Thursday , November 21 2019
Home / Netizen / Gimana Nasib IS Usai Kematian Syaikh Al-Baghdadi & Syaikh Abu Hasan?

Gimana Nasib IS Usai Kematian Syaikh Al-Baghdadi & Syaikh Abu Hasan?

DAMASKUS (Mata-Media.Net) – Dua (2) pemimpin tertinggi Islamic State (IS), Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi Al-Qurosyi selaku Amirul Mukminin dan Syaikh Abu Hasan Al-Muhajir selaku jubir IS telah meninggal seusai melakukan pertempuran hebat dan sengit melawan pasukan khusus Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (26/10/2019) malam di Barisha, Idlib dan Jarablus, Suriah.

Namun sejumlah pengamat gerakan jihad dan pengamat teroris mengatakan, kematian itu tampaknya tidak akan menghentikan simpatisan dan anggota IS di seluruh dunia untuk menyebarkan aksi dan pemikiran mereka.

Di bawah kepemimpinan Khalifah Ibrahim bin Awwad -nama asli Syaikh Al-Baghdadi-, IS masih bisa beroperasi sendiri. Syaikh Al-Baghdadi yang meninggal dalam usia 48 tahun itu merupakan sosok kharismatik dan disegani oleh umat Islam dan para pendukungnya. Dia juga dikenal sebagai orang yang sangat menjaga keamanan dan memberikan bawahannya keleluasaan untuk bertindak sendiri. Dalam berbagai macam propagandanya, IS kerap menyebut para pemimpin mereka bisa datang dan pergi, akan tetapi gerakan dakwah dan jihad itu harus tetap berlanjut.

Lagi pula pendiri IS dan dua (2) pemimpinnya yang terbunuh sebelum Syaikh Al-Baghdadi, yakni Syaikh Abu Umar Al-Baghdadi dan menteri perangnya yakni Syaikh Abu Hamzah menjadi sosok yang dikenal sebagai konseptor untuk memperluas kekuasaan IS di Timur Tengah dan sekitarnya.

Di tahun-tahun terakhirnya, Syaikh Al-Baghdadi juga menerapkan aturan keamanan yang ketat dan dia diyakini hanya dikelilingi sekelompok kecil orang dekatnya, termasuk para istri dan anaknya serta beberapa orang kepercayaannya.

Menurut pejabat intelijen Syiah Rafidhah Iraq dan Salibis Amerika, Syaikh Al-Baghdadi dengan kondisi yang seperti itu membatasi komunikasi dengan dunia luar yang berarti gerakan jihad tersebut bisa berjalan tanpa banyak campur tangan langsung dari dirinya.

“Kematian (Syaikh) Al-Baghdadi tentu penting tapi kita tahu dari apa yang kita lihat selama ini, menghabisi sang pemimpin bukan berarti menyingkirkan organisasinya,” kata Hassan Abu Hanieh, pakar kelompok ekstremisme asal Yordania. “IS menciptakan sebuah struktur yang tidak harus terpusat dan akan terus berjalan bahkan tanpa (Syaikh) Al-Baghdadi,” imbuhnya.

Dalam setahun terakhir saja, IS menyatakan bertanggung jawab atas berbagai macam dan ratusan serangan mematikan diseluruh wilayah dan negara, seperti di Afghanistan, termasuk bom di kuil Syaih yang menewaskan dan melukai ratusan orang; penembakan di pasar Natal di Strasbourg, Perancis yang menewaskan puluhan orang; bom di katedral Filipina oleh cabang IS di Asia Timur yang menewaskan puluhan orang; serangkaian serangan bom di Sri Lanka yang menewaskan lebih dari 250 orang dan sejumlah serangan di Rusia, Mesir, Australia, Afrika dan sejumlah lokasi lain.

Meski kekhalifahan IS sudah tercerai-berai, lanjut analis Tumur Tengah, namun IS masih mempunyai banyak pendukung dan menjalin hubungan dengan simpatisan mereka di Afghanistan, Libya, Filipina, Semenanjung Sinai di Mesir, Nigeria, dan sejumlah tempat lain.

Cabang-cabang IS dengan idelogi sama sebagian besar beroperasi secara independen, melancarkan serangan ke pasukan keamanan setempat, mengambil alih wilayah atau sebagian kawasan di sejumlah kota. Bagi pemerintahan setempat, IS merupakan ancaman, namun pejabat AS khawatir sejumlah cabang IS, seperti di Afghanistan atau Libya bisa melancarkan serangan di negara Barat.

Laporan terakhir dari inspektur jenderal operasi koalisi Salibis internasional pimpinan AS memperkirakan bahwa IS masih punya anggota sebanyak 14.000 hingga 18.000 personel di Iraq dan Suriah, termasuk 3.000 pejuang asing. Namun laporan itu memberi catatan angka itu bisa jadi berbeda karena IS hingga kini masih menyebar propaganda lewat media sosial untuk merekrut anggota baru.

Di Iraq, mantan jenderal kontraterorisme dan pejabat intelijen mengatakan, kematian Syaikh Al-Baghdadi tidak akan melumpuhkan dan menghentikan IS yang saat ini pelan-pelan tengah bangkit lagi di sebelah timur laut Iraq untuk kembali menegakkan Khilafah ‘Ala Minhajin-Nubuwah.

“Ini bukan akhir, tapi awal dari era baru, zaman baru dengan nama baru dari bentuk terorisme baru,” ujar Mayor Jenderal Ismail Almahalawi, veteran dalam perang melawan IS. [AR/dbs]

Check Also

Ayo Beriklan & Donasi di Situs Online Mata-Media.Net

(Mata-Media.Net) – Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ ...