Monday , October 14 2019
Home / Netizen / Event / Mengenang Serangan 911; Hancurkan Wibawa & Ekonomi Amerika

Mengenang Serangan 911; Hancurkan Wibawa & Ekonomi Amerika

NEW YORK (Mata-Media.Net) – Serangan belasan mujahidin Al-Qaeda dibawah pimpinan Syaikh Usamah bin Laden ke gedung atau menara kembar World Trade Centre (WTC) di New York, Gedung Pentagon di Washington DC dan Pennsylvania pada 11 September 2001 atau yang lebih dikenang dengan ‘Serangan 911″ lalu masih membekas bukan hanya bagi warga Amerika Serikat (AS), akan tetapi juga seluruh dunia.

Hari Rabu 11 September 2019, tepat 18 tahun tragedi yang menewaskan ribuan orang itu terjadi. Selain menewaskan ribuan orang serangan itu juga menghancurkan wibawa dan perekonomian Amerika. Di mana, Amerika yang selama ini dinilai sebagai negara Adidaya dan terkuat, pertahanannya bisa ditembus oleh serangan Al-Qaeda kala itu. Hal ini jelas saja meruntuhkan wibawa Amerika di mata dunia internasional.

Insiden itu juga menjadi serangan mujahidin terbesar yang terjadi di Amerika dalam sejarah dan juga merupakan penyelidikan terbesar yang pernah dilakukan Biro Investigasi Federal AS (FBI). Selain itu, sejak saat itu pula, Presiden AS Greoge W Bush mengkampanyekan istilahnya “Perang Terhadap Terorisme” yang mana sejatinya merupakan “Perang Terhadap Islam dan Kaum Muslimin”.

Saat itu, sebanyak 19 mujahidin Al-Qaeda membajak empat (4) pesawat komersial maskapai AS, American Airlines dan United Airlines, yang berencana terbang menuju wilayah pantai barat Negeri Paman Sam pada Selasa pagi.

19 Mujahidin Al-Qaeda Pelaku Serangan 911

Setidaknya 2.753 orang Kafir Kristen tewas ketika pesawat American Airlines Flight 11 dan United Airlines Flight 175 menabrak Gedung WTC di kawasan Manhattan.

Pesawat pertama menabrak menara WTC utara sekitar pukul 08.46 waktu lokal, sementara itu pesawat kedua menabrak gedung selatan WTC 17 menit setelahnya. Para korban tewas itu berusia remaja sampai 85 tahun. Sebanyak 75-80 persen korban tewas merupakan pria.

Di tempat lainnya, sebuah pesawat American Airlines bernomor 77 menabrakkan diri ke gedung Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon di Washington DC. Sebanyak 184 orang Kafir tewas dalam insiden itu.

Sementara itu, pesawat United Airlines dengan nomor penerbangan 93 menabrak sebuah ladang di Shankville, Pennsylvania. Saat itu, pesawat membawa 40 penumpang termasuk awak pesawat.

Pihak berwenang AS meyakini para mujahidin pembajak menabrakkan pesawat di lokasi itu sebelum meraih target awal mereka karena penumpang berusaha mengambil kendali pilot. Hingga bulan Juli 2019, 1.644 dari total 2.753 korban tewas telah berhasil diidentifikasi.

Pihak berwenang memperkirakan sebanyak US$500 ribu atau Rp7,02 miliar bagi para mujahidin untuk melancarkan serangan 9/11. Namun di sisi lain, kerugian ekonomi Amerika akibat serangan itu mencapai US$123 miliar selama 2-4 minggu pasca serangan berlangsung.

Seperti dilansir CNN pada Desember 2001, pemerintah AS merilis rekaman suara di mana pemimpin kelompok Al-Qaeda, Syaikh Usamah bin Laden mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.

Lima (5) orang mujahidin dan tokoh Al-Qaeda bakal kembali diadili setelah lama terhenti. Pengadilan yang sarat akan rekayasa rencananya akan digelar pada 2021 mendatang.

Menurut Associated Press, kelima terdakwa kini sedang menjalani masa penahanan di penjara Teluk Guantanamo yang sangat melanggar HAM. Mereka dituduh merencanakan dan membantu serangan 9/11.

Kelimanya akan menjadi yang pertama diadili dalam komisi militer yang dibentuk untuk menangani tahanan kasus 9/11.

Kelimanya adalah Khalid Sheikh Mohammad, Walid bin Attash, Ramzi Binalshibh, Ali Abd al Aziz Ali, dan Mustafa al-Hawsawi. Mereka dituduh turut merencanakan dan berpartisipasi dalam skenario yang dibuat Al-Qaeda. [AR/dbs]

Check Also

12 Masjid di Jerman Terima Ancaman Bom & Pesan Islamophobia

BERLIN (Mata-Media.Net) – Islamophobia masih juga belum hilang dari Eropa. Sejumlah masjid dan politisi di Jerman ...