Tuesday , October 15 2019
Home / Headline / Ketegasan Abu Bakar Ash-Shiddiq Setelah Diangkat Jadi Khalifah

Ketegasan Abu Bakar Ash-Shiddiq Setelah Diangkat Jadi Khalifah

Oleh: Hadi Musthofa

(Mata-Media.Com) – Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, beliau sempat menyiapkan pasukan di bawah panglima muda, yakni Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu yang ditugaskan untuk mengamakan perbatasan dari serangan Romawi. Inilah peninggalan Rasulullah sebelum wafat. Betapa beliau sangat memperhatikan keselamatan umatnya dari ancaman orang-orang Romawi (Kafir).

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menjadi Khalifah dan membangun sistem pemerintahan Khilafah Islamiyyah yang sebelumnya dirintis dan diajarkan oleh Rasulullah, para sahabat utama mengusulkan agar pasukan yang belum sempat diberangkatkan oleh Rasulullah itu tidak diberangkatkan, akan tetapi digunakan untuk menjaga kota Madinah yang terancam musuh. Sebab kala itu, Madinah juga menghadapi ancaman dari orang-orang yang Murtad.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, namun Abu Bakar menolak usulan para sahabat utama itu. Khalifah pertama itu menjawab dengan kata-kata yang mencerminkan limpahan kekuatan, keteguhan iman, tekad dan komitmentnya yang tidak dapat ditawar-tawar mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Wallahi. Aku tidak akan membatalkan apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekalipun burung-burung menyambar kita, binatang buas mengepung Madinah, dan anjing-anjing menyeret Ummul Mukminin. Aku akan tetap memberangkatkan pasukan Usamah! Dan seandainya di negeri ini tidak ada yang tersisa kecuali aku, pasti aku akan tetap melaksanakana itu”, tegas Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Usamah ketika itu usianya baru 20 tahun, sedangkan di dalam pasukan itu, banyak para sahabat utama dari Anshar dan Muhajirin yang lebih senior, dan para shahabat meminta kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengusulkan kepada Abu Bakar agar mengganti Usamah. Tetapi, Abu Bakar malah marah. Sambil memegang janggut Umar, kemudian Abu Bakar berkata : “Engkau meminta aku untuk mengganti orang yang telah ditunjuk oleh Rasulullah?”, tegasnya.

Akhirnya, Abu Bakar melepaskan pasukan yang dipimpin Usamah. Khalifah yang menggantikan Rasulullah itu mengantarkan pasukan yang dipimpin Usamah hingga keluar kota Madinah, dan Abu Bakar berjalan kaki, sedangkan Usamah menaiki kuda.

Usamah berkata : “Wahai Khalifah Rasulullah. Kita naik kuda bersama-sama atau berjalan kaki bersama-sama”. Kemudian Abu Bakar menjawabnya : “Tidak. Naiklah. Aku ingin mengotori kakiku dengan debu fie sabilillah beberapa jam lamanya”, ucapnya.

Abu Bakar memberikan taushiyah saat melepas pasukan Usamah, sebagai bukti pemahamannya yang mendalam terhadap ruh Al-Qur’an.

“Janganlah kalian berkhianat, janganlah kalian menipu dan berbuat dusta. Janganlah kalian mencabik-cabik jenazah musuh. Janganlah membunuh anak-anak, orang tua yang lemah, dan kaum wanita. Janganlah kalian menebang pohon yang berbuah. Janganlah kalian menyembelih kambing, sapi, unta, kecuali untuk di makan. Kalian juga akan menemui kaum yang tetap beribadah di tempat-tempat ibadah, biarkanlah mereka dengan pekerjaannya. Berangkatlah kalian dengan menyebut nama Allah,” pesan Abu Bakar.

Usamah bin Zaid kemudian berangkat, maka pemberontakan di Yaman semakin merajalela. Si Nabi palsu, Musalaimah Al-Kadzdzab dan Thulaihah mulai menyeru orang-orang untuk mengakui kenabian mereka. Tidak sedikit diantara mereka yang menyambutnya.

Sebagian penduduk di jazirah Arab menolak membayar zakat. Bahkan Abu Bakar menerima informasi para pemberontak telah mengepung Madinah dan memerangi orang-orang Islam. Timbullah kegoncangan di kalangan kaum Muslimin.

Abu Bakar lalu bermusyawarah dengan para sahabat utama untuk memerangi orang-orang yang ingkar. Tetapi, sebagian besar para sahabat menolak. Maka, Abu Bakar berkata : “Wallahi. Seandainya mereka menolak menyerahkan zakat unta dan kambing yang pernah diserahkan kepada Rasulullah, pasti aku memerangi mereka”, tegasnya.

Mendengar ucapan Abu Bakar itu, Umar berkata : “Mengapa kita harus membunuh mereka, bukanlah Rasulullah telah bersabda : “Aku telah diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan “laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan Rasulullah”, barangsiapa yang telah mengucapkannya, maka terpelihara harta dan darahnya dariku, kecuali karena haknya, sedang penghisaban mereka ada pada Allah”.

Abu Bakar menjawab : “Wallahi. Aku akan memerangi orang yang memisahkan zakat dan shalat. Sesungguhnya zakat adalah hak pada harta. Sedang Nabi bersabda pada hadist itu : ” .. Kecuali karena haknya”. Mendengar jawaban Abu Bakar itu, kemudian Umar menukasnya : “Wahai Khalifah Rasulullah! Lemah lembutlah kepada manusia!”, ucap Umar.

Abu Bakar kemudian menanggapi dengan marah sanggahan Umar : “Hai Umar. Tadinya aku berharap engkau membantuku, ternyata engkau lemah. Apakah engkau pemberani saat jahiliyah dan pengecut setelah Islam? Agama telah sempurna, dan wahyu telah habis”.

Dan ketika ditanya dengan siapa engkau memerangi mereka, maka Abu Bakar menjawabnya : “Sendirian”.

Pendirian Abu Bakar mencerminkan dalamnya pandangannya terhadap fikrah Islam dan keteguhannya. Sekiranya Abu Bakar menerima keislaman mereka yang kurang karena tidak membayar zakat, berarti Abu Bakar membuat cacat terhadap prinsip (mabda’) ajaran Islam dan menjadikannya sebagai sesuatu yang bisa ditawar-tawar. Jika Abu Bakar lemah menghadapi orang-orang yang Murtad dan tidak membayar zakat, di masa depan akan meninggalkan tradisi berbahaya yang merusak rukun dan mabda’ Islam bagi generasi yang akan datang.

Dari sikap Abu Bakar ini, bisa diketahui dan difahami bahwa menyeru orang untuk mengetahui dan memahami agama Islam, khususnya dalam hal-hal pokok Islam tidak selamanya harus dengan lemah lembut dan kasih sayang. Namun ada kalanya harus dengan sikap tegas dan kuat dalam berpendirian, meskipun para pencela akan melontarkan syubhatnya dikarenakan masih bimbang dan lemah aqidahnya.

Abu Bakar tahu sikapnya itu akan mengundang bahaya bagi umat Islam dan Daulah Islam yang baru berdiri. Namun Khalifah yang masyhur itu tetap berpegang pada pendiriannya. Berpegang teguh kepada yang haq dan memelihara keutuhan Islam secara sempurna bagi generasi Muslim sesudahnya, ketimbang memelihara keutuhan kaum Muslimin dan negaranya, namun tanpa memiliki aqidah dan fikrah yang benar serta ajaran yang utuh. Karena, Daulah itu bukan tujuan. Sehingga fikrah Daulah didirikan untuk dakwah, untuk memelihara dan membela dakwah. Abu Bakar memilih menyelamatkan umat Islam dari fitnah dan melindungi Islam dari cacat dan kebinasaan.

Orang-orang yang Murtad dan tidak mau membayar zakat itu, tahu kekuatan umat Islam di Madinah yang dipimpin Abu Bakar. Jumlahnya masih sangat sedikit dan tidak ada pasukan disitu. Maka Abu Bakar mengumpulkan kaum Muslimin, seraya mengucapkan : “Di negeri ini telah muncul kekafiran. Utusan mereka telah melihat jumlah kalian sedikit. Dan kalian tidak tahu. Entah siang atau malam, kalian akan diserang oleh mereka. Yang paling dekat dengan kalian adalah kurang dari 12 mil. Mereka menginginkan kita mengikuti kemauan mereka, tetapi kita menolaknya, maka bersiap-siaplah kalian”, tegas Abu Bakar.

Akhirnya pecahlah pertempuran antara kaum Muslimin dengan para Murtaddin. Abu Bakar memimpin kaum Muslimin memerangi orang-orang Kafir dan Murtad. Ketika kabilah-kabilah melihat orang-orang yang Murtad dan Kafir itu kalah, kemudian mereka membayar zakat kepada Abu Bakar.

Kemudian, kaum Muslimin menyaksikan pula pasukan yang dipimpi Usamah bin Zaid itu pulang dengan membawa kemenangan. Pertempuran itu mengingatkan para sahabat pada peristiwa Badar, di mana jumlah kaum Muslimin yang masih sedikit, ketika menghadapi orang-orang Kafir, dan memperoleh kemenangan.

Dalam harbur riddah (peperang melawan orang Murtad) mendapat ujian, dan kaum Muslimin dapat mengalahkan orang-orang yang Murtad, dan jazirah Arab kembali ke pangkuan Islam, kembali kepada dienul haq dan berwala’ (memberikan loyalitasnya) kepada Daulah Islam.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, Abu Bakar menjadi Khalifah tidak terlalu lama, hanya 2,5 tahun dan kemudian wafat. Ketika kondisinya semakin payah, dan keinginannya mengangkat Umar bin Khaththab untuk menggantikannya, kemudian mendapatkan persetujuan kaum Muslimin dan para sahabat, maka ia memanggil Utsman bin Affan dan menuliskan sebuah wasiat.

Bismillaahirrahmanirrahim…

“Sesungguhnya aku jadikan Umar bin Khaththab sebagai Khalifah atas kalian sepeninggalku, maka dengar dan patuhilah kepadanya. Sesungguhnya aku tidak mengabaikan kebaikan bagi Allah, Rasul, din-Nya, diriku dan kalian. Bila Umar berlaku adil, maka itulah dugaanku dan pengetahuanku tentangnya. Bila ia berbuat berbeda, maka setiap orang akan menanggung kesalahan yang diperbuatnya. Yang aku inginkan hanyalah kebaikan dan aku tidak mengetahui yang ghaib. Orang-orang yang berbuat dzalim akan mengetahui ke mana mereka akan kembali”.

Wassalamu’alaikum warahmatullah…

Kemudian Abu Bakar bertanya : “Relakah kalian dengan yang aku angkat?” Demi Allah. Sesungguhnya aku telah bersungguh-sungguh dengan pendapatku. Aku tidak mengangkat kerabatku, tetapi aku mengangkat Umar bin Khaththab. Maka dengarkanlah dan patuhilah ia”. Mereka menjawab : “Kami mendengar dan patuh!”. Mereka pun membai’at Umar.

Setela itu Abu Bakar menyampaikan pidatonya saat-saat terakhir hidupnya.

“Seungguhnya aku mengangkatmu sebagai Khalifah sepeninggalku. Aku berwasiat kepada engkau, hendaklah bertaqwa kepada Allah. Sesungguhnya Allah mempunyai amal di malam hari yang tidak Dia terima di siang hari, dan amal di siang hari yang Dia tidak terima di malam hari. Dia tidak menerima ibadah nafilah (sunnah) sampai ibadah fardhu dijalankan. Bila engkau telah memelihara wasiatku ini, maka tidak ada keghaiban yang lebih engkau cintai selain kematian. Sedang ia akan menimpamu. Jika engkau mengabaikan pesanku , maka tidak ada keghaiban yang lebih engkau benci selain kematian”.

Setelah Umar beranjak, Abu Bakar berdoa : “Ya Allah. Aku tidak menginginkan kecuali kebaikan pada mereka. Aku takut mereka terkena fitnah, maka aku berbuat untuk mereka dengan sesuatu yang Engkau Lebih Tahu dan untuknya aku berjihad”.

Sebelum meninggal, Abu Bakar berucap kepada keluarganya. Diantaranya : “Sejak diangkat menjadi pemimpin kaum Muslimin, kami sungguh tidak pernah makan dinar maupun dirham mereka. Kami hanya makan tepung kasar untuk perut kami. Kami juga hanya memakai pakaian kasar untuk tubuh kami. Maka perhatikanlah, jika ada yang lebih pada hartaku, sejak aku menjadi Khalifah, maka ambillah ia dan serahkanlah kepada Khalifah sesudahku”, ujar Abu Bakar.

Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha bertutur : “Ketika Abu Bakar meninggal, kami periksa warisan yang ia tinggalkan. Ternyata kami hanya mendapatkan seorang budak (hamba sahaya) Habsyi (hitam), seekor unta pengangkut air, dan baju usang yang harganya hanya lima (5) dirham.

Kemudian kami menyerahkan kepada Umar bin Khaththab. Melihat barang-barang itu, Umar meneteskan air matanya, seraya berkata : “Wahai Abu Bakar. Engkau telah menjadikan khalifah sesudah engkau susah untuk menirumu”, ucapnya. Lalu, Umar menyerahkan barang-barang itu ke baitul maal. [Edt/Abd]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...