Monday , February 24 2020
Home / Headline / Gimana Hukum Salaman dengan Lawan Jenis Bukan Mahrom?

Gimana Hukum Salaman dengan Lawan Jenis Bukan Mahrom?

 

(Mata-Media.Net) – Satu-satunya uswah hasanah (teladan yang baik dan benar) bagi umat manusia di seluruh dunia dan muka bumi ini, khususnya bagi umat Islam, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ

“Sungguh kepala salah seorang (diantara kalian) ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahromnya)”. (HR. Ath-Thobroni dalam Mu’jamul-Kabir 20/210 dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu)

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, baru-baru ini trdengar kabar bahwa sejumlah menteri dalam kabinet Joko Widodo (Jokowi) menyebut bahwa seorang wanita Muslimah yang bercadar, laki-laki yang bercelana cingkrang, berjenggot dan tidak mau bersalaman atau berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahromnya sebagai bentuk pengamalan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya adalah tanda atau ciri-ciri orang yang terpapar radikalisme.

Untuk diketahui bersama, menurut jumhur (mayoritas) ulama, salaman sesama mahrom memang dibolehkan dan dihukumi sunnah (dianjurkan). Berjabat tangan yang dalam bahasa Arab disebut dengan mushofahah memang perkara yang ma’ruf, yakni sebuah kebaikan. Sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu menyampaikan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ الْـمُؤْمِنَ إِذَا لَقِيَ الْـمُؤْمِنَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، وَأَخَذَ بِيَدِهِ فَصَافَحَهُ، تَنَاثَرَتْ خَطَايَاهُمَا كَمَا يَتَنَاثَرُ وَرَقُ الشَّجَرِ

“Sesungguhnya seorang Mukmin apabila bertemu dengan Mukmin yang lain, lalu ia mengucapkan salam dan mengambil tangannya untuk menjabatnya, maka akan berguguran kesalahan-kesalahan keduanya sebagaimana bergugurannya daun-daun pepohonan”. (HR. Al-Mundziri dalam At-Targhib 3/270, Al-Haitsami dalam Al-Majma’ 8/36, lihat Ash-Shahihah no. 526)

Sementara itu, bersalaman dengan yang bukan mahrom, maka para ulama ada silang pendapat, yakni dibedakan atau dirinci antara berjabat tangan dengan yang sudah tidak punya rasa suka (syahwat) artinya orang yang sudah lanjut usia, dan berjabat dengan orang yang masih muda.

Menurut ulama Malikiyah (Madzhab Maliki), berjabat tangan dengan yang bukan mahrom tetap tidak dibolehkan walaupun berjabat tangan dengan yang sudah sepuh dan tidak punya rasa apa-apa (tidak dengan syahwat). Mereka beralasan dengan keumuman dalil yang melarangnya, salah satunya adalah dalil hadits, “Sungguh kepala salah seorang (diantara kalian) ditusuk dengan jarum dari besi itu lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya (bukan mahromnya)”. (HR. Ath-Thobroni dalam Mu’jamul-Kabir 20/210 dari Ma’qil bin Yasar radhiyallahu ‘anhu)

Sedangkan ulama Syafi’iyah (Madzhab Maliki), yang merupakan madzhab yang dipakai dan dipegang oleh mayoritas Muslimin di Indonesia dengan sangat jelas mengharamkan berjabat tangan dengan yang bukan mahrom, juga tidak mengecualikan yang sudah sepuh atau sudah lanjut usia atau yang tak ada syahwat atau rasa apa-apa. Mereka pun tidak membedakannya dengan yang muda-muda.

Imam An-Nawawi rahimahullah (salah satu ulama Syafi’iyah) berkata dalam kitabnya Al-Majmu’: “Sahabat kami berkata bahwa diharamkan untuk memandang dan menyentuh wanita jika wanita tersebut telah dewasa (baligh). Karena sesungguhnya seseorang dihalalkan untuk memandang wanita yang bukan mahramnya jika ia berniat untuk menikahinya atau dalam keadaan jual beli atau ketika ingin mengambil atau memberi sesuatu ataupun semisal dengannya (seperti bertanya perkara syari’at atau ada keperluan yang lain). Namun tidak boleh untuk menyentuh wanita walaupun dalam keadaan demikian”.

Sedangkan yang membolehkan berjabat tangan dengan yang bukan mahromnya yang sudah tua (yang tidak ada syahwat) adalah ulama Hanafiyah (Madzhab Hanafi) dan ulama Hambali (Madzhab Hambali). Namun untuk berjabat tangan dengan non mahrom yang masih muda dan memiliki syahwat, maka tidak dibolehkan menurut mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali.

Dalam pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, bersalaman dengan lawan jenis yang bukan mahrom dan memiliki syahwat atau masih muda dihukumi haram. Sedangkan ulama Hanafiyah mengaitkan larangan berjabat tangan dengan yang muda jika disertai syahwat (rasa suka padanya). Namun ulama Hambali melarang hal itu, baik bersalaman tersebut di balik kain ataukah tidak. (Lihat bahasan dalam Kunuz Riyadhis Sholihin, 11: 452)

Salah satu dalil lainnya yang melarang berjabat tangan lawan jenis yang bukan mahrom. ‘Urwah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

كَانَتِ الْمُؤْمِنَاتُ إِذَا هَاجَرْنَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُمْتَحَنَّ بِقَوْلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ (يَا أَيُّهَا النَّبِىُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ عَلَى أَنْ لاَ يُشْرِكْنَ بِاللَّهِ شَيْئًا وَلاَ يَسْرِقْنَ وَلاَ يَزْنِينَ) إِلَى آخِرِ الآيَةِ. قَالَتْ عَائِشَةُ فَمَنْ أَقَرَّ بِهَذَا مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ فَقَدْ أَقَرَّ بِالْمِحْنَةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَقْرَرْنَ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِنَّ قَالَ لَهُنَّ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « انْطَلِقْنَ فَقَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». وَلاَ وَاللَّهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَدَ امْرَأَةٍ قَطُّ. غَيْرَ أَنَّهُ يُبَايِعُهُنَّ بِالْكَلاَمِ – قَالَتْ عَائِشَةُ – وَاللَّهِ مَا أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى النِّسَاءِ قَطُّ إِلاَّ بِمَا أَمَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا مَسَّتْ كَفُّ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَفَّ امْرَأَةٍ قَطُّ وَكَانَ يَقُولُ لَهُنَّ إِذَا أَخَذَ عَلَيْهِنَّ « قَدْ بَايَعْتُكُنَّ ». كَلاَمًا.

“Jika wanita Mukminah berhijrah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka diuji dengan firman Allah Ta’ala, “Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina ….” (QS. Al-Mumtahanah 60 : 12). ‘Aisyah pun berkata, “Siapa saja wanita Mukminah yang mengikrarkan hal ini, maka ia berarti telah diuji”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri berkata ketika para wanita Mukminah mengikrarkan yang demikian, “Kalian bisa pergi karena aku sudah membaiat kalian”. Namun -demi Allah-, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak pernah menyentuh tangan seorang wanita pun. Beliau hanya membaiat para wanita dengan ucapan beliau. ‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menyentuh wanita sama sekali sebagaimana yang Allah perintahkan. Tangan beliau tidaklah pernah menyentuh tangan mereka. Ketika baiat, beliau hanya membaiat melalui ucapan dengan berkata, “Aku telah membaiat kalian”. (HR. Muslim no. 1866)

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarah Shahih Muslim: “Hal ini menunjukkan bahwa cara membaiat wanita adalah dengan perkataan, dan hal ini juga menunjukkan, mendengar ucapan atau suara wanita yang bukan mahrom adalah diperbolehkan jika ada kebutuhan, karena suara bukanlah aurat. Dan tidak boleh menyentuh secara langsung wanita yang bukan mahrom jika tidak termasuk hal yang darurat, semisal seorang dokter yang menyentuh pasiennya untuk memeriksa penyakit”.

Dari penjelasan diatas, maka kesimpulannya adalah bahwa berjabat tangan atau bersalaman langsung dengan laswan jenis yang bukan mahrom adalah haram, dan saat ini hal itu merupakan salah satu diantara kemaksiatan yang telah tersebar di kalangan manusia dan dianggap biasa. Dan hal ini termasuk kemungkaran jika diukur dari sisi syariat Allah Ta’ala, karena hal tersebut merupakan perbuatan yang buruk atau tanda rusaknya agama seseorang. Wallahu a’lam.. [Edt; Abd/dbs]

Check Also

Gempa Magnitudo 5,7 Guncang Perbatasan Turki & Iran, 7 Orang Tewas

ANKARA (Mata-Media.Net) – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,7 mengguncang Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran pada ...