Monday , October 14 2019
Home / Ragam / Akhir Zaman / Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Hadits Fitnah Akhir Zaman (Bagian 1)

Sikap Seorang Muslim Dalam Menyikapi Hadits Fitnah Akhir Zaman (Bagian 1)

Oleh: Furqan

(Mata-Media.Com) – Jiwa manusia itu selalu penasaran ingin mengetahui hal-hal yang akan terjadi di masa yang akan datang. Baik yang berhubungan mengenai masa depan dirinya sendiri maupun mengenai masa depan manusia seluruhnya hingga hari kiamat.

Mungkin banyaknya jumlah dukun dan ahli nujum pada bangsa-bangsa Musyrik merupakan bukti terbaik akan hal tersebut. Bahkan orang-orang Musyrik bersedia menggelontorkan harta dalam jumlah banyak hanya demi mengetahui masa depan yang para Dajjal pendusta itu mengklaim telah mengetahuinya.

Di saat yang sama, Allah Subhanahu wa Ta’ala yang tiada mengetahui hal ghaib kecuali Dia mewahyukan pada sebagian hambanya, yaitu para nabi, diantara sekian banyak yang diwahyukan-Nya kepada mereka, sebagian perkara ghaib yang akan mereka dan pengikutnya temui di masa depan. Mungkin contoh terpenting adalah apa yang diwahyukan Allah kepada para rasul terdahulu mengenai diutusnya saudara mereka Muhammad beserta perintah untuk mengimani dan menolongnya, sekaligus mengambil sumpah janji dari mereka akan hal tersebut.

Demikian juga Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Diantara sekian banyak ilmu yang disampaikannya dari Rabbnya adalah perkara-perkara yang akan terjadi pada masa diutusnya hingga hari kiamat. Termasuk diantaranya fitnah dan huru hara yang akan terjadi di akhir zaman, dan tanda-tanda hari kiamat yang Allah menjadikannya sebagai tanda terjadinya yang semakin dekat yang tidak akan terjadi kecuali setelah seluruh tanda-tanda tersebut muncul.

Para pembaca situs online Mata-Media.Com (MMC) yang dirahmati Allah semuanya, kaum Muslimin di setiap zaman terus memperhatikan kedudukan hadits-hadits tersebut. Mereka mengimaninya, mengajarkannya, dan setiap generasi mengabarkan pada generasi setelahnya. Sebagaimana terjadi pada setiap persoalan Din yang banyak orang tersesat. Didalamnya, banyak orang juga tersesat dalam tema penting ini. Diantara yang ekstrim dan meremehkan.

Ada pula yang amat bergantung dengan hadits-hadits tersebut, hendak mencocokkan seluruh apa yang didengarnya dengan fakta lapangan, agar terlepas dari tekanan yang menimpanya maupun karena ingin meraih tujuan tertentu. Ada juga yang meremehkannya, hendak menolak seluruh hadits tersebut bahkan mengkafirinya karena tidak meyakini perkara yang tidak sesuai dengan akal pendeknya.

Namun seorang Muslim Mukmin dalam menyikapi persoalan ini itu sebagaimana apa yang dikehendaki oleh Allah. Ia tidak bersemangat membabi buta, mengikuti semua ungkapan tanpa tahu kebenarannya lalu menganggapnya persoalan pokok agama. Ia juga tidak meremehkan disiplin ilmu ini, yang telah diturunkan oleh Ruhul Amin dari Rabb semesta alam kepada Rasul kita yang mulia. Lalu kemudian ilmu ini diwarisi oleh sebaik-baik manusia, para sahabat dan tabi’in.

Para ahli ilmu yang kokoh keilmuannya juga masih terus memperhatikan dan mengajarkan disiplin ilmu ini. Adapun sikap seorang Muslim sebagaimana diajarkan dalam Islam terhadap disiplin ilmu ini adalah sebagai berikut :

Beriman Dengan Seluruh Kandungan Kitabullah dan Sunnah

Tidak diragukan lagi bahwa prinsip pokok seorang Mukmin adalah beriman dengan semua hal yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Termasuk beriman dengan fitnah dan huru hara akhir zaman yang disebutkan dalam Kitabullah dan Sunnah.

Banyak nash dalam Kitabullah yang berhubungan dengan sisi ilmu ini, yang tidak dicampuri kebatilan sedikitpun. Seseorang yang mengaku beriman itu tidak sah imannya hingga meyakini bahwa semuanya adalah kebenaran dan semuanya datang dari sisi Allah.

Ia juga harus mengimani semua hadits shahih yang bersumber dari Nabi mengenai perkara ini tanpa merasa jengah sedikitpun, meskipun tidak memahaminya atau tidak mengetahui esensinya. Hal ini sebagaimana kalam Allah Ta’ala,

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Katakanlah (hai orang-orang Mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 136)

Oleh karena itu, kita dapati para imam salaf membuat bab tersendiri dalam kitab-kitab akidah yang mereka tulis mengenai iman kepada perkara-perkara ghaib yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akan terjadi di akhir zaman. Dengan itu, mereka hendak menjelaskan akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah mengenai hal tersebut tidaklah menyelisihinya kecuali binasa.

Perhatian besar mereka untuk memunculkan perkara ini ialah lantaran khawatir jika kaum Muslimin terfitnah oleh orang-orang sesat, yang barangkali bisa saja mendorong kaum Muslimin mengkafiri sebagian kabar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mengikut hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui itu.

Ibnu Qudamah berkata di dalam Lum’atul I’tiqad, “Harus beriman dengan apa yang shahih yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik yang kita saksikan maupun yang tidak kita saksikan. Kita mengetahui bahwa hal itu adalah benar dan pasti, meskipun kita tidak memahaminya dan tidak mengetahui

hakikat esensinya. Yaitu seperti hadits Isra dan Mi’raj, hadits mengenai tanda-tanda kiamat, keluarnya Dajjal, turunnya Isa bin Maryam ‘alaihissalam lalu membunuhnya (Dajjal), keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, keluarnya Ad-Dabbah, terbitnya matahari dari tempat terbenamnya, dan kabar-kabar shahih yang serupa”. Selesai ucapan beliau.

Kemutawatiran hadits-hadits tersebut bukan merupakan syarat wajib mengimaninya. Jika hadits tersebut dianggap shahih oleh ahli hadits maka kita mengimani dan mengamalkannya. Bukan seperti ahli bid’ah yang mensyaratkan kemutawatiran hadits untuk menetapkan perkara akidah, yang mengklaim bahwa hadits bukan mutawatir tidak mengindikasikan ilmu yakin.

Kita tidak boleh meyakini bahwa sebagian hadits mengenai perkara yang akan datang itu telah dinasakh (dianulir), karena nasakh itu hanya dalam hukum, dan bukan berita. Apa yang dikabarkan oleh Allah ‘Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya adalah benar dan pasti. Allah berfirman,

وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلا

“Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah”. (QS. An-Nisa’ 4 : 122), dan kalam-Nya mengenai Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An-Najm 53 : 3-4)

Waspada Dari Hadits-Hadits Palsu dan Takwil Rusak

Lantaran persoalan ini berhubungan dengan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka harus dipastikan keshahihannya sebelum mengimaninya dan menyampaikannya kepada manusia. Apa lagi tema

fitnah dan huru hara akhir zaman banyak tercampuri dengan dusta orang-orang sesat yang berupaya membela kesesatan mereka melalui jalan itu, khususnya (Syiah) Rafidhah laknat yang terkenal paling banyak berdusta atas nama Nabi dan ahli baitnya, memalsukan banyak kisah demi membuktikan menangnya kesesatan mereka di akhir zaman.

Demikian juga banyak hadits-hadits fitnah dan huru hara akhir zaman sampai kepada kita melalui sanad yang lemah, sehingga tidak bisa dijadikan pijakan dalam beragama. Hadits-hadits dha’if (lemah), meskipun kedha’ifannya tidak parah, itu tidak menunjukkan pada ilmu yakin namun sekedar dzan (prasangka), dan prasangka sama sekali tidak menunjukkan pada kebenaran.

Namun di sisi lain, seorang Muslim tidak boleh mendustakan begitu saja berita yang dikandung dalam hadits-hadits dha’if itu, meskipun tidak mengimaninya, kecuali jika ada hadits-hadits shahih yang mengingkari berita tersebut dan menegasikan keabsahannya. Karena ada sebagian hadits yang diperselisihkan kedudukannya oleh ahli hadits, sebagian mendha’ifkannya dan sebagian lain menshahihkannya.

Mengimani hal-hal ghaib berarti membenarkan berita yang ada itu sesuai lahirnya. Bukan seperti ahli bid’ah yang mengaku rasionalis dan yang semisalnya. Mereka mengaku beriman kepada hal-hal ghaib namun membelokkan banyak nash dari makna lahirnya. Kita tidak menakwilkan hadits-hadits mengenai fitnah dan huru hara akhir zaman dengan takwilan yang menggeserkan dari makna hakikatnya. Kita mengimaninya apa adanya, sebagaimana datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga muncul takwilnya yang sesungguhnya pada waktu yang ditentukan oleh Allah Ta’ala.

Dalam memahami ayat-ayat dan hadits-hadits mengenai tanda-tanda kiamat dan peristiwa-peristiwa masa depan lainnya, seorang Muslim harus kembali kepada penafsiran ahli ilmu mengenai ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut. Seperti inilah seharusnya seorang Muslim. Tidak menafsirkan Al-Qur’an dengan pendapatnya maupun pendapat ahli bid’ah dan sesat.

Demikian juga harus hati-hati agar tidak menerapkan hadits-hadits mengenai akhir zaman atas situasi dan kondisi kaum Muslimin pada suatu masa tanpa ada bukti nyata dari syariat. Banyak kaki yang terjerumus dalam musibah ini, dan banyak manusia yang tersesat pada jalan ini.

Dengan izin Allah Ta’ala, dalam kesempatan ke depan kita akan berusaha membicarakan sisi berbahaya dari iman kepada hadits-hadits fitnah dan huru hara akhir zaman ini. Allah-lah pemilik hidayah kepada jalan yang lurus. [Edt; Abd/Bersambung Bagian 2]

Check Also

Ciduk Terduga Teroris di Cengkareng, Densus 88 Geledah Rumah di Bekasi

BEKASI (Mata-Media.Net) – Densus 88 Antiteror Mabes Polri dikabarkan menciduk seorang warga yang diduga sebagai teroris di Cengkareng, ...