dan Allah Ta’ala telah berfirman,

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada di sisi mereka (masing-masing)”. (QS. Al-Mukminun 23 : 53)

10. Kalau kita mau mencermati dan meneliti dengan seksama, berikrar dan mengakui Demokrasi berarti sama saja dengan menikam (menghujat) para Rasul dan risalah (misi kerasulan) mereka. Sebabnya, karena al-haq (kebenaran) dalam sistem Demokrasi itu hanya bisa diketahui melalui suara yang terbanyak dari rakyat, maka tidak ada artinya diutusnya para Rasul dan diturunkannya kitab-kitab, apalagi biasanya ajaran yang dibawa oleh para Rasul banyak menyelisihi mayoritas manusia yang menganut aqidah yang sesat dan menyimpang dan memiliki tradisi-tradisi jahiliyah.

Sedangkan Allah Ta’ala sendiri telah menegaskan bahwa kebenaran itu datangnya dan asalnya hanya dari Allah Ta’ala sang pencipta dan pengatur seluruh alam semesta. Allah berfirman,

الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلاَ تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu datang dari Rabb-mu, maka janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu”. (Q.S Al-Baqarah 2 : 147). [Edt: Abd/Amj]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...