Sunday , December 15 2019
Home / Headline / Apa yang Harus Dilakukan Suami Jika Anak & Istrinya Tak Mau Dinasehati?

Apa yang Harus Dilakukan Suami Jika Anak & Istrinya Tak Mau Dinasehati?

(Mata-Media.Net) Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatu. Apa yg harus di lakukan seorng suami sebagai kepala keluarga jika keluargana membangkang terus ke padanya dlm masalah diin pdhal si suami sudah menasihatina… Conto na gini si istri adlh seorng pegawe thogut suami udah berusaha ngarang keras, nyuruh istri na keluar..tapi istrina ga mau.. Trus lgi si kepala keluarga menyuruh anak cwe n istrina pke niqob cz itu wajib n ngelarangan selfi di sosmed tpi anak n istrina ga mengindahkanya..

Nah apa yg hrs di lakukan kepala keluarga itu..dia udah sering berkali kali menasehati keluarga na tpi ttp bandel.. N apa kah perkawinan suami istri itu batal krn si istri udah jls jls mlakukan pembatal keislaman… Urgen..tolong pencerahana.. [Ahmad]

Jawaban Ustadz Qutaibah [Pengampu Rubrik Konsultasi Mata-Media.Net]

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh… Alhamdulillah wash-shalatu was-sallam ‘ala Rasulillah wa ba’du.. Saudara penanya yang dirahmati Allah, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu melimpahkan kesabaran kepada Anda dan memberikan pahala atas kesabaran yang Anda usahakan.

Ketauhilah bahwa pembangkangan seorang istri kepada suami dalam perkara yang bukan maksiat adalah termasuk bentuk durhakanya seorang istri kepada suaminya, dan perbuatan ini adalah termasuk dosa besar yang dalam istilah syar’inya disebut sebagai nusyuz. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Nusyuz adalah meninggalkan perintah suami, menentangnya dan membencinya”. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 4 : 24)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ  ان تجيء لَعَنَتْهَا المَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ

“Jika seorang suami mengajak istrinya untuk berhubungan suami istri (jima’), kemudian si istri menolaknya, maka malaikat akan melaknatnya hingga pagi”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dengan lafazh ini di ta’liq kitab)

Subhanallah, jika seorang istri hanya sekedar menolak ajakan suami untuk berhubungan intim atau jima’ saja bisa menjadi sebab datangnya laknat Allah, maka bagaimana jika sampai membangkang kepada suami dalam perkara yang lebih besar, terlebih lagi dalam urusan ibadah dan ketaatan kepada Allah..?!

Adapun langkah yang harus diambil apabila seorang suami mendapati adanya nusyuz (kedurhakaan) pada istrinya adalah sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan,

اللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”. (QS. An-Nisaa’ 4 : 34)

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala memberikan cara yang tepat untuk menyikapi seorang istri ataupun anaknya yang gemar berbuat nusyuz, yaitu dengan cara:

Pertama: Menasehatinya, karena menasehati istri hukumnya wajib bagi seorang suami. Maka hendaknya si suami menasihati istrinya yang sedang nusyuz agar kembali taat kepada suami dalam rangka taat kepada Allah. Hendaknya si suami juga mengingatkan istrinya akan hadits-hadits yang berisi teguran dan ancaman terhadap istri yang tidak menurut kepada suami selaam tidak disuruh dan diarahkan kepada hal maksiat dan mungkar.

Kedua:  Meng-hajr-nya. Jika nasihat-nasihat tidak membuat istri berubah, maka suami boleh meng-hajr istri, yakni meninggalkan istri untuk tidur sendirian di tempat tidur, sedangkan suami tidur di ruangan lainnya. Akan tetapi, suami tidak boleh menginap di luar rumah ketika sedang meng-hajr istri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا تُقَبِّحْ، وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ

“Jangan memukul wajahnya, jangan mencacinya, dan jangan meng-hajr-nya kecuali didalam rumah saja”. (HR. Abu Dawud, dinilai shahih oleh Al Hakim dan Ibnu Hibban)

Dan sikap hajr ini hanya dalam masalah tempat tidur, bukan meng-hajr total seperti istri tidak diajak bicara dan lain-lainnya.

Ketiga: Memukulnya. Jika setelah dinasehati dan di–hajr si istri masih durhaka juga, maka suami boleh memukulnya dengan pukulan yang tidak membahayakan dan tidak boleh pada wajah istri. Suami hanya boleh memukul istri jika ia menduga pukulannya akan memberikan manfaat dan membuat istrinya kembali taat dan patuh. Jika ia menduga pukulan tidak akan mengubah sifat istri, maka janganlah memukulnya. Dan yang lebih utama adalah memaafkannya. Dan ingatlah, se-emosi apapun seorang suami, suami tidak boleh mencaci-maki istri karena diantara hak istri adalah suami tidak boleh memaki istri sebagaimana dalam hadits riwayat Abu Dawud sebelumnya.

Namun, apabila segala cara sudah diusahakan dan istri tidak juga kunjung berubah, maka sah-sah saja jika suami menceraikannya. Dan kalau sudah seperti itu, maka si suami tidak perlu takut lagi untuk mengambil langkah perceraian karena itulah sebaik-baiknya solusi bagi rumah tangga Anda dan untuk keberlangusng agama Anda.

Jangan pula kemudian dengan alasan takut tidak bisa mendapatkan istri lagi, hingga si suami membiarkan kondisi tersebut terus terjadi. Sebab, didunia masih banyak wanita-wanita lainnya yang layak dan pantas untuk dijadikan istri. Namun bagi seorang wanita shalihah, dan mendambakan dirinya masuk dalam ketagori wanita shalihah, maka ketika seorang suami sudah menasehati dirinya dan menyuruh kepada yang ma’ruf, maka hendaknya ia segera patuh dan taat, meskipun bertentangan dengan keinginan dan hawa nafsunya.

Hal ini juga berlaku kepada seorang istri, jika si istri mendapati suaminya sudah jatuh kepada perkara maksiat yang terus berulang serta kemungkaran dan bahkan kekufuran, maka tak perlu ragu lagi untuk mengambil langkah perceraian.

Jangan pula dengan alasan takut tidak bisa mendapatkan suami yang lebih baik lagi dan tidak bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari (memberinya nafkah), akhirnya si istri itu tetap mempertahankan rumah tangga yang seperti itu kondisinya, karena yang memberi rizki itu sejatinya adalah Allah Ta’ala. Sebab jika hal itu tetap dipertahankan, maka akan merusak maslahat dalam tujuan membina rumah tangga dan lebih penting lagi bisa merusak agama si istri.

Selain itu, dalam perkara diatas jika nusyuznya seorang istri itu dibarengi dengan cara melakukan perbuatan kekafiran, seperti menjadi pegawai dalam dinas Thoghut atau jenis kekafiran lainnya, maka menurut pendapat yang paling rajih bahwa status pernikahannya adalah dibekukan selama masa ‘iddah talaq yaitu tiga (3) kali haidh.

Apabila istri bertaubat dari kekafirannya sebelum masa ‘iddah habis, maka suami boleh kembali atau rujuk tanpa akad nikah baru. Tetapi apabila setelah lewat masa ‘iddah istri tetap diatas kekafirannya, maka status perkawinan mereka fasakh alias gugur dan rusak.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

“Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan Kafir”. (QS. Al-Mumtahanah 60 : 10)

Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan dalam kitab Al-Umm,

وإن ارتدت المرأة أو ارتدا جميعا أو أحدهما بعد الآخر فهكذا أنظر أبدا إلى العدة، فإن انقضت قبل أن يصيرا مسلمين فسختها، وإذا أسلما قبل أن تنقضي العدة فهي ثابتة.

“Apabila seorang istri Murtad atau Murtad kedua suami istri atau salah satunya setelah yang lain dan seterusnya, maka dilihat sampai masa ‘iddah habis. Apabila selesai masa ‘iddah tetap Murtad, maka status pernikahan menjadi gugur. Apabila masuk Islam sebelum habisnya masa ‘iddah, maka perkawinannya tetap sah”.

Semoga Allah Ta’ala memberikan jalan keluar dan langkah yang mudah kepada Antum dalam menyelesaikan problematika yang Antum alami. Aamiin.. Wallahu A’lam.. [RMC]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...