Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Masya Allah, Beginilah Indahnya Persaudaraan Sesama Muslim

Masya Allah, Beginilah Indahnya Persaudaraan Sesama Muslim

Oleh: Ustadz Ade Hidayat

(Mata-Media.Net) Islam adalah dien (agama, jalan hidup, petunjuk, dan lain-lainnya) yang bukan sekedar mengatur hubungan manusia dengan Sang Khaliq, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala (hablum-minallaah), namun juga membimbing setiap pemeluknya untuk membina hubungan harmonis dengan sesama manusia dan alam sekitar (hablum-minannaas).

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, orang yang sengsara di hari kiamat nanti, bukan hanya orang yang tidak membangun hubungan baik dengan Allah, namun mereka yang tidak mampu mengaplikasikan tuntunan Allah Ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam membangun hubungan harmonis dengan manusia. Sebagai seorang Muslim, sudah seharusnya kita berusaha untuk mentawazunkan (menyeimbangkan) antara hablum-minallaah dengan hablum-minannaas.

Kaum Muslimin merupakan umat yang paling indah kebersamaannya. Mengapa demikian? Karena umat Islam jika telah bersaudara dan bersatu itu bagaikan satu tubuh. Maka, ketika ada salah satu tubuh yang sakit, yang lainnya pun akan ikut sakit. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah juga bersabda, “Perumpamaan orang-orang Mukmin dalam berkasih sayang dengan sesama mereka seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan baik (sakit) demam dan tidak bisa tidur”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Persaudaraan sesama Muslim apalagi sesama orang beriman mempunyai urgensi yang luar biasa. Sebab hal itu merupakan perintah Allah Ta’ala. Hal ini bisa dilihat juga didalam sejumlah ayat Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang ber-saudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu menda-pat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 103-104)

Dengan ukhuwah ini, kaum Muslimin saling tolong-menolong untuk melaksanakan tuntunan Allah. Allah berfirman, “Dia-lah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para Mukmin, dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al-Anfal 8 : 62-63)

Dengan ukhuwah ini pula, Allah-lah yang semata-mata dapat menyatukan diantara hati-hati kaum Muslimin. Sebab hal itu merupakan cermin kekuatan iman. Rasulullah bersabda, “Tidak beriman salah seorang dari kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa kuatnya korelasi antara ukhuwah Islamiyyah dan iman ini. Sampai-sampai, Rasulullah mensyaratkan kecintaan kepada saudaranya sesama Muslim sebagai salah satu unsur pembentuk iman. Iman sejati menghajatkan suatu rajutan persaudaraan yang kokoh di jalan Allah. Karena itu eksistensi ukhuwah berbanding lurus dengan kondisi iman seseorang atau sekelompok jamaah. Semakin solid suatu ikatan persaudaraan fillah, maka semakin besar pula peluang untuk anggotanya dikategorikan sebagai Mukmin sejati (Mukmin al-Haq). Sebaliknya, ikatan bersaudara di jalan Allah ini bila rapuh, maka akan mengindikasikan suatu hakikat keimanan yang juga masih rendah tingkatannya.

Tahapan Membangun Persaudaraan

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, jalan menuju ukhuwah memiliki sejumlah tahapan, yang mana seorang Muslim tidak bisa menggapai ukhuwah dengan saudaranya kecuali apabila melaluinya. Tiap tahapan ini memiliki rambu-rambu dan etika-etikanya, yang akhirnya akan berujung pada ukhuwah Islamiyyah yang kokoh.

1. Ta’aruf (Saling Mengenal)

Allah Ta’ala berfirman, “Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (QS. Al-Hujurat 49 : 13)

Yang demikian itu mengharuskan seorang Muslim mengenal saudaranya seiman. Bahkan ia harus mengetahui hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik, memohonkan ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan jika tidak berada di tempat dan mencintainya jika ia bertaubat.

2. Ta’aluf (Saling Bersatu)

Ta’aluf berarti bersatunya seorang Muslim dengan Muslim lainnya dalam hal yang ma’ruf dan tidak bermaksiat kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 103)

Allah berfirman, “Walaupun kalian membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kalian tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka”. (QS. Al-Anfal 8 : 63)

Rasulullah bersabda, “Ruh-ruh itu ibarat tentara-tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah”. (HR. Muslim)

Maka salah satu kewajiban ukhuwah adalah, hendaknya seorang Muslim menyatu dengan saudaranya sesama Muslim dan bila memungkinkan membangun bi’ah (lingkungan) dalam suatu wilayah atau daerah. Seiring dengan itu, hendaklah ia melakukan hal-hal yang bisa menyatukan dirinya dengan saudaranya. Suatu faktor global yang bisa mewujudkan ta’aluf adalah, “Hendaklah seorang Muslim konsisten melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya”.

3. Tafahum (Saling Memahami)

Hendaklah terjalin sikap tafahum (saling memahami) antara seorang Muslim dengan saudaranya, yang diawali dengan kesepahaman dalam prinsip-prinsip pokok ajaran Islam (aqidah), lalu dalam masalah-masalah cabang (fiqh atau furu’iyyah) yang juga perlu dipahami secara bersama.

Dalam hal ini, seorang Muslim hendaknya mengedepankan sikap husnudzon (berbaik sangka) dan jangan su’udzon. Seorang Muslim yang berusaha mencapai tingkat tafahum dituntut agar mampu mengendalikan diri, menguasai perasan dan emosi serta mengarahkan tingkah lakunya dan pergaulan ke arah kemanusiaan yang bermartabat, bersopan santun dan bertenggang rasa, tidak melukai perasaan atau menyakiti hati orang lain tanpa alasan.

Akhlak yang baik dapat merubah lawan yang dibenci menjadi kawan yang disenangi. Dan hal itu lebih baik daripada menambah musuh. Allah berfirman, “Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang diantaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Fushilat 41 : 34-35)

Allah berfirman, “Maka disebabkan Rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan-lah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 159)

4. Ri’ayah (Perhatian)

Hendaknya seorang Muslim memperhatikan keadaan saudaranya agar ia bisa bersegera memberikan pertolongan sebelum saudaranya tersebut memintanya, karena pertolongan merupakan salah satu hak saudaranya Muslim yang harus ditunaikan oleh Muslim lainnya.

Rasulullah bersabda, “Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan salah satu bentuk perhatian yang utama adalah hendaknya seorang Muslim menutupi aib saudaranya. Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba yang lain kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat”. (HR. Muslim)

Bentuk perhatian lainnya adalah hendaknya ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan kecemasannya apabila sedang tertimpa kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya bila tertimpa kesulitan, menutupi aibnya dan membantunya dalam memenuhi kebutuhannya.

Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang Muslim, niscaya Allah akan menghilangkkan satu kesusahannya di hari kiamat. Barangsiapa menutupi aib seorang Muslim, niscaya Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya”. (HR. Muslim)

Bentuk perhatiannya lainnya adalah hendaknya ia menjalankan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Islam atasnya untuk saudaranya.

Rasulullah bersabda, “Hak seorang Muslim atas Muslim lainnya ada enam (6). Ditanyakan, “Apakah keenam hak itu wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundang maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah, jika ia bersin lalu memuji Allah maka ucapkanlah: yarhamukallah, jika ia sakit maka kunjungilah, dan jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya”. (HR. Muslim)

5. Ta’awun (Saling Membantu)

Allah Ta’ala telah memerintahkan hamba-hambanya yang beriman untuk bantu-membantu dalam melaksanakan kebaikan (al-Birr) dan dalam meninggalkan kemungkaran. Indikasi-indikasi ta’awun yang dilaksanakan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam diantaranya:

– Ta’awun dalam memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam. Sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila lupa dan membantumu apabila ingat.
– Ta’awun dalam meninggalkan kemungkaran, hal yang diharamkan dan bahkan hal yang makruh.
– Ta’awun dalam upaya terus-menerus mengubah manusia dari satu keadaan kepada keadaan lain yang lebih diridhai Allah.

6. Tanashur (Saling Menolong)

Tanashur ini masih sejenis dengan ta’awun, akan tetapi ia memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih menggambarkan makna cinta dan loyalitas.

Tanashur diantara dua (2) orang yang berukhuwah dalam Islam memiliki banyak makna, diantaranya:
– Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci.
– Mencegah saudaranya dan menolongnya dari setan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari pikiran-pikiran yang buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan.
– Menolong menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran.
– Menolongnya, baik saat mendzalimi (dengan cara mencegahnya dari perbuatan dzalim) maupun saat didzalimi (dengan berusaha menghindarkannya dari kedzaliman yang menimpanya).

Tidak akan terjadi tanashur diantara orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, pikiran maupun harta bendanya.

7. Itsar (Mendahulukan Kepentingan Saudaranya Daripada Kepentingan Dirinya Sendiri)

Ketika bergolak medan peperangan Yarmuk, ada kisah emas tentang bagaimana ruh ukhuwah sejati ditampilkan para sahabat. Hal ini sebagaimana diketengahkan oleh al-Qurthubi tentang pengalaman seorang sahabat Rasulullah.

“Aku bermaksud mencari keponakanku. Hendak kuberi minum ia pada saat-saat akhir menjelang ajalnya. Aku katakana padanya,” ‘Minumlah air ini.’ Dia menganggukkan kepala. Sejurus kemudian terdengar rintihan memelas sahabat disampingnya dengan penuh belas kasih. Keponakanku mengisyaratkan agar aku menemuinya. Ah, ternyata Husein bin ‘Ash. ‘Minumlah ini,’ kataku sambil menyodorkan air yang tadi kubawa. Husein menganggukkan kepala, namun berbarengan dengan itu terdengar seseorang disampingnya mengerang kehausan. Husein menyuruhku agar memberikan air kepada orang tersebut. Ketika kutemui sahabat tadi, dan ia sudah gugur. Lantas aku bergegas kepada Husein, ia pun telah gugur. Kemudian aku menuju keponakanku, dan ia pun telah pulang ke pangkuan Rabb-nya.

Sementara itu, di episode lain dari sekian puluh kejadian-kejadian sirah Rasulullah dan para sahabat, adalah Abdurrahman bin Auf yang Muhajirin dan Sa’ad bin Rabi’ yang Anshar. Selayaknya kaum Muhajirin yang meninggalkan kampung halaman tanpa banyak perbekalan, Ibnu Auf mulanya jelas terbilang miskin. Sebaliknya Sa’ad bin Rabi’ adalah ‘aghniya (orang kaya) dan hartawan dengan kekayaan melimpah. Keduanya dipersaudarakan oleh Rasulullah. Terjadilah dialog dengan muatan ruh ukhuwah Islamiyah sejati antara keduanya.

Berkata Sa’ad, “Akhi, aku adalah penduduk Madinah yang kaya. Pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku punya dua (2) istri, pilih yang menarik hatimu, biar nanti kucerai salah satunya hingga engkau bisa memperistrikannya”. Dengan penuh kasih Abdurrahman bin Auf menjawab, “Semoga Allah merahmatimu, harta dan istri-istrimu. Sekarang, tolong tunjukkan dimana letak pasar, biar aku bisa berdagang”.

Dari dua (2) penggal kisah diatas merupakan kisah sejati yang menggambarkan ruh itsar kepada kita. Kalau dicermati, fenomena persaudaraan pada sahabat itu senantiasa dimulai dengan keikhlasan untuk memikul sekian keprihatinan perjuangan. Selain itu, pementasan ukhuwah Islamiyah para sahabat tersebut berada di sebuah panggung kehidupan yang bernama ‘jihad di jalan Allah’.

Dengan ini, maka solidaritas yang dibangun sesama Muslim adalah yang mengarah pada visi keummatan untuk membangun sebuah tatanan kehidupan dibawah sistem kenegaraan yang dicontohkan oleh Rasulullah, yakni Daulah Khilafah Islamiyyah, dan bukan solidaritas kelompok yang justru bisa menghambat lahirnya ukhuwah.

Pada akhirnya, egoisme golongan dapat ditekan sekecil mungkin atau dimusnahkan. Ketika tidak lagi berpikir tentang kelompok, kemudian mengarahkan keterlibatannya pada hal-hal yang besar yang dihadapi ummat untuk memikul beban bersama sebuah penegakkan syari’at dibawah naungan Daulah Khilafah Islamiyyah. Jika pra kondisi ini sudah terwujud, maka indahnya persaudaraan sesama Muslim untuk menghadapi perjuangan dakwah dan jihad di jalan Allah akan terasa ringan. Wallahu a’lam bish-showwab… [RMC]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...