Sunday , December 15 2019
Home / Headline / 6 Kelompok Manusia Yang Rajin Puasa, Tapi Tak Diterima Allah Ta’ala

6 Kelompok Manusia Yang Rajin Puasa, Tapi Tak Diterima Allah Ta’ala

Oleh: Abdurrahman

(Mata-Media.Net) – Alhamdulillah kita semua telah dipertemukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan bulan suci Ramadhan tahun 1440 Hijriyah (H) atau 2019 Masehi (M) lagi. Salah satu ibadah yang disyariatkan oleh Allah utuk dilakukan umat Islam di bulan yang penuh berkah, ampunan dan rahmat tersebut adalah ibadah shiyam (puasa). Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang wajib dilakukan setiap kaum Muslimin yang taat dan beriman. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ ﴿١٨٣﴾

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah 2 : 183)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, puasa bukanlah sekedar menahan rasa lapar dan haus saja, namun sejatinya ketika kita semua berpuasa, maka dituntut untuk bisa menahan diri atau mengendalikan hawa nafsu. Sebab di akhirat nanti, akan ada banyak kelompok dan golongan orang-orang yang rajin berpuasa, akan tetapi pada akhirnya tetap saja puasanya tidak diterima Allah Ta’ala dan masuk neraka. Na’udzubillah min dzalik…

Ada sejumlah sebab kenapa kelompok dan golongan orang-orang tersebut melakukan puasa tapi kemudian hanya mendapatkan rasa lapar dan hausnya saja dan amalan puasanya tidak diterima oleh Allah Ta’ala, hal itu dikarenakan mereka tetap suka mengikuti hawa nafsunya. Berikut ini enam (6) kelompok orang yang rajin berpuasa, tetapi tetap tidak diterima puasanya oleh Allah Ta’ala dan nanti di akhirat akan dijebloskan ke dalam neraka karena mereka lalai dalam menjalankan ibadah puasa yang sesungguhnya dan sebenar-benarnya:

1. Puasanya Orang Yang Tidak Sholat

Sholat merupakan tiang dan pondasi agama. Semua amal ibadah tanpa didasari sholat maka nilainya nol. Begitupun dengan puasa, meski puasanya rajin dan selalu tamat sampai akhir Ramadhan, akan tetapi jika orang tersebut tidak pernah melaksanakan sholat baik secara keseluruhan atau hanya waktu-waktu tertentu saja, maka puasanya itu sama sekali tidak ada artinya. Puasanya hanya menahan lapar dan dahaga saja.

Secara hukum, sholat lima (5) waktu adalah ibadah yang hukumnya wajib. Konsekwensi hukum bagi orang yang meninggalkan sholat, maka amalannya tidak ada yang diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa haji, puasa, zakat, atau amalan apapun. Imam Bukhari meriwayatkan dari Buraidah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ صَلاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ

“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya”. (HR. Bukhari, no. 520)

Tentang hadits diatas, Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan, makna yang terkandung dari hadits tersebut bahwa bentuk at-tarku/meninggalkan itu ada dua (2). Pertama meninggalkan secara keseluruhan, tidak pernah sholat sama sekali. Bentuk ‘meninggalkan’ jenis ini berkonsekwensi pada kesia-siaan seluruh amalannya. Kemudian bentuk yang kedua, meninggalkan pada bagian atau waktu tertentu saja; tidak shalat pada hari-hari tertentu saja. Bentuk ‘meninggalkan’ jenis ini berkonsekwensi pada kesia-siaan amal hanya pada hari itu saja.

Kesia-siaan amal adalah konsekwensi dari meninggalkan shalat keseluruhan, kesia-siaan tertentu adalah konsekwensi dari meninggalkan shalat pada waktu tertentu saja. (Ash-Shalat, no. 65)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ

“Pemisah antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah ditinggalkannya sholat”. (HR. Muslim, no. 82)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ

“Perjanjian antara kami (Islam) dan mereka (orang Kafir) adalah sholat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah Kafir”. (HR. At-Tirmidzi, no. 2621). Maka dari itu, orang yang meninggalkan sholat, puasanya tidak sah dan tidak diterima. Sebab orang yang meninggalkan sholat statusnya adalah Kafir Murtad.

2. Puasanya Orang Yang Suka Berbohong

Orang yang berpuasa, akan tetapi masih suka berbohong atau berdusta dan bahkan menganggap kebohongannya itu adalah hal yang sepele, maka puasanya tidak sah dan tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan”. (HR. Bukhari no. 1903)

3. Puasanya Orang Yang Suka Maksiat

Tidak sedikit orang yang berpuasa tapi maksiatnya masih jalan terus. Seperti melakukan kemungkaran dan sesuatu yang diharamkan oleh agama. Oleh sebab itu, puasanya orang-orang yang masih menjalankan maksiat dan kemungkaran tidak akan pernah diterima oleh Allah Ta’ala. Sebagian ulama salaf berkata,

أهون الصيام ترك الشراب و الطعام

“Puasa yang jelek adalah jika saat puasa hanya meninggalkan minum dan makan saja”. (Latho’if Ma’arif, hal. 277). Maksudnya, puasa yang dilakukan hanya menahan lapar dan dahaga, namun maksiat masih terus jalan, seperti berdusta, pacaran, berjudi, minum khamr, dan lainnya.

Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu berkata,

إذا صمت فليصم سمعك و بصرك و لسانك عن الكذب و المحارم و دع أذى الجار و ليكن عليك وقار و سكينة يوم صومك و لا تجعل يوم صومك و يوم فطرك سواء

Apabila engkau berpuasa, maka puasakanlah pendengaran, penglihatan dan lisanmu dari dusta dan perkara yang diharamkan. Jangan sampai engkau menyakiti tetanggamu. Juga bersikap tenanglah di hari puasamu. Jangan jadikan puasamu seperti hari-hari biasa”. (Latho’if Ma’arif, hal. 277)

4. Puasanya Tidak Sesuai Tuntunan Nabi

Orang yang berpuasa tapi tata caranya tidak sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka puasanya tidak sah dan tidak diterima Allah Ta’ala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya (tuntunannya dari Nabi), maka perkara tersebut tertolak”. (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam hadits lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan berasal dari kami, maka amalan tersebut tertolak”. (HR. Muslim no. 1718)

5. Berpuasa Tapi Tidak Ikhlas

Semua amal ibadah, termasuk puasa harus didasari niat karena Allah Ta’ala saja, dan hatinya dipenuhi keikhlasan ketika menjalankannya. Namun, jika hati tidak ikhlas saat menjalankan ibadah puasa dan tidak didasari niat atas nama Allah, maka puasanya orang tersebut sia-sia dan tidak diterima Allah Ta’ala. Jangan sampai berpuasa, tapi hanya ingin dianggap orang yang kuat menahan haus dan dahaga, untuk mencari sanjunagn manusia, dan bentuk niatan lainnya yang bukan diniatkan karena Allah Ta’ala saja. Allah berfirman,

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya“.” (QS. Al-Kahfi 18 : 110)

Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih”, maksudnya adalah mencocoki syariat Allah (yakni mengikuti petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam). Dan “janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”, maksudnya selalu mengharap wajah Allah semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya. Inilah dua (2) rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 9/205)

Fudhail bin ‘Iyadh tatkala menjelaskan mengenai firman Allah,

لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. Al-Mulk 67 : 2), beliau mengatakan, “yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (sesuai dengan ajaran dan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Lalu Fudhail berkata lagi  “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima. Amalan barulah diterima jika terdapat syarat ikhlas dan showab. Amalan dikatakan ikhlas apabila dikerjakan semata-mata karena Allah. Amalan dikatakan showab apabila sesuai ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam”. (Jaami’ul ‘Ulum wal-Hikam, Ibnu Rojab Al-Hambali, Darul Muayyid, cetakan pertama, 1424 H)

6. Berpuasa Tapi Melakukan Pembatal Syahadat (Keislaman)

Yang terakhir adalah orang yang rajin berpuasa, namun melakukan pembatal syahadat atau keislaman. Inilah yang paling pokok dan penting dalam pembahasan kali ini. Tidak hanya puasa, ibadah-ibadah lainnya seperti sholat, zakat, infaq atau sedekah, haji dan lainnya juga tidak akan diterima oleh Allah Ta’ala jika seorang Muslim melakukan pembatal keislaman.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan kepada seluruh hamba–hambaNya untuk masuk ke dalam agama Islam secara kaffah, dan berpegang teguh denganya serta berhati–hati untuk tidak menyimpang dari agama Islam. Allah juga telah mengutus Nabi-Nya, Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi  wa sallam untuk berdakwah ke dalam hal ini, dan memberitahukan bahwa barangsiapa bersedia mengikutinya akan mendapatkan petunjuk dan barangsiapa yang menolaknya akan tersesat.

Selain itu, Allah juga mengingatkan dalam banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi untuk menghindari sebab-sebab kemurtadan, segala macam kemusyrikan dan kekafiran. Maka, Ahlus Sunnah wal-Jama’ah meyakini adanya perkara-perkara yang dapat membatalkan keislaman atau syahadat seseorang, sebagaimana puasa, shalat dan haji juga bisa batal. Untuk lebih jelasnya, artikel tentang pembatal syahadat dan keislaman bisa dibaca dalam link berikut ini => 10 Pembatal Keislaman Yang Wajib Diketahui Setiap Muslim. [Edt: Abd]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...