Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Khutbah Jum’at; Inilah 3 Amalan Yang Diberkahi Allah Ta’ala

Khutbah Jum’at; Inilah 3 Amalan Yang Diberkahi Allah Ta’ala

Oleh: Abu Muhajir

(Mata-Media.Com) Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Islam adalah agama yang menganjurkan umatnya untuk senantiasa berbuat baik dan beramal sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semata-mata diikhlaskan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Amal perbuatan didalam Islam sesungguhnya tidak hanya berupa ibadah seperti shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunnah, puasa baik yang wajib di bulan Ramadhan dan selain di bulan Ramadhan serta puasa sunnah lainnya, zakat dan ibadah lain sebagainya diluar ibadah mahdhoh seperti itu.

Akan tetapi, ada pula amal perbuatan diluar ibadah mahdhoh yang bisa menambah pahala kita dan diberkahi oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tambahlah amalan kalian semua pada waktu-waktu yang diberkahi dan dengan melakukan amalan-amalan yang diberkahi oleh Allah, diantaranya adalah:

1) Menyambung Hubungan Silaturahmi dan Tali Persaudaraan

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Menjalin silaturahmi adalah salah satu cara mewujudkan ukhuwah Islamiyyah  dan dapat dilakukan dengan cara mengunjungi sanak keluarga, saudara, kerabat dan teman. Salah satu hikmah bersilaturahmi selain bisa membuat orang lain yang kita kunjungi merasa senang dan diberkahi oleh Allah Ta’ala, ternyata silaturahmi juga memiliki banyak keutamaan lainnya. Berikut ini adalah keutamaan menyambung hubungan silaturahmi dan tali persaudaraan dalam Islam:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang senang diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, Kata ‘yunsa-u’ bermakna ‘yuakhkhiru’ yakni menunda, sedangkan kata ‘al-atsar’ bermakna ‘al-ajal’ yakni kematian, karena kematian selalu menyertai kehidupan pada jejaknya. Dibentangkan rizki artinya diluaskan dan dibanyakkan. Adapun ditundanya kematian karena umurnya mengandung keberkahan, serta diberi taufik untuk melakukan ketaatan. Menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat untuk kehidupan di akhirat serta menjaganya dari kesia-siaan dan lain-lain.

Meskipun silaturahmi memiliki banyak keutamaan, akan tetapi tidak sedikit kaum Muslimin yang meninggalkannya. Padahal menyepelekan untuk bersilaturahmi dengan berbagai alasan bukanlah hal yang baik dan dibenarkan dalam syariat. Meskipun orang yang kita kunjungi berbuat dzalim, melakukan fitnah atau memiliki sifat sombong kepada kita, namun tetap saja kita harus menjalin tali silaturahmi yang baik sebagaimana yang disebutkan dalam hadist berikut ini.

Dan dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu aku berkata: Ya Rasulullah, ceritakanlah kepadaku tentang amalan yang utama, maka beliau bersabda,

صِلْ مَنْ قَطَعَكَ وَأَعْطِ مَنْ حَرَمَكَ وَأَعْرِضْ عَمَّنْ ظَلَمَكَ

“Sambunglah orang yang memutuskan (hubungan dengan)mu, berilah kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat dzalim kepadamu”. (HR. Ahmad)

Ketahuilah ayyuhal ikhwah, bahwasanya orang yang memutuskan silaturahmi dan memutus persaudaraan, maka dia tidak hanya berdosa besar melainkan juga akan diberikan ganjaran berupa azab dari Allah Ta’ala sebagaimana hadits berikut ini.

” اَلرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُوْلُ: مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللهُ “

“Rahim bergantung di Arsy seraya berkata: Barangsiapa yang menyambung hubunganku, niscaya Allah menyambungnya, dan barangsiapa yang memutuskan aku, niscaya Allah memutuskan hubungan dengannya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Yang dimaksud Allah akan memutus hubungan dengannya adalah bahwa Allah tidak akan memberikan rahmat kepada orang-orang yang memutus tali silaturahmi.

Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَنْزِلُ الرَّحْمَةُ عَلَى قَوْمٍ فِيْهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ

“Rahmat tidak akan turun kepada kaum yang padanya terdapat orang yang memutuskan tali silaturahmi”. (HR. Muslim)

Dan diriwayatkan juga dalam hadits lainnya bahwa orang yang memutuskan tali silaturahmi, maka amalannya tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala dan diharamkan masuk surga. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ كُلَّ خَمِيْسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَلاَ يُقْبَلُ عَمَلُ قَاطِعِ رَحِمٍ

“Sesungguhnya amal ibadah manusia diperlihatkan setiap hari Kamis malam Jum’at, maka tidak diterima amal ibadah orang yang memutuskan hubungan silaturahmi”. (HR. Ahmad)

Dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)”. (HR. Bukhari dan Muslim)

2) Memperbanyak Sedekah

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Selain menjalin tali silaturahmi, salah satu amalan lainnya yang begitu besar pahalanya dan diberkahi oleh Allah Ta’ala adalah bersedekah dan berinfaq, baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaaan sempit. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ, الَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى السَّرَّآءِ وَالضَّرَّآءِ وَالْكٰظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ  وَاللّٰـهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan”. (QS Ali ‘Imran 3 : 133 – 134)

Anjuran mulia  dari Allah Ta’ala ini bermakna bahwa dalam kondisi sesulit apapun, kaum Muslimin sejatinya masih bisa memberikan andil dan sesuatu sekecil apapun di jalan Allah dan untuk kepentingan agama Allah. Meski cuma sedikit, yang terpenting dalam bersedekah adalah pemberian itu diberikan semata-mata dengan keikhlasan dan hanya mengharap ridha Allah semata. Karena tidak ada gunanya pula jika ada seseorang yang bersedekah dan berinfaq dengan nominal puluhan juta dan bahkan ratusan juta, namun hal itu hanya untuk mencari ketenaran dan popularitas duniawi semata.

Namun terkadang, ada pula diantara kita yang sangat sulit untuk memberikan sedikit apa yang kita punya untuk kepentingan perjuangan agama Allah ini dalam kondisi lapang, apalagi dalam kondisi sempit dengan berbagai pertimbangan. Padahal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengingatkan kepada kita semua untuk jangan segan dan enggan bersedekah, meski hanya dengan sebutir kurma. Rasulullah bersabda, “Jauhkanlah dirimu dari api neraka walaupun dengan (bersedekah) sebutir kurma”. (HR. Muttafaqun ‘alaih)

Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah hamba Allah menempuh waktu pagi mereka kecuali ada dua (2) malaikat yang mendo’akannya, salah satu dari kedua malaikat tersebut berdo’a , “Ya Allah, berikanlah ganti kepada orang yang berinfaq” dan malaikat yang satunya lagi berdo’a, “Ya Allah, berikanlah kehancuran kepada orang yang kikir”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga kita semua senantiasa diberikan taufik oleh Allah untuk selalu ingat bersedekah baik dalam kondisi lapang maupun sulit. Sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa memberi kemudahan kepada kita semua untuk beramal dengan keikhlasan dan hanya berharap ridha dari-Nya. Dan semoga Allah Ta’ala memberikan keberkahan bagi kehidupan kita semua dengan amalan tersebut, tentu saja dengan syarat jika diniatkan ikhlas karena Allah semata.

3) Memperbanyak Istighfar

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Sungguh beruntunglah orang-orang yang memperbanyak istighfar. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh beruntung seseorang yang mendapati pada catatan amalnya istighfar yang banyak”. (HR. Ibnu Majah no. 3818)

Bahkan, Rasulullah sebagai manusia yang maksum dan dijamin oleh Allah diampuni dosa-dosanya saja masih beristighfar dan bertaubat kepada Allah 100 kali (x) dalam sehari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada-Nya 100 x dalam sehari”. (HR. Muslim 4/2076)

Dan didalam hadits lainnya disebutkan jika Rasulullah bertaubat kepada Allah lebih dari 70 x dalam sehari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Allah! Sesungguhnya aku minta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari 70 x”. (HR. Bukhari dalam Fathul Bari 11/101

Sedangkan didalam Al-Qur’an, Allah Ta’ala juga telah berfirman,

“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”

“Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”. (QS. Nuh 71 : 10 – 12)

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Ayat diatas menjelaskan dengan gamblang bahwa diantara buah dan hikmah dari istighfar adalah turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.

Karenanya, dikisahkan dalam tafsir Al-Qurubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada Hasan Al-Bashri rahimahullah tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, beliaupun menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.

Selain itu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga menegaskan bahwa memperbanyak istighfar itu juga merupakan salah satu kunci dan pintu datangnya rizki, dan rizki itu akan diberkahi oleh Allah. Sebab ada pula orang yang banyak harta, namun tidak tenang kehidupannya, baik dalam kehidupan berkeluarga maupun bersosialisasi dengan teman dan tetangganya. Ada suatu hadits yang berbunyi,

“مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ”

“Barangsiapa memperbanyak istighfar, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka”. (HR. Ahmad dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan sanadnya dinilai shahih oleh Hakim serta Ahmad Syakir)

Maka dari itu, hendaknya kita selalu menyambung tali silaturahmi, memperbanyak sedekah dan memperbanyak istighfar, dan kemudian tunggulah keberkahan dan buah dari amalan tersebut. Jika buah dan manfaatnya belum terlihat juga, perbanyaklah terus istighfar dan jangan pernah berputus asa kepada Allah, karena tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang Kafir. Wallahu a’lam.. [RMC]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...