Thursday , November 21 2019
Home / Headline / Kerjakanlah 3 Hal yang Diridhai Allah & Jauhilah 3 Hal yang Dibenci Allah

Kerjakanlah 3 Hal yang Diridhai Allah & Jauhilah 3 Hal yang Dibenci Allah

(Mata-Media.Net) – Khutbah Pertama,

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Sebagai seorang Muslim, sudah tentu kita menginginkan Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai setiap amal perbuatan kita, dan menjauhkan kita dari perbuatan apa saja yang dibenci oleh Allah. Lalu apa saja perbuatan yang di ridhai dan di benci oleh Allah??

Imam Ahmad dan Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan dengan lafadz yang semakna dari jalan sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلاَثًا، فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَأَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ؛ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai untuk kalian tiga (3) hal dan membenci dari kalian dari tiga hal: Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai kalian agar beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun, berpegang kuat dengan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala semuanya (bersatu) dan tidak bercerai berai; serta agar menasihati orang yang Allah telah jadikan sebagai penguasa bagi kalian. (Dan Allah) membenci kalian dari mengatakan (setiap apa yang) dikatakan (kepada kalian), banyak bertanya, dan membuang-buang harta”. (HR. Ahmad dan Muslim)

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Didalam hadits yang mulia ini, Nabi Muhammad memberitakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai kita untuk memiliki 3 sifat yang dengannya seseorang akan berbahagia di dunia dan akhirat.

Sifat-sifat tersebut yang pertama adalah agar kita memperbaiki akidah dengan memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata dan berlepas diri dari berbagai jenis kesyirikan. Ini adalah perkara pertama yang harus diperhatikan oleh setiap Muslim.

Sebab, akidah merupakan pondasi yang dibangun di atasnya amalan seseorang. Apabila baik akidahnya, akan bernilai sebagai ibadah dan akan bermanfaat amal shalihnya. Adapun jika rusak akidahnya, amalannya tidak bermanfaat dan tidak bernilai di sisi Allah. Oleh karena itu, seluruh rasul diperintah untuk mengajak pada perbaikan akidah sebelum hal yang lainnya, dan menjauhi Thaghut. Setiap rasul mengatakan,

فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Rabb bagimu selain- Nya”. (QS. Al-A’raf 7 : 59)

Dan Allah Ta’ala juga berfirman:

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ}

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut ” (QS. An-Nahl 16 : 36)

Perkara kedua yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha terhadap hamba-Nya adalah agar kaum Muslimin bersatu di atas agama-Nya dan meninggalkan perpecahan. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk mengikuti jalan yang satu, yaitu jalan Rasulullah dan para sahabatnya.

Umat Islam juga tidak boleh berpecah belah dalam akidah dan ibadah, serta dalam hal yang berkaitan dengan hukum-hukum agama. Meskipun tidak dipungkiri bahwa berbeda dan berselisih adalah sifat dan tabiat manusia, namun hal tersebut tidak berarti diperbolehkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan jalan keluar ketika terjadi perselisihan, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya,

فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al- Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”. (QS. An-Nisa’ 4 : 59)

Maka dari itu, jangan sampai kaum Muslimin memiliki akidah dan ibadah yang berbeda-beda. Begitu pula tidak boleh masing-masing menetapkan hukum, ini halal dan ini haram dari dirinya sendiri tanpa berdasarkan dalil syar’i dan bimbingan para ulama.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Perlu diketahui bersama bahwa berpecah belah adalah sifat orang-orang Yahudi dan Nashrani yang umat Islam dilarang untuk mengikuti jalan mereka sebagaimana tersebut dalam firman Allah,

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-kitab kepada mereka (Yahudi dan Nasrani) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata”. (QS. Al-Bayyinah 98 : 4)

Didalam ayat lainnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. (QS. Ali-‘Imran 3 : 105)

Dari ayat tersebut kita juga memahami bahwa perpecahan bukanlah rahmat. Justru perpecahan adalah adzab dan akan membuat kaum Muslimin saling bermusuhan. Selain itu, perpecahan atas dasar ketidaksukaan terhadap pribadi seseorang dan bukan perkara ushul (pokok) dalam masalah dien (agama) juga akan mencegah kaum Muslimin untuk saling menolong dalam kebaikan, dan mendapat pertolongan dari Allah.

Oleh karena itu, yang semestinya dilakukan oleh kaum Muslimin agar menjadi umat yang satu adalah dengan kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah serta mengikuti jalan dan petunjuk dari Rasulullah, baik dalam persoalan akidah, ibadah, muamalah, maupun perselisihan yang terjadi diantara umat Islam.

Perlu diingat, agama Islam adalah agama yang menjaga persatuan dan kebersamaan dalam banyak permasalahan, seperti dalam bermasyarakat dan bernegara, maupun dalam menjalankan ibadah shalat, haji, berhari raya, dan yang semisalnya.

Karena itu, sungguh memprihatinkan keadaan sebagian kaum Muslimin yang berpecah-belah dalam kelompok-kelompok tertentu yang masing-masing bangga dengan kelompoknya serta fanatik buta membela kelompoknya tanpa melihat benar atau salah, dan terlebih jika ditengah-tengah mereka telah tegak Daulah Khilafah Islamiyyah.

Maka sudah sepantasnya bagi umat Islam untuk bersatu dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah, dan tidak mengedepankan egonya, dan ashobiyyahnya untuk membela kelompoknya disaat Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan nikmatnya berupa sistem kenegaraan yang di ridhai Allah.

Adapun perkara ketiga yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha untuk kita menjalankannya adalah menegakkan nasihat terhadap penguasa seperti seorang Khalifah dengan menaatinya, mendoakan kebaikan untuknya ataupun membantunya untuk kebaikannya dan kebaikan masyarakatnya.

Penguasa yang dimaksud adalah penguasa Muslim yang sah yang memimpin suatu negeri dengan syari’at Allah dan memiliki wilayah (tamkin) serta kekuatan, baik dia menjadi penguasa dan pemimpin dengan cara dipilih maupun cara yang lainnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala ridha kepada kaum Muslimin untuk menaati pemerintah yang menerapkan syari’at dan hukum Islam dalam perkara yang ma’ruf, dan tidak melanggar aturan yang telah ditetapkannya selama tidak bertentangan dengan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Begitu pula orang-orang yang mengemban amanat atau tugas dari penguasa, seperti para pegawai pemerintahan atau yang semisalnya, wajib bagi mereka untuk menjalankan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak boleh baginya untuk memanfaatkan tugas yang diembannya sebagai kesempatan untuk mengeruk keuntungan pribadi atau orang-orang dekatnya sehingga berlaku tidak adil dan merugikan masyarakat secara umum.

Jama’ah Jum’ah rahimakumullah… Perlu diingat pula bahwa adanya seorang Khalifah atau Amir bagi suatu masyarakat adalah karunia dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar. Tidak bisa dibayangkan apa yang akan terjadi apabila suatu negara tidak ada pemimpinnya, terlebih pemimpin yang menerapkan syari’at Islam secara kaffah. Tentu kekacauan, rasa tidak aman, dan ketakutan akan menyelimuti negeri tersebut.

Akan tetapi, tentu saja seorang pemimpin tidak akan menjadi sebab kebaikan ketika masyarakat tidak mau menaatinya dan menghormatinya. Maka dari itu, sungguh hal ini merupakan prinsip-prinsip yang sangat penting untuk dipahami dan diamalkan oleh setiap Muslim. Wallahu A’lam..

Akhir Khutbah Pertama,

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ

الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْمِ

Khutbah Kedua,

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَقَالَ اللَّهُ تَعَالَى : { وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى }
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Bagian Doa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَ ذُنُوْبَ وَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

وَصَلى الله وسَلم عَلَى مُحَمد تسليمًا كَثيْرًا وآخر دَعْوَانَا لله رَب الْعَالَميْنَ

Untuk bacaan doanya bisa ditambahi sendiri-sendiri oleh khotib sesuai kebutuhan dan hajatnya. [Abdurrahman/dbs]

Check Also

Demo Tolak Kenaikan BBM di Iran Tewaskan 106 Lebih Orang Syiah

TEHERAN (Mata-Media.Net) – Aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara Syiah Iran mengakibatkan sebanyak 106 orang ...