Thursday , December 12 2019
Home / Headline / Mereka Mengaku Pecinta, Tapi Realitanya Adalah Pembenci..!!

Mereka Mengaku Pecinta, Tapi Realitanya Adalah Pembenci..!!

Cinta Bukanlah Seperti Itu..!! Syubhat Dibalik Orang-Orang Yang Mengaku Sebagai Pecinta Para Pemimpin & Ulama Negara Islam (NI-Islamic State/IS)

Oleh: Furqon

(Mata-Media.Net)Jika ada seseorang yang mengaku dan menyatakan bahwa dia menyukai serta mencintai suatu barang yang ia miliki atau akan ia beli, maka yang semestinya ia lakukan adalah segera membelinya berapapun harga yang ditawarkan oleh si penjual barang tersebut. Hal itu ia lakukan karena rasa suka dan cinta yang sudah tertatam dalam hatinya.

Setelah barang itu terbeli dan ia miliki, maka langkah selanjutnya yang ia lakukan adalah menempatkannya ditempat yang aman, merawat dan menjaganya sepenuh hati. Ia tidak akan membiarkan barang tersebut mendapat gangguan hingga bisa membuatnya jelek atau rusak. Inilah hakikat suka dan cintanya seseorang terhadap suatu barang.

Contoh hakikat cinta yang lainnya adalah, ketika ada seseorang yang mengaku dan menyatakan bahwa dirinya cinta terhadap orang lain, misalnya suami atau istrinya, maka salah satu diantara keduanya otomatis juga akan merawat, menjaga dan merahasiakan rahasia atau aib satu dengan yang lainnya. Ketika ada gelombang ujian, cobaan ataupun fitnah yang mendera, maka keduanya akan saling menolong dan menguatkan.

Ketika diantara keduanya sedang ada masalah, maka yang dilakukan oleh orang yang sungguh-sungguh menyukai dan mencintai orang lain itu adalah tidak mengumbar aib atau masalah yang sedang dihadapi. Mereka niscaya akan menutup rapat-rapat hal-hal buruk agar tidak terpublikasi ke publik dan diketahui oleh orang lain. Terlebih dalam agama Islam, dilarang mengumbar hal-hal negatif dan aib pasangannya ke publik.

Inilah hakikat suka dan cintanya seseorang, misalnya suami kepada istri ataupun sebaliknya. Secara kuat dan tekat yang bulat, suami istri akan mencegah hal-hal yang buruk dan negatif agar tidak keluar ke publik. Sebaliknya, ia akan menampilkan kesan-kesan positif dan baik agar orang lain tidak mengetahuinya, meskipun masalah yang mereka hadapi begitu hebat dan dahsyat.

Jika kemudian ada orang yang mengaku menyukai dan mencintai suatu barang atau seseorang namun sikapnya terbalik dari contoh dan permisalan diatas, maka sejatinya dia itu bukanlah seorang pencinta, namun seorang pembenci dan perusak. Ungkapan suka dan cinta yang keluar dari mulut atau pengakuan tulisannya tidak lain hanyalah bohong dan dusta belaka…!!!

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, sekarang ini kita lihat bahwa wilayah Daulah Islamiyyah di semua wilayah, khususnya di bumi Syam atau Suriah sedang dalam situasi yang tidak menguntungkan karena diserang secara besar-besaran oleh pasukan SDF dan milisi Komunis PKK yang dibantu oleh koalisi Salibis internasional 80 Negara pimpinan Amerika Serikat (AS).

Daulah Islamiyyah atau Khilafah Islamiyyah yang dideklarasikan oleh Syaikh Abu Muhammad Al-Adnani taqabbalahullah tahun 2014 silam pada saat ini sedang mengalami ujian dan cobaan yang begitu hebat. Namun itu semua tidak lain adalah bentuk tamhis, dan ujian dari Allah, apakah mereka tetap istiqomah, sabar dan tsabat diatas jalan perjuangan dakwah dan jihad untuk menegakkan syariat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Bagi sebagian warga dan pasukan Daulah Islam atau Islamic State (IS), ujian dan cobaan serta semakin kecilnya wilayah yang mereka kuasai di Suriah dan wilayah lainnya tidak menyurutkan semangat dan tekad mereka untuk berada dalam berjalan diatas jalan perjuangan dibawah komando Sang Khalifah, Syaikh Abu Bakar Al-Baghdadi hafidzahullah. Bahkan mereka terus berjuang hingga titik darah terakhir mereka, dan tak sedikit yang kemudian mendapatkan syahid di bumi Syam. Semoga Allah menerima kesyahidan mereka, dan memberikan pertolongan dan kemenangan dengan segera kepada para pasukan Daulah Islam yang masih tersisa.

Namun bagi sebagian orang, ujian dan cobaan yang begitu hebat dan dahsyat tersebut akhirnya membuat mereka keluar dari wilayah terakhir Daulah Islam di bumi Syam, yakni distrik Baghuz, provinsi Al-Barakah (Deir Ezzor) karena sejumlah alasan dan motif yang melatarbelakangi. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita tidak berburuk sangka dan menghakimi mereka, atas apa yang mereka lakukan pada saat ini. Semoga Allah senantiasa menguatkan dan meneguhkan aqidah dan manhaj mereka, serta menjaga mereka semua dari siksaan dan makar musuh-musuh Islam, baik Kafirin, Musyrikin, Atheis dan Murtadddin.

Sementara itu di belahan bumi lainnya, yakni di Nusantara ini, sebagian orang yang mengaku dan mengklaim sebagai pecinta para pemimpin dan ulama Daulah Islam – Islamic State (IS) – Negara Islam (NI) justru secara gencar mengabarkan “kekalahan” Daulah Islam di bumi Syam. Tak cukup sampai disitu, mereka juga secara gencar mengabarkan sejumlah pejuang Daulah Islam yang ditangkap oleh musuh-musuh Islam. Yang lebih membuat kedok mereka akhirnya tersingkap bahwa mereka bukanlah pecinta, namun sejatinya pembenci adalah, mereka juga secara gencar mengumbar sejumlah informasi yang sifatnya tidak layak untuk dipublikasikan ke publik yang selama ini juga tidak pernah diberitakan oleh media resmi Daulah Islam.

Akhir-akhir ini kita bisa melihat di media sosial (medsos), bagaimana orang-orang yang mengaku mendukung dan mencintai Negara Islam (NI) atau Islamic State (IS) atau Daulah Islamiyyah, akan tetapi terus menerus mengkritik dan mengkoreksi setiap kebijakan Khalifah Ibrahim (Syaikh Al-Baghdadi) dan para pemimpin NI, dengan alasan “sebagai sebuah nasihat”.

Apakah yang demikian itu sebuah nasihat yang layak untuk disampaikan kepada pemimpin sebuah Negara Islam?? Jika mengacu pada hadits yang berbunyi, “Ad-Dienu Nasihah”, maka nasihat yang semestinya dilakukan oleh rakyat dan warga kepada pemimpin sebuah Negara Islam itu adalah dengan cara sembunyi-sembunyi dan secara langsung, dan bukan dengan cara koar-koar di medsos (publik) seperti yang orang-orang tersebut lakukan. Maka, meskipun mereka mengaku faham bahasa Arab dan terlihat alim, sejatinya mereka adalah orang yang tak faham akan arti sebuah nasihat. Dan lebih daripada itu, mereka adalah pembenci.

Dengan dalih sebagai pendukung dan pecinta ulama Daulah Islam, mereka juga kerap melontarkan opini-opini dan tulisan-tulisan yang justru membuat umat dan masyarakat hilang semangat untuk berjihad, atau minimal semangat untuk berhijrah, serta membuat umat dan masyarakat antipati terhadap Daulah Islam. Apa yang mereka lakukan itu tak ubahnya seperti apa yang dilakukan oleh kaum Munafikin di zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesungguhnya dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya. Allah Ta’ala berfirman,

فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ ٱللَّهُ مَرَضًا ۖ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌۢ بِمَا كَانُوا۟ يَكْذِبُونَ ﴿١٠﴾

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta”. (QS. Al-Baqarah 2 : 10) Baca pula ayat 11 – 15

Para pembaca situs online Mata-Media.Net (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, oleh karena itu, bagi orang-orang yang mengklaim sebagai pendukung dan pecinta pemimpin dan ulana Negara Islam (IS), seharusnya mereka mengabarkan berita-berita dan info-info yang justru membuat umat dan masyarakat tumbuh semangatnya untuk berhijrah, berjihad dan cinta akan syariat.

Seharusnya mereka juga mengabarkan info-info dan berita-berita yang positif tentang Negara Islam, para pasukannya dan warganya. Mereka seharusnya juga menutup rapat-rapat setiap informasi atau berita yang belum jelas shahih atau benar, terlebih jika hal itu tidak menguntungkan Negara Islam. Cukuplah seseorang itu dianggap pendusta jika ia menceritakan mempublikasikan setiap info dan berita yang ia dengar. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar”. (HR. Muslim)

Imam Malik rahimahullah berkata, ”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan dia tidak layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan -red), sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya”. (Muntahal Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits)

Sedangkan jika kita melihat sepak terjang orang-orang tersebut di akun-akun Facebook atau channel-channel Telegram dan WhatsApp-nya, mereka selalu mengabarkan apapun yang berkaitan dengan Negara Islam, dan tidak peduli apakah itu kabar positif atau negataif, menguntungkan Negara Islam atau tidak, mana berita dan informasi yang harusnya dipublikasikan atau tidak. Tanpa melakukan filterisasi terlebih dahulu, mereka dengan entengnya menekan tombol ENTER atau OKE, agar apa saja yang mereka ketahui dan dengar soal Negara Islam itu tersebar luas.

Wallahu a’lam,,, apakah mereka paham atau tidak, bahwa sekarang ini peperangan yang dilancarkan oleh orang-orang Kafir/Salibis, Musyrikin, Murtaddin dan Munafikin tidak hanya dilakukan dengan senjata saja, namun juga dengan media massa. Ketika, orang-orang yang mengklaim sebagai pecinta dan pendukung Negara Islam itu mengabarkan info dan berita negatif soal Negara Islam, maka sejatinya ia telah membuat orang Kafir senang dan membantu mereka dalam propaganda media yang mereka bangun.

Terakhir, belajarlah dari para pendukung pasangan Capres dan Cawapres kubu 01 (Jokowi-Ma’ruf) dan Capres dan Cawapres kubu 01 (Prabowo-Sandi) wahai para orang-orang yang mengaku dan mengklaim sebagai pendukung dan pecinta pemimpin dan ulama Negara Islam. Jika kita melihat dan mengamati aktivitas pendukung kubu 02 misalnya, aktivitas mereka di medsos tidak akan mengabarkan info dan berita yang sifatnya negatif terhadap Prabowo-Sandi. Demikian pula kubu pendukung 01, kita tidak akan mendapati mereka memberitakan dan menginformasikan hal-hal yang siatnya negatif dan buruk terhadap Jokowi-Ma’ruf.

Orang-orang Kafir dan musuh-musuh Islam pun juga demikian. Mereka tidak akan memberitakan hal-hal yang sifatnya negatif dan bisa membuat semangat pendukung dan para tentaranya menjadi ciut nyali. Sebab mereka paham, bahwa mereka memerangi Mujahidin dan Negara Islam itu tidak hanya dengan senjata, tapi juga dengan propaganda media.

Kaidah dalam “Peperangan di Dunia Media” yang diketahui dan dilancarkan para Mujahidin (Mujahidin Media) sejak zaman Nabi hingga sekarang ini adalah, mereka memposting sisi-sisi baik dan kemenangan aktivis Islam dan mujahidin. Dan disisi lain, mereka mengungkap dan memberitakan segala keburukan, aib dan kekalahan orang-orang Kafir dan Musyrikin. Ketika ada yang melakukan sebaliknya dengan segudang alasan yang mereka lontarkan, maka sejatinya mereka itu bukanlah pendukung dan pecinta Mujahidin dan Negara Islam, namun realitanya mereka itu adalah “pembenci yang bersembunyi dibalik kata pecinta” dan sedang menikam Negara Islam dari dalam. Semoga mereka segera sadar atas kesalahan mereka, dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Aamiin.. [Edt/Abd]

Check Also

Menag Fachrul Razi Sebut Radikalisme Menyusup di PAUD

JAKARTA (Mata-Media.Net) – Menteri Agama (Menag), Fachrul Razi kembali melontarkan pernyataan kontroversial dan meresahkan umat ...