Sunday , April 5 2020
Home / Headline / Bolehkah Meninggalkan Sholat Jum’at & Berjamaah Karena Virus Corona?

Bolehkah Meninggalkan Sholat Jum’at & Berjamaah Karena Virus Corona?

(Mata-Media.Net) Ada satu (1) pertanyaan yang muncul ditengah merebaknya wabah dan virus Corona atau Covid-19 yang telah menjangkiti sedikitnya 152 negara diseluruh dunia, termasuk Indonesia. Pertanyaan tersebut adalah,

هل يجوز للمسلمين الأصحاء ترك الجمعة والجماعة خوفا من المرض (كورونا) ؟

Bolehkan kaum Muslimin meninggalkan sholat Jum’at (dan sholat berjamah sebagaimana himbauan dan fatwa Majelis Ulama Indonesia/MUI) karena untuk mengantisipasi virus Corona?

Para pembaca situs online Mata-Media.Net yang dirahmati Allah semuanya, perlu diketahui bersama bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman terkait wajibanya melaksanakan sholat Jum’at bagi setiap Muslim,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sholat Jum’at, maka bersegeralah kamu (ke masjid) untuk mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. (QS. Al-Jumu’ah 62 : 9). Dan dalam hal ini, Syaikh Ahmad Al-Kury dari Mauritania berkata,

كتب الشيخ: أحمد الكوري:

الموريتانى

Oleh: Syaikh Ahmad Al-Kury dari Mauritania

أولا.

في الخوف من العدو المحقق عند القتال في سبيل الله لم تسقط الجماعة فكيف تسقط بسبب الخوف المتوهم من المرض ؟!

《وإذا كنت فيهم فأقمت لهم الصلاة فلتقم طائفة منهم معك…》الآية.

  1. Kewajiban sholat berjama’ah dan sholat Jum’at (bagi setiap Muslim) tidak gugur dalam kondisi perang militer yang sangat mencekam. Bagaimana mungkin kewajiban itu bisa gugur hanya karena kekhawatiran yang belum pasti.

ثانيا .

هذه الأوبئة والأمراض سببها الحقيقي هو الذنوب والمعاصي. قال تعالى: 《وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم》.

وقال:《ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي عملوا لعلهم يرجعون》.

ألم يبين تعالى أن العلاج إنما هو في الرجوع إلى الله بالتوبة والاستغفار والصلاة والتلاوة والدعاء … وليس في ترك بعض ما أوجب علينا من جمعة وجماعة ؟!!

  1. Virus (Corona maupun virus-virus lainnya) ini datang karena kemaksiatan hamba-Nya kepada Allah. Maka solusinya (untuk mengatasi hal itu yang paling utama) adalah taubat, sholat, istighfar, dan bukan sebaliknya malah meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah.

ثالثا.

قول الله تعالى: 《ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن نبرأها》. وقال: 《قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا》.

وقال:《قل لو كنتم في بيوتكم لبرز الذي كتب عليهم القتل إلى مضاجعهم》.

وقال صلى الله عليه وسلم((واعلم أن الأمة لواجمعت على أن ينفعوك لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك))  رواه أحمد والترمذي وقال حسن صحيح .

فإيماننا بالقضاء والقدر وتوكلنا على الله جل وعلا  ألا يمنعنا من ترك ما أوجب علينا من صلاة الجمعة والجماعة خوفا من المرض وغيره ؟!!!

  1. Kita (sebagai seorang Muslim harus) beriman kepada Qodho dan Qodar. Oleh karena itu, keimanan itu tidak bisa dijadikan alasan untuk meninggalkan perintah dan kewajiban sholat Jum’at dan sholat berjama’ah.

رابعا.

ألم يتحدث صلى الله عليه وسلم عن كيفية التعامل مع الطاعون وأنه لا يجوز دخول الأرض التي فيها الطاعون ولا الخروج من الأرض التي فيها .. فهل ذكر  فيه ترك صلاة الجماعة؟!!

  1. Rasulullah ﷺ tidak pernah mengajarkan kepada ummatnya untuk meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah akibat wabah virus yang melanda sebuah negeri.

خامسا.

وقع الطاعون في عهد عمر بن الخطاب رضي الله عنه وتشاور في أمره مع المهاجرين ثم الأنصار ثم مسلمة الفتح ..

 فهل عطلوا بسببه جمعة أو جماعة ؟!!

  1. (Amirul Mukminin) Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu juga tidak pernah mengambil kebijakan untuk meniadakan sholat Jum’at dan sholat berjama’ ah pada saat wabah virus melanda Damaskus (Syam atau Suriah) di masa kekhilafahannya.

سادسا.

يقول الله سبحانه وتعالى (واستعينوا بالصبر والصلاة) فهل الإستعانة هنا بإقامة الصلاة في المسجد كما كان النبي صلى الله عليه وسلم يؤديها أم بترك الجمع والجماعات ؟!!

  1. Dalam menghadapi sebuah musibah, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan dan memberi petunjuk kepada hambanya untuk bersabar dan memperbanyak sholat, bukan sebaliknya malah meninggalkan sholat berjama’ah.

سابعا.

يقول صلى الله عليه وسلم 《من صلى الصبح في جماعة فهو في ذمة الله ..》 ألا يكفينا أننا في ذمة الله  ؟! 《أليس الله بكاف عبده》؟!!

  1. Orang yang sholat shubuh berjama’ah akan mendapat perlindungan Allah Ta’ala (Al-Hadits). Apakah kita tidak lagi percaya dengan jaminan Allah? Bukankah Allah yang mencukupi hamba-Nya (QS. Az-Zumar 39 : 36).

ثامنا.

إذا كان صلى الله عليه وسلم لم يأذن للأعمى في التخلف عن الجماعة مع قوله بأنه لا قائد له وأن  المدينة كثيرة الهوام والسباع … كيف يؤذن للصحيح في التخلف عنها لمجرد خوف المرض ؟!!

  1. Rasulullah ﷺ tidak mengizinkan bagi orang buta untuk meninggalkan sholat berjama’ ah, padahal resiko bahaya sangat tinggi (karena dia tidak mengetahui jalanan dan bisa membahayakan dirinya ketika dalam perjalanan). Lalu, bagaimana mungkin sholat berjama’ah bisa ditinggalkan dengan resiko yang masih belum pasti?

تاسعا.

لقد كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا حزبه أمر بادر إلى الصلاة .. فهل إذا حزبنا فيروس الكورونا نترك صلاة الجمعة والجماعة ؟!!

  1. Teladan Nabi Muhammad ﷺ dalam menghadapi musibah adalah justru dengan memperbanyak melaksanakan sholat. Maka, apakah jika kita terkena virus Corona lalu kita meninggalkan sholat Jum’at dan berjama’ah?

عاشرا.

لقد كان في كل مدينة إسلامية جامع واحد يصلي فيه الجميع .. وقد كان يصيب المسلمين الوباء والطاعون

من حين لآخر ..

فهل أفتى أحد من علماء المسلمين عبر التاريخ بغلق المساجد بسبب وباء أو طاعون ؟!

( بويا.أ.إ )

  1. Dahulu di kota Madinah hanya ada satu masjid yaitu masjid Nabawi. Wabah penyakit pun sering muncul (di kota Madinah). Namun tidak pernah muncul fatwa (seperti fatwa MUI dan fatwa dari lembaga lainnya pada saat seperti sekarang ini) untuk meninggalkan sholat Jum’at dan sholat berjama’ah. Wallahu A’lam…

Maka dari itu, dalam menghadapi virus Corona ini, kaum Muslimin seharusnya tidak hanya mengandalkan hal yang berbau medis dan dzohir (nampak) semata misalnya dengan menumpuk serta menyimpan masker, cairan pencuci tangan dan yang lainnya secara berlebihan, lalu lupa untuk menyiapkan hal yang lebih utama, yakni memperbarui serta meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan ketaatan.

Sebab Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah rahimahullah pernah berkata bahwa salah satu penyebab munculnya virus dan wabah penyakit baik yang skala kecil atau besar itu adalah karena kemaksiatan, kemungkaran dan kesyirikan yang dilakukan oleh manusia. Sehingga, untuk mengatasi dan mencari solusi dari hal itu adalah dengan menyetop kemaksiatan, kemungkaran dan kesyirikan, lalu bertaubat dengan taubatan nasuha, sembari memperbarui serta meningkatkan keimanan, ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah Ta’ala. [Edt; Abd/dbs/dengan sedikit editan]

Check Also

Walikota Prabumulih Sebut Meliburkan PNS & Sekolah Tak Cegah Corona

PRABUMULIH (Mata-Media.Net) – Media sosial (medsos) pada Sabtu (4/4/2020) dihebohkan oleh video viral Walikota Prabumulih, ...