Wednesday , August 21 2019
Home / Headline / Bolehkah Daging Qurban Diberikan Kepada Orang Kafir & Beli Hewan Qurban dengan Berhutang?

Bolehkah Daging Qurban Diberikan Kepada Orang Kafir & Beli Hewan Qurban dengan Berhutang?

(Mata-Media.Net) – Ust mau tny, blh kah daging qurban dibrikan kpd ttangga kita yg Kafir? Syukron ust .. [Abdul Makassar]

Asslkm ust,, apkah kita blh membeli hewan qurban, tp dg cara hutang dulu? Misalny sy sdh niat brqurban, tp uang utk bli bru da stlah tgl 10 Dzulhijjah ato stlah plaksanaan sholat ied. Mhn jwbannya ust….. Jazakumullah khair [Ummu Farah Lampung]

[Jawaban Ustadz Qutaibah Muslim, Pengampu Rubrik Konsultasi Mata-Media.Net]

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wa baraakatuh… Bismillah wal-Hamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menetapkan berbagai macam syari’at untuk kebaikan hamba-hamba-Nya. Shalawat dan salam untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya.

Disini ada dua (2) pertanyaan yang masuk, namun kami jadikan satu (1) artikel jawabannya karena masih dalam 1 tema, yakni tentang ibadah qurban. Untuk jawaban dari pertanyaan Abdul Makassar, ada sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ’anhu,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – أَمَرَهُ أَنْ يَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ ، وَأَنْ يَقْسِمَ بُدْنَهُ كُلَّهَا ، لُحُومَهَا وَجُلُودَهَا وَجِلاَلَهَا ] فِى الْمَسَاكِينِ[  ، وَلاَ يُعْطِىَ فِى جِزَارَتِهَا شَيْئًا

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan dia untuk mengurusi unta-unta hadyu (qurban). Beliau memerintah untuk membagi semua daging qurbannya, kulit dan jilalnya (kulit yang ditaruh pada punggung unta untuk melindungi dari dingin) kepada orang-orang miskin. Dan beliau tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun dari qurban itu kepada tukang jagal (sebagai upah). (HR. Bukhari no. 1717 dan Muslim no. 1317)

Dalam hadits ini terlihat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh Ali untuk menyedekahkan atau membagikan seluruh hasil sembelihan hewan qurbannya kepada orang miskin. Selain itu, Rasulullah melarang untuk menjual sedikitpun hasil penyembelihan hewan qurban tersebut, baik kulitnya, kakinya, kepalanya dan jeroannya dengan alasan untuk upah tukang jagal atau panitia qurban sebagaimana yang banyak terjadi di masyarakat umum pada sekarang ini.

Ada pula hadits dari Salamah bin Al-Akwa’ ‘radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« مَنْ ضَحَّى مِنْكُمْ فَلاَ يُصْبِحَنَّ بَعْدَ ثَالِثَةٍ وَفِى بَيْتِهِ مِنْهُ شَىْءٌ » . فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَفْعَلُ كَمَا فَعَلْنَا عَامَ الْمَاضِى قَالَ « كُلُوا وَأَطْعِمُوا وَادَّخِرُوا فَإِنَّ ذَلِكَ الْعَامَ كَانَ بِالنَّاسِ جَهْدٌ فَأَرَدْتُ أَنْ تُعِينُوا فِيهَا »

”Barangsiapa diantara kalian berqurban, maka janganlah ada daging qurban yang masih tersisa dalam rumahnya setelah hari ketiga”. Ketika datang tahun berikutnya, para sahabat mengatakan, ”Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu?”. Maka beliau menjawab, ”(Adapun sekarang), makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami paceklik, sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu”. (HR. Bukhari no. 5569 dan Muslim no. 1974)

Jika kita melihat dalam hadits diatas, maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan kepada shohibul qurban (pengqurban) untuk memakan daging qurban, memberi makan kepada orang lain dan menyimpan daging qurban yang ada. Pertanyaannya, lalu apakah daging qurban itu boleh diberikan kepada orang Kafir?

Terkait memberikan daging kurban kepada orang Kafir, maka para ulama berbeda pendapat terkait hukumnya. Sebagian diantara mereka dari ulama madzhab Maliki dan Syafi’i melarangnya seperti pernyataan Imam Ramli Asy-Syafi’i didalam Nihayatul-Muhtajnya, di mana beliau berkata,

“Sebagaimana tidak boleh memberikan orang Kafir (daging qurban secara mutlak). Berdasarkan hal itu tidak boleh memberikan orang fakir atau orang yang diberi hadiah sesuatu apapun untuk orang Kafir. Karena maksud dari pemberian daging qurban sebagai wujud kasih sayang terhadap kaum Muslimin dengan memakan daging tersebut. Karena itu adalah wujud dari perjamuan Allah bagi mereka, maka tidak boleh memberikannya keada selain kaum Muslimin”.

Tetapi sebagian besar ulama lain dari Maliki, Syafi’i maupun Hambali membolehkannya. Sebagaimana Imam Nawawi rahimahullah dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Muhaddzab mengatakan bahwa dibolehkan memberikan daging hewan qurban kepada orang Kafir dengan syarat bukan hewan qurban yang wajib dilakukan karena nazar. Karena jika hewan qurban wajib, maka tidak boleh memberikan kepada orang Kafir.

Begitu juga Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi didalam kitab Al-Mughni (11/109) dengan tegas membolehkan daging hewan qurban diberikan kepada orang Kafir. Hal ini dikarenakan daging hewan qurban konsekwensinya adalah seperti shodaqoh sunnah lainnya yang boleh diberikan kepada orang Kafir juga.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa permasalahan ini adalah perkara ijtihadiyah khilafiyyah yang tidak ada dalil shorih yang menunjukan hukumnya. Perbedaan para ulama diatas hanyalah didasari pada perbedaan dalam menyikapi daging qurban. Ada yang menganggapnya sebagai hadiah dan shodaqoh sunnah saja sehingga memperbolehkannya, dan ada pula yang menganggapnya sebagai kekhususan bagi umat Islam sehingga dilarang diberikan kepada orang Kafir.

Namun pendapat yang lebih kuat menurut kami adalah pendapat sebagian besar ulama Maliki, Syafi’i dan Hambali yang mengqiyaskan pemberian daging kurban kepada orang Kafir dengan shodaqoh sunnah itupun juga dengan syarat bukan orang Kafir yang menampakkan permusuhan dan kebencian kepada Islam dan kaum Muslimin. Walaupun begitu kami tetap mengajak kepada kaum Muslimin untuk tetap mempriotaskan orang-orang fakir dari kaum Muslimin sebagai objek distribusi daging kurban.

Sementara itu, untuk jawaban dari pertanyaan Ummu Farah Lampung, adapun berkurban dengan uang atau harta pinjaman (hutang), maka hukum asalnya adalah boleh-boleh saja dan sah-sah saja, dikarenakan tidak ada nash secara khusus yang melarang seseorang berkurban dengan cara berhutang. Dan yang terpenting didalam berkurban adalah, binatang yang disembelih adalah binatang ternak (bahimatul-an’aam) dan terbebas dari cacat yang jelas, serta waktu penyembelihan dilakukan setelah sholat ‘ied hingga akhir hari tasyriq.

Tetapi juga perlu diingat bahwa, sebenarnya berkurban dengan uang hutang juga kurang dianjurkan, karena orang tersebut tidak termasuk yang memiliki kelapangan dan juga dikarenakan kedudukan hutang jauh lebih penting.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang Mukmin itu tergantung kepada hutangnya sehingga dibayarkan”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 2/53)

Sehingga bisa disimpulkan, bagi orang yang memiliki jaminan untuk membayarnya seperti gaji tetap atau semisalnya seperti simpanan barang berharga yang tidak berbentuk uang seperti mobil, maka dia dibolehkan berhutang untuk berkurban. Sementara orang yang tidak memiliki jaminan untuk membayarnya, maka tidak dianjurkan baginya untuk berhutang guna membeli hewan qurban, supaya tidak membebankan pada dirinya dengan sesuatu yang tidak diwajibkan kepadanya seperti kondisinya saat ini. Wallahu Ta’ala A’lam Bish-Showwab.. [Edt; Abd]

Check Also

Kerusuhan di Papua Merembet ke Fakfak & Mimika

FAKFAK (Mata-Media.Net) – Kerusuhan di Papua sejak Selasa (20/8/2019) terus terjadi dan semakin meluas ke ...