Sunday , December 8 2019
Home / Islamiyyah / Aqidah / Besarnya Pahala Seseorang Tergantung Besarnya Ujian yang Menimpa

Besarnya Pahala Seseorang Tergantung Besarnya Ujian yang Menimpa

Oleh: Abu Muhajir

(Mata-Media.Net) – Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian (yang akan menimpa seseorang). Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya, maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”. (HR. Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031. Ash-Shahîhah no. 146)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, sesungguhnya ujian pada harta, diri dan agama yang menimpa manusia dan khususnya kaum Muslimin adalah sunnah kauniyah (ketetapan dari Allâh ‘Azza wa Jalla yang pasti terjadi). Selain itu, karena rasa benci dan permusuhannya, maka orang-orang Kafir akan selalu mengganggu, membenci, memusuhi dan memerangi kaum Muslimin, baik dengan perkataan ataupun perbuatannya.

Oleh karena itu, Allâh Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Muslimin dan para Muwahhid serta Mujahidin agar mereka bersabar dan bertakwa untuk menghadapi seluruh ujian tersebut. Karena, ahlul kitab yakni Yahudi dan Nashrani meskipun berbeda dengan kaum Musyrikin, namun sejatinya mereka itu memiliki kesamaan, yaitu memusuhi para Muwahhid, dan satu kekufuran serta tempat kembali mereka di akhirat nanti adalah neraka jahannam. Allah Ta’ala berfirman,

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ عَدَٰوَةً لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱلْيَهُودَ وَٱلَّذِينَ أَشْرَكُوا۟

Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik”. (QS. Al-Maaidah 5 : 82)

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ وَلَتَسْمَعُنَّ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا أَذًى كَثِيرًا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Âli ‘Imrân 3 : 186)

Syaikh ‘Abdurrahmân As-Sa’di rahimahullah berkata, “Allâh ‘Azza wa Jalla mengabarkan dan mengatakan kepada kaum Mukminin bahwa mereka akan diuji pada harta mereka melalui (perintah untuk) mengeluarkan nafkah-nafkah wajib dan yang sunah serta terancam hilang harta untuk (berjuang) di jalan Allâh Azza wa Jalla . (Mereka juga akan diuji) pada jiwa-jiwa mereka dengan diberi berbagai beban berat bagi banyak orang, seperti berjihad (berperang) di jalan Allah atau tertimpa penyakit”.

“Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati) berupa celaan terhadap kalian, agama, Kitab dan Rasul kalian. Oleh karena itu, Allâh berkata, ‘Jika kamu bersabar dan bertakwa’ maksudnya, jika kalian bersabar atas segala kejadian pada harta dan diri kalian berupa ujian, cobaan dan gangguan dari orang-orang zhalim dan Kafir, serta kalian dapat bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam kesabaran itu dengan niat mengharap wajah Allâh Azza wa Jalla dan mendekatkan diri kepada-Nya, dan kalian tidak melampaui batas kesabaran yang ditentukan oleh syariat, maksudnya tidak boleh bersabar atau menahan diri pada saat syari’at mengharuskan membalas perlakuan musuh-musuh Allâh Azza wa Jalla. (Maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan) artinya itu termasuk perkara yang harus didahulukan dan diraihnya dengan berlomba-lomba. Tidak ada yang diberi taufik untuk dapat melakukan ini kecuali orang-orang yang memiliki tekad kuat dan semangat tinggi. Allah berfirman, ‘Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar (QS. Fushshilat 41 : 35)”. (Taisîrul Karîmir Rahmân fî Tafsîr Kalâmil Mannân hal. 160)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, sekali lagi yang harus dicatat dan diingat bahwa ujian itu merupakan sunnah kauniyah bagi setiap Muslim. Seorang Muslim tidak mungkin bisa mengelak dari ujian tersebut. Oleh karena itu, Allâh memberi penekanan pada firman-Nya لَتُبْلَوُنَّ dengan menggunakan 2 huruf, yaitu huruf lam dan nun yang bertasydid, sehingga makna kalimat tersebut, kamu sungguh sungguh atau benar-benar akan diuji.

Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Firman Allâh, “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu” seperti firman-Nya : Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan ‘Inna lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn’ (QS. Al-Baqarah 2 : 155-156). Seorang Mukmin pasti akan diuji pada harta, jiwa, anak dan keluarganya”. (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm II/179)

Lalu, kenapa ujian itu mesti terjadi dan harus dilalui oleh manusia? Allâh Ta’ala berfirman,

ذَٰلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ

“Demikianlah, apabila Allâh menghendaki niscaya Allâh akan membinasakan mereka, tetapi Allâh hendak menguji sebagian kamu dengan sebagian yang lain”. (QS. Muhammad 47 : 4). Firman-Nya yang lain,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut 29 : 2-3)

Oleh karena itu, semakin kuat iman seseorang dan bukan hanya sekedar klaim belaka (bahwa saya adalah orang beriman atau telah beriman), maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh kepadanya juga akan semakin besar. Rasûlullâh shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh radhiyallahu ‘anhu,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً قَالَ الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ

“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya”. (HR. Tirmidzi no. 2398, Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523. Ash-Shahîhah no. 143)

Maka, jika seseorang yang hendak menginginkan pahala yang besar dan banyak dari Allah Ta’ala sedangkan ia justru menghindari adanya ujian dan kemudian menjadi penakut dan bahkan futur dengan segudang alasan, entah untuk siyasah atau amniyah, meskipun itu hanya sekedar untuk tholabul ilmi dan menjalin silaturahmi, maka hakikatnya ia tidak faham tentang sunnah kauniyah dalam penjelasan diatas. Rasulullah bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya”. (HR. Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031. Ash-Shahîhah no. 146)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, ada beberapa faedah yang bisa dipetik dari berita tentang kepastian ujian yang akan menimpa seorang Muslim dan Mukmin, diantaranya:

1. Kita akan mengetahui bahwa ujian tersebut mengandung hikmah dari Allâh, yakni agar kita bisa membedakan siapa Muslim yang imannya benar dengan yang tidak atau sekedar klaim semata.

2. Kita akan mengetahui bahwa Allâh-lah yang menakdirkan semua ini (hakikat iman pada takdir Allah yang baik maupun yang buruk).

3. Kita bisa bersiap-siap atau menyiapkan mental kita untuk menghadapi ujian itu dan akan bisa bersabar serta akan merasa lebih ringan dalam menghadapinya. (Lihat Taisîr Al-Karîm Ar-Rahmân fî Tafsîr Kalâm Al-Mannân hal. 160)

Ujian yang diberikan oleh Allâh sesungguhnya adalah rahmat (kasih sayang) Allah ‘Azza wa Jalla kepada seluruh manusia terlebih lagi untuk kaum Mukminin dan para Mujahidin. Allâh berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ

“Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kamu agar kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan yang bersabar di antara kamu, dan agar kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (QS. Muhammad 47 : 31)

Dengan adanya ujian itu, akan tampak orang yang benar-benar beriman dengan yang tidak. Ini adalah rahmat dari Allâh Ta’ala sebagaimana QS. Al-‘Ankabût ayat 2 dan 3.

Ternyata ada ujian yang lebih berat dari ujian pada harta dan jiwa (Lihat QS. Âli ‘Imrân 3 : 186). Ujian yang lebih berat dari hal-hal tersebut adalah ujian yang menimpa agama (keyakinan dan aqidah serta) kita. Kalau kita memperhatikan makna ayat ke 186 dari surah Ali ‘Imran tersebut, maka kita akan menemukan bahwa Allâh telah mengurutkan ujian-ujian tersebut mulai dari yang cobaan yang lebih ringan dan dilanjutkan ke cobaan yang lebih berat.

Karena sesungguhnya ujian pada harta itu lebih ringan daripada ujian pada jiwa. Ujian pada jiwa lebih ringan daripada ujian pada agama. Seseorang bisa saja memiliki harta yang melimpah dan badan yang sehat, tetapi jika dia keluar dari agama Islam karena tidak tahan menghadapi cemoohan, gangguan, siksaan serta teror orang-orang Kafir, maka itulah ujian yang sebenar-benarnya ujian sebagaimana telah dialami dan dilalui oleh Rasulullah dan para sahabatnya.
Gangguan dari orang-orang Kafir maupun antek-anteknya dari para Thaghut, baik berupa ejekan maupun gangguan fisik, pasti akan terus ada. Allâh berfirman,

وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ

“Sebagian besar Ahli kitab karena kedengkian mereka menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, setelah nyata bagi mereka kebenaran”. (QS. Al-Baqarah 2 : 109)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, terakhir yang perlu kita ingat bahwa Allâh Ta’ala tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya para Muwahhid dan Mujahidin terbengkalai, tidak terurus dan menyerah dalam kondisi seperti itu, baik berupa teror, ancaman, penangkapan, penyiksaaan maupun kekeresan fisik dan mental lainnya. Oleh karena itu, Allâh mengajarkan bagaimana cara menghadapi ujian tersebut. Allâh berfirman,

وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

“Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan”. (QS. Âli ‘Imrân 3 : 186)

Menghadapi semua ujian itu hendaknya harus dengan kesabaran dan ketakwaan. Namun jika ia tidak mampu, maka diperintahkan untuk berhijrah dan kemudian melawan. Dasar dari hal ini sangat banyak sekali diterangkan didalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, semua tahapan dan usaha tersebut akan bernilai pahala yang besar, karena sesungguhnya, besarnya pahala yang akan diterima oleh seseorang itu berbanding lurus dengan besarnya ujian yang menimpanya. Wallahu A’lam.. [Edt: Abd]

Check Also

Tentara Saudi Tembaki Pangkalan Militer AS di Florida, Tewaskan & Lukai 11 Tentara

FLORIDA (Mata-Media.Net) – Sebanyak 11 tentara Amerika Serikat (AS) tewas dan terluka ketika seorang tentara ...