Sunday , December 15 2019
Home / Headline / Khutbah Idul Adha 1439 H; Kewajiban & Urgensi Mengikuti Millah Ibrahim Bagi Seorang Mukmin

Khutbah Idul Adha 1439 H; Kewajiban & Urgensi Mengikuti Millah Ibrahim Bagi Seorang Mukmin

Oleh: Ustadz Qutaibah

(Mata-Media.Com) – Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, berikut ini kami sajikan materi atau artikel spesial di Hari Raya Idul Adha 10 Dzulhijjah 1439 H/2018 M dari ustadz Qutaibah Muslim (Pengampu Rubrik Konsultasi Mata-Media.Com sekaligus Mudir Ma’had ‘Aly Usyaqul Qur’an) berjudul; “Kewajiban dan Urgensi Millah Ibrahim Bagi Seorang Mukmin”.

اِنَّ الْحَمْد لله نَحْمَدُهُ وًنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَلِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ ﷲُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ ، أَشْهَدُ اَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ ﷲُ وَحدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا ﷲ حَقَّ تُقَاتِه وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ( ال عمران : ١۰٢)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا ﷲَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ ﷲَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا (النساء : ١)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوﷲَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ ﷲَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا ( الاحزاب : ٧۰ – ٧١)

أَمَّا بَعْدُ :

فَاِنَّ خَيْرَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ ﷲ وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى ﷲُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرَّ الأمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَتٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةً وَكُلَّ ضَلاَ لَةٍ في النّارِ.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah…

Pada pagi hari ini, tidak ada ungkapan yang lebih baik lagi mulia melebihi ungkapan rasa syukur dan pengagungan kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta’ala, di mana pada pagi hari ini berbagai macam kenikmatan dan kebaikan yang sangat agung dikumpulkan oleh Allah Ta’ala ditengah-tengah kita, mulai dari nikmat iman, nikmat sehat dan sempat, sampai nikmat dipertemukannya kembali kita dengan hari yang sangat mulia ini yaitu Hari Raya Idul Adha atau Idul Qurban.

Maka sungguh tidak ada kebaikan sedikitpun pada diri kita di pagi hari ini kecuali dengan cara kita bersyukur sebesar-besarnya kepada Allah Ta’ala atas segala limpahan nikmat dan karunianya kepada kita semua. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim 14 : 7)

Dan lebih khusus, bahwa disyariatkannya Hari Raya Idul Adha beserta syariat qurban didalamnya tidak lain adalah agar kita sebagai seorang hamba senantiasa mengingat Allah Ta’ala dan selalu mensyukuri nikmat-nikmat-Nya yang tidak terhingga. Allah Ta’ala berfirman,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ ۗ فَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah di rizkikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)”. (QS. Al-Hajj 22 : 34)

Maka dari itu, hendaknya kita takut kepada Allah Ta’ala atas berbagai nikmat dari-Nya yang sering sekali kita lalai untuk mensyukurinya. Karena ketahuilah, bahwa setiap nikmat yang diberikan kepada kita pasti akan ditanyakan dan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS. At-Takaatsur 102 : 8)

الله أكبر،الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sesungguhnya perayaan dan pelaksanaan ibadah idul qurban beserta rangkaian ibadah lain yang mengiringinya seperti manasik haji dan lain-lain tidak akan bisa lepas dari perjalanan hidup sebuah keluarga dari sang kekasih Allah yaitu Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Hal itu dikarenakan beliau ‘alaihissalam dan keluarganyalah yang menjadi pelaku utama, dan awal mula disyariatkannya manasik haji dan juga ibadah qurban.

Hal itu bermula dari perintah Allah Ta’ala kepada Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimussalam untuk mendirikan bangunan “Baitullah” didaerah Bakkah (suatu daerah tandus yang sekarang bernama Makkah), sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۖ إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo’a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah 2 : 127)

Kemudian Allah memerintahkan kepada khalil-Nya (kekasihnya –Nabi Ibrahim-) tersebut untuk menyeru manusia agar mendatangi rumah-Nya (Baitullah) guna mentauhidkan-Nya, beribadah, berdzikir dan bersyukur kepada-Nya dalam rangkaian ibadah haji. Allah Ta’ala berfirman,

وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِ‌جَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ‌ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍلِّيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُ‌وا اسْمَ اللَّـهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak”. (QS. Al-Hajj 22 : 27-28)

Kemudian hal itu berlanjut, sampai ketika Nabi Ibrahim dan putranya Ismail sedang melakukan perjalanan untuk melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, Allah mewahyukan kepada Nabi Ibrahim melalui mimpi sebanyak tiga (3) kali untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya yaitu Nabi Ismail. Maka dengan kejernihan aqidah dan kekohohan imannya, Nabi Ismail kemudian menerima wahyu tersebut dengan mantab dan tanpa ragu sedikitpun agar ayahnya menyembelih dirinya sebagaimana yang diwahyukan oleh Allah Ta’ala.

Sehingga pada akhirnya, ketika Nabi Ismail sudah siap akan disembelih oleh Nabi Ibrahim dan keduanya telah berserah diri secara totalitas kepada Allah dalam mentaati-Nya, menunaikan perintah-Nya serta mendahulukan ridha-Nya, maka Allah Ta’ala mengganti sembelihan (Nabi Ismail) tersebut dengan seekor domba yang besar untuk disembelih (Nabi Ibrahim) sebagai tebusan. Sebab, tidaklah perintah dari Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail itu, melainkan sebagai pembuktian sikap ihsan pada diri Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang selalu mendahulukan ridho Allah daripada berbagai macam syahwat dunia. Allah Ta’ala berfirman,

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (107) وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ (108) سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ (109) كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (110) إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُؤْمِنِينَ (111)

“Maka Kami beri dia (Ibrahim) kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia (Ismail) menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya diatas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) “Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim”. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman”. (QS. Ash-Shaaffaat 37 : 99-111)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sungguh betapa dahsyatnya ketabahan, kepatuhan, ketundukan dan kesabaran pada diri Nabi Ibrahim dalam mengerjakan setiap perintah Allah. Bahkan saking agung dan mulianya sikap Nabi Ibrahim tersebut, Allah Ta’ala sampai menjadikan syi’ar ibadah qurban dan manasik haji yang dipelopori oleh beliau sebagai sebuah syariat baku yang terus berlaku bagi seluruh kaum Muslimin sampai hari kiamat nanti.

Namun tahukah kita semua, sesungguhnya dari sekian banyak keutamaan pada perjalanan hidup Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, ternyata ada suatu perkara prinsip yang sangat penting pada diri beliau, yang bahkan wajib hukumnya bagi seluruh umat setelah beliau ‘alaihissalam untuk mengikuti prinsip tersebut.

Syariat qurban dan juga rangkaian manasik haji pada hakekatnya adalah bagian dari pada perealisasian prinsip yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tersebut. Dan tidak lain prinsip tersebut disebutkan oleh Allah didalam Al-Qur’an dengan istilah “Millah Ibrahim”. Yaa, Millah Ibrahim itu adalah prinsip dan sikap yang dimiliki oleh Nabi Ibrahim dalam mengarungi kehidupan didunia ini.

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah…

Sesungguhnya Allah Ta’ala telah mewajibkan kepada seluruh umat setelah Nabi Ibrahim, khususnya umat Islam untuk mengikuti Millah Ibrahim. Allah Ta’ala berfirman,

وَقَالُوا كُونُوا هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ تَهْتَدُوا ۗ قُلْ بَلْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ.

“Mereka mengatakan bahwa, “Jadilah kamu pengikut agama Yahudi atau pengikut agama Nashrani, niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk”. Maka, katakanlah bahwa Millah Ibrahim-lah yang harus diikuti, dan Ibrahim bukanlah termasuk orang-orang yang Musyrik”. (QS. Al-Baqarah 2 : 135)

قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Benarlah (apa yang difirmankan) Allah”. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang Musyrik”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 95)

Bahkan nabi kita, nabi akhir zaman, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintahkan secara khusus oleh Allah Ta’ala untuk beragama dengan cara mengikuti prinsip agamanya Nabi Ibrahim (Millah Ibrahim). Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۖ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah”. (QS. An-Nahl 16 : 123)

Dan hendaknya seluruh kaum Muslimin dan Mukminin mengetahui dan memahami bahwa, sesungguhnya cara beragama yang baik, lurus dan benar hanyalah dengan mengikuti cara beragamanya Nabi Ibrahim (Millah Ibrahim). Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya”. (QS. An-Nisaa’ 4 : 125)

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۚ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang Musyrik”. (QS. Al-An’aam 6 : 161)

Selain itu, seseorang tidaklah disebut sebagai seorang Muslim, apalagi seorang Mukmin sampai dia benar-benar merealisasikan Millah Ibrahim secara benar dalam amal perbuatan, dan tidak hanya sekedar pengakuan lisan dan juga bagusnya ukiran tangan dalam sebuah tulisan. Allah Ta’ala berfirman,

مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ..

“…(Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahulu..”. (QS. Al-Hajj 22 : 78)

Dan juga, tidak ada yang menyelisihi Millah Ibrahim ataupun membencinya, melainkan hanyalah orang-orang yang membodohi dirinya sendiri. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَهُ ۚ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا ۖ وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri. Dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang shalih”. (QS. Al-Baqarah 2 : 130)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر لا إله إلا الله الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah…

Adapun Millah Ibrahim yang seluruh umat manusia diperintahkan untuk mengikutinya itu memiliki dua (2) kaedah utama.

1) Pertama, manusia harus mengikhlaskan dan memurnikan seluruh bentuk peribadahannya hanya kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصْرَانِيًّا وَلَٰكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nashrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang Musyrik”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 67)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata,

اعْلَمْ أَرْشَدَكَ اللهُ لِطَاعَتِهِ أَنَّ الْحَنِيفِيَّةَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ أَنْ تَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ،

“Ketahuilah, semoga Allah menunjukimu untuk menaati-Nya, bahwa sesungguhnya al-Hanifiyyah (ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam) adalah engkau mengibadahi Allah dengan mengikhlaskan agama ini hanya bagi-Nya…”. (Muqoddimah kitab Qowaidul Arba’)

Oleh karena itu, tidak disebut Millah Ibrahim dan tidak pula disebut sebagai seorang Muslim orang-orang yang masih mengotori agamanya (lisan dan amal perbuatannya) dengan tandingan-tandingan selain Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan bagi Allah, baik dalam hal peribadahan, kecintaan, do’a, ketaatan dan lain-lainnya, sekalipun ia banyak sholatnya, rajin puasanya, berkali-kali umroh dan hajinya, dan juga sering ikut serta paling banyak hewan qurbannya dan lain sebagainya. Itu semua bukanlah tolak ukur dan tidak menjadikan dia mengikuti Millah Ibrahim, dan tidak pula menjadikannya disebut sebagai seorang Muslim.

Karena sesungguhnya, hakekat Millah Ibrahim itu bukan dilihat dari banyaknya amal yang dikerjakan, akan tetapi hakekat Millah Ibrahim itu adalah sejauh mana pemurnian seseorang dalam peribadahan kepada Allah Ta’ala.

2) Kedua, pengingkaran dan sikap berlepas diri terhadap kesyirikan beserta para pengusungnya.

Tidak diragukan lagi bahwa pemurnian ibadah hanya kepada Allah Ta’ala tidak akan bisa terealisasikan kecuali dengan sikap pengingkaran dan keberlepasan diri secara total terhadap segala macam bentuk kesyirikan beserta para pelakunya.

Selain itu, Allah Ta’ala juga meniadakan iman bagi orang-orang yang tidak memiliki sikap benci dan berlepas diri terhadap kesyirikan dan orang-orang Musyrik. Allah Ta’ala berfirman,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ…

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang(tidak membenci dan berlepas diri) terhadap orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya..”. (QS. Al-Mujadilah 58 : 22)

Oleh karena itu, sikap berlepas diri terhadap kekafiran dan para pelakunya merupakan salah satu kaedah pokok dari ajaran Nabi Ibrahim. Hal ini sudah sesuai dengan sikap pengingkaran, kebencian, permusuhan dan pengkafiran Nabi ibrahim terhadap kaum Musyrikin. Sikap Nabi Ibrahim ini pula dijadikan oleh Allah sebagai uswatun hasanah yang harus dicontoh dan diikuti setiap orang yang mengaku beriman. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ…

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja”. (QS. Al- Mumtahanah 60 : 4)

الله أكبر، الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر ولله الحمد

Ma’asyiral Muslimin jama’ah sholat Idul Adha rahimakumullah…

Inilah hakekat Millah Ibrahim yang seluruh umat manusia diwajibkan untuk mengikutinya, yaitu prinsip menjadikan dan memurnikan seluruh hak peribadahan hanya kepada Allah Ta’ala, dan merealisasikan pengingkaran serta keberlepasan diri secara total terhadap segala macam kesyirikan beserta para pelakunya.

Maka hendaknya momen ibadah haji dan ibadah idul qurban kali ini menjadikan setiap Mukmin untuk memahami hakekat utama dari ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihissalam (Millah Ibrahim), dan bukan hanya sekedar ritual tahunan dan semangat mengamalkan syi’arnya Nabi Ibrahim, yaitu rangkaian haji dan ibadah qurban belaka, akan tetapi malah melupakan pokok utama dari ajaran Nabi Ibrahim (Millah Ibrahim) tersebut.

Terakhir, marilah kita tutup khutbah Idul Adha pada tahun ini dengan berdo’a kepada Allah, agar kita semua diberi kepahaman dan keteguhan hati dan sikap dalam mengikuti millahnya Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Mari kita juga memohon kesabaran, ketabahan, keistiqomahan dan kekuatan dalam mengamalkan dan memperjuangkan Islam sebagaimana telah Allah Ta’ala berikan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ..

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا..

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ..

اللهم ثبتنا على ما يرضيك , وقربنا ممن يواليك , واجعل غاية حبنا فيك .اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك ويا مصرف القلوب والابصار صرف قلوبنا الى طاعتك..

اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا.

رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

[Edt; Abd]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...