Sunday , December 15 2019
Home / Headline / Hukum Syar’i Seputar Zakat Fitri

Hukum Syar’i Seputar Zakat Fitri

Oleh: Ustadz Qutaibah Muslim

(Mata-Media.Net) – Tak terasa bulan Ramadhan 1440 H/2019 M sudah akan pergi meninggalkan kita semua. Salah satu amalan yang harus dilaksanakan dan ditunaikan oleh kaum Muslimin di penghujung bulan Ramadhan adalah ibadah zakat, baik zakat fitri atau zakat fitrah dan zakat maal (harta) bagi umat Islam yang sudah sampai nishob (perhitungan) dan haul (setahun). Berikut ini redaksi Mata-Media.Net (MC) jelaskan tentang hukum syar’i seputar zakat Fitri.

1) APA ITU ZAKAT FITRI & ZAKAT MAAL?

Di kalangan masyarakat Muslim pada umumnya, sebutan yang popular untuk zakat fitri adalah zakat fitrah. Mengapa demikian? Karena maksud dari zakat ini adalah zakat jiwa yang diambil dari kata fitrah yaitu asal-usul penciptaan jiwa sehingga wajib atas tiap jiwa. Namun di kalangan para ulama salaf, mereka menyebutnya dengan istilah زَكَاةُ الْفِطْرِ  (zakat fithri) atau صَدَقَةُ الْفِطْرِ (shodaqah fithri).

Secara bahasa (lughah), zakat berarti : tumbuh; berkembang dan berkah atau dapat pula berarti membersihkan atau mensucikan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاَتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka, yang dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”. (QS. At-Taubah 9 : 103)

Sedangkan istilah zakat artinya adalah derma yang telah ditetapkan jenis, jumlah, dan waktu dari suatu kekayaan atau harta yang wajib dikeluarkan; dan pemanfaatannya pun ditentukan pula, yaitu dari umat Islam untuk atau kepada umat Islam. Zakat Fitri sering juga disebut sebagai zakat ifthar atau berbuka, karena dikeluarkannya ketika telah berbuka (selesai) dari puasa Ramadhan.

Adapun zakat maal adalah zakat harta kekayaan yang wajib dikeluarkan oleh setiap Muslim yang kaya dan mampu. Contoh harta yang harus dizakati seperti hasil pertambangan, peternakan, perniagaan, perkebunan, hasil laut, emas dan perak, serta harta temuan. Dan semua harta itu memiliki hitungan (nishob) masing-masing. Adapun syarat dikeluarkannya zakat maal adalah telah mencapai nishob dan mencukupi haul atau mencapai kepemilikan selama satu (1) tahun, kecuali harta pertanian seperti buah-buahan atau harta temuan, itu tidak harus menunggu hingga satu tahun.

2) HUKUM ZAKAT

Hukum zakat secara umum adalah wajib dan termasuk rukun Islam yang keempat. Adapun secara khusus, menunaikan zakat fitri adalah wajib pula bagi setiap Muslim yang memiliki kelebihan makanan pokok bagi diri dan keluarganya di malam dan di hari raya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيْهِ، فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا يُغْنِيْهِ؟ قَالَ: قَدْرَ مَا يُغَدِّيْهِ وَيُعَشِّيْهِ

“Barangsiapa meminta-minta padahal dia memiliki kecukupan, maka pada hakikatnya dia tengah meminta tambahan api neraka. Sahabat bertanya: “Wahai Rasülulläh, apa standar kecukupan tersebut?”. Beliau menjawab: “Jika ia sudah punya makanan pokok untuk sehari-semalam”. (Shahïh At-Targhïb wat-Tarhïb: 796)

Abdullah Ibnu ‘Umar atau Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan untuk mengeluarkan zakat fitri”. (HR. Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984)

Zakat fitri juga diwajibkan atas seseorang yang menjadi tanggungannya. Misalkan bagi seorang kepala keluarga (suami, ayah); maka dia menunaikan zakat fitri atas dirinya, juga atas semua anggota keluarga yang menjadi tanggungannya masing-masing (istri-istrinya, anak-anaknya, adik-adik perempuannya yang belum menikah, kedua orang tuanya yang tidak mampu), termasuk pembantunya, bahkan termasuk pula bayi yang ada didalam kandungan istrinya. (Al-Mausü’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: 3/162)

Namun perlu diperhatikan, bahwa zakat fitri sejatinya terkait dengan setiap jiwa. Oleh karena itu, seorang ayah/bapak sebenarnya tidak wajib menunaikan zakat fitri untuk anaknya (baik anak laki-laki ataupun perempuan, terlebih ketika si anak perempuan sudah menjadi istri orang lain), jika si anak memiliki kemampuan (sudah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri). Dalam kondisi demikian, si anaklah yang wajib menanggung zakat fitrah untuk dirinya sendiri. (Lihat Al-Majmü’: 6/108, An-Nawawi)

3) APA BENTUK ZAKAT FITRI & BERAPA KADARNYA?

Abdullah Ibnu ‘Umar radhiyallahu ’anhuma  berkata,

فَرَضَ رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالأْنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْل خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلاَةِ

“Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fitri berupa 1 sha’ kurma atau 1 sha’ gandum baik atas hamba sahaya maupun orang merdeka, baik laki-laki maupun wanita, baik anak kecil atau dewasa dari kalangan Muslimin. Beliau memerintahkannya (berzakat) agar ditunaikan sebelum orang-orang keluar untuk shalat (‘ied)”. (HR. Bukhari, 1503 dan Muslim, 984)

Dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ’anhu (HR. Bukhari, 1506), zakat fitri tersebut adalah berupa tho’am (makanan pokok yang biasa dimakan sehari-hari oleh kaum Muslimin), aqith (susu yang dikeringkan), atau zabib (kismis). Semuanya masing-masing seukuran 1 sha’.

Satu (1) sha’ sama dengan 4 mud. Satu mud setakar dengan cidukan kedua telapak tangan orang dewasa. Para ulama menegaskan bahwa jenis-jenis makanan yang disebutkan dalam hadits-hadits tentang zakat fitri, sebenarnya mengacu pada makanan pokok di suatu wilayah. Sehingga untuk daerah lain diluar Jazirah Arab seperti Indonesia, maka penunaian zakat fitri bisa diganti dengan beras dan lainnya. Adapun takaran 1 sha’ dalam hadits di atas kurang lebih setara dengan 3 Kg. (Al-Buhuts Al-Islamiyyah: 17/79-80)

4) APA HIKMAH DISYARI’ATKANNYA ZAKAT FITRI?

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ’anhuma berkata tentang hikmah disyari’atkannya zakat fitri, “Rasülulläh shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fitri untuk menyucikan (jiwa) mereka yang berpuasa (dari perbuatan yang memusnahkan pahala puasa, seperti) ucapan sia-sia, ucapan jorok/porno, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shalat ‘ied, maka zakatnya diterima. Dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat ‘ied, maka itu hanya terhitung sebagai sedekah biasa saja”. (Shahïh Sunan Abi Dawud: 1420)

Hikmah disyari’atkannya zakat fithri amatlah banyak sekali, sedangkan yang bisa dirinci diantaranya sebagai berikut:

1- Untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkataan sia-sia dan kata-kata kotor serta catat (kekurangan) saat puasa. Jadilah kebaikan di hari raya menjadi sempurna.

2- Untuk memberi makan kepada orang miskin dan mencukupi mereka sehingga tidak perlu meminta-minta di hari raya, sekaligus membahagiakan mereka di hari raya. Jadilah hari raya itu menjadi hari kebahagiaan.

3- Bentuk saling berbuat memberi kebaikan antara orang kaya dan orang miskin di hari raya.

4- Mendapat pahala karena telah menunaikan zakat pada yang berhak menerima di waktu yang telah ditentukan.

5- Zakat fithri adalah zakat untuk badan yang Allah tetapkan setiap tahunnya di Rari Raya Idul Fithri.

6- Zakat fithri adalah bentuk syukur setelah puasa itu sempurna. (Lihat Az-Zakat fil-Islam, 322-324)

5) BOLEHKAH ZAKAT DIKELUARKAN LEBIH DARI 3 KG BERAS?

Ulama membolehkan penunaian zakat fitrah yang melebihi kadar ketentuan. Namun kelebihan tersebut hanya dianggap sedekah tambahan saja, yang nantinya jatuhnya kelebihan itu adalah sedekah biasa saja. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, termasuk Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahumulläh. Adapun jika kadarnya kurang dari ketentuan yang telah disyariatkan, maka ulama sepakat tidak membolehkannya alias tidak sah zakatnya. (Al-Mausü’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah: 3/164)

6) BOLEHKAH MENGGANTI ZAKAT FITHRI DENGAN UANG?

Al-Imäm An-Nawawi rahimahulläh berkata, “Mayoritas ahli fiqih tidak membolehkan zakat fitri diganti dengan uang yang senilai”. (Syarh An-Nawawi: 7/60. Al-Wajïz hal. 224, Syaikh ‘Abdul ’Azhim)

Dalam artian, penunaiannya harus dalam bentuk makanan pokok (misalnya beras). Di zaman Nabi, mata uang sudah ada dan lumrah, namun beliau tidak memerintahkan penunaian zakat fitri dengan uang. Demikian juga para sahabat setelah beliau, selalu menunaikan zakat dengan makanan pokok. Karena memang, zakat fitri adalah ibadah tersendiri yang berbeda dengan zakat maal (harta), dan masing-masing mempunyai aturan sendiri-sendiri. (Lihat Al-Buhüts Al-Islämiyyah: 17/79-80)

Jadi jika membayarkan zakat fitrah tersebut lewat aamil zakat (pengurus zakat, lembaga atau panitia zakat), maka boleh menitipkan zakat fitrah tersebut dalam bentuk uang. Akan tetapi aamiil zakat wajib untuk menyalurkan amanah zakat dari muzakki (yang mengeluarkan zakat) kepada para mustahiq (yang berhak menerima zakat) dalam bentuk makanan pokok.

7) KAPAN WAKTU MENUNAIKAN ZAKAT FITRI?

Waktu paling afdhol mengeluarkan zakat fitri adalah di waktu pagi pada hari raya, sebelum orang-orang menuju tempat shalat ‘ied. Boleh juga sejak awal mewakilkan penunaian zakat kepada aamil zakat dengan syarat panitia atau lembaga tersebut akan menyalurkannya kepada yang berhak dalam waktu sehari atau dua hari sebelum hari raya ‘ied. Dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma disebutkan bahwa,

ﻭَﻛَﺎﻧُﻮﺍ ﻳُﻌْﻄُﻮﻥَ ﻗَﺒْﻞَ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮِ ﺑِﻴَﻮْﻡٍ ﺃَﻭْ ﻳَﻮْﻣَﻴْﻦِ

“Mereka (para sahabat) menyerahkan zakat fitri sehari atau dua hari sebelum ‘ied”. (HR. Bukhäri, 1511]. Dalam riwayat Imam Mälik (1/55/285) disebutkan: “…atau 3 hari sebelum ‘ied”.

Sebagian ulama bahkan mengatakan bahwa zakat fitri yang dikeluarkan (langsung kepada fakir miskin) seminggu sebelum ‘ied, maka zakat tersebut tidak sah dan harus dikeluarkan ulang. [Islam Su-aal wa Jawab no. 81.164)

8) BAGAIMANA JIKA TIDAK DIKELUARKAN PADA WAKTUNYA?

Zakat fitri wajib ditunaikan sebelum shalat ‘ied. Namun jika seseorang karena adanya udzur syar’i terlewatkan menunaikannya, maka kewajiban tersebut tidak otomatis gugur. Dia tetap wajib menunaikan zakat tersebut setelah ‘ied. Karena sebuah kewajiban yang terhalang akibat adanya udzur, maka wajib ditunaikan setelah udzur itu hilang”. (Majmü’ Fatäwa 20/271)

9) SIAPA YANG BERHAK MENERIMA ZAKAT FITRI?

Berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbäs radhiyallahu ‘anhuma yang menyebutkan bahwa zakat fitri adalah “Thu’matan lil-masaakïn” (makanan bagi orang-orang miskin), maka jumhur ulama diantaranya Ibnul Qoyyim, Ibnu Taimiyyah dan As-Syaukani rahimahumullah menegaskan bahwa zakat fitri hanya boleh disalurkan kepada orang-orang miskin. (Lihat Tamämul Minnah hal. 387, Majmü Fatäwa: 25/73, As-Sail Al-Jarrär: 2/86-87)

Dan inilah pendapat yang kuat dan lebih benar karena lebih dekat kepada dalil. Atas dasar ini pula, maka zakat fitri tidak boleh diuangkan untuk keperluan yang lain, termasuk untuk membangun masjid, dan kebutuhan lainnya yang biasa dilakukan mayoritas orang meskipun sebagian besar manusia beralasan hal itu untuk kebaikan. Namun dalam Islam, baik saja tidak cukup jika tidak benar, yakni benar sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini dikarenakan bahwa Allah telah memperuntukkan zakat fitri hanya untuk orang-orang miskin saja, dan bukan yang lainnya. Adapun untuk pembangunan masjid dan lainnya, masih banyak potensi lain yang bisa diupayakan dari kaum Muslimin untuk menopangnya, seperti; wakaf tunai, infaq, shodaqoh dan lain-lainnya. Wallahu A’lam…

Demikian pemaparan singkat seputar hukum syar’i yang berkaitan dengan zakat fitri dan zakat maal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kemampuan dan kemauan untuk menunaikan zakat fitri dan zakat maal bagi yang berhak menerimanya. Terakhir, semoga Allah Ta’ala menerima segala amal ibadah kita dari awal bulan Ramadhan kemarin hingga yaumul qiyamah nanti. Aamiin.. [Edt; Abd]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...