Sunday , December 15 2019
Home / Headline / Beristirahat & Berhenti Merokok Itu Mudah

Beristirahat & Berhenti Merokok Itu Mudah

 

(Mata-Media.Net) – “Seperti masyarakat tanpa kelas dalam kapitalisme, “Tanpa ada kesadaran ekonomi dan kesehatan, ide berhenti merokok adalah utopia belaka”.

Duduk dan diam, rasanya enak betul membayangkan Rokok dengan minuman manis yang di jajakan oleh Mini Market pojok sana. Bagaimana perokok tidak menjadi kecanduan ketika sensasi dari merokok sendiri itu dapat mengisi ruang kehampaan hidup perokok? Bau khas Tembako, kebulan asap putih, dihisap lalu merasakan sensasi berat dalam otak, sungguh membedakan susana.

Tentu ini hanyalah bagaimana pikiran mengakses imajinasi untuk merokok dalam bayangan. Saya sudah menjadi  perokok pasif sekitar dua minggu yang lalu. Menjaga jarak dari dan tidak melekatkan diri terlalu jauh dengan Rokok adalah kunci dasar menjadi perokok pasif. Memang ketika sudah jatuh dalam kecanduan akan sangat sulit mentransisikan diri dari aktif menjadi pasif merokok. Aroma tenang yang dihadirkan membuat Rokok barang paling dicari oleh perokok karena “Rokok adalah obat ketenanganya”.

Tentu label membuat ketenangan sendiri sangat pantas disematkan untuk Rokok. Saya sendiri mempunyai alasan bagaimana seorang perokok ketika ia kehabisan Rokok; tidak tenang, pikiranya terfokus pada Rokok dan meminta pada teman yang mempunyai Rokok. Jika kita sudah seperti sedemikaian pegambaran tersebut, ya kita sudah kecanduan Rokok!

Ditelisik dari litersi bahwa efek kecanduan sendiri berasal dari zat Adiktif yang terkandung dalam Rokok. Menurut berbagai sumber, rokok juga dapat dikategorikan sebagi Narkoba. Tentu seperti yang kita tahu, Narkoba adalah barang terlarang. Bahkan dari pengedar hingga pengkonsumsi Narkoba bisa dijerat hukum. Mengapa dilarang? Jelas karena efek ketergantungan dan berbagai hal membahayakan kesehatan Manusia.

Zat adiktif sendiri adalah  obat serta bahan-bahan aktif yang apabila dikonsumsi oleh orgasisme hidup, maka dapat menyebabkan kerja biologi serta menimbulkan ketergantungan atau adiksi yang sulit dihentikan dan berefek ingin menggunakannya secara terus-menerus”.

Memang mengkonsumi Rokok secara terus menerus akan menyebabkan kecanduan Rokok itu sendiri. Memang tidak salah jika dikategorikan sebagai Narkoba. Tetapi untuk kecanduan akut atau tidaknya tergantung bagaimana seorang perokok melekatkan dirinya pada Rokok. Jika kemelekatan itu kuat, saya yakin butuh usaha terapi lebih keras untuk berhenti merokok. Karena sesungguhnya awal dari bisanya berhenti merokok itu karena usaha dari dalam diri kita sendiri. Jika diri belum menemukan dirinya sendiri untuk berhenti merokok, saya yakin tidak akan bisa berhenti.

Banyaknya perokok disekitar kita menjadi sebab, ketika sedang nongkrong, bingung, teman kita merokok dan kita tidak merokok. Ada kalanya juga ketika kita sedang sendiri, bingung, bahkan kalut mau berbuat apa, merokok menjadi jawaban. Juga tawaran Rokok yang harganya murah. Tentu sangat menggiurkan untuk tetap merokok.

Memang ada narasi gangguan kesehatan yang ditimbulkan oleh Rokok. Tetapi itu masih simpang siur jadi perdebatan atas nama kepentingan antara pro dan kontra. Dilihat dari kondisi fisiknya, orang yang merokok kelihatannya sehat-sehat saja. Tetapi saya bisa merasakan karena sebelumnya saya adalah perokok.

Nafas lebih plong ketika saya berhenti merokok.  Tubuh bagian dada-pun rasanya lebih nyaman. Sebelumnya bagian dada sering tidak normal (sakit) akibat terlalu sering merokok. Sebagai catatan ketika kita sudah tidak merokok “dekat dengan orang yang sedang merokok lalu menghirup asapnya, sudah pasti tubuh bagian dada lebih sakit dari pada menjadi perokok itu sendiri”.

Jelas, merokok mempengaruhi kesetabilan tubuh, menjadi sebab saya berhenti atau beristirahat merokok. Ditambah alasan ekonomi yang akan lebih sehat bila saya berhenti merokok. Kini bisa dirasakan Rokok dengan kadar sedap rasanya lumayan kisaran Rp. 23.000. Bila gaji kerja bulanan sekitar 2 juta-an, belum biaya hidup, biaya senang, kapan ada lebih uang untuk ditabung? Saya kira untuk tetap pernafasan sehat, juga perekonomi sehat harus mengambil dengan tegas berhenti merokok.

Sebagai poin, saya hanya ingin berbagi bagaimana cara saya beristirahat dari merokok. Mengapa bukan berhenti? Saya tidak menjamin berhenti secara permanen sebelum rokok itu tidak diedarkan lagi. Tentu alasannya adalah ketika kekalutan itu memuncak dan asap Rokok dibutuhkan untuk melemaskan sel otak saya. Saya pasti merokok!

Setidaknya ada beberapa poin yang saya pakai ketika hendak berhenti atau beristirahat merokok;

Indoktrinasi diri untuk puasa merokok

Dari satu hingga banyak perokok pasti mewacanakan dirinya untuk berhenti merokok. Memang untuk lepas dari jerat Rokok sendiri sangat-sangat sulit. Secara tidak sadar kita digoda oleh harga murah Rokok, belum perokok di lingkungan kita.

Itulah yang membuat kita ingin terus dan terus merokok. Maka dari itu jika hanya doktrin, atau pusat-pusat layanan berhenti merokok jika dari dalam diri sendiri belum berkomitmen akan berhenti, pasti metal dan berhenti merokok hanya wacana saja. Kita bisa mengutip kata-kata dari para perokok sekitar kita, mereka selalu berujar “susah sekali ya berhenti merokok? Padahal berhenti atau tidak berhenti adalah perkara diri berkomitmen atas dirinya sendiri”.

Minum air putihtidak minuman manis

Cara saya menetralisir keinginan untuk merokok yaitu dengan terapi air putih. Menurut berbagai penelitian air putih tidak hanya menyehatkan tetapi juga baik menggontrol kadar gula darah kita.

Dibalik tidak sehatnya minuman manis jika dikonsumsi secara berlebih, minuman manis juga dapat memicu keinginan merokok lagi. Sebagai perokok anda pasti tahu bagaimana klopnya Kopi dengan Rokok, atau minuman manis kaleng Mini Market? Mengurangi atau tidak minum manis sama sekali akan sangat membantu anda dalam berhenti atau beristirahat sejenak merokok.

Mengalihkan diri untuk terus beraktivitas

Bisa dengan menulis, atau bisa juga dengan membaca. Mengalihkan perhatian dari godaan merokok itu harus dilakukan jika ingin berhenti merokok. Sebab ketika duduk sendiri, melamun, dan tidak ada kegiatan, pengaruh untuk merokok lagi sangatlah kuat.

Bolehlah trik dari Bapak Guru saya di SMP (Sekolah Menengah Pertama) terapi berhenti merokok dengan permen, tapi tunggu dulu permen itu manis, saya yakin kurang efektif. Menyibukan diri dengan berbagai aktivitas sangat bisa membatu mengalihkan kita pada pikiran untuk merokok. Namun kalau boleh saya sarankan, aktivitas itu membaca, apalagi membaca akan berbagi literatur tentang bahaya Rokok juga bagaimana pola Industri Rokok.

“Saya memang tidak peduli, anda mau merokok atau tidak. Merokok adalah hak dan anda mempunyai hak itu. Lebih bijak, orang disekitar anda-pun juga berhak atas udara bersih bebas dari asap rokok”. [Toto Priyono/MMC]

Check Also

UNESCO Akui Kurma Sebagai Warisan Budaya Dunia Arab

MADINAH (Mata-Media.Net) – Pengetahuan, tradisi dan praktik yang berkaitan dengan kurma telah dimasukkan ke dalam daftar Warisan ...