Tuesday , December 10 2019
Home / Headline / Khutbah Jum’at; Bersikap Adil & Santunlah Kepada Sesama Muslim & Mukmin

Khutbah Jum’at; Bersikap Adil & Santunlah Kepada Sesama Muslim & Mukmin

Oleh: Ustadz Abu Yahya Al-Indunisiy

(Mata-Media.Com) Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Salah satu elemen penting didalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang sekarang ini lambat laun mulai hilang dan diabaikan adalah adab dalam menghukumi dan menilai sesuatu dan seseorang, khususnya antar sesama Muslim dan Mukmin.

Sebab realatanya, tak sedikit manusia pada zaman sekarang ini yang hanya berdasarkan informasi sepihak, tekanan penguasa atau orang yang menguasainya dan hanya prasangkanya belaka, dengan mudah menilai, mencurigai dan menghukumi sesuatu yang mana dia tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.

Padahal berbuat adil dalam menghukumi dan santun kepada sesama Muslim dan Mukmin, terutama sesama Mujahidin adalah akhlaq Islam yang agung, yang merupakan tujuan diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ ۖ

“Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata, dan kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca keadilan, supaya manusia dapat berlaku adil..” (QS. Al-Hadid 57 : 25)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Maksud diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab-kitab adalah untuk menghukumi manusia dengan adil, dalam perkara yang menjadi hak-hak Allah dan hak-hak makhluq (manusia)”. (As-Siyasah Asy-Syar’iyyah, hal. 37). Dan beliau rahimahullah juga menyebutkan bahwa berbuat adil itu ada tiga (3) macam; Pertama, adil kepada Allah, yaitu tauhid dan ibadah, dan dua (2) hal ini adalah perbuatan adil yang paling besar. Kedua, adil kepada kepada diri sendiri. Ketiga, adil kepada hamba atau sesama manusia.

Masih menurut Syaikhul Islam rahimahullah, “Adil itu adalah kelurusan atau keseimbangan atau tawasuth, (sebab) dia (adil itu) adalah kelurusan hati, sebagaimana kedhzoliman merusaknya (mengoyak keadilan). Oleh karena itu, semua dosa-dosa yang dilakukan seseorang didalamnya ada bentuk kedzoliman terhadap dirinya sendiri. Kedzoliman merusak dan mengoyak keadilan, sehingga seseorang tidak bisa bersikap adil kepada dirinya, bahkan tenggelam dalam kedzoliman itu. Karena itu kelurusan hati itu dengan berbuat adil, dan kerusakan hati itu dengan kedzoliman. Sehingga seseorang hamba yang melakukan kedzoliman, maka ia orang yang dzolim dan terzolimi (oleh dirinya sendiri). Demikian orang yang adil, berarti ia orang yang adil dan orang yang mendapat keadilan (dari dirinya sendiri), dari sanalah seseorang beramal, dan diatas amal itulah akan berbuah kebaikan atau keburukan. Allah Ta’ala berfirman: “Ia mendapat pahala dari kebajikan yang diusahakannya, dan ia mendapat siksa dari kejahatan yang dikerjakannya” (QS. Al-Baqarah 2 : 286)“. (Majmu’ Fatawa, 10/98)

Seorang Mukmin harus memahami definisi adil dan bersikap santun, konsekwensi-konsekwensinya, dan beramal dengannya. Berbuat adil dan bersikap santun yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan kepada kita terhadap orang-orang yang menyelisihi, keduanya memiliki tuntutan-tuntutan. Barangsiapa yang mendatangkan konsekwensi-konsekwensi dan tuntutan-tuntutan keduanya, maka dia dapat berbuat adil, tawasuth dan santun. Dan barangsiapa yang tidak mendatangkan keduanya, maka ia menjadi orang yang dzolim dan merusak, baik tatanan keimarohan jama’ah mim ba’dil muslimin ataupun sekup yang lebih besar, yakni Daulah Islamiyyah, juga mengoyak dan merobek-robek ukhuwah imaniyah dan dien, wa iyadzan billah!!

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Diantara tuntutan-tuntutan berbuat adil, inshof dan santun dalam berbagai keadaan, terutama ketika terjadi perselisihan sesama Muslim dan Mukmin yaitu :

Pertama; Melakukan tatsabut atau pembuktian syar’iy (keterbuktian secara hukum) dalam suatu perkara sebelum menjatuhkan hukum

Diantara bagian sikap adil dan inshof yaitu meneliti sampai pada bukti-bukti syar’iy dari setiap khabar (berita) atau sesuatu yang terjadi secara dhohir, sebelum menjatuhkan hukum terhadapnya ataupun hanya sekedar mencurigai sesuatu hal yang ada dalam pikirannya. Dan masuk dalam perkara kedzoliman dan permusuhan bila seseorang menetapkan hukum terhadap suatu perkara hanya bermodalkan persangkaan-persangkaan dan dugaan angan-angan, sebelum melakukan penelitian yang sempurna tentang masalahnya. Firman Allah Ta’ala,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا ﴿٣٦﴾

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Israa’ 17 : 36). Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Telah berkata Ali bin Abi Tholhah dari Ibnu Abbas, ia berkata : “Janganlah kamu bicara (terhadap perkara yang tidak diketahui)”.

Al-Aufiy berkata: “Seseorang tidak boleh mengungkapkan apa yang tidak ada pengetahuan tentangnya”. Muhammad bin Hanafiyyah berkata: “Yakni persaksian yang palsu”. Qotadah berkata: “Janganlah kalian mengatakan ; Aku melihat padahal sebenarnya tidak melihat, aku mendengar padahal sebenarnya tidak menedengar, aku memiliki pengetahuan padahal sebenarnya tidak memiliki pengetahuan, karena Allah Ta’ala akan menanyakan tentang semuanya itu”. Dan kandungan apa yang para ulama sebutkan tersebut yaitu sesungguhnya Allah Ta’ala melarang dari sebuah ucapan tanpa dasar ilmu atau pengetahuan, bahkan dengan dugaan, sangkaan dan angan-angan kopong belaka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Jauhilah oleh kalian kebanyakan prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa”, selesai.

Allah Ta’ala berfirman,

 يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah oleh kalian” (QS. Al-Hujurat 49 : 6). Dalam sebuah qiro’ah; “Maka telitilah oleh kalian” maknanya bahwa ahlul iman yang berakal dan inshof, mereka melakukan penelitian terhadap khabar (berita) dan informasi yang diambil diantara manusia dari ucapan-ucapan baik dan keadaan rusaknya sebuah khabar, dengan merujuk dan membandingkan sumber sebenarnya”.

Kedua; Mendahulukan husnudzhon kepada seorang Muslim

Asal dari sikap husnuzhon (berprasangka baik atau berbaik sangka) ini adalah konsekwensi dari firman Allah Ta’ala,

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah oleh kalian kebanyakan dari prasangka, karena sebagian prasangka adalah dosa, dan janganlah kalian mencari-cari kesalahan dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain”. (QS. Al-Hujurat 49 : 12)

Allah Ta’ala dalam ayat ini memerintahkan manusia untuk menjauhi kebanyakan prasangka, karena sebagiannya banyak menyebabkan dosa, dan larangan dari mengorek-ngorek kesalahan orang lain. Hal ini mengisyaratkan bahwa Tajassus (mencari-cari kesalahan) tidak terjadi melainkan karena su’udzhon (berprasangka buruk atau berburuk sangka), yang kebanyakan karena hawa nafsu dan jerat syaiton yang menghadang disetiap keadaan. Maka, saat datang su’udzhon terhadap seorang Muslim, segeralah berlindung kepada Allah dari jerat syaithon dan jerat manusia yang dzolim.

Pada asalnya, seorang Muslim diperintahkan menjaga diri dari hal-hal yang rahasia (yang tidak diketahuinya) dan berbaik sangka tehadapnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang yang beriman untuk berhusnudzon ketika mendengar khabar yang bersifat celaan terhadap saudara-saudara mereka, akan tetapi mengingkari dengan keras perihal celaan yang didengarnya terhadap saudara-saudaranya. Sebagaimana yang terjadi pada kisah haaditsul ifki –kisah Ummahatul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha yang dituduh berbuat keji–, ketika merebak berita qila wa qala –katanya-katanya–.

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan kedudukan yang benar dari kejadian itu yang mana setiap Muslim harus mengetahuinya. Allah Ta’ala berfirman, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang Mukmin dan Mukminat tidak berprasangka baik kepada diri mereka sendiri, dan mengapa tidak berkata : “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata” (QS. An-Nuur 24 : 12). Kemudian Allah menjelaskan bahwa pengucapan dengan ucapan ini (ini adalah suatu berita bohong yang nyata) dan penggunaannya adalah perkara yang sangat besar. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, “–Ingatlah– di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut, dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal ia disisi Allah adalah besar”. (QS. An-Nuur 24 : 15)

Kemudian Allah Ta’ala memberi pelajaran kepada kita agar tidak terjatuh dalam permisalan dosa yang sangat besar itu, dengan firman-Nya, “Allah memperingatkan kamu agar jangan kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya. Jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Al-An-Nuur 24 : 17)

Allah Ta’ala juga menjelaskan bahwa sekedar mengambil ucapan yang buruk dari yang lain tanpa adanya dhorurotu syariyyah –darurat yang dibolehkan–, tanpa adanya penelitian bukti-bukti dan tidak berasal dari sumber yang shahih, maka itu adalah suatu dosa. Allah Ta’ala berfirman, “Tiap-tiap orang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya”. (QS. An-Nuur 24 : 12)

Dalam hadits shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Cukuplah seseorang itu dikatakan pendusta bila mengucapkan setiap apa yang didengar”. (HR. Muslim)

Abdurrahman bin Mahdiy rahimahullah berkata, “Seseorang tidak akan menjadi imam yang diteladani, hingga menahan diri dari sebagian apa yang ia dengar”. (Al-Adlu wal Inshof, Syaikh Makmun Hakim rahimahullah)

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Walhasil, Allah Ta’ala telah memerintahkan kepada kita semua untuk meneliti bukti-bukti dari setiap khabar-khabar yang datang, dan tidak hanya sekedar menelan mentah-mentah, lalu serta merta ikut mencurigai dan menghukumi. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ ﴿١٢﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti. Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat 49 : 6)

Ketiga; Adil dalam mengkritik dan meluruskan yang salah

Syaikh Makmun Hatim rahimahullah berkata, “Adalah sebuah keniscayaan, kita menerapkan manhaj Islam dalam meluruskan kesalahan dan menguatkan pelakunya, dan itu adalah satu-satunya jalan untuk mendapatkan tujuan dari pengkritikan dan manhaj yang sesuai syar’iy. Dalam mengaplikasikan hal inipun ada tiga (3) gambaran :

1) Hendaknya dilandasi ilmu, keadilan dan inshof ketika mengkritik dan meluruskan kesalahan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Pembicaraan yang dilontarkan kepada manusia wajib dilandasi ilmu dan keadilan, bukan dengan kejahilan dan kedzoliman, seperti keadaan ahlu bid’ah”. (Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah, 4/337)

Jadi barangsiapa yang berbicara tanpa dilandasi ilmu, maka ia menyelisihi al-kitab, as-sunnah dan manhaj para salafush-sholih, serta ia telah menyelisihi Firman Allah Ta’ala, “Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungan jawabnya “ (QS. Al-Israa’ 17 : 36). Dan barangsiapa yang berbicara tanpa ilmu, akan tetapi berbuat kedzoliman, ucapan palsu dan mengada-ada, sungguh ia telah menyelisihi Firman Allah Ta’ala, “Berbuat adillah, karena berbuat adil itu lebih dekat kepada taqwa”.

Dan barangsiapa yang berbicara kepada orang lain tanpa ilmu, namun malah sebaliknya yakni dengan kedzoliman, maka ia adalah sebab dari banyaknya perpecahan hati, persengketaan dan percekcokan, hasad dan permusuhan, meskipun lisan dan tulisannya menginginkan persatuan, namun pada hakikatnya dia tidak memahami hakikat persatuan. Bahkan itu semua menjadi sebab hancur dan hilangnya persatuan shaff kaum Muslimin dan khususnya Mujahidin serta kekuatannya. Wal-‘iyadzubillah..

2) Salah satu bentuk keadilan yaitu wajib dalam memberi kritikan dilakukan dengan niat dan tujuan yang baik, dan bukan untuk menjatuhkan. Karena hukum-hukum syar’iyyah tersebut dibangun di atas niat-niat dan tujuan-tujuan yang baik. Sebagaimana diucapkan Imam Ibnu Qayyim rahimahullah dalam I’lammul Muwaqiin, 3/69. Oleh karena itu ayyuhal ikhwah, tanyakan kepada diri kita saat kita mengkritik, apakah tujuannya baik dan tulus ikhlas karena Allah Ta’ala??

3) Ucapan yang dilontarkan kepada orang yang bersalah hendaklah tujuannya untuk memperbaiki dan meluruskan, bukan dalam rangka menghancurkan, menjatuhkan atau mengguggurkannya. Selain itu harus memperhatikan keadaan pribadi yang di ishlah dan diperbaiki, dan tetap mengakui keutamaan-keutamaan serta kebaikan-kebaikan, dan tidak boleh mengingkari apa yang ada disisinya berupa kebaikan, karena sebab penyelisihan dan kesalahan, karena itu perbuatan kaum Yahudi, dan kita berlindung kepada Allah dari hal itu.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Inilah sejumlah kaidah dan adab yang harus kita perhatikan dan amalkan ditengah-tengah masyarakat Muslim pada akhir zaman seperti sekarang ini jika menginginkan timbulnya kekuatan dan sebuah persatuan. Akhiru kalam, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan para sahabatnya, Aamiin.. Wallahu a’lam… [RMC]

Check Also

Saudi Bolehkan Pria & Wanita Makan Bersama di Restoran

RIYADH (Mata-Media.Net) – Negara Arab Saudi semakin bertambah liberal. Kini, pemerintah Arab Saudi dibawah kekuasaan Putra Mahkota, ...