Tuesday , October 15 2019
Home / Headline / Saling Mengingatkan Karena Allah adalah Kunci Bahagia Pasutri

Saling Mengingatkan Karena Allah adalah Kunci Bahagia Pasutri

(Mata-Media.Com) – Nabi kita, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tuannya para ahli ibadah dan ahli zuhud. Jibril ‘alaihissalam mendatanginya sebagai utusan dari Rabbnya para hamba, menawarkan dua (2) pilihan kepadanya antara diutus sebagai nabi sekaligus raja atau nabi berposisi hamba, maka beliau memilih yang kedua.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kunci-kunci pembendaharaan dunia yang fana, sehingga beliau dan keluarganya merasakan berbagai macam bentuk kemiskinan dan kemelaratan. Ia hidup dalam kesederhanaan bersama para sahabat pilihan radhiyallahu ‘anhum, sedangkan mereka adalah penguasa dunia dan kepala-kepala pun tunduk patuh pada mereka.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, pada masa sekarang ini setelah dibukanya dunia untuk kita, kita mulai kehilangan ruh itu, ruh ahli zuhud generasi awal yang tidak tertipu oleh gemerlapnya dunia. Mereka memahami bahwa untuk selamat dari dunia adalah dengan meninggalkan apa yang ada didalamnya.

Jika diperhatikan keadaan sebagian kaum Muslimah dewasa ini, terlihat mereka menyukai kemewahan yang berlebih dan tamak terhadap dunia dan kotoran-kotorannya. Jika belanja maka berlebih-lebihan, dan jika bercanda dan berbincang dengan sesama mereka tak jarang keluar dari tema. Bahkan tuntutan-tuntutannya membuat lelah dan penat suaminya.

Jika sang suami terlambat memberi nafkah karena kurangnya penghasilan, mereka menggerutu dan mengeluh. Barangkali malah membuat mereka mendesak-desak suaminya untuk kredit dan berhutang. Sehingga terpaksalah ia “mempertebal” mukanya membuat susah banyak orang dengan meminta-minta hutang. Na’udzubillah min dzalik..

Dahulu, seorang istri salaf selalu mengiringi suaminya setiap hari ke pintu rumahnya untuk mengingatkannya sebelum keluar agar selalu bertakwa kepada Allah dalam nafkah yang diberikannya. Perhatian utamanya adalah halal dan haram. Sebab mereka tahu dan faham bahwa saling mengingatkan karena Allah dan untuk taat serta tunduk kepada Allah salah satu kunci kehabagiaan sepasang pasangan suami istri (pasutri).

Adapun sebagian wanita pada hari ini mengiringi suaminya ke pintu rumah untuk mengingatkannya tentang daftar belanja yang tiada habisnya, dan seabrek keinginan duniawinya. Lalu bagaimana dan dari mana suaminya mendapatkannya yang hal itu bukan urusannya??

Baginya dunia itu tak lebih dari makanan dan pakaiannya. Jika ia makan maka berlebihan, jika berbusana maka bermewah-mewahan, jika mengobrol maka topiknya adalah seputar makanan, pakaian, tentang gaya dan warna rambut, padahal sungguh diantara doa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah, “(Ya Allah) janganlah Engkau jadikan dunia itu tujuan terbesar dan puncak ilmu kami”. (HR. Tirmidzi)

Wahai saudariku se-Islam, wahai cucu ‘Aisyah, ‘Aisyah yang pakaiannya penuh bertambalan, mari kita sedikit berimajinasi tentang rumah terbaik dan termulia secara nasab, agama dan kebaikan, ‘iffah, kekayaan, dan ketakwaan, yaitu rumah Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh kamar-kamarnya sangatlah kecil dan sangat sederhana. Amat sempit, sampai hampir tidak muat untuk dua (2) orang. Adapun alas tidurnya adalah sebagaimana yang dituturkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menuturkan, “Adapun alas tidur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah adam dan isinya serat pohon”. (Muttafaqun ‘alaih). Adam adalah kulit yang telah disamak, dan seratnya adalah serat kurma.

Umar “Al-Faruq” bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu bercerita kepada kita dalam sebuah hadits yang panjang, ujarnya, “Maka aku masuk menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau sedang berbaring diatas tikar. Kemudian aku pun duduk. Sewaktu beliau membetulkan sarungnya, yang tidak ada selainnya, terlihat olehku bekas tikar di tulang rusuk beliau. Kuperhatikan di tempat penyimpanan barang. Ternyata aku tidak mendapati apa-apa kecuali sekantong gandum kira-kira satu sha’ dan seukuran qarazh berada di sudut ruangan, dan sehelai kulit yang menggantung. Umar melanjutkan; (Melihat keadaan seperti itu) air mataku menetes, lalu beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu menangis wahai Ibnul Khaththab?’ Aku menjawab, ‘Wahai Nabiyullah, bagaimana aku tidak menangis, sebab aku melihat tikar ini membekas di rusuk Anda, dan aku tidak melihat sesuatupun di tempat penyimpanan Anda selain apa yang telah aku lihat. Padahal istana Persia dan kaisar Romawi berlimpah-limpah dengan buah-buahan dan sungai-sungai, sedangkan engkau adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang pilihan-Nya, hanya beginilah tempat penyimpanan barang Anda? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Wahai Ibnul Khaththab, tidak sukakah kamu jika akhirat untuk kita sedangkan dunia untuk mereka?’ Aku menjawab, ‘Tentu….” (HR. Muslim)

Adapun makanan beliau dan keluarga – shalawat Rabb kami dan kesejahteraan atas mereka –, terkadang dua (2) bulan berturut-turut tungku sama sekali tidak menyala di rumah mereka. Hidup mereka kebanyakan bergantung kepada 2 hal, kurma dan air. Daging yang datang sesekali, acap kali disebut oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah sebagai luhaim (secuil daging) karena amat sedikit!

Imam Ath-Thabari rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan generasi salaf pilihan dari para sahabat dan tabi’in memilih sulitnya hidup, bersabar diatas pahitnya kefakiran, kemiskinan, serta pakaian dan makanan yang kasar daripada kenyamanan hidup dan manisnya kekayaan serta kelapangan. Hal itu menjelaskan tentang keutamaan zuhud di dunia dan mencari nafkah secukupnya saja. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui hari-harinya dengan mengganjalkan batu diperutnya karena lapar. Hal itu karena beliau memilih bersabar atas kerasnya hidup sekalipun beliau tahu jika seandainya ia memohon kepada Rabbnya agar mengubah Gunung Tihamah menjadi emas dan perak tentu akan dikabulkan. Seperti ini jugalah perjalanan orang-orang shaleh”.

Demi Allah wahai saudari Muslimah, renungilah hadits Ummu Salamah radhiyallah ‘anha, ujarnya, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami biasa melewati masa-masa haid sampai suci. Setelah suci maka kami periksa pakaian yang kami kenakan itu, jika terkena darah maka kami mencucinya dan kami shalat menggunakannya, namun jika tidak terkena maka kami biarkan dan kami tetap sholat memakai baju itu tanpa merasa jijik”. (HR. Abu Daud)

Subhanallah, wanita-wanita generasi terbaik itu hanya mempunyai satu baju saja yang dipakainya ketika haid dan suci. Adapun kaum wanita kita pada hari ini hampir-hampir saja lemarinya jebol karena terlalu penuh dengan pakaian dan perhiasan.

Bisa jadi ada yang berkilah, “Kalian hanya hendak mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah, padahal Dia suka melihat bekas nikmat-nikmat-Nya pada hamba-Nya!” Kami jawab; Na’udzubillah, kami tidak hendak mengharamkan kebaikan-kebaikan-Nya atas hamba-Nya. Ini hanyalah seruan untuk bertabiat dengan akhlak sebaik-baik makhluk, dan zuhud adalah perhiasan Mukmin sejati, yaitu yang di matanya dunia itu kecil sedangkan di hatinya akhirat itu besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala suka melihat bekas nikmat-Nya atas hamba-Nya, bukan bekas berlebih-lebihan dan tabdzir. Dia juga tidak suka melihat para istri itu membebani punggung suami mereka dengan menuntut semua yang diinginkannya sekalipun suaminya tidak mampu memberikannya”.

Oleha karena itu kami menyeru para wanita Shalihah untuk mempercantik diri dengan perhiasan indah ini (zuhud di dunia), namun kami juga tidak lupa memperingatkan dari sifat kikir kepada keluarga.

Seorang suami Muslim wajib memberi nafkah kepada istri dan anak-anaknya dengan makruf tanpa berlebihan ataupun melalaikan (hak mereka). Hendaklah orang yang berkecukupan memberi nafkah menurut kemampuannya, hingga dengan demikian dia dapat meraih derajat orang-orang mulia bukan menjadi saudara setan.

Janganlah orang yang berharta itu pelit kepada keluarganya. Hendaklah ia mengharapkan pahala atas setiap suapan yang diberikannya pada keluarganya, dan atas setiap kebahagiaan yang dilimpahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui kedalaman hati. Jika ia orang yang berkekuranganm maka hendaklah tidak membebani dirinya sendiri demi mendapatkan kerelaan istri, yang tidak peduli dengan kondisinya dan tak memahami kelemahannya.

Sesungguhnya kebahagiaan sepasang (pasutri) itu tidak melulu diukur oleh seberapa banyak harta duniawi yang diberikan sang suami kepada istri, jikalau hal itu justru melanggar larangan-larangan Allah dalam hal tabdzir dan pelanggaran syariat yang lainnya. Namun, lebih jauh dari itu, bahagianya pasutri sejatinya dalah bagaimana ia bisa berlaku zuhud dalam mengarungi kehidupan di dunia ini sebagaimana kisah hidup Nabi dan istri-istrinya, serta saling mengingatkan karena Allah Ta’ala.

Akhirnya, segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Ya Allah curahkanlah shalawat dan berkah atas penghulu para nabi dan rasul, keluarga, dan para sahabatnya seluruhnya. Aamiin.. [Edt; Abd/Rumiyah]

Check Also

Pejuang IS Serang Markas Koalisi Salibis Internasional di Hasakah

HASAKAH (Mata-Media.Net) – Setelah menyerang markas intelijen milisi Komunis PKK, pejuang Islamic State (IS) juga menyerang ...