Monday , February 24 2020
Home / Headline / Larangan Ucapkan Selamat Natal & Ikut Perayaan Natal

Larangan Ucapkan Selamat Natal & Ikut Perayaan Natal

Oleh: Furqon

(Mata-Media.Net) – Pada akhir tahun Masehi seperti sekarang ini, biasanya umat Islam disuguhi dan dijejali sejumlah syubhat oleh kalangan Liberal dan kaum Munafiqin tentang bolehnya mengucapkan selamat Natal, selamat Tahun Baru maupun menghadiri dan mengikuti acara perayaan Natal bersama ataupun perayaan hari raya orang-orang Kafir dan Musyrik lainnya.

Mereka beralasan, tidak ada dalil atau hujjah yang jelas atau shorih tentang pelarangan atau haramnya mengucapkan selamat Natal dan mengikuti perayaan Natal atau acara Natalan dadi Al-Qur’an dan hadits Nabi. Lalu, benarkah hal itu? Ternyata jika kita kaji lebih mendalam, ada banyak sekali dalil yang menerangkan bahwa mengucapkan selamat Natal dan mengikuti perayaan Natal itu tidak boleh alias terlarang dan haram.

Meski sebagian orang menganggap bahwa ucapan semacam itu tidaklah bermasalah, apalagi jika yang berpendapat demikian adalah orang-orang Kafir. Namun hal ini menjadi masalah besar, ketika orang yang mengaku Muslim membolehkan mengucapkan ucapan selamat terhadap perayaan orang-orang Kafir. Meskipun yang membolehkan mengucapkan selamat Natal atau hari raya orang Kafir lainnya itu mempunyai dan membawakan dalil, namun dalil itu kurang kuat.

Ada juga sebagian diantara kaum Muslimin berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang Kafir itu, dengan alasan toleransi dalam beragama. Toleransi beragama bukanlah dengan mengucapkan selamat Natal dan mengikuti perayaan Natal. Namun toleransi beragama dijunjung tinggi oleh syari’at, asal didalamnya tidak terdapat penyelisihan syari’at. Bentuk toleransi bisa juga bentuknya adalah membiarkan saja mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat.

Sebab, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan tentang larangan bagi kaum Muslimin untuk mendahului mengucapkan salam dan ucapan selamat kepada orang Yahudi dan Nashrani, baik itu salam yang dipakai sehari-hari, maupun ucapan selamat atas perayaan hari raya mereka. Rasulullah bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashoro dalam salam (ucapan selamat)”. (HR. Muslim no. 2167 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits dari sahabat Abu Hurairah yang lainnya, Rasulullah juga bersabda,

لاَ تَبْدَأُوا اليَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلامِ ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيْقِ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Janganlah kalian memulai salam kepada Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu dengan salah satu dari mereka di jalan maka desaklah ia ke jalan yang sempit”. (HR. Muslim no. 2167)

Hadits diatas secara tegas menjelaskan larangan memulai salam kepada orang Kafir. Meski hadits diatas hanya menyinggung kaum Yahudi dan Nasrani, namun ini bukan berarti pembatasan. Orang-orang Kafir lainnya selain Yahudi dan Nasrani juga berlaku hukum yang sama dalam hal ini, yaitu dilarang memulai salam dan ucapan selamat kepada mereka.

Sedangkan tentang larangan untuk menghadiri dan mengikuti perayaan hari raya orang-orang Kafir, seperti Natal, dalilnya adalah hadits dari Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ’anha. Disebutkan bahwa Rasulullah bersabda,

إِنَّ لِكُلِّ قَوْمٍ عِيدًا، وَإِنَّ عِيدَنَا هَذَا اليَوْمُ ليوم الأضحى

“Sesungguhnya setiap kaum memiliki hari raya, dan sesungguhnya hari raya kita adalah hari ini, yaitu hari idul adha”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa masing-masing kaum dan agama itu memiliki hari raya sendiri. Hal ini semakna dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

Untuk tiap umat diantara kamu, Kami berikan syari’at dan jalan masing-masing”. (QS. Al-Maa’idah 5 : 48)

Dalam ayat yang lain Allah Ta’ala juga berfirman yang melarang umat Islam untuk menghadiri dan menyaksikan perayaan upacara keagamaan orang Kafir dan Musyrik. Allah berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak mau menghadiri atau menyaksikan Az-Zuur. Jika mereka melewati (tempat yang sedang digunakan untuk upacara agama oleh kaum Musyrik), mereka segera berlalu dengan sikap baik”. (QS. Al-Furqon 25 : 72)

Salah seorang ulama mufassir (ahli tafsir), yakni Adh-Dhahak menyatakan bahwa yang dimaksudkan Az-Zuur dalam ayat tersebut adalah perayaan dan hari raya orang-orang Musyrik. (Ahkam Ahli Dzimmah, hal. 492)

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Ahkam Ahli Dzimmah kembali menjelaskan, “Sebagaimana mereka tidak boleh menampakkan hari raya mereka di tengah-tengah kaum Muslimin, kaum Muslimin pun tidak boleh turut serta, membantu dan hadir dalam perayaan mereka tersebut. Hal ini telah disepakati oleh para ahli ilmu (para ulama) dan telah dinyatakan oleh para ulama empat madzhab di kitab-kitab mereka”.

Selain Adh-Dhahak, para ulama tafsir lainnya seperti Mujahid, Rabi’ bin Anas, Ikrimah dan Qadhi Abu Ya’la juga menerangkan bahwa makna kata Az-Zuur dalam ayat di atas adalah hari raya orang-orang Musyrik.

Maka kurang tepat bila kata Az-Zuur dalam ayat diatas oleh sebagian orang dimaknai “dusta”, karena kata Az-Zuur di sini bertemu dengan kata kerja yasyhadu yang tidak bergandengan dengan huruf  ba’. Dalam gramatika bahasa Arab, verba “syahida”  (yasyhadu adalah bentuk fi’il mudhari’nya)  bila tidak bergandengan dengan huruf ba’, maka maknanya adalah ikut serta atau hadir dalam sebuah peristiwa. Semisal kalimat ini,

شهدت كذا

“Saya hadir dalam peristiwa ini”.

Sebagaimana pula perkataan Umar bin Khoththob radhiyallahu ’anhu,

الغنيمة لمن شهد المعركة

Ghanimah (harta rampasan perang) itu diperuntukkan untuk mereka yang ikut serta dalam peperangan”. (Diriwayatkan oleh Abdur-Razaq dalam Al-Mushonnaf no. 9689)

Juga perkataan Ibnu Abbas radhiyallahu ’anhuma,

شهدت العيد مع رسول الله صلى الله عليه وعلى آله وسلم

“Saya menghadiri (merayakan) hari raya bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa ’alaa alihi wa sallam”. (HR. Bukhari no. 962)

Lalu mengapa hari raya orang Kafir disebut Az-Zuur yang makna umumnya atau didalam kamus biasa diartikan “kebohongan atau dusta”? Jawabannya adalah, karena masuk dalam cakupan makna Az-Zuur (kebohongan) adalah segala hal yang disamarkan dari hakikat sebenarnya atau dinampakkan baik padahal sejatinya buruk, boleh jadi karena motivasi syahwat atau karena syubhat. Kesyirikan misalnya, ia nampak baik di mata para penganutnya karena syubhat. Dan musik nampak indah di mata para pendengarnya karena motivasi syahwat. Adapun hari perayaan orang-orang Kafir terkumpul didalamnya 2 hal ini; yaitu motivasi syahwat dan syubhat. Alasan lain adalah karena hari raya orang Kafir terasa indah di dunia, padahal ending di akhirat nanti adalah kesengsaraan. Oleh karena itulah hari raya mereka disebut Az-Zuur. (Iqtidha’ Shirat Al-Mustaqim, 279-280)

Dalail lainnya tentang larangan menghadiri dan mengikuti perayaan hari raya Natal dan upacara keagamaan orang Kafir adalah atsar dari Umar bin Khoththob radhiyallahu ’anhu,

لاَ تَدْخُلُوْا عَلَى المشْرِكِيْنَ فِي كَنَائِسِهِمْ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فَإِنَّ السُخْطَةَ تَنْزِلُ عَلَيْهِمْ

Janganlah kalian masuk ke gereja-gereja kaum Musyrikin di saat hari raya mereka, karena sesungguhnya kemurkaan Allah sedang turun atas mereka”. (Sunan Al-Baihaqi 9/234)

Oleh karena itu, sungguh ironi apabila kemudian ada sebagian aktivis dakwah dan yang mengaku sebagai tokoh Islam membolehkan ucapan selamat Natal dengan berbagai macam alasan dan syubhat, salah satunya adalah alasan toleransi dan ukhuwah. Merka seakan-akan lebih paham tentang toleransi daripada sahabat Umar bin Khoththob yang mendapat julukan Al-Faruq (pembeda antara yang  benar dan bathil) dari Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.

Pada kesempatan yang lain Umar bin Khoththob juga berkata,

اِجْتَنِبُوْا أَعْدَاءَ اللهِ فِي أَعْيَادِهِمْ

Jangan dekati musuh-musuh Allah (yakni orang-orang Kafir) pada hari raya-hari raya mereka”. (Sunan Al-Baihaqi 9/234). Demikian disebutkan perkataan seperti ini oleh Ibnul Qayyim dalam Ahkam Ahli Dzimmah.

Jika sekedar menemui orang-orang Kafir dan Musyrik pada saat mereka sedang merayakan hari raya saja terlarang, apalagi sampai memberi ucapan  selamat keapada mereka dan ikut serta dalam upacara keagamaan mereka, seperti acara Natal. Semoga Allah Ta’ala memberikan kita kefahaman atas agama Islam yang diridhoi-Nya ini, dan dianugerahi kemampuan untuk mengamalkan dengan sebaik-baiknya serta ikhlas lillahi Ta’ala, tanpa mengikuti jalan-jalan selain jalan kaum Mukminin. Aamiin.. [Edt: Abd/dbs]

Check Also

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perbatasan Turki & Iran, 7 Orang Tewas

ANKARA (Mata-Media.Net) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran pada ...