Monday , February 24 2020
Home / Headline / Banjir, Antara Musibah & Azab Allah Ta’ala

Banjir, Antara Musibah & Azab Allah Ta’ala

Oleh: Furqon

(Mata-Media.Net) – Setiap memasuki akhir dan awal tahun Masehi, hampir selalu terjadi “musibah” di berbagai wilayah di Indonesia, bahkan juga di belahan dunia lainnya seperti terjadinya Tsunami di Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, Topan Shandy di Amerika Serikat (AS) pada tanggal 30 Oktober 2012, banjir dahsyat di Jakarta dan sekitarnya pada tanggal 17 Januari 2013, dan yang terbaru adalah banjir dahsyat dan besar pula yang terjadi di wilayah Jabodetabek pada Rabu, 1 Januari 2020 setelah diguyur hujan deras sejak Selasa malam, 31 Desember 2019 ketika mayoritas masyarakat sedang merayakan pesta tahun baru Masehi yang bertentangan dengan syariat Islam, dan sebelumnya juga ada sebagian umat Islam yang ikut serta dalam perayaan Natal.

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala, pertanyaan yang muncul di publik kemudian adalah, apakah banjir ini bentuk musibah ataukah azab dan murka Allah Ta’ala karena di fitnah mempunyai anak seperti adanya perayaan Natal, sebagaimana disebutkan dalam surat Maryam ayat 88-92 dan juga dikarenakan kemaksiatan perayaan tahun baru masehi yang terus menerus dilakukan?

Semua manusia, khususnya umat Islam tentu sangat berharap agar hujan yang Allah turunkan ke bumi bisa menjadi rahmat dan bukan azab. Namun tidak semua harapan bisa menjadi realita. Hujan yang diharapkan menjadi rahmat, ternyata justru menjadi tentara Allah yang siap menghukum manusia dan menjadi azab bagi mereka yang durhaka. Hujan bak pisau bermata dua, bisa menguntungkan dan sekaligus bisa merugikan manusia.

Tentunya kaum Muslimin masih ingat peristiwa yang pernah terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam. Bagaimana Allah membalas keangkuhan umat Nuh denagn hujan dan air yang berlimpah. Allah Ta’ala berfirman,

فَفَتَحْنَا أَبْوَابَ السَّمَاء بِمَاء مُّنْهَمِرٍ { } وَفَجَّرْنَا الْأَرْضَ عُيُونًا فَالْتَقَى الْمَاء عَلَى أَمْرٍ قَدْ قُدِرَ

“Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah. Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air, maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan”. (QS. Al-Qamar 54 : 11-12)

Disaat itulah kemudian tidak ada yang bisa menyelamatkan diri selain mereka yang Allah Ta’ala rahmati. Allah berfirman,

وَنَادَى نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلاَ تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ { } قَالَ سَآوِي إِلَى جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاء قَالَ لاَ عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِلاَّ مَن رَّحِمَ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang Kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”. Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan”. (QS. Huud 11 : 42-43)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah, apapun musibah yang terjadi itu pada dasarnya semuanya berasal dari Allah Ta’ala. Adapun sebab turunnya musibah tersebut bisa bervariasi dan sangat tergantung bagaimana melihatnya.

Bagi orang Kafir dan Munafik, tentu hujan, gempa, longsor dan bencana lainnya pasti hanya dimaknai dan disebut sebagai sebuah musibah semata dengan dasar sains atau teknologi tanpa melihat hal ghaib dan peringatan Allah Ta’ala yang sudah dicantumkan dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi. Namun bagi orang yang beriman, tentu semua musibah bukan semata-mata peristiwa alam, akan tetapi sebuah peringatan agar umat manusia semakin dekat dengan Allah Ta’ala, dengan berusaha melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi yang dilarang-Nya. Allah berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ ﴿٢٢﴾ لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ ﴿٢٣﴾

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS. Al-Hadid 57 : 23-24)

Maka, bagi orang beriman dalam melihat suatu bencana atau musibah sudah pasti bahwa musibah yang terjadi itu diakibatkan oleh perilaku manusia, yang mendzalimi dirinya dengan berlaku maksiat, kemaksiatan serta penyebab paling penting adalah kekufuran yang dilakukan manusia dan tersebar dimana-mana. Allah berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan perbuatan tangan-tangan manusia. Agar Allah merasakan sebagian dari perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali”. (QS. Ar-Ruum 30 : 41)

Ada satu hal yang telah menjadi mindset hampir semua orang terkait ayat ini, yakni tafsir ‘perbuatan tangan-tangan manusia’ hanya terbatas pada sikap manusia yang tidak ramah terhadap lingkungan, seperti dibangunnya rumah-rumah megah dan bangunan atau gedung yang tinggi sehingga resapan air hujan tidak ada. Mereka menyimpulkan bahwa banjir, atau bencana apapun bentuknya, disebabkan sikap manusia yang tidak disiplin dalam mengelola lingkungan. Disaat banjir mulai melanda, orang-orang ramai menyalahkan buang sampah sembarangan, kurangnya pelebaran sungai, infrastruktur yang kurang diperhatikan pemerintah, eksploitasi alam yang tidak terkontrol, dan lainnya.

Namun ternyata, sebab utama banjir atau bencana alam lainnya, tidak hanya dalam bentuk lahiriyah saja sebagaimana anggapan dan alasan diatas. Ada sebab terpenting yang ternyata belum dipahami kebanyakan orang. Sebab itu adalah maksiat dan kekafiran.

Perbuatan maksiat dan kedurhakaan kepada Sang Pencipta, merupakan sebab terbesar Allah mendatangkan bencana alam. Dosa dan maksiat adalah sebab terbesar Allah mendatangkan banjir. Itulah tafsir yang dipahami oleh para sahabat ulama masa silam, salah satunya adalah Imam Ath-Thobari, Imam Hasan Al-Bashri, Imam As-Suyuti dan lainnya terhadap surat Ar-Ruum diatas.

Oleh karena itu, banjir dan musibah yang terjadi bagi orang yang beriman menjadi peringatan agar terus meningkatkan kwalitas keimanannya, atau menjadi musibah untuk menguji kesabaran dan ketawakkalannya, sambil terus bekerja memperbaiki kondisi lingkungan sekitarnya. Sedangkan bagi orang yang tidak beriman atau Kafir serta munafik, banjir besar tersebut bisa menjadi azab atau siksa yang menghancurkan. Jadi jelas sekali ada korelasi antara musibah dengan peringatan dari Allah.

Ada pula orang yang berpandangan bahwa hujan deras dan banjir itu merupakan siklus tahunan. Maka seharusnya, siklus tahunan banjir dalam pandangan orang beriman itu merupakan sunnatullah dan menunjukkan kekuasaan Allah Ta’ala terhadap alam semesta dan segala isinya. Dan hal itu tetap tidak boleh dilepaskan dari kehendak Allah Ta’ala, yang mengingatkan umat manusia agar tidak boleh sombong, tidak boleh takabbur, tidak boleh merasa mampu dan berkuasa.

Sebab ternyata, dengan hujan yang rintik-rintik saja tetapi terus menerus, manusia tidak berdaya mengatasinya. Apalagi kalau hujan yang besar yang menghancurkan, seperti yang terjadi pada kaum yang durhaka di masa yang lalu. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meningkatkan amal, iman dan taqwa kita, serta menjadikan kota sebagai umat yang ridho akan segala ketetapan Allah dan menyelamatkan kita di dunia dan akhirat nanti. Aamiin.. [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perbatasan Turki & Iran, 7 Orang Tewas

ANKARA (Mata-Media.Net) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran pada ...