Thursday , November 21 2019
Home / Headline / Menggapai Kesabaran Agar Terhindar dari Kemaksiatan

Menggapai Kesabaran Agar Terhindar dari Kemaksiatan

Oleh: Ustadz Qutaibah

(Mata-Media.Net)Kesabaran adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dan dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan dan ujian.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan didalam tubuh”. (Al-Fawa’id, hal. 95)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, senjata utama setan untuk mengajak manusia kedalam neraka adalah syahwat dan syubhat. Maka jika kita lihat, banyak manusia dikalangan kaum Muslimin yang dikendalikan oleh syahwatnya, sehingga kehidupannya selalu bergelimpangan dengan kemaksiatan, sampai akhirnya masuklah mereka ke dalam lubang kebinasaan.

Karena, tidaklah umat-umat terdahulu binasa kecuali karena disebabkan kemaksiatan mereka, sebagaimana hal itu dikabarkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla didalam kitab suci Al-Qur’an. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri”. (QS. Al-Ankabut 29 : 40)

“Bukankah itu semua terjadi hanya karena satu sebab saja? yaitu maksiat kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala. Karena hak Allah adalah untuk ditaati dan tidak boleh didurhakai, maka kemaksiatan kepada Allah merupakan kejahatan yang sangat mungkar yang akan menimbulkan kemurkaan, kemarahan serta mengakibatkan turunnya siksa-Nya yang sangat pedih. Jadi, salah satu macam kesabaran adalah bersabar untuk menahan diri dari perbuatan maksiat kepada Allah. Janganlah mendekatinya…”. (Syaikh Zaid bin Muhammad al-Madkhali, Thariqul Wushul, hal. 15-17)

Oleh karena itu, sabar menghadapi syahwat supaya tidak terjerumus ke dalam maksiat adalah faktor utama menuju jalan selamat dan dihindarkan dari adzab.

Namun, alangkah tragisnya keadaan kaum Muslimin pada hari ini, yang mana banyak diantara mereka yang sudah mengetahui hakikat serta bahaya syahwat dan maksiat, akan tetapi hidup dan waktunya masih bergelimpangan dengan syahwat dan maksiat.

Maka, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, seorang dokter hati memberikan nasihat kepada kita supaya tumbuh kesabaran sehingga terhindar dan terjauhkan dari kemaksiatan:

Pertama: Hendaknya seorang hamba menyadari betapa buruk, hina dan rendahnya perbuatan maksiat.

Dan hendaknya dia memahami bahwa Allah mengharamkan serta melarangnya dalam rangka menjaga seorang hamba dari terjerumus dalam perkara yang keji dan rendah sebagaimana penjagaan seorang ayah yang sangat sayang kepada anaknya, demi menjaga anaknya agar tidak terkena sesuatu yang membahayakannya.

Kedua: Merasa malu kepada Allah.

Karena sesungguhnya apabila seorang hamba menyadari pandangan Allah Ta’ala yang selalu mengawasi dirinya dan menyadari betapa tinggi kedudukan Allah di matanya.

Dan apabila dia menyadari bahwa perbuatannya itu dilihat dan didengar oleh Allah, maka tentu saja dia akan merasa malu apabila dia melakukan hal-hal yang dapat membuat murka Rabbnya. Rasa malu itu akan menyebabkan terbukanya mata hati yang akan membuat seorang hamba bisa melihat seolah-olah seorang hamba sedang berada dihadapan Allah.

Ketiga: Senantiasa menjaga nikmat Allah yang dilimpahkan kepada seorang hamba dan mengingat-ingat perbuatan baik-Nya kepadamu.

Apabila engkau berlimpah nikmat, maka jagalah. Karena maksiat akan membuat nikmat tersebut hilang dan lenyap. Barangsiapa yang tidak mau bersyukur dengan nikmat yang diberikan Allah kepadanya, maka dia akan disiksa dengan nikmat itu sendiri.

Keempat: Merasa takut kepada Allah dan khawatir tertimpa hukuman-Nya.

Kelima: Mencintai Allah.

Karena seorang kekasih tentu akan mentaati sosok yang dikasihinya. Sesungguhnya maksiat itu muncul diakibatkan oleh lemahnya rasa cinta kepada Allah Ta’ala.

Keenam: Menjaga kemuliaan dan kesucian diri serta memelihara kehormatan dan kebaikannya.

Sebab perkara-perkara inilah yang akan bisa membuat dirinya merasa mulia dan rela meninggalkan berbagai perbuatan maksiat.

Ketujuh: Memiliki kekuatan ilmu tentang betapa buruknya dampak perbuatan maksiat serta jeleknya akibat yang ditimbulkannya dan juga bahaya yang timbul sesudahnya yaitu berupa muramnya wajah, kegelapan hati, sempitnya hati dan gundah gulana yang menyelimuti diri. Karena dosa-dosa itu akan membuat hati menjadi mati.

Kedelapan: Memupus buaian angan-angan yang tidak berguna. Dan hendaknya setiap insan menyadari bahwa dia tidak akan tinggal selamanya di alam dunia.

Dan mestinya dia sadar kalau dirinya hanyalah sebagaimana tamu yang singgah di dunia, dan dia akan segera berpindah darinya. Hal ini perlu ditanamkan didalam diri sehingga tidak ada sesuatu pun yang akan mendorong dirinya untuk semakin menambah berat tanggungan dosanya, karena dosa-dosa itu jelas akan membahayakan dirinya dan sama sekali tidak akan memberikan manfaat apa-apa.

Kesembilan: Hendaknya menjauhi sikap berlebihan dalam hal makan, minum dan berpakaian.

Karena sesungguhnya besarnya dorongan untuk berbuat maksiat hanyalah muncul dari akibat berlebihan dalam perkara-perkara tadi. Dan diantara sebab terbesar yang menimbulkan bahaya bagi diri seorang hamba adalah waktu senggang dan lapang yang dia miliki.

Karena jiwa manusia itu tidak akan pernah mau duduk diam tanpa kegiatan. Sehingga apabila dia tidak disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat, maka tentulah dia akan disibukkan dengan hal-hal yang berbahaya baginya.

Kesepuluh: Sebab terakhir adalah sebab yang merangkum sebab-sebab diatas.

Yaitu kekokohan pohon keimanan yang tertanam kuat didalam hati. Maka, kesabaran seorang hamba untuk menahan diri dari perbuatan maksiat itu sangat tergantung dengan kekuatan imannya. Setiap kali imannya kokoh, maka kesabarannya pun akan kuat. Dan apabila imannya melemah, maka sabarnya pun melemah.

Dan barangsiapa yang menyangka bahwa dia akan sanggup meninggalkan berbagai macam penyimpangan dan perbuatan maksiat tanpa dibekali dengan ilmu dan keimanan yang kokoh, maka sesungguhnya dia telah keliru dan meremehkan pentingnya sebuah keilmuan dan upaya untuk meningkatkan keimanan. Wallahu A’lam.. [RMC/Diterjemahkan dari artikel berjudul ‘Asyru Nashaa’ih libnil Qayyim li shabri ‘anil ma’shiyah/Kiat Bersabar Menghadapi Maksiat]

Check Also

Demo Tolak Kenaikan BBM di Iran Tewaskan 106 Lebih Orang Syiah

TEHERAN (Mata-Media.Net) – Aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara Syiah Iran mengakibatkan sebanyak 106 orang ...