Sunday , April 5 2020
Home / Headline / Ketika Hidayah & Ujian Datang Pasca Pernikahan

Ketika Hidayah & Ujian Datang Pasca Pernikahan

Oleh: Ummu Faruq

(Mata-Media.Net)Adakah diantara ikhwah dan akhwat semuanya yang sejak lahir selalu berada di jalan lurus di atas hidayah, bahkan hingga saat ini? Wallahu a’lam… Tapi menurut pengamatan saya, kebanyakan manusia tentu pernah mengalami yang namanya masa jahiliyah, (termasuk saya sendiri jauh-jauh hari yang lalu).

Pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) semua, masa jahiliyah itu adalah masa di mana kita belum mengenal dienul Islam dengan benar. Kalaupun sholat ya sholat-sholatan, sekedar menjalankannya tanpa tahu maknanya. Kalaupun shaum ya shaum-shauman, sekedar mendapatkan lapar dan haus, karena orang tua menyuruhnya shaum. Kalaupun berjilbab, berjenggot dan bercelana cingkrang ya sekedar mengikuti mode dan trend gaya kekinian sebagaimana yang bisa kita lihat menjamur sekarang ini di media sosial. Demikianlah, dan masih banyak lagi amalan-amalan yang hanya sekedar ikut-ikutan saja dalam melakukannya.

Lalu datanglah hidayah itu. Masyaa Allah. Rasa terpana qolbu (hati) ini saat hidayah datang menyapa. Takjub dan sejuta rasa yang belum pernah kita rasa sebelumnya. Allahu Akbar… Sungguh beruntunglah bagi diri kita yang mendapatkannya.

Adakalanya hidayah datang disaat kita masih remaja, semisal kita masih sekolah atau kuliah, lalu berteman dengan mereka yang mengkaji Islam dan tauhid yang benar. Alhamdulillah. Namun adakalanya juga, hidayah menyapa di saat kita sudah masuk ke gerbang pernikahan. Nah, ini yang akan kita bahas lebih lanjut.

Apakah suami atau isteri kita juga mendapatkan hidayah di saat yang bersamaan? Bisa ya, bisa juga tidak. Jika ya, sungguh luar biasa, masyaa Allah. Kita bisa dengan enjoy searah setujuan mengarungi bahtera rumah tangga dalam naungan hidayah Nya. That’s no problem, guys..

Tapi bagaimanakah jika suami atau isteri kita masih tetap di alam jahiliyah, sementara kita sudah menempuh jalan hidayah? This is big problem dan ujian, guys..

Tapi justru di sinilah ladang jihad kita dalam rumah tangga, khususnya bagi seorang wanita/isteri. Kewajiban kitalah menasehati suami atau isteri kita, mengajaknya untuk menempuh jalan Rabbani. Selalu dan selalu setiap hari, tanpa kata lelah, dan tanpa batas sabar.

Sanggupkah kita dalam menghadapi ujian itu? Mampukah kita? Faktanya, ada yang Allah mampukan dan ada juga yang berguguran di tengah jalan, sesuai sunnatullah.

Kasus suami menceraikan isteri karena si isteri tidak mau diajak ngaji, tidak mau disuruh shalat, tidak mau disuruh menutup aurat, misalnya, setelah dinasehati tiada henti tidak ada perubahan yang berarti, dan masih banyak lagi kasus-kasus lain.

Atau isteri yang minta talak dari suaminya, karena si suami sudah tidak termaafkan lagi oleh isterinya, karena berjudi, mabuk-mabukan, sholat ogah-ogahan dan masih banyak lagi, sedangkan si isteri sudah maksimal berusaha mengajak dan mendakwahi suaminya.

Lalu apakah yang sudah tidak termaafkan itu sehingga kita harus segera mufarrofoh (berpisah) dengan pasangan kita? Yaitu jika suami atau isteri kita sudah murtad, membenci syari’at Islam, mengolok-olok Al-Qur’an dan sunnah Nabi Muhammad serta membantu orang Kafir dan Musyrik dalam memerangi Islam.

Nah, jika sudah seperti ini, yaaa sudah lepaskan sajaaa, pernikahan sudah batal. Hiyyy, ngeri umm.

Bahkan kasus terberani yang dilakukan oleh teman terbaik saya, dia (seorang ummahat yang dalam penilaian saya) telah berangkat sendirian, hijrah ke Syam. Dia tinggalkan suami dan anak-anaknya karena suami dan anaknya tidak mau diajak sejalan dengannya dan lebih asyik serta memilih dengan kenikmatan harta duniawi yang ada, maka kemudian dia tinggalkan rumah mewah dan segalanya, demi memenuhi seruan hijrah ke negeri penuh barakah. Masyaa Allah, Allahu Akbar.

Begitulah jika hidayah telah tertancap kuat dalam qolbu. Ujian sebesar apapun meskipun meninggalkan anak istri dan suami akan ia jalani dan lalui, dan resiko sebesar apapun akan ditempuh demi menegakkan dan meninggikan syari’at Allah. Sebab bagi orang-orang seperti itu, Syari’at Allah adalah harga mati. Wallahu a’lam bish-shawwab… [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Walikota Prabumulih Sebut Meliburkan PNS & Sekolah Tak Cegah Corona

PRABUMULIH (Mata-Media.Net) – Media sosial (medsos) pada Sabtu (4/4/2020) dihebohkan oleh video viral Walikota Prabumulih, ...