Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Anjuran Mencari Lailatul Qadar & Bacaan Doa Pada Malam Lailatul Qadar

Anjuran Mencari Lailatul Qadar & Bacaan Doa Pada Malam Lailatul Qadar

Oleh: Abdurrahman

(Mata-Media.Net) Tak terasa, bulan Ramadhaan 1440 H/2019 M akan segera usai dan meninggalkan kita semua. Datangnya Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran pun sudah di depan mata. Pada hari-hari terakhir di bulan Ramadhan ini, istilah Lailatul Qadar atau Lailatul Qadr pun kerap terngiang di benak kaum Muslimin.

Setiap Muslim yang sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam pasti akan sangat merindukan Lailatul Qadr. Lailatul Qadr adalah malam penting yang hanya terjadi di bulan Ramadhan saja dan malam Lailatul Qadr juga malam yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melibihi malam-malam lainya.

Malam Lailatul Qadr teramat istimewa karena malam itu dengan kadar lebih baik dari 1.000 bulan, atau 83 tahun 3 bulan. Selain itu, malam Lailatul Qadr juga dipercaya sebagai waktu turunnya para Malaikat dengan dipimpin langsung Malaikat Jibril ‘alaihissalam atas izin-Nya.

Malam Lailatul Qadr menurut sejumlah hadits terjadi pada 1 malam ganjil pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan (malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29). ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Rasulullah ber’itikaf pada sepuluh (10) hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, ‘Carilah malam Qadar pada malam ganjil dari 10 malam terakhir dari bulan Ramadhan”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, ada doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jikalau kita bertemu dengan malam kemuliaan tersebut. Diriwayatkan bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang sebaiknya aku baca bila bertepatan dengan malam Lailatul Qadar?” Rasulullah bersabda: “Bacalah (berdoalah):

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ’anni (Yaa Allah, Engkau Maha Pemaaf dan Engkau mencintai orang yang meminta maaf, karenanya maafkanlah aku)”. (HR. Tirmidzi no. 3513 dan Ibnu Majah no. 3850. Abu ‘Isa At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al-Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Maksud dari “innaka ‘afuwwun” adalah yang banyak memberi maaf. Demikian kata penulis kitab Tuhfatul Ahwadzi.

Para ulama menyimpulkan dari hadits diatas tentang anjuran memperbanyak doa; “Allahumma innaka ‘afuwwun …” pada malam yang diharap terdapat Lailatul Qadar. Doa diatas begitu jaami’ (komplit dan syarat makna) walau terlihat singkat. Doa tersebut juga mengandung ketundukan hamba kepada Allah dan pernyataan bahwa dia tidak bisa luput dari dosa. Namun sekali lagi meminta ampunan seperti ini tidaklah terbatas pada bulan Ramadhan saja.

Al-Baihaqi rahimahullah berkata, “Meminta maaf atas kesalahan dianjurkan setiap waktu dan tidak khusus di malam Lailatul Qadar saja”. (Fadho-ilul Awqot, hal. 258)

Ibnu Rajab rahimahullah juga memberi penjelasan menarik,

و إنما أمر بسؤال العفو في ليلة القدر بعد الإجتهاد في الأعمال فيها و في ليالي العشر لأن العارفين يجتهدون في الأعمال ثم لا يرون لأنفسهم عملا صالحا و لا حالا و لا مقالا فيرجعون إلى سؤال العفو كحال المذنب المقصر

“Dianjurkan banyak meminta maaf atau ampunan pada Allah di malam Lailatul Qadar setelah sebelumnya giat beramal di malam-malam Ramadhan dan juga di sepuluh malam terakhir. Karena orang yang arif adalah yang bersungguh-sungguh dalam beramal, namun dia masih menganggap bahwa amalan yang ia lakukan bukanlah amalan, keadaan atau ucapan yang baik (sholih). Oleh karenanya, ia banyak meminta ampun pada Allah seperti orang yang penuh kekurangan karena dosa”.

Yahya bin Mu’adz pernah berkata,

ليس بعارف من لم يكن غاية أمله من الله العفو

Bukanlah orang yang arif jika ia tidak pernah mengharap ampunan Allah”. (Lathoiful Ma’arif, hal. 362-363)

Selain itu, hadits dari ‘Aisyah diatas juga menunjukkan bahwa doa pada malam Lailatul Qadar adalah doa yang mustajab sehingga dia bertanya pada Rasulullah mengenai doa apa yang mesti dipanjatkan di malam tersebut.

Hadits ‘Aisyah juga menunjukkan bahwa jika seseorang berdoa pada Allah diperantarai dengan tawassul melalui nama-nama Allah. Seperti dalam doa terlebih dahulu memuji Allah dengan ‘Allahumma innaka ‘afuwwun, yaitu Yaa Allah yang Maha Pemberi Maaf’. Bentuk doa semacam ini adalah bertawassul terlebih dahulu dengan nama atau sifat  Allah yang sesuai dengan isi doa yang dipanjatkan.

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, dalil dari hadits diatas juga menunjukkan bahwa sifat ‘afwu (pemaaf) adalah diantara sifat Allah. Maksud ‘afwu adalah memaafkan dosa yang diperbuat oleh seorang hamba.

Selain itu, hadits tersebut juga menetapkan sifat mahabbah (cinta) bagi Allah. Penetapan sifat disini adalah sesuai dengan keagungan Allah, tanpa dimisalkan dengan makhluk dan tanpa ditolak maknanya. Wallahu A’lam...

Semoga Allah memberi taufik dan kefahaman kepada kita untuk memperbanyak doa yang sedang kita kaji ini di penghujung bulan Ramadhan yang penuh berkah pada tahun 2019 M/1440 M ini, dan mempertemukan kita semua dengan bulan Ramadhan yang akan datang. Aamiin.. [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...