Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Bolehkah Berqurban Diniatkan & Ditujukan Untuk Orang yang Sudah Mati?

Bolehkah Berqurban Diniatkan & Ditujukan Untuk Orang yang Sudah Mati?

(Mata-Media.Net) – Maaf ust mau tny, sy mau qurban, tp apkh bolh kita brqurban lalu diniatkan & ditujukan untk org atau kluarga kta yang sudh meninggal dunia? Syukron katsir ustdz atas jawabannya.. [Umi, Banten]

[Jawaban Ustadz Qutaibah Muslim, Pengampu Rubrik Konsultasi Mata-Media.Net]

Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarokaatuh… Bismillah.. Alhamdulillahi robbil ‘aalamin, was-sholatu wassalam ‘ala Rasulillah wa ba’du… Berqurban dengan niatan dan tujuan untuk orang yang sudah meninggal dunia, secara global terbagi menjadi tiga (3) kondisi dan hukum syar’inya :

Pertama, orang yang sudah meninggal tersebut bukan sebagai tujuan utama atau satu-satunya niatan dalam berqurban, namun statusnya hanya diikutsertakan ke dalam niatan ibadah qurban dari keluarganya yang masih hidup.

Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya termasuk yang masih hidup atau yang telah meninggal dunia. Dasar dari bolehnya hal ini adalah karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban untuk dirinya dan keluarganya, termasuk di dalamnya yang telah meninggal dunia.

Bahkan jika seseorang berqurban untuk dirinya, seluruh keluarganya baik yang masih hidup maupun yang telah mati, bisa termasuk dalam niatan qurbannya. Dalilnya,

كَانَ الرَّجُلُ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُضَحِّى بِالشَّاةِ عَنْهُ وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ

“Pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya”. (HR. Tirmidzi no. 1505 dan Ibnu Majah no. 3138)

Imam Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “(Dari berbagai perselisihan ulama yang ada), yang benar, qurban kambing boleh diniatkan untuk satu keluarga walaupun dalam keluarga tersebut ada 100 jiwa atau lebih”. (Nailul Author, Asy-Syaukani, 8: 125, Mawqi’ Al-Islam)

Kedua, berqurban secara khusus untuk orang yang meninggal karena si mayit pernah mewasiatkan atau berwasiat agar keluarganya berqurban untuk dirinya setelah dia meninggal dunia. Hal ini hukumnya juga dibolehkan berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَمَنْ بَدَّلَهُ بَعْدَمَا سَمِعَهُ فَإِنَّمَا إِثْمُهُ عَلَى الَّذِينَ يُبَدِّلُونَهُ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Maka barangsiapa yang mengubah wasiat itu setelah ia mendengarnya, maka sesungguhnya dosanya adalah bagi orang-orang yang mengubahnya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-Baqarah 2 : 181)

Berqurban dengan niat khusus untuk orang yang sudah meninggal dalam rangka menunaikan wasiat si mayyit ini dibolehkan dengan syarat nilai biaya untuk qurban, tidak lebih dari sepertiga total harta si mayit. Karena ketentuan syar’i dalam penunaian wasiat si mayyit terhadap hartanya, tidak boleh lebih dari sepertiga dari total harta yang ditinggalkannya.

Ketiga, berqurban dengan niatan khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari si mayit.

Dalam hal ini para ulama berselisih pendapat. Sebagian ulama’ madzhab Hambali berpendapat perkara itu adalah baik dan dibolehkan karena mengqiyaskannya dengan sedekah atas nama mayyit. Akan tetapi hal ini dibantah karena menyamakan ibadah qurban dengan sedekah adalah analogi yang kurang tepat. Karena tujuan utama berqurban bukan semata untuk sedekah dengan dagingnya, tapi lebih pada bentuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih.

Sehingga pendapat yang lebih rajih (tepat dan kuat) bahwa berqurban dengan niatan khusus untuk orang yang sudah meninggal dunia tanpa ada wasiat khusus darinya adalah tidak ada sunnahnya (tidak ada contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berqurban untuk salah satu orang yang telah meninggal dunia dengan niatan khusus. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah berqurban atas nama pamannya, Hamzah radhiyallahu ‘anhu, padahal ia termasuk kerabat terdekat beliau.

Tidak diketahui pula kalau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban atas nama anak-anak beliau yang telah meninggal dunia, yaitu tiga (3) anak perempuan beliau yang telah menikah dan dua (2) anak laki-laki yang masih kecil. Dan tidak diketahui pula beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berqurban atas nama istri tercinta beliau, Khodijah radhiyallahu ‘anha. Begitu pula, tidak diketahui dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum ada yang pernah berqurban atas nama orang yang telah meninggal dunia diantara mereka. Wallahu A’lam.. [Edt; Abd]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...