Thursday , November 21 2019
Home / Headline / Apakah Harus Berjamaah dalam Mengamalkan Islam Secara Kaffah?

Apakah Harus Berjamaah dalam Mengamalkan Islam Secara Kaffah?

(Mata-Media.Net) – Assalamualaikum ustadz, dalam Al Qur’an melaksanakan syariat Islam secara kaffah adalah suatu keharusan bagi seorang Muslim karena itu merupakan perintah Allah. Namun apakah dalam melaksanakannya itu bisa sendiri-sendiri ataukah harus dalam suatu jamaah? Jazakumullah.. Wassalam.. [Abu Anshor]

Jawaban Ustadz Abu Muhajir: Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabaraakatuh.. Dalam hal ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman bahwa kita sebagai manusia dan hamba Allah telah diperintahkan untuk berislam secara kaffah. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah 2 : 208)

Dalam ayat diatas, Allah memerintahkan manusia untuk melakukan segala sesuatu didunia ini sesuai dengan aturan yang telah oleh syariat, baik itu yang bersumber dari kitab suci Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekaligus mengerjakan tuntunan syariat dalam segala hal, baik kehidupan dalam lingkup keluarga, masyarakat (sosial) dan negara.

Frase pertama dari kalimat tersebut adalah upaya penyesuian segala hal yang ingin dilakukan oleh manusia itu adalah sesuai dengan tuntutan syariat, walaupun boleh jadi ada hal-hal yang dituntunkan oleh syariat pada bidang-bidang tertentu yang mana kita tidak lakukan karena memang kita bukan termasuk orang yang berkompeten melakukan pekerjaan tersebut.

Contohnya, dalam syariat terdapat aturan mengenai jual beli emas dan memutuskan perkara dan hukum (hudud maupun hukum perdata seperti pernikahan serta persengketaan antar manusia). Karena memang kita bukan orang yang mempunyai emas dan ingin menjualnya, maka bukan berarti kita kekurangan kesempurnaan dalam berislam jika tidak mempraktekkan tuntunan itu. Begitu pula karena kita bukan hakim misalnya, maka tentu saja kita tidak pernah melakukan etika dan ilmu syra’i daam memutuskan hukum dan sebuah perkara.

Adapun yang dimaksud dengan frase kedua “mengerjakan tuntunan syariat dalam segala hal“ adalah upaya semaksimal untuk mengimplementasikan semua TUNTUNAN DAN TUNTUTAN didalam agama Islam dalam segala aspek kehidupan, baik menyangkut diri sendiri maupun orang lain dalam sekup pribadi maupun kolektif.

Oleh karena itu, ajaran Islam itu sesungguhnya dapat dipilah menjadi dua (2) bagian, yakni berupa tuntunan (petunjuk hidup) dan tuntutan (hukuman). Untuk bagian pertama wilayah pribadi, sementara pada bagian kedua didominasi oleh domain pemerintah atau dalam Islam disebuh Ad-Daulah Al-Islamiyyah. Tentu saja akan sangat mustahil bisa menegakkan Islam secara kaffah apabila pemerintah yang dimaksud adalah pemerintah yang tidak berasas pada syariat Islam.

Ada kalanya, syariat Islam itu bisa dilakukan secara individual dan personal seperti ibadah sholat, puasa, bersedekah bahkan melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang melecehkan Allah, Rasul-Nya, agama Islam dengan cara dibunuh seperti yang ramai pada tahun lalu adalah pelecehan Al-Qur’an oleh Ahok dan pembakaran terhadap bendera tauhid yang dilakukan oleh anggota Banser NU di Garut pada hari Ahad, 21 Oktober 2018 yang lalu. Karena memang hukuman yang pantas dan setimpal bagi penghina Islam seperti itu adalah dibunuh, sebagaimana yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Akan tetapi, ada beberapa syariat Islam yang memang aplikasi dan pelaksanaannya harus dilakukan dalam kerangka jamaah atau Daulah (negara). Misalnya adalah hukum potong tangan bagi pencuri  yang sudah sampai nisob, hukuman rajam bagi pezina muhson yang terpenuhi syarat, memutus perkara dan perceraian antara pasutri yang berselisih di kala suami tidak mau menceraikannya dan sejumlah contoh kasus lainnya yang tentu saja bisa dibaca dan dipelajari dalam siroh Nabawiyah.

Dengan demikian, maka minimal diperlukan adanya sebuah jamaah yang menjadi awal mula terciptanya suatu pemerintahan (Daulah) untuk penerapan syariat Islam secara kaffah. Dalam perspektif fikih bergabungnya seorang Muslim dalam sebuah jamaah adalah implementasi dari perintah Allah Ta’ala. Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”. (QS. Ali ‘Imran 3 : 103)

Dalam ayat yang lainnya, Allah juga berfirman,

وَأَنَّ هذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَالِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa”. (QS. Al-An’aam 6 : 153)

Apalagi Rasulullah juga telah menegaskan dalam sabdanya, “Wahai manusia, kalian harus bersatu dan janganlah kalian terpecah. Wahai manusia, kalian harus bersatu dan janganlah kalian terpecah“. (HR.Ahmad).

Oleh karena itu, berkaitan dengan urgensi keberadaan jamaah ditengah-tengah kaum Muslimin jika belum tegak Daulah Islamiyyah dalam pelaksanaan syariat, maka dalam perspektif ushul fiqih berlakulah satu kaidah: ” ما لايتم الواجب إلابه فهو واجب “ (sesuatu yang di mana suatu kewajiban tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya adalah wajib).

Jika sekarang ini katakanlah belum ada Daulah Islamiyyah (sebuah tata kelola masyarakat yang menghimpun semua umat Islam), sementara yang ada baru jama’ah minal Muslimin (jamaah yang menghimpun sebagian umat Islam) yang memang banyak ragamnya, maka cara untuk menilainya adalah dengan menimbang kesesuainan asas dan anggaran dasar serta manhaj jamaah tersebut dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Namun sekarang ini realitanya telah tegak Jamaatul-Muslimin atau Daulah Islamiyyah yang berpusat di bumi Iraq dan Syam (Suriah), yang mana mereka tetap tsabat dalam memerangi musuh-musuh Allah dan konsisten menerapkan dan menegakkan syariat Islam secara kaffah, baik wilayah yang dikuasainya dalam lingkup besar atau kecil.

Maka bagi kaum Muslimin yang berada diluar wilayah tersebut, hendaknya semaksimal mungkin membuat sebuah perkampungan Muslim atau mengkondisikan keluarganya agar supaya kehidupannya sehari-hari semaksimal mungkin sesuai dengan syariat Islam dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan.

Namun bila antum semua mampu dan bersungguh-sungguh dalam niat dan ucapan serta tindakan itu ridho diatur oleh hukum serta syariat Islam, maka segeralah untuk bergabung dan berhijrah ke wilayah Daulah Islamiyyah tersebut sebagai wujud pelaksanaan perintah Allah dalam rangka untuk melaksanakan syariat Islam yang komprehensif atau kaffah. Wallahu a’lam.. [Edt: Abd]

Check Also

Demo Tolak Kenaikan BBM di Iran Tewaskan 106 Lebih Orang Syiah

TEHERAN (Mata-Media.Net) – Aksi demonstrasi yang berujung kerusuhan di negara Syiah Iran mengakibatkan sebanyak 106 orang ...